Pil KB untuk Si Upik? No Way!

Indriati See

 

Suatu sore di musim panas, kami para orang tua murid dan anak-anak dari kelas 8 Gymnasium (SMP-SMA Eksata) berkumpul untuk mengadakan barbecue di salah satu rumah khusus, yang disiapkan untuk warga desa/kota untuk keperluan barbecue kolektif, yang dalam bahasa Jermannya disebut Grillhuette.

Grillhuette01

Grillhuette

Acara barbecue tahunan ini sudah menjadi tradisi dari setiap kelas dan sekolah di Jerman. Prakasanya datang dari wali kelas dan bekerja sama dengan para orang tua murid.

Pelaksanaannya sbb: masing-masing keluarga menyumbang makanan berupa berbagai jenis salad, roti, daging, sosis dan minuman. Pembagian tugas, siapa yang membawa makanan dan minuman sudah diumumkan 3 minggu sebelumnya dalam bentuk surat edaran dimana kita para orang tua juga bisa menulis makanan atau minuman apa yang akan disumbang agar tidak ada orang tua yang membawa makanan yang sama jenisnya.

Acaranya selalu meriah, anak-anak bisa bermain bola atau aktivitas lainnya di tanah lapang, di alam yang hijau. Grillhuette selalu dibangun dipinggiran desa/kota dan terletak cukup jauh dari jalan raya.

Grillhuette02

Tempat Barbecue + Cerobong Asap

Perlu diketahui bahwa ada peraturan di Jerman yang menetapkan luas area sejauh 3-5 Km antara dua desa dijadikan area bebas bangunan demi kepentingan hutan lindung. Hutan lindung tersebut dipakai juga untuk tempat olah raga, berjalan kaki, jogging dan tentunya museum alam/biologi bagi anak-anak. Dan juga dilengkapi dengan Grillhuette.

Tujuan dari acara barbecue tahunan ini; sudah pasti untuk mempererat hubungan antar para orang tua, murid dan guru. Juga kesempatan dimana kami para orang tua bisa “sharing” tentang apa saja yang menyangkut sekolah, perkembangan anak-anak dsb.

 

Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas?

Salah satu ibu, sebut saja ibu A yang duduk semeja dengan saya bercerita kalau putranya yang berusia 14 tahun sudah punya pacar. “Pacaran” ternyata thema yang sangat hangat saat itu, maklumlah karena anak-anak kami sedang memasuki masa pubertas, masa transisi dari usia kanak-kanak ke usia remaja, juga masa yang penuh dengan pernak-pernik psikologinya, perubahan yang terjadi pada tubuh (menstruasi, tumbuh bulu, kumis, jerawat).

Ibu B pun menceritakan tentang perangai putrinya (16 tahun) yang semenjak punya pacar kerjanya chatting melulu, lalai dalam membantu pekerjaan di rumah dan perubahan tingkah laku yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Di meja tersebut, saya satu-satunya orang asing selebihnya warga negara Jerman asli.

Tiba-tiba terbesit rasa ingin tahu tentang bagaimana reaksi para ibu yang mempunyai anak putri yang sudah pacaran karena saya pribadi harus mempersiapkan diri jika putri kedua saya yang saat itu berusia 13 tahun, tiba-tiba juga punya pacar.

Dengan hati-hati saya bertanya pada ibu B jika beliau mengizinkan putrinya memakai pil KB atau tidak? Sungguh tak disangka jawaban yang saya dapat; “No way!!” sambil memberi alasan bahwa itu berarti sama saja beliau memberikan “lampu hijau” untuk “hubungan seksual selama masa pacaran”. Pendapat si ibu B ternyata didukung oleh ibu-ibu yang lainnya.

Terus terang, kalau saat itu saya merasa bahagia sekali karena ternyata masih banyak bahkan banyak sekali orang tua yang tidak setuju jika anak-anak remaja mereka melakukan hubungan seksual semasa pacaran.

Menurut peraturan yang berlaku dari Deutsche Gesellschaft für Gynäkologie und Geburtshilfe (DGGG) (German Society of Gynecology and Obstetrics ) tentang “Bilamana seorang dokter kandungan memberi resep Pil KB kepada remaja putri tanpa campur tangan orang tua” seperti yang saya kutip dari Spiegel Online sbb:

Apabila usia remaja putri :

1) Di bawah usia 14 tahun, secara fisik dinyatakan belum “matang/siap” untuk menggunakan pil KB.

2) Antara usia 14-16 tahun, diperlukan pemeriksaan oleh dokter apakah fisik dari remaja putri tersebut sudah “matang/siap” dan jika “ya” maka campur tangan orang tua boleh “tidak diperlukan”.

3) Di atas usia 16 tahun, dokter dapat memutuskan bahwa remaja putri tersebut sudah matang/siap untuk memutuskan sendiri dan juga dokter berhak untuk tidak menceritakan kepada orang tua pasiennya.

Di Jerman, penjelasan tentang organ seksual sudah diberikan sejak SD, sudah pasti penyampaiannya disesuaikan dengan umur melalui pelajaran Biologi seperti yang telah saya uraikan dalam tulisan saya di sini.

Informasi yang diperlukan oleh para remaja putra dan putri tentang “seksualitas” dan juga bagaimana mereka harus ”memproteksi diri” dari kehamilan dan penyakit menular dengan mudah mereka dapat baik melalui pelajaran di sekolah, media massa dan juga tersedia di tempat praktek-praktek dokter.

 

Lalu apa yang kami lakukan terhadap ketiga putra dan putri remaja kami?

Dari awal berumah tangga, suami dan saya sudah membagi tugas dalam mendidik anak-anak kami. Saya bertanggung jawab untuk pendidikan agama dan etika, sudah pasti dengan dukungan dari suami juga.

Komunikasi kami dengan anak-anak seperti “teman”, tidak ada rahasia bagi mereka terhadap kami, sampai “ciuman pertama”pun mereka ceritakan.

Mereka aktif di lingkungan rohani dan sosial seperti: menjadi putra dan putri altar. Kami juga menjelaskan dengan bijaksana dan memohon kepada mereka kalau bisa tidak berhubungan seksual selama masa pacaran.

Semua mereka buktikan dengan “pendek”nya masa pacaran karena mereka tidak ingin berpacaran lebih jauh. Mereka lebih berkonsentrasi dengan aktivitas musik, modeling, olah raga dan kompetisi lainnya yang cukup menyita waktu. Mempunyai banyak teman dengan mereka sama-sama melakukan aktivitas tersebut.

Jika mereka sudah berusia 18 tahun (dewasa) maka kami tidak bisa terlalu banyak campur tangan, tetapi kami yakin bahwa kami sudah membangun jembatan “saling percaya”. Jembatan ini akan selalu kami rawat dengan penuh cinta, kasih, respek, dan motivasi.

Akhir kata, bagi kita yang percaya bahwa anak-anak adalah titipanNya, maka dalam mengasuh mereka, kita juga harus menghadirkanNya.

Berharap info di atas berguna dan salam Baltyra.

 

Foto: Doc. Pribadi

 

20 Comments to "Pil KB untuk Si Upik? No Way!"

  1. Lani  1 May, 2013 at 06:47

    INDRI : walau saya tdk tinggal di Indonesia, akan ttp saya akui msh sgt sulit/jengah atau dgn alasan lainnya utk bs terbuka masalah SEX pd anak2 masing2…….

    malah di Amerika belum bbrp lama ini telah dilegalkan utk memberikan pil atau suntikan saya lupa baca dikoran pd anak gadis mulai usia 14 sbg pencegah kehamilan…….

    Saya pribadi tdk setuju, wlu tdk pernah punya anak sendiri….krn menurut saya hal ini sptnya mendorong anak2 utk melakukan SEX dini, tanpa mrk tau bhw mrk belum siap, krn kematangan tiap org berbeda-beda……..

    Saya setuju keterbukaan ant ortu dan anak2 ttg apa saja, anggaplah mrk teman jd tdk ada rasa sungkan utk berkomunikasi ttg hal apa saja………drpd dengar dr org lain belum tentu benar

  2. nia  30 April, 2013 at 22:24

    mb Indri… terima kasih tulisannya ternyata benar gak semua orang barat itu bebas sebebas2nya.
    kalo soal sex di kalangan remaja sy paling sebel kalo dihubung2kan dng agama. yg sy kenal pada MBA (married by accident – soalnya klo di Indonesia hampir pasti dikawinin) justru yg alim. keliatannya anak baik. ibadah rajin… baju sopan… gaulnya sama anak baik2. tp begonya mau aja dikadalin sama cowoknya.
    agama setahu sy mengajarkan kalo sex sebelum menikah itu dosa. yuuukkk… mereka jg tau banget soal itu. masalahnya mereka gak ngerti sex itu yg kyk gimana. gak ngerti yg begini begitu bisa mengakibatkan kehamilan. cowoknya bilang ‘sekali aja gak bakal hamil’ eeeehhh… manut aja. bener gak hamil… dilanjutin.
    di keluarga sy pembicaraan soal sex TIDAK PERNAH terjadi. tapi untungnya waktu SMP sy punya sahabat yg kakak2 ceweknya (jauh lebih tua) mau berbagi dng kami. tp dengar penjelasan mereka selain jadi tau kami jg takut hahaha… lagian kami hidup di kota kecil gak ada internet, gak ada prom night

  3. Indri  30 April, 2013 at 22:24

    Nilai tradisi di Jerman memang masih ada bila dibandingkan dengan Belanda. Temen saya juga berpendapat seperti teman pak JC, pilihan mutlak ada di tangan sang anak ……… Saya setuju dengan Ibu yang bilang no way terhadap pil kb untuk putrinya…… Semoga saya nanti bisa seperti anda, bisa memberi pengertian kepada anak-anak dalam hal ini…… Trims artikelnya.

  4. Alvina VB  30 April, 2013 at 20:26

    Danke Indri….pokoknya kl masalah satu ini ya balik lagi ke pendidikan dalam rumah dan keterbukaan dgn anak.
    Saya bilang ke anak saya pokoknya mau bicara apa saja, termasuk masalah sex education, dsb silahkan saja…. pintu selalu terbuka 24 jam, dah kaya depaneur aja….he..he…..

  5. Maria Catharina  30 April, 2013 at 19:46

    Terima Kasih Tante

  6. Linda Cheang  30 April, 2013 at 19:28

    Indri, berbagi kihsa yang menarik, bahwa di negara maju saja orang tua bisa tegas untuk bersikap, menghadapi pergaulan bebas untuk anak-anak di bawah usia dewasa.

    Sementara di sini malah ironis, banyak orang tua mulai tidak bisa tegas terhadap anak-anaknya.

  7. Indriati See  30 April, 2013 at 17:29

    @Titin Rahayu
    Pengalaman yang sama dengan saya juga sista apalagi kalau masuknya di forum agama, babak belur ! hanya saat itu saya “cuek” dan tetap bertahan dengan argumen saya tanpa emosi dan tanpa menggunakan kata2 kasar seperti lazimnya berdiskusi dengan masyarakat kita yang masih anti kritik hahaha … dan juga untungnya ada beberapa member yang tinggal di LN yang mendukung saya … Sering mereka masih memakai “kaca mata kuda” mereka tidak mau tahu kalau mental remaja kita tidak seperti zaman kita lagi … Remaja kita semakin kritis hanya sangat disayangkan kritis mereka tanpa didukung oleh info yang benar dan bertanggung jawab … … Tak usah menyerah tuk sharing info dengan harapan info yang positif tsb bisa diaplikasikan di Tanah Air sejalan dengan sosial dan budaya bangsa kita … Terima kasih sist

  8. Dj. 813  30 April, 2013 at 17:25

    Omong-omong….
    Lain lubuk sama ikannya….
    Dj. jadi ingin bakar ikan….
    Di Mainz, ada beberapa tempat untuk Grillen, tapi tidak ada yang sebagus di photo diatas…
    Dan di taman juga ada beberapa tempat, tapi kecil-kecil.
    Akibatnya banyak orang “asing” yang grillen disembarang tempat.
    Meraka ngawur dan berani. Padahal kalau ada kontroll, mereka kena denda juga.

    Puji TUHAN . . ! ! !
    Anak-anak Dj. semua sudah dewasa, walau yang paling muda, masih kuliah.
    Bahkan Dewi dan Daniel, pacar saja belum punya.
    Mereka menikmati hidup sendiri, tidak ada yang ganggu.
    Tapi kumpel ( laki dan perempuan ) banyak.
    Dan dua-duanya bernasib sama.
    tahun 2008,di Dewi yang sudah tunangan, mau diajak nikah, tapi karena baru mau ujian, maka dia belum mau.
    Tunangannya lari dengan perempuan lain.
    Sedang si daniel, setelah selesau Ausbildung, pacarnya ajak hidup bersama.
    Dia tidak mau, karena dia ingin cari abitur dan kuliah lagi. Pacarnya lari dan nikah dengan orang lain.
    Sampai sekarang baik Dewi, maupun Daniel, bujang dan malah sering jalan bersama ( kaka-adik ).

    Tapi si Daniel ( si bontot ) yang paling sabar.
    Tapi dia tahu, saat di Real schule, Dewi banyak ngajari dia, sampai nilai-nilainya jadi bagus.
    Nah ya, namanya anak-anak, sudah besar juga tetap anak.
    Kleine Kinder kleine probleme, große kinder, große probleme…
    Tapi sering ribut juga, kalau dirumah ( kumpul ), kalau diluar, mereka bergandengan tangan, sejak kecil.

  9. Indriati See  30 April, 2013 at 17:16

    @Chandra S
    Setuju memberikan penjelasan dan pengertian dengan cara bijak kepada anak2 memang lebih penting dari pada menujukkan sifat “otoriter” kita sebagai orang tua

  10. Indriati See  30 April, 2013 at 17:12

    @Hennie
    Sama2 Hen harapan saya juga sama …
    Liebe Gruesse

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.