Artis…Pejabat…

Awettua

 

Kubaca di Jakarta Post tanggal 22 April, sebuah berita di halaman satu yang kali ini menarik perhatian. Baru pertama kali ini aku baca bahwa akhirnya pemerintah ingin ikut menyaring bakal calon peserta pemilu yang akan diajukan oleh Partai Politik. Kupikir amat mungkin hasilnya akan seperti biasa: tidak akan bisa sesuai dengan harapan masyarakat luas.

Bisa kita baca di Jakarta Post salah satu judul berita yang berbunyi: House races set graft, dangdut. Kalimat awalnyapun berbunyi :  Corruption suspects, television personalities, dangdut stars and the police officer better known as the Bollywood cop are topping the veritable rogue’s gallery of potential legislative candidates submitted by political parties to election officials. DPR berlomba menyiapkan tersangka korupsi, bintang televisi, bintang dangdut, petinggi Polisi yang lebih dikenal sebagai Polisi Bollywood mengungguli daftar resmi yang bisa dipercaya dari galeri para bajingan untuk bakal calon jabatan legislatif yang diajukan oleh partai politik.

Untuk berita selengkapnya anda akan bisa membacanya sendiri dengan membuka link berikut ini:  http://www.thejakartapost.com/news/2013/04/22/house-races-set-graft-dangdut.html.

Itu baru sekelumit berita yang memanaskan telinga banyak orang, baik dari pihak sana maupun pihak sini.

Pada umumnya isinya adalah berita para bakal calon yang terdiri dari para tersangka korupsi, malah ada yang terpidana dan lain-lain yang bermasalah, masalah hukum, etika, lain-lain yang kurang sedap.

Yang dari waktu ke waktu pernah terjadi adalah kalangan pekerja seni untuk ikut serta dalam keramaian berebut kedudukan di dpr, menjadi pejabat Negara yang penting, tidak memperdulikan apa itu sesuai dengan kemampuan diri dari para bakal calon itu.

caleg-artis-artis-senayan

Terus terang saja memang tidak ada larangan kaum pekerja seni, akademisi atau ulama serta pemahaman spiritual juga, atau yang lain di luar dunia politik. Kalau militer sih dari dahulu juga selalu ingin masuk ke dunia ini. Mungkin mereka ini bosan diperintah oleh pemerintahan sipil. Atau juga kaum militer ini tetap ingin bisa memerintahkan sesuatu atau segala sesuatu yang apapun juga, setelah pensiun dari militer?

Tetapi yang selalu menimbulkan pertanyaan adalah apakah artis itu masih perlu melakukan pindah dan menempuh karier baru seperti menjadi legislator. Yang sama, kata batinku, cuma tor saja dari  aktor ke legislator.

Aku teringat mengapa ayahku  “dipecat” dari jabatannya selaku Walikotamadya Soerabaja. Sebab utamanya karena beliau telah pernah mengatakan: “untuk sementara ini barangkali perlu pemerintahan yang agak diktator, karena kita masih belum siap dengan demokrasi”  Apa sebab beliau berpendapat seperti itu? Ada indikasi kuat pada waktu itu bahwa seseorang atau lebih dari satu orang yang akan diangkat menjadi anggota Dewan Konstituante, padahal dia itu buta huruf!! Jangan-jangan ada yang mirip seperti itu sekarang ini. Pemecatan ini dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Mr. Iskaq Tjokrohadisoerjo. Teman ayah sedang menjabat menjadi Presiden Repoeblik Indonesia, ayahku menerima saja dan juga tidak mengadu.

Yang mengherankan mereka bertiga ini Presiden, Menteri Dalam Negeri dan Walikota semuanya adalah anggota Partai Nasional Indonesia sejak berdirinya pada tahun 1927. Hal ini pernah aku sebut dalam tulisanku yang lain.

Hari ini di harian lain diberitakan beberapa anggota dpr yang “professional” (telah lebih dari dua periode menjabat sebagai anggota dpr, tetapi masih berminat lagi). Mereka mengatakan bahwa biaya yang harus dikeluarkan oleh mereka akan lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan biaya waktu sedang berlakunya sistem yang terdahulu, dengan rincian begini dan begitu.

Malah akan lebih besar dari jumlah gaji anggota dpr selama 5 tahun ditimbun akumulatif. Lalu untuk apa gunanya bila harga beli lebih mahal dari harga jual? Pedagang macam apa pula itu? Pedagang yang altruistik (mementingkan orang lain)? Apakah yang seperti ini ada, ya ? Bagaimana dia menunjang hidupnya sendiri? Apakah karena sudah demikian besar kekayaan pribadinya, sehingga malah bisa hidup tanpa gaji. Boleh saja kita curiga, mungkin di dalam benaknya telah terlihat ada bagian yang terlengah dan bisa diAMBIL secara mudah untuk kompensasi “pengorbanannya” dalam membelanjakan uang pribadinya sebelum Pemilu, yang memilukan hati?

Bagi seorang artis, tentu saja boleh menjadi sukses dan kaya raya setinggi langit tanpa batas, misalnya nantinya akan bisa memasuki dunia Hollywood atau bahkan Bollywood. Tidak ada larangan untuk menjadi begini. Tetapi menjadi legislator kan berbahaya, karena banyak hal belum dikuasainya? Malah ada dua pintu yang selalu terbuka lebar, siap menelan. Pintu? Iya Pintu di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan pintu LP (Lembaga Permasyarakatan). Risiko seperti ini amat jelas menonjol. Janganlah dianggap enteng.

Yang bisa sukses seperti Ronald Reagan di Amerika Serikat  amat sedikit. Lihat saja Arnold Schwarzenegger yang mengakhiri jabatannya dan meninggalkan utang resmi pemerintah daerah tempat dia menjadi Gubernur: California. Tetangga kita dari Pilipina memiliki contoh:  Joseph Estrada, bekas bintang film yang menjadi Presiden Pilipina banyak penggemarnya secara fanatik dia adalah pahlawan seperti tergambar di layar cerita film.

Di dalam daftar StAR (Stolen Assets Recovery Initiative) yang diketuai kepanitiaannya oleh Ban Ki Moon, yang juga Sekretaris Jenderal PBB, namanya tercantum sebagai Pencuri Besar, meskipun hanya jutaan USDollar. Dia menempati nomor urut ke sekian saja, jauh di bawah mantan Presiden RI Suharto yang menempati Nomor Satu di dunia sebagai Pencuri Asset Terbesar, yang dikirakan sebesar antara 15 sampai 35 MILIAR US Dollar. Untuk membaca datanya secara langsung silakan buka link berikut : http://www.asianews.it/news-en/World-Bank-to-help-Jakarta-recover-Suharto%C3%83%C6%92%C3%82%C2%A2%C3%83%C2%A2%C3%A2%E2%82%AC%C5%A1%C3%82%C2%AC%C3%83%C2%A2%C3%A2%E2%82%AC%C5%BE%C3%82%C2%A2s-foreign-assets-10355.html.

Harapan saya yang tertulis di atas itu menjadi pelajaran bagi para bakal calon anggota dpr dan para pejabat pemerintah lain. Pikir baik-baik jangan melihat apa yang akan bisa dicuri dari rakyat, tapi perhatikan baik-baik apa kemampuan diri sendiri dalam mengemban jabatan yang diincarnya itu.  “Hawa” panas dan “hawa” ingin untuk mencuri hak orang miskin itu ada, dekat sekali berada di sekeliling semua jabatan Negara. Jabatan itu yang disumpah menggunakan Kitab Suci masing-masing saja, masih terjadi korupsi dan pencurian hak orang miskin. Jabatan itu semuanya mengemban beban tak terlihat oleh mata.

Saya menduga rasanya seperti orang yang sedang membawa senjata, ingin sekali menggunakannya. Kemudian dar der dor. Menjadi kaya sebentar, masuk bui dan dikenang oleh anak cucu, sebagai apa, ya? Kalau pembaca bersangkutan seperti yang aku sangkakan ini masih terus saja maju dan melaju, maka aku harap dia tidak salah dalam mengartikan , yang sering sekali aku kutip bunyi doa: Rabbana attina  fi dunia hasanah ….. wa fi akhiroti. Aku selalu bilang uruslah apapun yang di dunia ini sebaik-baiknya di sekitar anda dan diri anda sendiri baru kemudian nanti yang  menyangkut akhirat, pada waktunya. Jangan sebaliknya uruslah sesuka-suka hati di dunia sampai puas dan baru kemudian nanti menjadi urusan belakang: yang  menyangkut akhirat. Kalimat ini berarti membawa celaka habis-habisan.

Saat kutulis ini sedang diliput melalui siaran di televisi sidang Tipikor terhadap Tuan Djoko Susilo yang jenderal bintang dua POLISI, yang terdakwa korupsi pengadaan UJI PRAKTEK atau simulasi untuk ujian mendapatkan Surat Ijin Mengemudi. Besaran uangnya meliputi 125 miliaran Rp. yang dikorup. Diduga hal ini yang akan terkena imbasnya justru para jenderal Polisi yang lain, apalagi yang bukan jenderal.

Beruntunglah kita pernah memiliki seorang Kepala Polisi Repoeblik Indonesia bernama Hoegeng Iman Santoso, seorang yang jujur sampai akhir hayatnya.

 

Awettua

23 April, 2013

 

9 Comments to "Artis…Pejabat…"

  1. Dj. 813  26 April, 2013 at 01:48

    Sangat disayangkan, perjuangan para pejuang yang sudah mati-matian sampai mati benaran,
    menjadi sia-sia.
    Karena semua bisa dibeli dengan uang dan semua hanya bisa kalau punya uang.
    Sorry mek sorry, ini kan sudah menjadi kenyataan dan setiap anak kecilpun tahu,
    kalau semua harus dibeli dengan uang.

    Salam Sejahtera dari Mainz

  2. Dewi Aichi  25 April, 2013 at 18:59

    Orang baik pun kalah karena lingkungan yang memaksa Ia untuk berbuat tidak baik, orang baik menjadi tak berdaya berada di tengah tengah mereka yang mencuri uang rakyat, atau lebih parah, orang baik menjadi terjerumus. Maka orang baik akan jarang mencalonkan diri. Karena sebenarnya tanpa menjabat apa apa, bisa kok melakukan perbaikan untuk negara.

    Kemarin tetangga saya calon legislatif untuk DIY, dari PKS, membuat halaman di Facebook dan mengirim saya pesan untuk menyukai halaman itu dan menyebarkan ke teman untuk menyukai halaman itu. Aku bilang maaf….tidak bisa, maaf aku tidak mau like….

  3. Chandra Sasadara  25 April, 2013 at 13:06

    selain kesemptan menajdi maling, anggota dewan akan dapat pensiun.. luar biasa!!!

  4. Alvina VB  25 April, 2013 at 11:55

    Pemilu, yang memilukan hati….betul sekali….makanya gak mau milih lagi….hidup golput!!!

  5. J C  25 April, 2013 at 11:42

    Caleg adalah salah satu “bidang usaha” di Indonesia yang menjanjikan. Tergantung kecerdasan, kepandaian dan strategi setelah menjabat, berapa lama ROI (Return On Investment) dan mulai memetik profit dari bidang usaha yang tidak membutuhkan akal sehat, pendidikan dan nurani ini…

    Dan ingat, yang penting BERDOA, RELIGIUS dari awal, berdoalah supaya jangan sial kejeblos kena sama KPK, dan harus dilatih sejak awal, jika memang kena sama KPK, nanti pas ditangkap, diperiksa dan sial-sialnya nyemplung ke penjara, pakailah atribut AGAMA sebanyak mungkin, pasang muka sesedih dan sereligius mungkin.

  6. Silvia  25 April, 2013 at 11:42

    Suka sekali dengan paragraph ini :”Harapan saya yang tertulis di atas itu menjadi pelajaran bagi para bakal calon anggota dpr dan para pejabat pemerintah lain. Pikir baik-baik jangan melihat apa yang akan bisa dicuri dari rakyat, tapi perhatikan baik-baik apa kemampuan diri sendiri dalam mengemban jabatan yang diincarnya itu. “Hawa” panas dan “hawa” ingin untuk mencuri hak orang miskin itu ada, dekat sekali berada di sekeliling semua jabatan Negara. Jabatan itu yang disumpah menggunakan Kitab Suci masing-masing saja, masih terjadi korupsi dan pencurian hak orang miskin. Jabatan itu semuanya mengemban beban tak terlihat oleh mata.”

  7. Handoko Widagdo  25 April, 2013 at 11:20

    Dengan besarnya biaya pencalonan, sepertinya hanya koruptor yang mampu menjadi calon.

  8. James  25 April, 2013 at 11:07

    itulah Hoegeng Imam Santoso, justru karena jujur dia dilengserkan Soeharto Rejim

  9. wesiati  25 April, 2013 at 11:01

    tulisan yang keren. saya jadi mikir, jangan2 kalo orang yang benar-benar baik malah tidak mau dicalonkan jadi caleg karena ogah terjebak dalam kesemrawutan politik. akhirnya enggak ada orang yang bisa diharapkan di parlemen. hiks…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.