Mbok Tukinem – sebuah renungan

Sanie B. Kuncoro

 

Ada kalanya kita membaca ulang sebuah buku, oleh karena beragam alasan. Barangkali karena memerlukan data, atau karena buku itu memberikan kesan tertentu sehingga kita ingin menggali kenangan. Apa yang akan kita temukan saat membaca ulang itu? Akankah sama penemuan itu seperti saat kita membacanya pertama kali?

Beberapa saat yang lalu, Mei 2012, Romo Sindhunata berulangtahun yang ke 60 dan teman-teman di komunitas ingin menghadiahkan rangkaian tulisan tentang kesan personal kami terhadap beliau. Oleh karena itulah saya membaca ulang  beberapa buku beliau demi menemukan sesuatu yang layak ditulis.

Buku yang saya pilih adalah kumpulan esai yang terbit dalam 5 tema tentang manusia.

Pada saat itulah saya dapati penemuan yang berbeda, dengan pembacaan saya yang pertama. Buku itu tetaplah seperti dahulu, hanya bertambah dengan bercak jamur pada beberapa halamannya, namun kanker sempat singgah pada diri saya tahun lalu dan proses pengobatannya menjadikan saya bukanlah saya yang dahulu. Pada beberapa bagian saya menemukan diri saya membaca ulang dengan perspektif yang berbeda. Alangkah berbeda pembacaan seseorang antara sebelum dan sesudah mengalami sesuatu.

Buku “Manusia dan Perjalanan: Dari Pulau Buru ke Venesia”, saya beli sejak pertamakali terbit tahun 2006. Tentu wajar bahwa tidak semuanya mengendap dalam ingatan. Namun saya ingat nama rumah sakit jiwa yang ada di dalamnya : RSJ Lali Jiwa. Kini saat membacanya kembali, alih-alih menemukan sesuatu yang layak ditulis untuk penulisnya, saya justru menemukan diri saya sendiri.

RSJ Lali Jiwa. Saya ingat nama itu pada suatu ketika saat ketabahan berada di titik nadir. Saya berpikir tentang sebuah penyerahan. Kala seorang buronan putus asa dan lelah melarikan diri, maka dia boleh mendatangi kantor polisi di mana pun untuk menyerahkan diri. Penyerahan itu justru akan menjadi point positif baginya. Itu untuk seorang yang terpidana. Lalu bagaimana untuk seorang yang ingin lupa pada dirinya? Saat seseorang tak lagi memiliki ketabahan yang cukup untuk menjalani takdirnya, bolehkah dia memilih untuk menyerah? Berulangkali saya membayangkan diri mendatangi rumah itu demi lupa oleh karena saya tak lagi sanggup menanggung ingatan.

Saat membaca ulang bab 4 berjudul “Sepuluh Hari di RSJ Lali Jiwa”, tahulah saya mengapa saya hendak menuju ke sana. Karena di sanalah berada teman-teman dengan kehilangan yang tak tertanggungkan. Yulia kehilangan cinta suami. Marlena kehilangan cita-cita. Sunarno kehilangan kredibilitas. Paidi kehilangan lembu. Dan saya kehilangan maaf untuk diri sendiri.

Tapi hingga hari ini saya tak juga berangkat. Mengapa? Oleh karena kesadaran itu tidak meninggalkan saya, melainkan tetap menjaga saya dengan susunan ingatan yang utuh. Rumah itu datang dan pergi dalam bayang ingatan.

Saya beralih pada buku yang lain, “Manusia dan Pengharapan: Segelas Beras untuk Berdua”. Mbok Tukinem menemui saya pada bab pertama.

“Nyala dian itu tiba-tiba tak tampak oleh matanya,” adalah kalimat pembuka yang mengantar saya pada kehilangan pertama yang dialami Mbok Tukinem. Hidup berlanjut dan menghadapkannya pada kehilangan berbagai bentuk lainnya. Kehilangan penglihatan di usia 11 tahun (namun sanggup menempuh perjalanan Yogya Semarang berjalan kaki demi menjual gerabah), lalu kematian 5 anak kandung berurutan saat usia mereka masing-masing belum mencapai 10 tahun.

Dan kemudian sakit kanker yang mengancam nyawa suaminya. Sebuah perjuangan hidup yang tidak sederhana. Bahkan Sindhunata memberikan judul kisah ini : “Mbok Tukinem Dicoba Melebihi Kemampuannya”. Seolah menggambarkan hatinya sendiri yang miris melihat nasih Mbok Tukinem. Namun lihatlah bagaimana Mbok Tukinem menghadapi takdirnya.

Saya sedih ditinggal mati Suratinah. Namun kalau Gusti tidak memperkenankan saya memeliharanya lebih lama, saya mau apa? Saya hanya numpang memelihara. Saya akan berdosa kalau mengeluh pada Gusti. Diberi begini, ya saya terima begini,” kata Mbok Tukinem (kutipan dari Segelas Beras untuk Berdua, halaman 5).

Sebuah kepasrahan yang mutlak dengan ikhlas yang penuh. Saya berhenti membaca. Hening teras di mana saya duduk membawa saya pada sebuah renungan. Kehilangan saya dan kehilangan Mbok Tukinem melintas berselang-seling. Saya berhenti merenung. Tak hendak saya berhadapan dengan perbandingan di antara kami, namun saat yang sama saya tak bisa mengelak bahwa kisah Mbok Tukinem belum selesai. Lagi dia berkata :

“Gusti itu adil. Kalau Dia tidak adil yang diciptakannya hanya satu, yaitu orang baik-baik saja. Namun karena Dia adil, Dia menciptakan bermacam-macam. Ada yang pincang, ada yang buta, ada yang menderita. Mereka ini buat ‘pepak-pepak’ jagat, di samping yang baik dan bahagia,” kata Mbok Tukinem dengan bahasa sederhana yang justru menampakkan kesejatian imannya. (ibid halaman 11).

Saya tak lagi bisa menghindar. Mbok Tukinem menggandeng saya pada realita kehidupan yang utuh. Bahwa hidup adalah siang dan malam, gelap terang, sedih bahagia, kaya miskin. Itulah hidup yang utuh. Dua sisi yang silih berganti saling melengkapi bukan demi siklus belaka. Adalah adil bila setiap manusia menjalani keduanya demi kesempurnaan hidup itu sendiri. Saya pernah sangat bahagia, Mbok Tukinem pernah dan bahkan masih menderita. Namun dia tidak pernah berpaling dari kasihNya melainkan menganggapnya sebagai bagian dari hidup yang adil. Dia tidak merasa adil hanya karena mendapatkan bagian terbaik dari kehidupan. Sementara lebih banyak orang merasa hidup tidak adil saat mendapatkan bagian yang tidak diinginkannya. Dalam kegelapan tatap matanya yang tidak memiliki cahaya, Mbok Tukinem menuntun langkah saya menemukan terang.

“Jangan lepaskan tanganku, Mbok…,” suara saya bergetar di antara langkah yang gamang. “Belum kutemukan ikhlas serupa iman teguhmu.”

Suara saya menghilang. Namun saya tak ingin kehilangan bayang Mbok Tukinem. Entah di sebelah mana dia berada dalam ingatan saya, kiranya dia akan selalu terbawa dalam perjalanan saya mencari ikhlas demi merelakan sebuah kehilangan.

Angin berdesir mengusapkan dingin yang lembut, mengingatkan saya pada sesuatu. Bahwa belum saya temukan inspirasi tulisan yang pas untuk ulangtahun Romo Sindhunata. Saya tidak mengenal beliau secara pribadi. Namun suatu kali beliau berkenan berdoa untuk saya. Adalah acara diskusi tentang novel “Anak Bajang Menggiring Angin” di Balai Soedjatmoko Solo, saat beliau menemukan saya sebagai seseorang yang bertanya tentang takdir. Seorang teman yang menjadi moderator ketika itu menyampaikan sesuatu seusai acara.

“Romo berdoa untukmu.”

Terharu hati saya ketika itu, tidak menyangka bahwa beliau berkenan mendoakan saya, seseorang yang sama sekali tidak beliau kenal. Doa itu menghangatkan hati saya setiap kali mengingatnya hingga hari ini. Demikianlah pembacaan kembali sebuah buku telah mengingatkan saya pada sebuah kiriman doa, juga telah mengantar Mbok Tukinem untuk menuntun langkah saya mencari ikhlas yang belum terjangkau hingga kini.

***

Renungan ini dimuat sebagai kolom JEDA di majalah PESONA edisi  Oktober 2012

 

19 Comments to "Mbok Tukinem – sebuah renungan"

  1. J C  4 May, 2013 at 21:41

    Sanie B. Kuncoro, tambah satu lagi yang sering baca cerpen-cerpen Anda…

  2. Sanie B Kuncoro  4 May, 2013 at 19:18

    Duh, makin banyak bertemu para pembaca setia. El Nino, Dewi, Hennie, Indri.
    Terimakasih ya, kalian seolah sahabat lama yang terus membacaku hingga kini.
    Betapa kecil dunia sebenarnya, mempertemukan kita dalam kesempatan tak terduga.

  3. Hennie Triana Oberst  4 May, 2013 at 17:09

    Cerita-ceritanya Sanie B Kuncoro ini sering aku baca di Anita Cemerlang, jaman remaja dulu.
    Terima kasih mbak Sanie tulisannya.

  4. Indri  4 May, 2013 at 16:48

    Jadi bener dugaan saya, ini Sanie B Kuncoro yg sering nulis di Ac, saya penggemar cerpen anda sejak remaja, awal tahun 80-an masa SMA, walau bacanya di tukang penjual koran, karena tdk mampu beli….untung tidak pernah diusir…..mungkin kasihan ya….. Terima kasih saya bisa menikmati talisan anda kembali…..

  5. Indri  4 May, 2013 at 13:22

    Haduuh komen nya kok musculair berkali-kali…..salah pencet…..maaf…..

  6. Indri  4 May, 2013 at 13:12

    Saya baca sambil mbrebes mili, terharu…..semoga Bu Sanie segera menemukan kembali si – MAAF yang menghilang……

  7. Anoew  3 May, 2013 at 23:47

    waduh, untung mbok Tukinem yang jadi inspirasi, bukan Mugiyem.

  8. Dewi Aichi  3 May, 2013 at 19:46

    Iya mba Sanie, sejak masih remaja, bacanya AC, iya kan Elnino? Tosss…jadi saya juga ngga nyangka, bahwa penulis2 cerpen di majalah AC yang dulu ngga kebayang bakal bisa kenal, sekarang dipertemukan di dunia virtual, dan bisa berinteraksi ..

  9. elnino  3 May, 2013 at 18:07

    Tulisan yg sangat inspiratif. Makasih mbak Sanie. Sama seperti Dewi, saya sudah lama membaca tulisan2 mbak Sanie di AC

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *