Duapuluh Enam Bait Cinta untuk Kekasih

El Hida

 

puisi saya kali ini dihadiahkan spesial untuk isteri saya, karena pada tanggal 26 adalah tanggal hari pernikahan kami. jadi, seandainya boleh saya meminta, puisi ini dipublish pada tanggal 26 April sebagai kado pernikahan kepada istri saya…

Note Redaksi:

Demikian catatan khusus dari El Hida, harapan dan doa kita semua, pernikahan El Hida dan istri langgeng dan membawa berkah selamanya…amin…

Puisi Cinta

I.

Pertama aku mengenalmu saat malam dan siang terasa sama saja. Hening menjadi rembulan dan sepi menjadi matahari. Engkau lalu datang semuanya berubah. Segala sesuatu menjadi engkau. Rembulan dan matahari serupa engkau, hidup dan mati menjelma engkau.

 

II.

Tak terasa cinta lalu kita akadkan dalam ikrar suci pernikahan. Tanganku menggenggam hidupmu, ragamu memeluk hidupku. Bersama dalam kesetiaan dan kasihsayang tiada ujung. Mendaki gunung-gunung kemerduan rindu menabdiNya.

 

III.

Kini engkau bersamaku setiap waktu. Jalan terjal mulai kita temu. Tanjakan dan turunan pun mulai kita lewati. Semua terasa indah. Beban hilang resah terbuang. Kita menikmatinya penuh kehatian, kita menjalaninya penuh kecintaan.

 

IV.

Aku dan engkau selaik siang dan malam yang tiada lagi hening sunyi. Kita saling memenuhi setiap ruang kosong yang ada. Aku dan engkau seperti siang dan malam yang tak pernah henti. Kita saling mengisi setiap jengkal kedamaian yang diciptaNya.

 

V.

Aku rasakan betapa engkau begitu berarti. Saat tanpa engkau aku menjadi raga tanpa ruh, semua kurasa begitu hampa. Yang ada tinggal kekosongan lahir dan batin yang begitu menyiksa. Sedangkan itu hanya beberapa detik. Bagaimana bisa aku tanpamu sepanjang masa.

 

VI.

Wahai kekasih yang aku tak pernah henti menyayangimu, aku mohon jangan engkau meninggalkanku walau hanya satu kedipan, walau hanya satu detikan. Sebab telah jelas aku tanpamu adalah mustahil.

 

VII.

Wahai cinta yang telah aku guratkan dalam jantung hanya namamu, aku pinta untukmu selalu ada di sisiku sepanjang waktu menemani sepanjang waktuku, lelap dan jagaku, hidup dan matiku. Tiada lelah sehingga hidupku bagai bunga yang merekah, indah.

 

VIII.

Wahai engkau yang telah aku abadikan segala tentangmu dalam hidupku, dunia dan akhiratku kini berada di tanganmu. Saat aku terjatuh dan engkau berdiri menggenggam tanganku untuk kembali tegak, aku tumpahkan airmata di kening jiwamu.

 

IX.

Maafkan untuk segala kesakithatian yang pernah kau rasakan oleh karena khilaf yang kusengajakan dan tidak. Sehingga engkau menjadi orang yang tersakiti sedang aku tak menyadarinya dalam diammu untuk menjaga rasaku.

 

X.

Maafkan untuk segala kegundahan dan gelisah yang kau rasakan oleh karena aku yang tak juga dapat memberikan dunia dan akhirat kepadamu. Aku akui hanyalah kasih sayang tulus dan kesucian hati mencintamu yang aku berikan, berharap selalu kau terimakan.

 

XI.

Akan aku berikan kepadamu segala apa yang kau butuhkan yang aku miliki. Seperti kesetiaan yang telah aku pahatkan hanya padamu, akan aku berikan juga segala tentangku untuk kau jagakan hidup dan matiku.

 

XII.

Akan pula aku serahkan apapun yang ada pada diriku yang kau inginkan. Sebab saat akad kita ikatkan, aku menjadi milikmu seutuhnya. Tak ada setetes darahpun yang mengalir di ragaku melainkan telah menjadi kepunyaanmu.

 

XIII.

Jika pada saatnya nanti aku harus pergi dari dunia, tetaplah mencintaku dengan apapun caramu. Saat tak ada lagi yang aku butuhkan selain do’a, saat tak ada satupun yang menemani selain tadzkir-tadzkir perihmu, aku sangat terima.

 

XIV.

Jika pada saatnya nanti kita dipisah oleh kematian, aku ingin engkau selalu mendampingiku dengan tilawah-tilawah mesra tengah malam  yang dialirkan halimun menuju barzakh yang sunyi dan gelap.

 

XV.

Aku yakinkan engkau untukku selalu ada untukmu. Tanpa jeda antara aku dan helaan nafasmu. Detakkan jantungmu adalah untaian cintaku, aliran darahmu adalah kerinduan yang tak pernah luntur milikmu.

 

XVI.

Perjalanan yang kita tempuh, sayang, bukan hanya sekedar suka dan duka juga canda dan tawa. Adalah siang dan malam yang kita lewati akan menjadi apa yang kita pertanggungjwabkan. Dan kini telah ikrarkan untuk tetap bersama sampai akhirat yang kita inginkan, selamanya.

 

XVII.

Tak ada yang menghalangi kita untuk saling mencintai, termasuk badai keheningan dan kepedihan. Yang ada hanyalah ketulusan menerima dan membei apa yang kita sebut kasih dan sayang suci. Lalu keyakinan membuat rindu pada kehangatan pelukan Tuhan dan teduh cintaNya.

 

XVIII.

Selalu ada yang membuatku bangga mencintamu. Engkau yang selalu menjaga kemuliaan warna malam milikku, dan fajar putih yang sirna sebelum datang waktuku. Engkau tak memerdulikannya.

 

XIX.

Selalu ada yang membuatku malu mencintamu. Engkau tak pernah sedikitpun menggoreskan tinta merah dalam lembar cintaku, dan aku yang selalu mendarahkan airmata dalam hujan yang tak henti mengguyur kalbumu.

 

XX.

Selalu ada yang membuatku bertahan mencintamu. Adalah kerinduan akan tatapan demi tatapan yang menghanyutkan hati. Dan engkau yang menjadi kekuatan untuk aku yang tak bisa mencari selainmu untuk menyandarkan mimpi.

 

XXI.

Dan kini, saat aku tulis berbait-bait keindahan tentangmu, aku semakin yakin menjadikanmu yang terakhir.

 

XXII.

Dan kini saat engkau membaca berbait-bait sajak ini, engkau akan rasakan betapa aku mencintamu tanpa henti.

 

XXIII.

Dan kini saat engkau menyadari betapa berarti engkau untukku, maka berjanjilah untuk tidak meninggalkanku apapun yang terjadi.

 

XXIV.

Semoga engkau tak bosan mencintaku dengan segala keapa-adanyaanku.

 

XXV.

Peluklah  kerinduan yang kini aku turunkan seperti hujan dari langit menuju hatimu.

 

XXVI.

Selamat tanggal dua-enam wahai kekasih, akan ada lebih dari dua-enam abad lagi rasa cinta yang masih seperti ini bahkan lebih untukmu, akan ada lebih dari dua-enam abad lagi rasa rindu yang masih seperti ini bahkan lebih.

 

10 Comments to "Duapuluh Enam Bait Cinta untuk Kekasih"

  1. fuadi  26 May, 2013 at 00:08

    sungguh puisi yang menyentuh hati, semoga langgeng, dan diberkahi, aamiin

  2. Alvina VB  27 April, 2013 at 21:55

    Congrats…El Hida….istrinya pasti senang dpt hadiah ini….
    romantis banget….

  3. el hida  26 April, 2013 at 16:21

    @pak Dj, sama2. jgn salah lg ya,,,

    @elnino, aamiin, trmksh ya

  4. elnino  26 April, 2013 at 16:18

    Selamat ultah perkawinan el hida. Semoga langgeng dan selalu dalam ingkupan kasih-Nya.

  5. Dj.813  26 April, 2013 at 15:55

    Oooooo…..
    El. Hida adalah lelaki….?
    Dj. Kira wanita.
    Jadi kaget saat baca ” puisi untuk istri saya ”
    Maaf dan terimakasih untuk puisi yang indah-indah.
    Salam,

  6. Chandra Sasadara  26 April, 2013 at 14:06

    Kang JC… tanya dulu bagian mana yg “bergetar”.. tak harus laptop kan?? kikikikik

  7. el hida  26 April, 2013 at 11:24

    aamiin

    terimakasih untuk doa yg tercurah,aamiin

    salam hangat dari saya dan isteri

  8. J C  26 April, 2013 at 09:50

    Puisinya dahsyat…semoga terus “membara” selama mengarungi bahtera dan biduk rumah tangga ya…

    Komen nomer 2 lebih “masuk akal” ketimbang komen nomer 1. Kok ada “menggetarkan” segala…Kang Chandra, laptop’mu tibo yo kok sampai tergetar-getar gitu…

  9. Dewi Aichi  26 April, 2013 at 09:44

    ampunnnn..indah sekali, ikut berbahagia El Hida….

  10. Chandra Sasadara  26 April, 2013 at 09:43

    puisi yang menggetarkan..
    selamat Pak Elhida..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *