Ketika Sang Pilot Jatuh Cinta

Hennie Triana Oberst

 

Gaduh sekali sore itu di kantorku. Biasanya sore menjelang petang seperti ini hampir semua karyawan mulai bersiap-siap pulang. Suara pimpinan kami yang aslinya memang terdengar keras, hari ini terdengar menggelegar, kelihatan nada kekesalannya. Ternyata ia sedang berbicara di telpon dengan kantor di bandara.

Aku berjalan menuju pantry di kantor, berencana menyeduh dan menikmati kopi sore. Bagiku menikmati kenikmatan hangatnya kopi sore hari begini sedikit menghilangkan kepenatan kerja seharian.

“Tuh si Boss ngamuk, di bandara sedang ramai”, seorang rekan kerjaku, Vonny berkata sambil tersenyum ke arahku.

Kami sudah sangat mengenal karakter Mr. Em sebagai Station Manager yang tak sabaran dan sering ngomel itu. Terkadang kalaupun dia marah kami menanggapinya dengan santai saja, sangking biasanya. Satu yang aku suka darinya, ia akan cepat reda dan melupakan amarahnya, tanpa mengungkit-ungkitnya di kemudian hari.

“Memangnya ada apa Von, kok hari ini dia marah besar?“, aku menyambut pernyataannya.

“Hampir saja flight delay. Gimana nggak ngamuk tuh si orang tua (julukan yang kami berikan padanya). Si Pilot nggak mau terbang. Katanya mau menunggu seorang Pramugari dari maskapai penerbangan lain, yang hari ini punya jadwal yang hampir bersamaan”,   Vonny menerangkan sambil ngakak.

“Oh, sang Pilot sedang kasmaran”, kataku sambil tertawa.

pilot

Penerbangan sore itu akhirnya berjalan sesuai jadwal. Sang pilot menyerah, menerbangkan pesawat tanpa menunggu gadis pujaannya, setelah Mr. Em mengancam akan segera melaporkannya ke kantor pusat di negeri seberang sana.

Kadangkala reaksi jatuh cinta membuat seseorang bersikap tak rasional. Robert (sang pilot) tidak mengenal siapa pramugari dari salah satu maskapai penerbangan nasional itu. Ia hanya ingin menanti dan (mungkin) berusaha untuk berkenalan.

Jatuh cinta memang bisa membuat seseorang bersikap konyol.

 

**Warna warni jatuh cinta – Jakarta 1995**

(Foto: beyondhollywood.com)

 

58 Comments to "Ketika Sang Pilot Jatuh Cinta"

  1. Hennie Triana Oberst  22 May, 2013 at 17:56

    Risma suka si Leo ya?

  2. Rismapurnamaa  14 May, 2013 at 09:24

    catch me if you can, leo….<3

  3. Hennie Triana Oberst  12 May, 2013 at 21:20

    Terima kasih ODB. Benar sekali, tidak banyak ya pramugari di maskapai Amrik yang muda, segar dan langsing seperti kebanyakan maskapai penerbangan Asia.

  4. Ouw Djiam Biauw  12 May, 2013 at 02:27

    Hennie in Germany
    DiAmrikpun susah menemukan flight attendance,seperti di ASIA yg masih muda2

  5. Hennie Triana Oberst  6 May, 2013 at 02:04

    hahahaha… JC

  6. J C  5 May, 2013 at 20:11

    Naaaahh khan, Tammy, Chiara, aku dan Anoew sepakat semua… (perkecualian Anoew, selama ada yang pakai rok di atas lutut ya tetep saja…)

  7. Hennie Triana Oberst  5 May, 2013 at 18:58

    Tammy lho kok pertanyaannya mirip dengan pertanyaan Chiara ya?

  8. Hennie Triana Oberst  5 May, 2013 at 18:57

    Matahari, ada juga kadang beberapa penumpang di penerbangan nasional di Indonesia yang non Garuda yang tingkahnya kadang membuat penumpang yang lain tidak nyaman. Mereka ini seperti “Raja” yang inginnya selalu dinomorsatukan, kalau meminta sesuatu dari petugas di pesawat sikap dan nada bicaranya seperti memerintah dan menyepelekan. Mereka menganggap pekerjaan pramugari/pramugara itu terlalu sepele, dengan menganggap hanya “melayani” makan, minum dan keperluan remeh temeh penumpang.

    Benar juga kalau selera tiap orang berbeda. Tapi banyak teman-teman saya dulu lelaki western yang kalau terbang suka dengan penerbangan dari asia karena salah satu pemandangan di dalam pesawat, katanya penuh dengan wanita cantik

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *