Keluarga Raja Gula dari Semarang: Oei Tiong Ham

Djenar Lonthang Sumirang

 

Generasi Eksil dari Pemberontakan Taiping

Oei Tiong Ham adalah putra sulung dari Oei Tjie Sien yang berasal dari daratan China. Oei Tjie Sien turut andil dalam pemberontakan Taiping, dan membuatnya menjadi buronan dari pemerintahan Manchu. Oei Tjie Sien kemudian melarikan dari daratan China dengan menumpang sebuah jung, beberapa bulan kemudian ia mendarat di tanah Jawa, tepatnya di pelabuhan Semarang.

Seorang eksil, petualang, tanpa bekal apapun, buta budaya dan bahasa setempat, dan Oei Tjie Sien hanya bermodalkan kekuatan tubuhnya untuk menjadi kuli. Mula-mula ia bekerja di pelabuhan, menghela jung-jung yang kandas di lumpur. Ia menyewa penginapan murah tempat para pendatang Cina tidur menggeletak di lantai papan. Pada suatu malam, pemilik gubuk bambu itu melihat pemuda yang sedang tidur kelelahan itu. Wajah pemuda itu dianggapnya membawa rezeki. Pemilik gubuk kebetulan mempunyai banyak anak perempuan. Pemuda itu dibangunkannya untuk dilamar menjadi menantunya. Oei Tjie Sien mau saja. Calon istrinya baru berumur 15 tahun, tubuhnya kuat dan sifatnya penurut.

Mereka menikah tanpa pesta apa pun. Perempuan muda itu bekerja keras membantu suaminya. Ia melahirkan tiga anak putra (yang seorang meninggal saat masih bayi) dan empat putri. Sementara itu Oei Tjie Sien keluar masuk kampung memikul barang kelontong. Kadang-kadang dari kampung ia membawa beras untuk dijual di kota. Semakin lama, ia menjadi makmur berkat beras. Dikirimkannya uang ke Cina untuk membeli pengampunan, sehingga ia bisa berkunjung ke Cina, sekalian memperkenalkan putra sulungnya, Oei Tiong Ham, kepada orang tuanya. Pertama kali diajak ke Cina itu, umurnya baru tujuh tahun. Ia lahir 19 November 1866.

cover-oei-hui-lan

 

Tanah Jawa: Tanah Peruntungan

Ketika Oei Tjie Sien meninggal, ia mewariskan 10 juta gulden atau kira kira $ 7juta. Saat itu Oei Tiong Ham sendiri sudah kaya. Jadi ia meminta kakek menyerahkan rumah besar di Pecinan kepada adiknya, yang lebih suka menjadi seniman daripada pedagang. Adik-adikny yang perempuan mendapat warisan juga. Sejumlah uang disisihkan pula untuk menolong orang orang bermarga Oei yang memerlukan bantuan.

Sepeninggal Oei Tjie Sien, Oei Tiong Ham menjadi kepala keluarga besar dan mulai melakukan hal-hal yang tadinya dilarang Oei Tjie Sien. Yang pertama dilakukan Oei Tiong Ham adalah meminta izin khusus kepada penguasa Belanda untuk memotong jalinan rambutnya kemudian melakukan perjalanan ke Eropa.

Oei Tiong Ham memiliki watak dan bakat sebagai seorang penjudi. Ia selalu yakin nasib baik berada ditangannya. Karena itu ia juga lebih suka mempunyai karyawan yang kepandaiannya sedang sedang saja tetapi rezekinya besar daripada memperkerjakan orang yang pandai yang tidak mempunyai hoki. Namun selain mengandalkan hoki, tentu saja ia juga pandai melihat situasi dan memanfaatkannya.

Dalam hal perdagangan, ia berpikir ayahnya menjadi kaya berkat beras. Jawa memang cocok ditanami padi, sementara itu tenaga kerja dan lahan murah. Tebu juga terbukti cocok ditanam di tanah Jawa. Lalu, Oei Tiong Ham membeli lahan luas untuk ditanami tebu. Masa itu Revolusi Industri belum sampai ke Jawa, tetapi ia sudah mendengarnya. Ia mendatangkan ahli ahli dari Jerman untuk memberi nasihat perihal mesin mesin yang diperlukan untuk bercocok tanam dan mengolah tebu menjadi gula. Ia mendatangkan mesin mesin dan mengirimkan pemuda pemuda ke Eropa untuk belajar menjalankan mesin mesin itu dan membetulkannya.

Suksesnya berkesinambungan sebab ia tidak pernah puas. Ia peka terhadap setiap pembaharuan dan gagasan, sehingga tidak henti hentinya menyekolahkan karyawan ke luar negeri supaya bisa mempelajari hal hal yang baru. Mesin mesinnya terus diperbaharui dan pabriknya mendapat aliran lsitrik lebih dulu daripada kediamannya.

Selain bidang perkebunan tebu dan produksi gula, Oei Tiong Ham juga merambah pada perkebunan kelapa dengan produksinya kopra.  Lalu ia meng-akuisisi sebuah pabrik tapioka di Semarang, pabrik yang terus merugi itu diperbaikinya dan dilengkapinya dengan mesin mesin. Tidak lama kemudian ia sudah menjual 1,5 juta ton tapioka ke Asia Timur laut. Pada tahun 1901, Oei tiong Ham mendapat gelar kehormatan Majoor der Chinezen.

Kantor-Pusat-Oei-Tiong-Ham

 

Oei Hui Lan Si Anak Juragan

Oei Hui Lan adalah putri orang terkaya di Indonesia yang kekayaan ayahnya mencapai $200 juta pada era 1900-an atau setara Rp. 200 miliar di jaman sekarang. Ia lahir di Semarang, Desember 1889 sebagai Oei Hui Lan, putri Oei Tiong Ham yang pernah dikenal sebagai Raja Gula dan orang terkaya di Asia Tenggara. Ibunya adalah istri pertama dari Sang Raja Gula ini. Istri Oei Tiong Ham yang pertama ini bernama Bing Nio, yang kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris sama dengan Victoria. Ia berasal dari keluarga Goei. Dalam keluarga itu, kaum prianya bertubuh besar, tetapi kaum perempuannya bertubuh kecil. Nenek moyangnya berasal dari Shantung, tetapi sudah bergenerasi generasi mereka tinggal di Jawa.

Ibu dari Oei Hui Lan ini hanya memiliki dua anak perempuan. Anak pertama bernama Tjong Lan, delapan tahun lebih tua dari Oei Hui Lan. Oei Tiong Ham masih mempunyai 42 anak dari 18 gundik. Bagi orang Cina, anak gundik pun dianggap sebagai anak sah. Dari kesekian banyak anak Oei Tiong Ham, cuma anak laki laki yang kelingkingnya bengkok yang diakuinya sebagai putranya. Kelingking bengkok diwarisi ayah dari ayahnya. Tjong Lan berkelingking bengkok, sedangkan kelingking Oei Hui lan lurus. Meski demikian Oei Tiong Ham tidak meragukan Oei Hui Lan sebagai anaknya, sebab mana mungkin ibunya serong dengan pria lain.

Oei Hui Lan selalu mengikuti kemana ayahnya pergi, dan pastinya ia selalu menuruti apa yang dikehendaki oleh putrinya. Ibarat apapun yang ditunjuk pasti terbeli tanpa menawar. Fasilitas mainan anak-anak di rumahnya sangat mewah, bahkan lebih mewah dari anak-anak Belanda, seperti rumah boneka dari Eropa. Termasuk pula berbagai perhiasan, seperti kalung berbandul intan 80 karat, dan pesta-pesta ulang tahun dengan model dansa Inggris.

 

Akhir Menyedihkan Sang Juragan

Oei Tiong Ham meninggal dunia akibat serangan jantung pada 6 Juni 1924. Kematian Oei Tiong Ham sampai saat ini masih dinilai janggal oleh orang-orang terdekatnya. Terutama putri kesayangannya Oei Hui Lan dari istri pertamanya Goei Bing Nio. Hui Lan mencurigai Lucy Ho , selir bapaknya, yang telah meracuni Oei Tiong Ham. Kematian ini sebenarnya sudah diramalkan oleh seorang India, ketika ia melihat pembangunan villa di Singapura, bahwa ia akan mati diracun. Setelah tiga bulan, Hui Lan menerima kawat dari Tjong Swan.

Ketika jenazah masih di Singapura, Hui Lan sempat meminta otopsi. Namun peraturan di sana mengharuskan permintaan otopsi berasal dari pihak istri. Sedangkan Goei Bing Nio, ibu Hui Lan, bahkan tidak bersedia menghadiri upacara pemakaman baik di Singapura maupun di Semarang. Hubungan Bing Nio dan Tiong Ham memang sudah tidak baik sejak Tiong Ham banyak mengambil selir. Pasca kematian kerajaan bisnis Tiong Ham memudar. Kekayaannya dibagi-bagi untuk Goei Bing Nio $12 juta, Tjong Lan putri sulungnya mendapatkan hanya $1 juta, dan Oei Hui Lan mendapatkan $15 juta. Sementara perusahaan peninggalan Oei Tiong Ham dibagi tiga antara dua anaknya Tjong Hauw dan Tjong Swan serta selir Lucy Ho.

Belakangan Tjong Swan menjual bagiannya itu kepada Lucy Ho dan pindah ke Belanda. Lucy Ho sendiri kabarnya, meninggal di Swiss akibat kanker. Swan meninggal akibat infeksi gigi yang ditelantarkan. Sementara Hauw meninggal di Jakarta karena serangan jantung tahun 1951. Hui Lan sendiri meninggal dunia tahun 1992, di Amerika. Selain itu 6 putra lainnya mendapatkan saham di beberapa anak perusahaannya dan 33 anak lainnya mendapat jaminan sosial seumur hidup bersama dengan gundik gundiknya yang lain. Keputusan itu menimbulkan percekcokan bagi anak anak yang hanya mendapat jaminan sosial seumur hidup. Setelah melalui gugatan melalui pengadilan, akhirnya setiap anak mendapatkan 400.000 Gulden.

Namun kekayaan Oei Tiong Ham akhirnya habis, sebagian di masa penjajahan Jepang dan hancur di masa Presiden Soekarno. Perusahaannya dianggap memiliki aset saham bekerja sama dengan Belanda sehingga dalam proses nasionalisasi aset asetnya di ambil alih secara paksa oleh pemerintah RI. Tepat hampir 100 tahun berdirinya perusahaan tersebut oleh pengadilan ekonomi di Semarang diputuskan pada tanggal 10 Juli 1961 untuk menyita seluruh asset kekayaan bergerak dan tidak bergerak milik Oei Tiong Ham untuk negara. Dengan demikian istana Oei Tiong Ham di Jalan Kyai Saleh juga dikuasai oleh pemerintah Indonesia.

Tanah-tanah luas bekas taman-taman yang indah telah berubah menjadi perkampungan penduduk yang padat sehingga saat ini dapat ditemui nama-nama seperti Kp Balekambang gang I, gang II dan seterusnya. Sedang gedung utama dan bangunan di sekitarnya serta pekarangan dijadikan Balai Prajurit dan asrama. Sedangkan kediaman Tiong Ham di Simongan yang menjadi tempat Oei Tjie Sien menghabiskan hari tuanya, kondisinya memprihatinkan. Sebagian atap bangunan utama rusak dan warnanya kusam.

Selain bangunan utama dan rumah istirahat, masih ada bekas-bekas rumah pembantu, ruang penyimpanan makanan, ruang menerima tamu, istal kuda, serta ruang penyimpanan kereta kuda. Di sepanjang lahan menuju ruangan-ruangan itu, masih bisa ditemukan jalan yang dibuat dari batu Portugis. Selain Istana Gergaji dan Simongan, aset Tiong Ham tersebar di seantero Semarang.

 

*****************************

Salam….DLS…

 

33 Comments to "Keluarga Raja Gula dari Semarang: Oei Tiong Ham"

  1. anoew  11 May, 2013 at 09:51

    Serasa dibawa ke masa itu dan dekat sungguh dengan kehidupan Sang Raja Gula. Terimakasih atas artikel yang menarik dan informatif ini. Mantap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *