(Tidak Jadi) Ditilang yang Membahagiakan

Meitasari S

 

Ini cerita tentang suamiku yang hari ini melakukan pelanggaran lalu lintas.

Begini ceritanya :

Suamiku adalah suami yang hebat. Bukan cuma suami yang setia, tapi juga ayah yang luar biasa. Ia adalah seorang yang sangat mencintai keluarganya. Kebahagiaannya adalah melayani anak-anak dan istrinya.

Pagi ini seperti biasa, ia selalu menyiapkan sarapan kami. Memasak itu adalah hobinya. Maka ketika para sudrun dan koplak berkunjung ke padepokan kami, dialah yang memasak hampir semua hidangannya.

Selanjutnya setelah ritual menyiapkan masakan, ia bersiap mengantarkan anak-anak ke sekolah. Yah mungkin karena faktor U (usia), dompet yang berisi segala surat-suratnya ketinggalan. Dan kebetulan pula, ia melewati jalan yang biasanya, pada jam-jam mengantar anak sekolah, dibolehkan, kali ini rupanya tidak.

Bisa diduga kan, ia kena semprit! Lalu, pak polisi menghampirinya dan menanyakan semua kelengkapan berkendara, antara lain : SIM dan STNK. Suamiku mengaku bahwa dompetnya ketinggalan. Dan ia meminta ijin untuk mengantar anak kami ke sekolah dulu dengan alasan, kasihan nanti terlambat. Suamiku berjanji, ia akan kembali setelah mengantar anak kami, Antya.

Sungguh luar biasa, tak dinyana tak diduga pak Polisi itu mengijinkan. Sekembalinya dari mengantar Antya, Suamiku kembali ke Pos polisi tadi, menemui polisi yang menyempritnya, dan berkata :

“Bagaimana pak, selanjutnya?”,  tanya suamiku

“Surat-suratnya lengkap kan pak?”, pak polisi itu balik bertanya

“Lengkap, pak. Kalau diijinkan saya antar istri saya dulu nanti saya kembali

Ke sini untuk tunjukkan surat-suratnya” pinta suamiku

“Baik, pak. Saya akan lihat niat baik Bapak,” ujar polisi itu menutup pembicaraan

“Terimakasih, pak. Sampai nanti.”

Pukul 07.10, suamiku baru tiba di rumah. Ia melihat raut wajahku yang cemas menunggunya tak datang-datang. Ia berkata,

“Aku kena semprit. Tadi aku melanggar. “

“Lho kok ya tumben pakai nglanggar segala,” jawabku

“Iya, biasanya jalurnya dibuka dan boleh dilewati. Rupanya hari ini tidak, ya memang nasib, karena aku nggak lihat” ujarnya.

“Lha terus gimana,” tanyaku lagi

“Nanti habis antar ibu, aku kembali ke sana” jawab suamiku

“Oh ya sudah,” kataku sambil menutup pintu rumah untuk berangkat kerja.

Di perjalanan Antya mengirimkan SMS padaku.

“Bu, ayah gimana,” tanyanya

“Oh, gak apa-apa mbak. Polisinya baik kok, ayah minta ijin antar ibu dulu

Ntar balik sana lagi. Doain aja biar gak kena tilang dan gak perlu disidang,”   jawabku

 

Siang hari saat jam istirahat, aku menanyakan pada suamiku, bagaimana akhir cerita pelanggaran dia. Ini dia jawabnya :

“Aku gak kena tilang. Polisinya bangga padaku, ternyata aku gak lari dan  menepati janji. Malah akhirnya kami cerita ngalor ngidul.”

“Ya itulah upah orang jujur dan tidak lari dari kesalahan. Aku juga bangga sama ayah. Apa lagi Antya tadi juga melihat. Ini pembelajaran yang sangat baik buat dia. Bahwa berbuat kesalahan itu manusiawi. Tapi kita tidak boleh menutupi kesalahan itu dengan membuat kesalahan atau kecurangan yang baru,” balasku.

“Iya, aku juga ngomong ke pak polisi itu, aku siap ditilang. Aku juga sangat respek sama dia, sudah mengijinkan aku untuk mengantar anak dan istriku dulu. Tapi aku gak mau damai karena aku gak mau merubah image yang positif jadi negative, trus pak polisi itu juga bilang: TUGAS SAYA BUKAN MENILANG TETAPI MENGATUR LALU LINTAS, JADI LAIN KALI JANGAN DIULANG,” begitu bunyi jawab sms suamiku.

Sungguh hari ini aku mendapatkan kebahagiaan dan kebanggaan yang luar biasa. Setelah paginya saat rumah sepi, aku bersimpuh, menangis dan mengadu untuk hal lain di hadapanNYA. Ya IA memang luar biasa, memberikan penghiburan dan seringkali bercanda dengan hal-hal yang di luar perkiraan.

Aku sering tertawa, dan menggumam,

“TUHAN, gak lucu deh candaannya…… KAU selalu bisa saja membuatku  menertawakan diriku sendiri…. “ Hahahaha………

Terimakasih Tuhan buat (TIDAK JADI) DITILANG yang membahagiakan dan membanggakan hari ini. Aku tahu : Suami dan anak-anakku HEBAT, mereka adalah anugerahMU yang luar biasa.

Oh ya, terimakasih juga buat pak polisi yang juga sangat membanggakan, karena begitu banyak polisi yang seharusnya menjadi penegak hukum justu melakukan hal yang  melanggar hukum. Tapi tidak demikian dengan pak polisi yang satu ini. Dia memberikan edukasi yang luar biasa…….. TERIMAKASIH, pak… entah siapa namamu. Tapi aku yakin, Tuhan mencatat setiap kebaikanmu……

 

Semarang, 24 April 2013 : 12.53

Menuangkan kecamuk di dada

Saat tidak ditelpon suamiku (xixixi)

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "(Tidak Jadi) Ditilang yang Membahagiakan"

  1. Nur Mberok  30 April, 2013 at 12:10

    Mba Henie, betul banget, pak polisinya baik banget……Apa kabar ????

  2. Hennie Triana Oberst  29 April, 2013 at 17:00

    Polisinya baik banget, Mei.

  3. Nur Mberok  28 April, 2013 at 09:11

    hai alv. Tx ya sharingnya. Betul suamiku memang beruntung. Memang bnyk cerita miring tentang polisi. Makanya aku brsyukur bnget.

    Itu peniti seharga 200rb brarti ya? Ha ha ha.. Ada2 sj pak polisi itu

  4. Alvina VB  27 April, 2013 at 11:47

    Wah….untung bangets suaminya ketemu polisi macam itu; jarang2 ada polisi spt itu loh mbakyu….
    Dulu waktu masih kuliahan, ada kawan saya ketangkep sama polisi, dibilangnya masuk jalur lambat sebelum waktunya (di Jkt ada waktu2 ttt yg boleh masuk jalur lambat/ lebih kecil jlnnya). Temen saya lihat jam dan dia ngotot, lah pak sudah waktunya gitu kok, coba lihat jam Bpk, sama toch dgn jam saya, akhirnya polisinya ,malu sendiri kan…nah krn malu digituin sama anak kuliahan, eh…ini si Bpk polisi ini ngeyel, coba saya lihat SIMnya, ada pak, coba lihat P3Knya lengkap gak, lengkap pak….eh terusan si Bpk. polisinya tiba2 bilang: kurang lengkap tidak ada peniti…temen saya cuma bilang Haaa??? memang musti ada peniti di kotak P3K pak? si Bpk polisi bilang iya donk mbak…kl ada verban gitu nanti nutupnya pakai apa? kan musti pakai peniti….gila dech ini polisi cari2 dalih spy dpt duit aza….akhirnya kawan saya kasih duit aja 2000an, (waktu itu ya uang segitu gede lah, apalagi utk ukuran mhw), akhirnya boleh jln…..

  5. Nur Mberok  27 April, 2013 at 06:49

    DA, ha ha ha ngertinan ik, memang aku biasanya bisa nulis kalau pas suamiku gak nelpon… Ha ha ha

  6. Nur Mberok  27 April, 2013 at 06:47

    Chandra, wah itu kan eyang sabar eh…

  7. Nur Mberok  27 April, 2013 at 06:44

    Kakang DJ, haloo! Kalo bgtu untunglah kami tdk berada d Jerman. Ha ha ha. Bisa gawat karena faktor U ya.

    Memang mgkn mas tri beruntung hari itu. Dan yg trpenting adalah pelajaran yg luar biasa tentang sebuah kejujuran .,

    KUTILANG DARA, mgkn lebih asik buat mas anoew, bukan KUTILANG KAU! ha ha ha ..

    Salam manis buat kel besar Paisan, dan malaikat kecil, sarah…

  8. Nur Mberok  27 April, 2013 at 06:38

    pampers, wah parah nih minta ditilang bripka. Wis tak cabut aja sk pampers nya!

  9. Nur Mberok  27 April, 2013 at 06:35

    JC, Catat..!

  10. Nur Mberok  27 April, 2013 at 06:34

    hai Silvi, ya betul, 2 jempol buat dia…. Tx buat support nya slalu …

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.