Kereta Antik

Yuli Duryat

 

Aku tak mendapatinya berkeliling dengan rombong yang berisi sayuran. Meskipun aku tetap sama menunggunya di pelataran rumah, dengan uang limaratus rupiah untuk membeli kue galundengnya. Biasanya dia akan menggelantungkan kerendeng berisi kue di setang sepeda jengki-nya.

Dia selalu mengayuh sepeda dengan semangat setiap hari. Senyumku akan mengembang kala melihatnya datang, yang dibalas dengan senyum pula. Dia tahu, satu dari puluhan potong galundeng yang ia bawa akan berganti dengan uang.

Namun hari itu, aku tak mendapatinya berjualan lagi. Ibuku mengajakku untuk masuk ke dalam rumah. Hujan telah mengguyur pelataran rumahku. Tetes demi tetes air itu bahkan telah bergumul dengan bajuku yang lusuh.

“Apa yang kau lakukan? Lihat bajumu basah semua, ayo cepat masuk dan ganti pakaian! Nanti kau masuk angin.” Ibuku membopongku masuk ke dalam rumah. Tangannya sibuk membantuku untuk mengganti pakaian. Sementara aku diam saja.

Kabarnya, penjual sayur itu kini tak perlu bekerja lagi. Dia telah menjadi bebas, tak perlu lagi mencari uang. Setelah beberapa bulan yang lalu dia telah dijemput oleh kendaraan beroda empat yang sangat antik.

Dia, wanita penjual sayur dan kue galundeng kesukaanku. Sayang, setelah undangan yang ia terima pada senja hari waktu itu, aku tidak dapat lagi membayangkan nikmatnya kue galundeng buatannya. Masih untung, aku bisa mengingat akan nama kuenya tersebut, karena aku telah mengikatnya erat-erat dengan nama gunung di Jawa barat. Galunggung, dengan mengubah kata belakangnya menjadi deng, bukan gung.

“Bu, Ibu mau tidak?” tanyaku pada ibu yang sedang sibuk memilih sayur, ketika Bu Mirah masih berjualan keliling.

“Buat kamu saja, nanti uang ibu tidak cukup untuk belanja kalau ibu beli dua,” jawab ibuku.

“Ambil saja, Bu. Saya kasih gratisan untuk Ibu. Karena Ibu telah menjadi pelanggan saya sejak lama. Saya sangat berterimakasih pada, Ibu Suryo.” Bu Mirah mengambil lima potong kue galundengnya, ia bungkus lalu ia berikan pada ibuku.

“Jangan begitu, nanti Bu Mirah rugi,” ibuku menolak secara halus.

Namun Bu Mirah tetap saja menyodorkan kue tersebut kepada ibuku. Dia menolak untuk dibayar dengan alasan bahwa ibuku telah banyak membantunya karena telah menjadi pelanggannya selama bertahun-tahun.

Ibuku selalu menyisihkan limaratus rupiah untukku, untuk membeli kue galundeng kesukaanku itu, setiap kali Bu Mirah datang. Tetapi kini, aku tak bisa mengingat penjelasan Bu Mirah tentang bagaimana rahasianya membuat kue galundengnya menjadi sangat lezat. Yang aku ingat justru penderitaan sebelum kepergianya. Juga tentang kedatangan kereta roda empat yang sering muncul di depan rumahnya secara tiba-tiba. Kata masyarakat sekitar, dia tidak diterima di tempat barunya, Tuan di sana menolaknya. Aku tidak paham perkataan masyarakat sekitar.

***

“Aku sudah bilang, tidak usah kau belikan baju untuk anak-anakku, kenapa kau tetap keras kepala.”

“Aku tidak mau menemui mereka.” Laki-laki itu mengumpat marah.

“Tapi sebentar lagi Idul Fitri, apa Mas tidak kasihan pada mereka. Mereka tidak mampu Mas, kasihan.” Bu Mirah ngotot untuk mengeluarkan pendapatnya yang menurutnya benar.

“Aku akan bakar baju itu kalau kau terus memaksaku untuk datang ke rumah mantanku itu. Aku tak habis pikir, banyak perempuan tak suka suaminya menemui bekas istri dan anaknya. Eh ini malah menyuruhku ke sana.”

“Keadaan kita berbeda Mas. Mereka membutuhkan bantuan kita. Kalau bukan kita siapa lagi. Mereka tidak punya keluarga lain selain kita.”

“Pokoknya aku tidak mau ke sana, titik.”

Bu Mirah masuk ke dalam rumah. Dan keluar menenteng beberapa helai pakaian anak-anak. Dia masuk menuju toko kelontong kecilnya untuk menemuiku yang hendak membeli minyak tanah waktu itu. Dia menyerahkan baju-baju itu kepada suaminya. Dan bersikeras menyuruh suminya untuk pergi ke rumah bekas istrinya guna menyerahkan baju-baju itu kepada dua anak perempuan dari bekas istrinya. Bu Mirah tak menyerah meskipun suaminya semakin hilang kendali. Akhirnya suaminya yang terus didesak itu kalap.

Dalam pandangan mataku, yang pada waktu itu menyingkir karena takut. Jerigen tempat menaruh minyak tanah yang aku bawa dari rumah masih dipegang oleh Bu Mirah. Dia hendak mengisi dengan minyak tanah sesuai dengan yang aku pesan.

Aku menggigil ketakutan. Aku diam membisu tanpa bergerak. Meskipun tetangga mulai bermunculan datang hendak menolong Bu Mirah. Tubuh kecilku hanya menggigil, tak mampu menolong atau membantu Bu Mirah walau hanya dengan suara teriakanku.

Masih terngiang dalam benakku kejadian senja itu, ketika tubuhnya menggelepar kepanasan. Di depan mataku sendiri aku melihat tubuhnya dilalap api, karena kebringasan suaminya yang murka, menyiram dengan minyak tanah dan membakar tubuhnya. Mengantarkannya ke kediaman terakhir dengan kereta antik beroda manusia.

Meskipun dia telah dibawa ke rumah sakit terdekat, dan dokter di sana juga telah membantunya semaksimal mungkin. Namun apalah daya Tuhan berkehendak lain.

***

“Kamu kenapa, Nduk?” ibuku bertanya lembut, sambil mengeringkan rambutku yang basah tersiram air hujan.

“Percayalah, Bu Mirah orang yang baik. Insya Allah, ia diterima dengan baik di Surganya Allah,” lanjut ibuku.

“Surga itu apa, Bu?” aku yang waktu itu baru berumur enam tahun, dengan polosnya bertanya tentang Surga pada ibuku.

“Surga adalah tempat yang sangat indah bagi orang-orang yang berbuat baik.” *)

 

15 Comments to "Kereta Antik"

  1. Yuli Duryat  20 May, 2013 at 19:43

    Mba Hennie Triana Oberst, iya.

  2. Yuli Duryat  20 May, 2013 at 19:42

    Mba Dewi Aichi setuju sekali.

  3. Yuli Duryat  20 May, 2013 at 19:41

    Mas J C, terima kasih.

  4. Yuli Duryat  20 May, 2013 at 19:40

    Aduh Mas Dj, mohon maaf ada kesamaan nama ya waduh hehe

  5. Yuli Duryat  20 May, 2013 at 19:39

    Mas Handoko Widagdo, yup, selamat jalan Mirah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.