Arabisasi atau Gamang Budaya?

JC – Global Citizen

 

 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, שָׁלוֹם עֲלֵיכֶם, peace be upon you…

 

“Perempuan tak boleh pakai celana panjang, haram.”

“Kalau aku pakai gamis, aku juga pakai celana panjang. Kalau gak pakai malah gak nyaman…” sahutku.
“Pokoknya jangan sampai memakai celana panjang yang terlihat dari luar.”
Aku terdiam. Olala…. meraih surga betapa sulitnyaaaaaa….

 

Demikian kutipan percakapan salah seorang teman yang dikirimkan seorang sahabat yang sekaligus menanyakan pendapat saya.

Saya terusik dan tercenung lama ketika membacanya.

Semua nalar, logika dan secuil pengetahuan dalam otak berusaha mencerna, mengolah dan menganalisanya. Situs di internet saya ubek-ubek. Yang saya temukan bukan memperjelas atau memberikan informasi yang pas malah semakin mbulet dan out of my imagination

Tulisan ini BUKAN membahas ajaran agama. Saya tidak beragama Islam dan tidak memiliki cukup pengetahuan mengenai Islam. Untuk saya, semua ajaran agama adalah final dan amin untuk pemeluknya. Yang ingin saya sampaikan adalah BUDAYA, yaitu budaya Arab yang menyertainya (mau tidak mau, diakui atau tidak) dalam keseharian masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Saya merasakan semakin kentalnya pengaruh budaya Arab yang menurut saya kurang pas dalam keseharian kita. Budaya Arab, dasar pemikiran masyarakat Arab yang didasarkan kehidupan keras di padang pasir, belakangan semakin terasa diserap mentah-mentah, terjadi arabisasi di hampir semua sendi kehidupan masyarakat. Sebagian masyarakat malah lebih-arab dibandingkan orang Arab sendiri, dan banyak yang merasa semakin arab mereka semakin dekat ke surga.

Dari nalar dan logika paling dasar saya, sampai detik tulisan ini diketik, saya belum melihat di mana haramnya celana panjang? Jelas dan pasti orang-orang yang mengamini “celana panjang haram” akan berkata bahwa saya tidak mengerti Islam dan tidak memahami akidah.

Saya semakin bingung dan mumet ketika membaca:

http://hijab1.wordpress.com/2012/02/14/hukum-mengenakan-celana-panjang-pantolun/

“Ya, celana (pantolun) yang menyerupai celana panjang dari orang-orang kafir adalah Haram ((Barangsiapa meniru suatu kaum ia adalah dari mereka)) saya lihat dalam beberapa negara Arab bahwa Anda melihat seorang wanita yang tidak dapat dibedakan Kristen dari Muslim karena persamaan bentuk gaunnya…”

 

“Celana panjang (pantolun) untuk pria dan wanita tidak diperbolehkan karena meniru orang kafir, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak memakainya, begitu pula salah satu sahabat dan juga tidak Pendahulu kita yang saleh…”

 

“Tentang mengenakan pantalon (celana panjang) maka kita telah berbicara tentang itu banyak sekali, itu adalah jenis pakaian asing. Tidak diijinkan bagi seorang muslim untuk memakainya …”

 

Sekali lagi saya bukan Islam dan tidak punya pengetahuan mendalam mengenai Islam, namun logika dan nalar saya berkata bahwa ini BUKAN tentang agama Islam itu sendiri, tapi ini adalah interpretasi orang-orang tertentu, yang mungkin dianggap suci atau menganggap dirinya suci, sehingga menafsirkan hal-hal seperti ini. Nama-nama yang dikutip di situs itu, saya tidak pernah mendengarnya, dan sepengetahuan saya bukanlah nama-nama nabi yang dipercayai kitab suci agama Samawi.

halal-haram

Dengan pengetahuan agama saya yang dangkal ini, saya mencoba mengingat-ingat ajaran atau ucapan atau cerita atau teladan para nabi sejak Adam dan Hawa, belum pernah ada satupun yang membahas mengenai CELANA PANJANG.

Beberapa situs lain yang membahas celana panjang yang menurut mereka “sesuai ajaran Islam”, semakin membingungkan saya: http://generasisalaf.wordpress.com/2012/11/26/fatwa-wahabi-wanita-haram-memakai-celana-panjang-tasyabbuh-bil-kuffar/; http://qalamun.web.id/12/06/2012/celana-panjang-bagi-wanita-masalah-education-development-center-endece-seminar-sehari/

Yang lebih membuat saya termangu adalah ancaman “surga-neraka” kalau tidak mengikuti hal-hal seperti ini yang menurut mereka sesuai ajaran agama Islam. Apakah begitu rumitnya pemikiran dan pemahaman orang-orang yang mengharamkan celana panjang, sampai-sampai berpakaian pun diatur supaya masuk surga. Yang saya imani, rasa-rasanya Sang Pencipta kita tidaklah serumit dan seruwet itu.

Kemudian mau tidak mau, saya jadi teringat aturan bonceng sepeda motor di Aceh, yang menurut pembuat aturannya adalah sesuai syariah dan ajaran agama Islam. Lagi-lagi saya tekankan, saya bukan Islam dan saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai agama Islam. Namun saya bertanya-tanya lagi, apakah harus sedemikian rumitnya untuk masuk surga sehingga untuk mengendarai sepeda motor pun diatur sedemikiannya. Apakah dengan membonceng sesuai aturan yang digariskan di Aceh sana sama dengan memesan satu kavling di surga? Terlalu cekak dan dangkal rasanya pemikiran dan pemahaman seperti itu. (http://news.liputan6.com/read/480059/kontroversi-larangan-bonceng-ngangkang-di-motor-disorot-dunia). Lagi-lagi, bagi para pendukungnya akan berkata bahwa saya ini tidak memahami akidah dan kafir.

Yang lebih konyol adalah berita berikut ini: http://internasional.kompas.com/read/2013/04/17/20134254/Akibat.Terlalu.Tampan.3.Pemuda.Ditahan.Polisi.Syariah.Saudi; http://internasional.kompas.com/read/2013/04/25/15212224/Inikah.Pria.Ganteng.yang.Dideportasi.Arab.Saudi

Guuubbbrrrraaakkk…dilarang ganteng/tampan/handsome untuk para pria dan dilarang cantik/cakep/pretty/beautiful untuk para wanita (sepertinya begitu) di Arab Saudi. Dikuatirkan pria ganteng akan menggedor keimanan para wanitanya, melambungkan imajinasi (mungkin ngiler dan ‘basah’) kepingin bercinta. Atau wanita cantik jika diperkosa karena membangkitkan syahwat yang melihat, adalah salah sendiri dan resiko kenapa dikaruniai wajah cantik.

Yang sangat mengusik logika dan nalar adalah sepertinya aturan-aturan tersebut dibuat hanya berdasarkan SYAHWAT semata (atau saya yang salah menangkap, dan tentu saja lagi-lagi tidak mengerti akidah karena saya kafir). Semua diukur dari sudut pandang kelamin (terutama pria), hal-hal yang membuat kaum pria ereksi adalah SALAH, HARAM dan NERAKA ganjarannya. Manuk-perspective dan sudut pandang perngacengan sangat kental di sini. Surga-neraka, halal-haram, ereksi-tidak ereksi.

Logika manuk-perspective yang dijiplak mentah-mentah dari budaya Arab ini belakangan semakin marak dan membanggakan para pelaku dan yang meyakininya. Semakin arab semakin dekat ke surga, semakin ikut kaidah Arab, serasa sudah reservasi satu kavling surga.

Budaya Asia secara umum usianya jauh lebih tua daripada budaya Arab. Tidak ada budaya di dunia yang lebih baik dari yang lain. Di tiap kebudayaan ada positif dan negatifnya, tiap budaya pernah mengalami masa jaya dengan segala kelemahan dan kelebihannya. Sepanjang ingatan saya yang pendek dan pengetahuan saya yang dangkal tentang beberapa budaya Asia, sepertinya tidak ada satupun yang mengedepankan manuk-perspective atau syahwat.

Setidaknya sedikit pemahaman saya tentang budaya Jawa dan Tionghoa menyebut beberapa: welas asih, tepa slira, hormat kepada orangtua, bakti, semeleh (bukan nrima, bukan pasrah, tapi gabungan dari menerima karunia, berkat, berkah, rasa syukur dan tidak kemrungsung, jadi satu diwakili kata semeleh), nguwongke uwong (memanusiakan manusia), menghormati pasangannya (suami atau istri), mengedepankan budi pekerti dan etika dan masih banyak lagi. Termasuk sepertinya budaya Korea dan Jepang. Demikian juga budaya-budaya barat yang sempat saya amati, sepanjang ingatan saya yang pendek ini, tidak ada satupun yang sedemikian mengedepankan urusan sejengkal-di-bawah-pusar seperti budaya Arab.

Dalam pencarian informasi di internet, saya menemukan lebih banyak kejanggalan yang mengusik nalar dan logika. Di antaranya:

–          Cungkup makam adalah haram, dianggap musyrik.

–          Telonan (upacara kehamilan usia 3 bulan) dan mitoni (upacara kehamilan 7 bulan) haram karena mengikuti budaya Hindu.

–          Sungkeman kepada orangtua: dalam upacara pernikahan, perayaan Idul Fitri, dsb, dianggap haram juga.

–          Ziarah ke makam diharamkan juga.

–          Mengucapkan selamat Natal dan hari raya agama lain haram.

–          Tahlilan/yasinan haram.

–          Selamatan/kenduri haram.

–          Upacara 3 hari, 7 hari, 40 hari dan nyewu (1000 hari) orang meninggal haram.

–          Upacara selapanan bayi haram.

 

Entahlah berapa banyak dan berapa panjang daftar HARAM bagi para pemuja budaya Arab ini. Entah apakah memang dalam Qur’an diatur detail untuk hal-hal seperti itu ataukah hanya interpretasi oleh orang-orang yang dianggap suci atau menganggap dirinya suci, yang diamini dan diyakini oleh semakin banyak orang. Termasuk Facebook, Valentine, perayaan Imlek, berkebaya, dan sebagainya yang menambah panjang daftar haram. Mungkin Gus Wan Juwandi Ahmad, Kang Makinnudin Chandra Sasadara atau mas Iwan yang lebih mumpuni dan cukup ilmunya untuk menjelaskan hal-hal haram di atas.

Yang cukup mengherankan adalah para pengikut budaya Arab fanatik yang mengharamkan celana panjang kenapa tidak sekalian menjiplak mentah-mentah gaya busana Arab, lengkap dengan keffiyeh’nya (https://en.wikipedia.org/wiki/Keffiyeh). Saya ingin melihat apakah bisa mendapatkan pekerjaan atau bisnis dengan berbusana seperti itu di Indonesia. Bila perlu sekalian mengendarai onta ke kantor di Thamrin – Sudirman, menuntut onta-way berdampingan dengan busway – mungkin sudah sangat yakin mendapat kavling prime location di surga.

Tidak ada yang salah ikut dan menjiplak kaidah budaya Arab dengan segala bentuknya mentah-mentah dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada larangan dan itu adalah hak asasi tiap individu, tapi…mbok-ya-o jangan mencerca, mencela, menghujat dan mengatakan yang tidak seperti mereka adalah salah, haram dan neraka ganjarannya, malah sering ditambah kata-kata sakti andalan: “kafir” atau “tidak mengerti akidah”.

Sekali lagi, tulisan ini BUKAN tentang agama.

 

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Sumber bacaan:

http://hijab1.wordpress.com/2012/02/14/hukum-mengenakan-celana-panjang-pantolun/

http://generasisalaf.wordpress.com/2012/11/26/fatwa-wahabi-wanita-haram-memakai-celana-panjang-tasyabbuh-bil-kuffar/

http://qalamun.web.id/12/06/2012/celana-panjang-bagi-wanita-masalah-education-development-center-endece-seminar-sehari/

http://faisalchoir.blogspot.com/2011/06/tradisi-masyarakat-islam-yang-bersumber.html

http://talazoft.blog.usu.ac.id/2010/04/05/fatwa-imam-syafi%E2%80%99i-tentang-kenduri-arwah-tahlilan-yasinan-dan-selamatan/

http://internasional.kompas.com/read/2013/04/17/20134254/Akibat.Terlalu.Tampan.3.Pemuda.Ditahan.Polisi.Syariah.Saudi.

http://internasional.kompas.com/read/2013/04/25/15212224/Inikah.Pria.Ganteng.yang.Dideportasi.Arab.Saudi

http://news.liputan6.com/read/480059/kontroversi-larangan-bonceng-ngangkang-di-motor-disorot-dunia

http://en.wikipedia.org/wiki/Salafi_movement

http://en.wikipedia.org/wiki/Wahhabi_movement

http://ustadzaris.com/hukum-sungkeman

http://abisyakir.wordpress.com/2013/01/18/karena-zhalim-kepada-ustadz-abu-bakar-baasyir-jakarta-dihajar-banjir/

http://www.lebaran.com/khazanah/item/743-tradisi-sungkeman-sesuai-syariatkah?.html

http://www.arrahmah.com/read/2012/12/20/25562-mui-tegaskan-haram-hukumnya-mengucapan-selamat-natal-dan-natal-bersama.html

http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/12/19/22435/mui-kembali-tegaskan-umat-islam-haram-ikut-ritual-ucap-selamat-natal/

http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/06/apakah-3-bulanan-telonan-7-bulanan.html

http://ibnushodiq.wordpress.com/2011/11/02/adat-yang-salah-dalam-kehamilan-dan-kelahiran/

http://bahterailmu.wordpress.com/2011/06/24/perayaan-tujuh-bulan-kehamilan-islamikah/

http://ummatipress.com/2012/03/12/ziarah-kubur-itu-sunnah-tapi-wahabi-nekad-menghina-peziarah-kubur/

http://ummatipress.com/2011/10/04/fakta-mengejutkan-tentang-tahlilan-yang-dianggap-haram-oleh-salafi-wahabi/

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,12-id,37270-lang,id-c,buku-t,Tahlilan+Yasinan+itu+Haram+-.phpx

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

347 Comments to "Arabisasi atau Gamang Budaya?"

  1. Dj. 813  2 February, 2014 at 21:10

    Dimas….
    Hahahahahahahahahaha….
    Nah itu dia, kalau semua mau dimakan mentah-mentah, tanpa diketahui apa maknanya.
    Salam manis untuk keluarga dirumah ya.

  2. J C  2 February, 2014 at 20:18

    pak Djoko: wuiiiihhh artikel ini jadi rame lagi… lha ya memang, ortu saya juga bilangnya “hamin, hamin” = orang selamatan/kenduri…

    oom SLB: kalau Kang Anoew lebih senang lagi yang tidak pakai apa-apa…

    mas Agus: huahahaha…cocok tenan…

    pak Djoko: lha itu Kang Chandra Sasadara pernah cerita bahwa jemaah haji Indonesia di Arab di dalam bus, guide’nya memperkenalkan diri pakai bahasa Arab, dijawab: “amiiiinn…”, “amiiiinnnn…”, sampai penerjemahnya bingung, dan menjelaskan bahwa dia itu sedang memperkenalkan diri bukan berdoa…

  3. Dj. 813  2 February, 2014 at 18:57

    Hahahahahahahahaha….!!!
    Brur Agus hari ini lucu juga….

    Maaf ini nulis asal nyambar saja….

    Dj. pernah bercakap dengan pegawai produksi di Firma dimana Dj. ngarit.
    Dia orang turki, sambil mengerjakan kerjaannya, Dj. molai to say hello…
    Kemudian saat makan siang, Dj. cari dia dan kami duduk disatu meja.
    Nah sellesai makan, dia berkata, alhamdulilah….!!!
    Dj. hanya iseng bertanya, apa kamu tahu maksud kata yang kamu ucapkan.
    Dj. bertanya ini, karena orang islam turki termasuk liberal dan tidak seperti dari Afganistan atau pakistan.
    Dia menjawab, jelas tahu.
    Dj. tanya, apa arti yang kamu sebutkan tadi.
    Dia, jawab, alhamdulilah artinya SAYA SUDAH KENYANG.

    Gubraaaak…!!! Dj. hanya melongo dan bertanya, dari mana kamu tahu…???
    Ayah saya, ibu saya dan kami sekeluarga, kalau selesai makan harus bilang alhamdulilah…!!!
    Dj. bilang, nanti kalau kamu pulang, tanya ayahmu lagi, apa benar demikian.
    Besoknya, dia saambil malu-malu dan minta maaf, karena dia salah…

    Nah disini Dj. lihat,banyak manusia yang hanya ikut-ikutan dan tidak tau apa yang sebenarnya.
    Banyak orang berpakaian badaya arab, tapi menamakan pakaian muslim.
    Yang aneh lagi, saat di Ko-Ki ( Kolom Kita ),kemudian di juga di Baltyra, ada yang pernah berkata ( menulis ).
    Kalau orang islam harus bisa berbahasa arab. Karena hanya mereka yang bisa berbahasa arab yang akan masuk sorga.
    Dj. jawab, bahkan di arab, banyak bandit, palacur juga pembunuh.
    Mereka semua berbahasa arab.
    Apakah mereka semua akan masuk sorga…???

    Dj. kadang kasihan,karena mereka hanya tahu kulitnya saja, tapi sudah mengajarkan ke orang lain.
    Ini seperti orang buta yang menuntun orang buta yang lainnya,dua-duanya bisa masuk jurang.

    Tapi yang namanya manusia, selalu merasa dirinya yang paling benar dan tidak rela mengakui
    bahwa ada yang lebih benar.

    Salam Damai dari Mainz.

  4. Agus Sudrajat  2 February, 2014 at 16:41

    Islam bukan representasi budaya Arab, bukan juga cerminan gaya hidup orang Arab… Salah kaprah…! Campur aduk ajaran agama dengan budaya tempat turunnya agama tsb…

    Coba kalo ajaran Islam diturunkan di Sumedang… atau di Padang…. atau di Irian, nah kalo turunnya disini, mungkin pake koteka merupakan kewajiban…?

    Dikit2 kafir… dikit2 haram… Sesuatu yg tersentuh atau yg melibatkan orang non muslim (kafir) diharamkan, apakah itu proses produksi, barang2 hasil produksi, makanan, minuman, pakaian, dll… kalo ada keterlibatan orang kafir, dilarang untuk dikonsumsi atau dipakai…

    Lalu… apakah didunia ini ada sesuatu yg tdk melibatkan non muslim…? sehingga dijamin halal sejuta persen…?

    Saya kira ada…

    yaitu : AIR HUJAN…. Jadi kalo mau yg murni halal, tdk tersentuh/melibatkan org2 kafir, saat hujan, “nganga” aja menengadah ke langit…. itu baru halal…!!!

    Ribed…. Itulah kehidupan dimensi 3….!

  5. Dj. 813  2 February, 2014 at 16:02

    Apalagi pakai bikini ya Liong…???
    Hahahahahahaha…!!!

  6. Swan Liong Be  2 February, 2014 at 15:50

    Saya juga lebih senang liat cewek pake celana pendek ketimbang jelana panjang!

  7. Dj. 813  1 February, 2014 at 23:56

    Dimas Josh Chen…..
    Pokok ke Hamin….!!!!
    Entah apa kata ustad atau guru agama, ngerti nggak ngerti hajar saja dengan HAMIN…!!!

    Jadi ingat masa kecil di kampieng…
    Kalau ada slametan ikut kaka, ada yang baca doa, asal orang lain bilang hamin…
    Maka semua yang hadir srentak bilang… hamin…!!!
    Pernah Dj. ngatuk, oleh kaka disenggol, disuruh bilang hamin…!!!
    Sehingga kalau ada slametan, ditanya orang, mau kemana…???
    Mau hamin..hamin…!!!
    Yang penting pulang bawa makanan…. Hahahahahahaha….!!!
    Dasar pikiran anak kecil, kalau diingat jadi malu juga.
    Karena hanya IKUT – IKUTAN saja.

    Pernah saaat sudah di SMP di Bandung, ada tamu yang dalam kebaktian pagi, dengan bahasa arab.
    Semua murid kaget, kok ada orang islam masuk sini…???
    Taunya pendeta dari arab, ya karena dia berbahasa arab, maka kami kaget, bahkan biblenya juga dikasih lihat
    dengan tulisan arab.
    Sejak dari saat itu, kami mengreti bahwa di arab, juga banyak orang kristen.

    Yang Dj. sayangkan, mengapa orang Jawa tidak bangga dengan adat jawanya, tapi mengapa memilih adat arab…??? Berpakaian seperti orang arab.
    Kan bisa saja menutup auratnya dengan kain batik ( misalnya ).
    Kadang memang orang Indonesia senang dijajah.
    Tidak disadari, bahwa mereka menghambakan dirinya sendiri, takluk dalam budaya orang lain.
    Padahal kami yang di Eropapun, setengah mati, memperkenalkan budaya Indonesia ke orang Eropa.

    Okay, salam Damai dari Mainz.

  8. Lani  27 July, 2013 at 09:00

    AKI BUTO : aku japri………diwoco yo……….kamsia……..sori nyasar kesini……..

  9. J C  27 July, 2013 at 08:51

    abunadia: memang seperti saya tulis dalam artikel, saya tidak mengerti apa itu akidah, apalagi hadlarah, madaniyah, nggladrah atau bubrah. Lepas dari masalah pembahasan agama, sekali lagi BUKAN TENTANG AGAMA, kenyataannya orang Indonesia semakin dan lebih arab ketimbang orang Arab sendiri seperti tepat komen sebelum ini. Sudah kah mendengar cerita bahwa rombongan haji dari Indonesia ketika di dalam bus guide dari Arab memperkenalkan diri (tentu saja dengan bahasa Arab), para penumpang dari Indonesia menyahut beramai-ramai: “amiiiinnn…amiiiinnn” karena dikira si pemandu sedang berdoa, sampai kemudian penerjemah mengatakan: “lho bapak ini sedang memperkenalkan diri bapak ibu sekalian, bukan sedang berdoa atau membaca ayat suci”.

  10. abunadia  27 July, 2013 at 07:22

    numpang share…
    maaf, sebelumnya apa saudara sudah mamahami masalah hadlarah dan madaniyah? kami muslim, menetapkan halal dan haram menurut apa-apa yang telah dihalalkan dan apa-apa yang diharamkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. untuk anda ketahui bahwa Arab bukanlah Islam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *