Ratna

Chandra Sasadara

 

Artikel sebelumnya: Nirwana (http://baltyra.com/2012/11/20/nirwana/)

Langit  timur belum akan merah. Embun masih setia memeluk daun-daun. Mungkin udara di luar rumah masih dingin menggigit tulang. Suara burung malam tak lagi terdengar bersautan. Di kejauhan lolongan anjing kampung terdengar menyayat seolah menangisi gelap yang sebentar lagi hilang.

Pagi yang ditunggu untuk mewujudkan niat. Di sebuah villa mewah di kawasan Puncak. Seorang perempuan telah membulatkan tekat. Ia lebih memilih jalan kematian dari pada menanggung beban hidup yang tak bisa dibagi. Mengakhiri hidup adalah pilihan satu-satunya. Keputusannya telah final.

Tali nilon telah diikat di atas kusen pintu. Surat wasiat telah ditulis. Kebaya putih berenda benang emas telah dipakai. Rambut yang semula berwarna merah kekuningan untuk menutupi uban telah berganti hitam legam. Lipstik, perona wajah, bedak tipis, alis mata dan semua yang bisa membuat dirinya nampak cantik telah dikenakan. Untuk terakhir kalinya, wajah itu ditatapnya dalam-dalam.

Perempuan itu telah siap. Siap melepas semuanya. Ia berusaha tenang. Tak lagi menghadirkan ingatan pahit dalam hidupnya. Ia berusaha mengingat laut, pantai dan kampung halamannya di pantai barat Sumatera. Menghadirkan ingatan masa remaja. Ingatan yang akan membuatnya tersenyum mengayunkan hidup di ujung nafas. Tak boleh ada air mata menjelang ajal, pikirnya.

*****

Perempuan remaja itu memang mencintai laut. Ia bisa berjam-jam duduk di dermaga penyeberangan kapal dari dan menuju Pulau Nias. Menenggelamkan lamunanya mengikuti datangnya ombak yang susul menyusul. Menunggu kawanan camar yang sesekali melintas dan bermanuver di antara gulungan ombak. Kadang matanya tak berkedip ketika menyusuri batas cakrawala, seperti sedang menghitung jarak antara dirinya dengan batas laut di kaki langit. Berandai-andai bisa terbang bersama camar dan menyentuh batas cakrawala. Bisa bergulat dengan lembutnya gugusan awan merah di batas langit barat sore hari.

Remaja cantik itu bernama Ratnauli. Berdarah Batak Jawa. Mamaknya adalah generasi ketiga keluarga transmigran Jawa yang ditempatkan di Batang Toru. Kecamatan kecil yang pusat kotanya berada di jalan lintas barat Sumatera, antara kota Sibolga dan Padang Sidempuan Sumatera Utara. Mamaknya perempuan bertubuh kecil, berkulit kuning langsat, berwajah manis dan berambut hitam ikal.

Sedangkan bapaknya adalah laki-laki Toba. Lahir dan besar di Tarutung Tapanuli Utara. Tinggi, gagah, berkulit bersih, berahang kuat dan seorang laki-laki idealis. Orang tua Ratna bertemu di Sibolga. Sama-sama sebagai guru sekolah. Mamaknya lulusan Sekolah Pendidikan Guru di Padang Sidimpuan, sedangkan bapaknya lulusan Sekolah Guru Olaraga di Balige.

Mereka menikah tanpa ijin orang tua karena perbedaan agama, tapi pernikahan tetap berlangsung. Keluarga kecil itu tinggal di Sibolga sebagai keluarga guru yang disegani di kota tersebut. Ratna lahir pada tahun kedua pernikahan orang tuanya. Bayi perempuan yang cantik itu mendapat nama Ratna dari Mamaknya dan Uli dari Bapaknya. Sejak kecil hingga remaja ia dipanggil Uli, si cantik.

Seperti bulan yang sedang terbit, remaja itu memang cantik. Mendapat wajah dan rambut dari Mamaknya, kulit dan kaki dari Bapaknya. Bertutur lembut seperti Mamaknya, namun berwatak keras seperti Bapaknya. Tak dapat ditolak kemauannya, namun bukan remaja cengeng. Ia adalah laut, kadang menghentak seperti ombak, kadang mengayun seperti angin dan tak jarang bergemuruh seperti badai. Hanya Mamaknya yang bisa membuat dirinya terus berlayar.

“Mamak, ijinkan awak kuliah di Medan.” Kata Ratna pada Mamaknya di suatu sore.

“Bapakmu ingin kau sekolah guru di Sidempuan Uli.” Jawab Mamaknya pendek.

Ratna diam. Ia tahu apa arti jawaban Mamaknya itu. Pontang-panting ia berusaha menguasai hatinya yang sedang bergemuruh karena penolakan orang tuanya. Hanya ingin kuliah, mengapa harus ditolak. Apa artinya anak kalau setiap keinginannya tak pernah dianggap benar oleh orang tua sendiri. Apakah salah kalau awak memilih Kota Medan untuk kuliah? Remaja itu terus diliputi berbagai pertanyaan. Tak ada jawaban, bahkan laut yang selama ini menjadi muara segala galau hantinya juga tak mampu membisikkan apapun terhadap dirinya.

Baginya, tak bisa kuliah di Medan sama dengan tak kuliah di mana pun. Tak juga di Sidempuan, kota pilihan orang tuanya untuk melanjutkan pendidikannya. Hidup di kota kecil seperti Sibolga membuatnya tak bisa berbuat apapun. Tak ada aktivitas apapun yang bisa dilakukan kecuali menunggu laut. Menunggu kapal datang, menunggu camar-camar melintas dan menunggu anaknya lahir. Anak yang tak dikehendaki oleh Mamak dan Bapaknya. Ratna belum menikah saat bayi di perutnya telah berumur sembilan minggu.

Ratna dibawa ke Batang Toru ketika perutnya berumur tujuh bulan. Bagi kedua orang tuanya, menitipkan Ratna kepada neneknya di Batang Toru merupakan pilihan yang paling mungkin dari pada harus melahirkan di Sibolga. Ratna hamil tanpa suami. Gadis keras kepala itu tak pernah mau memberitahukan siapa laki-laki yang menghamilinya.

Gadis cantik itu melahirkan anak laki-laki di rumah neneknya di antara keluarga Mamaknya. Tak ada tangis, tak ada duka. Tekadnya telah bulat. Bukan Medan yang akan menjadi tempat mengadu nasib, tapi Jakarta. Ratna yang telah tuntas melahirkan anaknya bertekad untuk hidup bersama sisa semangat yang dimiliki di belantara ibu kota yang tak dikenali sama sekali. Ia telah melupakan Medan, kota yang telah diimpikannya selama ini. Dalam pikirannya hanya ada Jakarta.

*****

Seperti dihempaskan di dunia lain. Jakarta tak seperti kota yang ia bayangkan. Terlalu kota untuk dibandingkan dengan Sibolga apalagi Batang Toru. Kota besar itu membantunya merasa menemukan batas cakrawala dan terbang bersama camar-camar. Kehidupannya di Kota Sibolga dan persinggahannya di Batang Toru hanya menjadi renik dalam perjalanannya mencapai semua isi dunia. Ratna telah menjadi istri seorang pejabat kaya setelah menempuh jalan pahit sebagai seorang perempuan selama bertahun-tahun di Jakarta.

Sesekali mendengar kata Sibolga dalam pemberitaan televisi. Baginya Sibolga tak lagi sebuah kota, tapi hanya sebuah kata yang berderet dalam narasi pemberitaan media televisi. Hanya anaknya. Bayi merah ketika ditinggalkan di Batang Toru yang sering membuatnya rindu. Anaknya pasti telah menjadi ombak yang gemuruh, menjadi arus laut yang melarutkan semua isi perut samudra. Di mana anak itu, siapa namanya? Bukankah aku telah 27 tahun meninggalkan Batang Toru. Ratna membatin.

Ingatan terhadap anak itu semakin menggedor jiwanya ketika seorang teman memperkenalkan dirinya dengan laki-laki bernama Nirwana. Laki-laki itu memang seusia anaknya. Tapi ia selalu menepis perasaannya, sebab perasaan itu selalu muncul setiap ia bertemu atau berkenalan dengan laki-laki muda. Tak mungkin Nirwana adalah anaknya, logatnya bukan berasal dari Sumatera. Lagi pula laki-laki muda itu adalah seorang gigolo dan ini Jakarta bukan Sibolga. Terlalu memaksa untuk sebuah kebetulan.

Bertemu anak sendiri setelah 27 tahun berpisah. Tak mungkin dunia sesempit ini, pikir Ratna. Seorang laki-laki yang sering dipakai memuaskan dahaga seksual teman-teman perempuannya. Ia tak pernah tertarik untuk menanyakan asal usulnya. Nirwana hanya gigolo, tidak lebih. Selesai bertransaksi, selesai semuanya.

Kabar Nirwana adalah laki-laki yang bergelora seperti samudra, keras seperti karang dan menghanyutkan seperti arus laut dalam tak urung membuat jantung Ratna berdetak kencang. Ratna juga ingin menemuinya untuk mencecap kenikmatan yang sama seperti teman-temanya yang lain. Namun konon laki-laki itu tak mau melayani perempuan beristri. Ah, berapa duit untuk menikmatinya, pikirnya.

Malam yang dasyat.  Perempuan itu tersenyum sendiri mengingat pengalaman bercintaya bersama Nirwana. Ia merasa ditarik dalam arus deras, diayun ombak susul-menyusul.  Berasa dihempaskan di pantai tak bertepi. Dibawa berlayar penuh gelora. Belum pernah ia bercinta begitu dasyat. Bercinta dengan Nirwana merupakan pengalaman yang melampaui khayalannya tentang seks.

Bagi Ratna, laki-laki itu juga  seperti candu. Membius dan melemparkannya di awan lembut  namun juga membakar. Bahkan bau keringatnya pun sanggup membakar birahinya. Ratna merasa telah meraih isi sorga. Memang Nirwana adalah sorga, pikirnya.

*****

Nirwana tergelatak di rumah sakit. Ia selamat dari tusukan yang dilakukan oleh orang-orang suruhan suaminya. Namun bukan itu yang membuat Ratna gelisah, tapi perkataan suaminya pada saat terjadi pertengkaran. Bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari pada sekedar hubungan birahi antara dirinya dengan Nirwana.  Kamu akan memilih Nirwana mati daripada mengetahui kenyataan sesungguhnya Ratna, kata suaminya saat itu. Kalimat terakhir di ujung pertengkaran itu yang begitu mendera pikiran Ratna.

Jawaban atas teka-teki dari suaminya pun datang. Ombak berasa bergulung-gulung menghantam kepalanya. Ratna oleng, tak ada pegangan. Awam terlalu gelap, arus terlalu dasyat menghempas hatinya ke batu karang. Tubuhnya merosot, kesadarannya hilang. Siuman, tubuhnya menggigil. Kesadarannya hilang lagi. Tak ada sesuatu yang membuat hatinya terapung di permukaan ombak. Ratna tenggelam dan tenggelam lagi.

Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa Nirwana adalah anak laki-lakinya yang ditinggalkan di rumah neneknya di Batang Toru. Mengapa dunia begitu sempit? Mengapa alam menghukumku?. Mengapa? Mengapa? Ribuan “mengapa” mengalir deras tak berkesudahan di kepalanya. Ratna tenggelam lagi, kesadarannya hilang lagi.

*****

Belum tahu. Ia belum tahu akan kemana setelah tali nilon itu menjerat lehernya. Akan kemana jiwa yang lepas setelah raganya tak lagi berfungsi. Apakah akan selesai begitu saja. Semua hapus. Semua lenyap bersama hilangya fungsi pikiran, ingatan dan daya hidup. Tuhan mau menerima atau tidak. Ada pembalasan atau tidak atas semua kebodohan yang telah ia lakukan tidak lagi penting lagi.

Ratna bersiap memasang tali di lehernya. Ia telah berdiri di atas kursi agar mencapai tali di atas kusen pintu kamarnya. Sesaat bayangan Mamaknya berkelebat. Ia tak tahu, apakah perempuan yang melahirkannya itu telah mendahuluinya menghadap Tuhan atau belum. Untuk sesaat air matanya menggenang. Tiba-tiba ia merindukan tatapan mata Mamaknya. Ratna rindu mata itu. Mata perempuan yang selalu membuat dirinya kuat berlayar hingga sejauh ini.

Ia pejamkan matanya kuat-kuat agar tak melotot saat lehernya tercekik tali. Ia tarik lidahnya ke dalam agar tak menjulur saat tarikan nafas terakhir. Ratna berusaha untuk tersenyum sebelum kakinya menendang kursi yang menjadi pijakannya. Tanganya menggenggam kuat dan giginya saling beradu untuk mengusir kerinduan pada Mamaknya. Sesaat kursi yang menjadi pijakannya jatuh bersamaan dengan jatuhnya embun pertama karena sengatan matahari pagi.

 

20 Comments to "Ratna"

  1. triyudani  21 May, 2013 at 12:18

    tragis,menyedihkan

  2. Chandra Sasadara  26 April, 2013 at 13:16

    akan kita lanjutkan…

  3. Alvina VB  26 April, 2013 at 10:03

    Cerita yg tragis banget yo….apa ada kelanjutannya/ dah selesai ini?

  4. Chandra Sasadara  26 April, 2013 at 08:41

    Mas Han.. Elnino itu nama Jawa kan?

  5. Chandra Sasadara  26 April, 2013 at 08:40

    Pak DJ ni bisa aja.. tks Pak

  6. Chandra Sasadara  26 April, 2013 at 08:40

    Dunia ayam pasti tidak semahal Nirwana klo mau “dipakai” hehehehe

  7. Chandra Sasadara  26 April, 2013 at 08:39

    Bu Dewi, waahhh mohon maaf. saya ini org jawa. asal tahu nama dengan akhiran “no” sukarno, suharto, wagino dan elnino pasti saya panggil “Pak”…hehehehehee

  8. Handoko Widagdo  26 April, 2013 at 06:44

    Elnino itu namanya Ratna!

  9. Dj. 813  25 April, 2013 at 22:55

    Oooooo… terita yang sangat menyedihkan…
    Ratna = Ratapan Nasib.

    Terimakasih dan salam,

  10. Dewi Aichi  25 April, 2013 at 21:22

    Itu tragedi paling mengerikan jika terjadi di dunia manusia, lain halnya kalau hal itu terjadi di dunia ayam he he he..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.