Maling

Chandra Sasadara

 

Hong ingsun amatek aji sirep megananda kang ana ing telenge indrajit,

kumelun nglimuti ing mega malang,

bul peteng dhedet lelimengan,

pet pepet kemput bawur wora wari aliweran tekane wimasara,

kang katempuh jim setan peri prayangan, gandarwa, jalma manungsa tan wurung ambruk lemes wuta tan bisa krekat,

blek sek turu kepati saking kersane Hyang.

 

Angin merambat pelan. Udara semakin dingin mengigit kulit. Cicit burung malam dan lolongan anjing liar pun  berhenti setelah mantra itu dilepas di udara oleh laki-laki dalam gelap.  Perbawa mantra itu memang bukan ditujukan untuk meninabobokan alam dan memperlambat laju angin.  Mantra sirep itu sengaja dilepas untuk menindih kesadaran penghuni rumah yang dituju.

Suara batuk masih terdengar dari dalam rumah. Laki-laki dalam gelap itu yakin bahwa mantra sirepnya telah bekerja. Ia abaikan suara batuk di rumah. Tidak ada seorang pun yang akan sanggup menerima perbawa  sirep megananda pikirnya. Berjalan pelan mendekati pintu belakang. Laki-laki itu bermaksud mencungkil  lobang pintu. Namun suara dehem dari dalam rumah terdengar lagi. Kali ini laki-laki itu baru sadar bahwa mantranya belum keberja.

Ia mundur ke belakang. Berdiri di tempat semula, di kegelapan.  Siapa sebenarnya laki-laki tua penghuni rumah ini pikirnya. Bukankah ia hanya orang tua yang hampir mati. Laki-laki dalam kegelapan itu terus berpikir, sebab ia merasa kenal betul dengan kakek yang rumahnya sedang disatroni. Ia hanya orang biasa, seorang Cina tua pemilik tokoh kelontong, tapi mengapa mantranya seperti menguap di udara dan hanya berpengaruh pada alam sekitarnya.

Mengkin khodamnya belum turun pikirnya. Sesaat ia menunggu. Setelah yakin kadhom mantra telah turun, ia baca mantra penguatnya sambil menjejakkan kaki tiga kali tanpa bernafas. Hong mret mret nuli tumungkul ing pratiwi.

Kali ini ia yakin mantranya telah bekerja.  Mengalir bersama angin malam dan dihirup oleh penghuni rumah.  Sekali lagi ia berjalan jinjit mendekati pintu belakang. Berhasil mencongkel dan masuk di dalam rumah. Gelap, tidak ada penerangan. Tidak ada suara. Laki-laki itu mengeluarkan senter kecil, mencari lemari yang diyakini berisi benda yang diinginkan.

“Lowo, aku telah menunggu kedatanganmu.” Suara itu pelan tapi tak urung membuat senter di tangannya jatuh. Jantungnya pun hampir rontok bersama jatuhnya senter. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Habis riwayatku sekarang pikirnya.

*****

Pasti itu bukan nama asli. Orang memanggilnya Lowo. Di pasar memang laki-laki kekar itu dipanggil dengan sebutan binatang. Sejenis kelelawar  yang suka merusak musim buah di kampung. Ia terkenal sangar dan sering bertindak kasar. Namun di depan neneknya ia tak lebih dari seorang bocah. Memandang mata neneknya pun tak sanggup.

Ngger sumurupo, yen urip iku mili.” Neneknya mulai berbicara.

Inggih.” Lowo menjawab pelan dengan wajah tertunduk.

Miline urip iku nuju patine rogo.” Perempuan tua itu merahi kepala Lowo.

Makaten.”  Suara Lowo pelan dengan mata tergenang air mata.

“Hidup itu tak pernah mati.”  Lowo terdiam, tak tahu maksud kalimat terakhir neneknya itu.

Mongko ojo suwe-suwe urip ning pasar ya ngger, mulai sekarang tatalah hidupmu.” Neneknya melanjutkan.

Inggih.” Lowo menjawab pelan. Tak ada pergolakan sedikitpun dalam hatinya. Ia memang berniat untuk menjalani semua yang diperintahkan neneknya.

“Dulu kakekmu menitipkan sesuatu kepada Kong Swie Ho, pemilik tokong kelontong itu. Sesuatu yang harus kamu warisi.” Sangat pelan lowo menarik kepalanya dari pangkuan neneknya.

“ Apa itu Nek?” Mata Lowo yang merah karena habis menangis di pangkuan neneknya tiba-tiba berbinar.

“Barang kang sinengker.” Neneknya menjawab, namun justru membuat Lowo tidak mengerti. Apa itu barang yang tersembunyi.

“Ambilah barang itu dari Kong Swie Ho pada malam ketujuh bulan Suro.”  Neneknya menjelaskan.

“Apa tidak bisa diminta sekarang saja Nek.” Lowo tak sabar.

“Jangan tergesa.” Neneknya menjawab.

“Inggih.” Lowo mengangguk tanpa berani beradu mata dengan perempuan tua di depanya.

“Akan nenek ajarkan mantra sirep.” Kata neneknya pendek.

“Masuklah kamu ke rumah Kong Swie Ho setelah mantra itu kamu rapal.” Lowo tak mengerti, mengapa harus menggunakan mantra sirep segala, bukankah bisa bertemu Cina tua itu untuk mengambil hak waris yang ditinggalkan oleh kakeknya.

“Nek mengapa harus menggunakan sirep, bukankah bisa diminta baik-baik kepada Kong Swie Ho.” Lowo berusaha menawarkan jalan yang lebih mudah.

Perempuan tua itu memejamkan mata, tidak ada kalimat jawaban. Lowo membayangkan bahwa barang yang dititipkan oleh kakeknya kepada Kong Swie Ho pasti harta yang berjumlah besar. Cina tua itu selain kaya, juga terkenal jujur dan dermawan. Pantas kalau kakek menitipkan barang berharga kepada Kong Swie Ho, pikirnya. Namun mengapa ia harus mengambil dengan cara menggunakan sirep. Bukankah cara itu biasa digunakan maling.

*****

Dengan ketakutan yang masih meliputi jiwanya. Lowo berusaha untuk tegar. Apapun yang terjadi, bahkan kalau harus berurusan dengan polisi ia pasrah. Kong Swie Ho berjalan tertatih mendekati Lowo yang belum berajak dari tempatnya berdiri. Orang tua itu membungkuk mengambil senter kecil milik Lowo yang terjatu persis di sebelah kakinya. Lowo dituntun menuju bilik pribadi. Ia masih tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Kong Swie Ho.

Lentera kecil dinyalakan, tapi terangnya masih kalah dengan mata orang tua itu. Lowo belum pernah melihat mata Cina tua itu meskipun ribuan kali ia mondar-mandir di depan tokoh kelontong miliknya.  Dengan penerangan temaram, mata orang tua itu tetap terlihat dalam, tenang, menyala dan sejuk. Lowo ingat mata kakeknya.  Mata itu seperti milik kakeknya.

“Kong, ampuni aku.” Lowo merengek pada laki-laki tua di depanya.

“Lowo, kamu tidak salah ngger. Orang tua ini yang justru telah lama menunggumu.” Kong Swie Ho menjawab pelan.

“Aku tidak bermaksud mengambil harta benda Kong Swie Ho. Aku hanya ingin mengambil titipan kakek.” Lowo masih tetap merasa bersalah karena masuk rumah tanpa permisi dan menggunakan aji sirep. Laki-laki tua itu hanya tersenyum.

“Lowo, Kong yang berterima kasih kepadamu.” Suara kakek itu lirih.

“ Maksud Kong?” Lowo tidak mengerti.

“Mantramu telah menidurkan anak, menantu dan cucu-cucu Kong dengan nyeyak sehingga kita bebas berbicara.” Kalimat itu diucapkan sambil terenyum.

Lowo baru tahu bahwa mantra sirepnya bekerja dengan baik, buktinya keluarga Kong Swie Ho terlelap semua, termasuk anjingnya. Tapi mengapa orang tua ini seperti tidak terpengaruh perbawa sirep yang dirapalnya.

“Lowo, kamu masih memikirkan mantra sirepmu?”  Lowo geragapan ditanya tentang sirep. Ia merasa telanjang di depan orang tua itu. Bukan hanya mantranya bisa ditawarkan, tapi orang tua itu juga tahu apa yang sedang dipikirkan.

“Kong, barang apa yang dititipan kakek? Mengapa nenek meminta aku untuk mengambilnya?” Lowo membelokkan pebicaraan dengan menanyakan soal titipan kakeknya.

“Lowo, apakah kamu percaya kepada orang tua yang secara lahir berbeda agama dengan kakekmu ini?” Wajah Kong Swie Ho terlihat serius.

“Apa hubungannya agama Kong dengan warisan kakek?”  Lowo masih belum paham kemana arah pembicaraan Kong Swie Ho.  Orang tua itu kelihatan tidak sedang berbicara tentang barang barisan kakek pikirnya.

Ngger, Orang tua ini hanya mau menyerahkan warisan kakekmu kalau kamu percaya.” Orang tua itu menegaskan.

“Kalau kakek percaya kepada Kong Swie Ho, mengapa aku tidak. Mungkin kakek tidak melilhat perbedaan agama Kong dan agama kami sebagai batas.” Lowo menjawab tegas.

“Kalau begitu penjamkan  matamu, atur nafas dan kosongkan pikiranmu.”  Kalimat itu diucapkan Kong Swie Ho sambil menggenggam tangan Lowo. Ada aliran hangat dari genggaman tangan Kong Swie Ho. Tiba-tiba ribuan kunang-kunang seperti menyerbu kepalanya.

*****

Lowo seperti mengapung di udara, tapi di mana. Ribuan kunang-kunang itu tiba-tiba hilang dan berganti  dengan cahaya menyilaukan. Tidak ada suara, tidak ada gerak, tidak ada arah. Kemana akan menuju. Lowo ingat Kong Swie Ho, tapi orang tua itu juga tidak nampak. Lenyap seperti tertelan cahaya menyilaukan itu.

Dari jauh terlihat cahaya hitam, kemudian merah, kuning dan putih mendekati dirinya. Lowo gugup, tapi empat cahaya itu tidak menyentuhnya. Berhenti persis di depanya.   Tiba-tiba empat cahaya di depannya itu terhisap oleh gelombang besar cahaya yang datang entah dari mana. Cahaya tanpa warna itu berubah menjadi panca warna ketika berhasil menghisap empat cahaya yang hadir sebelumnya di depan Lowo. Gelombang cahaya besar itu berpedar menjadi warna hitam, merah, hijau, kuning dan putih. Hanya sesaat, lima warna itu hilang berubah menjadi cahaya tanpa warna.

Lowo tergeragap. Ia masih duduk di bilik pribadi Kong Swie Ho. Tanganya pun masih digenggam oleh laki-laki tua di depanya. Kong Swie Ho tersenyum seperti menyambut dirinya yang baru sadar dari mimpi.

“Apa maksud semua ini Kong?” Lowo tdak sabar mengetahui arti peristiwa yang baru saja dialaminya.

“Semua yang kamu lihat itu perjalanan hidupmu.” Kong Swie Ho menjelaskan.

“Aku tidak paham Kong.” Lowo mendesak Kong Swie Ho untuk menjelaskan.

“Warna cahaya itu adalah lambang daya hidup di dunia tapi sekaligus sumber keinginan yang harus kamu tundukkan.”   Kong Swie Ho mulai mejelaskan.

“Maksudnya Kong?” Lowo pensaran.

“Tanpa empat keinginan itu maka badan wadhagmu tidak bisa jejeg di dunia, tapi kalau keinginan itu tidak dikendalikan maka akan segera manjadi malapetaka.”  Kalimat itu diucapkan  Kong Swie Ho sambil tersenyum.

“Empat warna cahaya itu mewakili keinginan berkuasa dan marah,  keinginan terhadap makanan dan lawan jenis, keinginan untuk dipuji dan mandapat perhatian dan terakhir keinginan untuk menjadi orang baik.”  Lowo belum memahami ke mana arah pembicaraan orang tua di depanya . Kesadarannya masih diliputi pertanyaan tentang warisan apa yang akan diberikan Kong Swie Ho.

“Apa yang akan terjadi kalau empat keinginan itu tidak ditundukkan Kong?” Lowo berusaha menggali penjelasan Kong Swie Ho meskipun tidak yakin bisa memahami.

“Tiga yang harus kamu tundukkan agar keinginan menjadi orang baik tumbuh tanpa halangan.” Kong Swie Ho berhenti sejenak.

“Kalau kamu tidak sanggup menundukkan tiga keinginan itu maka kamu tidak mewaris apapun dari kakekmu.” Kong Swie Ho menegaskan.

“Memang  apa yang diwarisakan kakek melalui Kong?” Lowo tidak sabar begitu Kong Swie Ho membicarakan warisan.

“Keluhuran budi,  ketajaman mata batin dan jalan mencapai penyatuan dengan Gusti Allah.”  Kong Swie Ho berhenti sejenak.

“Ketahuilah Lowo, warisan itu hanya bisa kamu terima kalau kamu sanggup menundukkan ketiga keinginan itu.” Bercucuran keringat dingin Lowo.

enlightenment

Begitu terang. Kejahatan dan ketololan selama hidupnya terlintas di depan matanya. Betapa rusak hidupnya selama ini. Betapa jauh perilakunya dari cara hidup yang ditempuh oleh leluhurnya. Kakek, nenek dan mungkin orang tua sebelum mereka.  Apa ini jalan yang harus aku tempuh, batin Lowo. Sesaat hanya terdengar isak dari preman pasar itu. Di antara wangi hio yang menyergap ruang pribadi Kong Swie Ho, Lowo bercucuran air mata seperti  rintik hujan yang mengguyur pagi.

 

34 Comments to "Maling"

  1. chandra sasadara  4 May, 2013 at 10:57

    Matur tengkyu kang anoew..apapun warisan leluhur kita patut pertahankan apalagi di tengah gempuran budya asing..

  2. Anoew  3 May, 2013 at 23:44

    Keluhuran budi, ketajaman mata batin dan jalan mencapai penyatuan dengan Gusti Allah.

    Warisan dari orang tua / leluhur yang paling berharga dan layak sungguh dipertahankan. Lain dengan uang yang akan habis dan merupakan akar kejahatan,

    Artikel ini mantaf sekali. Kang Chandra, sayur di atas kayu, matur tengkiu artikelnya. Dasyat.

  3. chandra sasadara  3 May, 2013 at 06:59

    Kang JC : matur suwun atas apresianya.. smoga akan ada cerita lain dengan tema dan isi yang manusiawi meskipun semangatnya tantang “pendakian spiritual” . apalah artinya jalan mencapi tuhan kalau tidak berprilaku benar sebagai manusia.

  4. J C  3 May, 2013 at 00:36

    Kang Chandra, pak Anwari, waktu artikel ini dipersiapkan tayang, sudah dipantau ada judul yang sama, sehingga otomatis di link website tercantum ‘maling-2’

    Wuiiiihhh setuju komentar pak Hand, yang sudah sampai di titik Manunggaling Kawula Gusti, pencapaian yang tidak mudah, filosofi yang menyatu antara nalar batin, mata hati dan cukupnya ilmu…dahsyat tenan, Kang Chandra…(ada lagi yang model begini tidak? )

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *