Lelah Kamu, Aku dan Kita Jengah

Faizal Ichall

 

Bentangkanlah jarak itu untuk ku, semakin jauh..jauh…sampai tidak menyentuh hati. Sampai di sini.

Aku menunjukkan jariku ke langit, dengan maksud memperlihatkan bintang, ya! Bintang yang kelap kelip itu, sayangnya waktu itu tertutup halimun.

Setelahnya kamu resah, kamu tidak menangkap siratan maksudku, kamu hanya membaca arah jariku, dan kamu bilang;

“Aku tidak melihatnya”

Kamu tidak bisa melebihi batas lama kesabaranmu, walau itu telah terasa lama, tetapi cukup sebentar untuk yang telah berikrar sampai kematian memisahkan.

Sakral-kah kita?

Setelahnya kita menjadi manusia yang saling entahlah… membenci, kecewa, marah dan egois. Kita hanya tahu bahwa diri kita sakit akan yang lainnya, tanpa pernah berpikir apakah kita juga telah membuat sakit yang ada dan lainnya.

puzzlejodoh

Mungkin sebelum bertemu yang pasti kita harus lebih dulu melihat ketidakpastian, agar kita bisa mengetahui apa keraguan itu.

Sampai pada saatnya, takdir menentukan pilihan atas sebuah tindakan, dan kamu bilang kamu lelah akan aku dan kita menjadi jengah.

Maaf jika harus seperti itu, mudah mudahan kemudahan dapat dimudahkan untuk mu dari-Nya.

 

4 Comments to "Lelah Kamu, Aku dan Kita Jengah"

  1. Dj. 813  27 April, 2013 at 23:37

    Setiap pertemuan, selalu memiliki resiko.
    Tanpa pertemuan, berarti juga tanpa resiko.
    Tapi berani bertemu, ya harus konsekwen, menghadapi resiko.
    Selamat berkarya.

  2. Alvina VB  27 April, 2013 at 22:01

    Kalau lelah dan jengah ya…pakai time out aja….

  3. Handoko Widagdo  27 April, 2013 at 18:04

    Bangkitlah saat lelah

  4. James  27 April, 2013 at 15:04

    SATOE, You Me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.