Perempuan Biasa

Lala Purwono

 

Apa istimewanya dari perempuan seperti aku? Cermin manapun, di belahan dunia manapun, tidak akan lantas serta-merta berbohong hanya demi menyenangkan hatiku saja.

Aku adalah perempuan kebanyakan yang tidak pernah merasa istimewa. Tidak cantik, atau menarik. Tidak pintar, atau merasa lebih unggul dari perempuan lainnya. Aku, perempuan biasa yang butuh untuk dicintai dengan cara luar biasa.

Olehmu.

Oleh lelaki sempurna sepertimu.

Yang setiap gerak langkah tubuhmu, seolah ada banyak pasang mata mengawasimu; mata perempuan-perempuan cantik yang mungkin bakal rela melakukan apa saja demi mendapatkanmu. Bahkan mungkin, bakal rela menjadi yang kedua, lalu merangsek merebut posisiku untuk menjadi satu-satunya.

Sesempurna itu kamu.

Dan itu sering membuatku ragu pada kenyataan kalau kamu telah memilihku, menjadi perempuanmu.

“Kenapa harus aku yang kamu pilih?”

Setiap aku meladeni ledakan hormonal bulananku, pertanyaan itu yang selalu meluncur keluar dari mulutku. Lepas, tergelincir begitu saja. Dan katamu, membuat hatimu ngilu.

“Kenapa tidak harus kamu yang saya pilih?” Lalu, seperti biasa, kamu memelintir pertanyaan itu sehingga moncong mikrofon itu kembali menghadapku.

“Aku tidak cantik,” kataku. “Tidak seperti perempuan-perempuan yang banyak beredar di kantormu.”

Lalu kamu berkata, “Mereka tidak menggetarkan hati saya. Hanya kamu. Kecantikan itu semu. Cuman selapis make up dan kulit luar yang palsu. Kamu lebih cantik dari mereka.”

Aku menghela nafas. “Tapi aku tidak pintar. Tidak sepintar perempuan-perempuan yang menjadi rekan kerjamu, klien bisnismu, kolega-kolegamu.”

Sekali lagi kamu berkata, “Mereka tidak tahu caranya menjadi ibu yang baik. Saya yakin, hanya kamu yang tahu bagaimana caranya menjadi seorang ibu yang baik dan istri yang sempurna buat saya. Kepintaranmu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saya akan istri dan ibu dari anak-anak saya, kelak.”

Aku menghela nafas, sekali lagi. Kamu memang selalu punya jawaban yang meneduhkan semua keraguan. Kamu selalu tahu bagaimana caranya menghilangkan ragu, meski ketika aku sedang dilanda badai hormonal begini, selalu banyak pertanyaan yang tak bisa aku abaikan dan perlu kamu ladeni.

“Aku perempuan yang moody dan sering membuatmu jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting…”

“Hanya sebulan sekali,” tukasmu dengan lembut.

Lalu percakapan di telepon kita berhenti. Aku hanya mendengar suara desah nafasmu di telingaku sambil berharap aku berada di sebelahmu, berbagi oksigen denganmu.

“Aku hanya ingin tahu kenapa kamu bisa jatuh cinta sama aku,” kataku, akhirnya. “Karena aku selalu merasa bukanlah perempuan yang istimewa. Biasa-biasa saja.”

Tidak lama, aku mendengarmu berkata, “Kamu mau tahu kenapa saya jatuh cinta sama kamu?”

“Iya.”

“Karena saya nggak punya alasan untuk tidak jatuh cinta sama kamu.”

“Huh, itu klise dan tidak menjelaskan,” aku merajuk. “I really need to know…

Why do you really need to know?”

To make me feel secure.”

Secure? Jadi kamu masih merasa insecure, sekalipun saya berkali-kali pulang demi menemuimu?”

“Iya.”

“Sekalipun saya meneleponmu setiap saat, from the very first morning until late at night?”

“Iya.”

“Sekalipun seluruh dunia tahu kalau saya sudah memilihmu; lewat semua akun sosial media saya?”

“…”

“Harus dengan cara apa lagi kamu berhenti merasa insecure lalu percaya kalau saya hanya cinta sama kamu saja?”

“Dengan menjawab pertanyaan, ‘kenapa kamu harus memilih perempuan biasa-biasa saja sepertiku’.”

Lalu kamu diam.

Terdiam yang cukup lama.

Long enough to make me wonder, apakah aku telah menjadi perempuan biasa-biasa saja yang terlalu menuntut kekasihnya.

Sampai kemudian kamu bilang, “Saya jatuh cinta sama kamu karena kamu telah membuat saya menjadi lelaki yang lebih baik. Saya nggak tahu kenapa, tapi saya berubah sejak bertemu denganmu. Saya punya alasan untuk bekerja dengan semangat, menabung, untuk menikahimu, membesarkan anak-anak, lalu tua bersamamu. Tidak pernah dalam sejarah hidup saya, seorang perempuan bisa melakukannya, selain kamu.”

“…”

roses-and-woman

“Saya nggak tahu kenapa,” katamu. “Tapi saya tahu kamu adalah semua alasan dari perubahan-perubahan istimewa itu.”

“Meskipun aku perempuan yang biasa saja?”

“Kamu tidak pernah menjadi biasa saja di mata saya,” katamu. “Kamu selalu menjadi luar biasa buat saya…”

Kita berdua terdiam.

Saling mengatur nafas.

Saya juga sedang mengatur irama jantung yang berloncatan tak terkendali karena merasa bahagia luar biasa.

Ya, bahagia karena merasa dianggap istimewa, oleh lelaki yang sempurna, padahal aku adalah perempuan yang biasa-biasa saja…

 

9 Comments to "Perempuan Biasa"

  1. probo  5 May, 2013 at 08:48

    jadi ingat teman saya,
    temannya dinikahi laki-laki sempurna, anak tunggal lagi kaya,
    teman-temannya berkomentar: bagi si pria menikahinya adalah musibah, dan bagi si perempuan dinikahi si pria adalah berkah…..cinta memang misterius…..
    ternyata si pria terpikat (salah satunya) karena betis si wianta itu indah, bak padi bunting

  2. Lani  5 May, 2013 at 07:30

    pertanyaan yg kedengarannya gampang, tp tdk mudah utk mencari jawabannya……….krn cantik, pinter, dst……relatif…..dikembalikan pd masing2 personalnya………bagi A……….B cantik banget/ gagah banget, tp belum tentu sama pendpt dgn C, D dst………..

  3. Asianerata  5 May, 2013 at 06:49

    inget sobatku yg cantik sekali jatuh cinta habis-habisan dengan laki-laki yg sama sekali tidak ganteng, waktu aku tanya ke sobatku “lu liat apa seh di cowok itu sampai lu tergila-gila begitu” Eh dia jawab” gak tau, gue dipelet kali yeh?” huahahaha…aku langsung nyeletuk ” kualat kali lu, sering mainnin cowok sih” Tapi mereka akhirnya menikah dan bahagia hingga sekarang. Cinta memang misterius heheh…”.love you just the way you are”
    Untuk Lala perempuan yg biasa-biasa saja

  4. Indri  4 May, 2013 at 21:14

    Pertanyaan itu pernah saya ajukan ke belahan jiwa saya, tapi dijawab ngawur , “bad karma” katanya…….dasar sableng……memang mencintai dan mengasihi tidak memerlukan alasan, begitu saja terjadi apa adanya, memang harus begitu…..just the way it is…..

  5. Hennie Triana Oberst  4 May, 2013 at 02:54

    Perempuan luar biasa.

  6. J C  3 May, 2013 at 22:24

    Kang Chandra, kalau urusan clegak-cleguk itu jelas wilayahnya Kang Anoew…

  7. Chandra Sasadara  3 May, 2013 at 14:54

    mak-cleguk.. Mana Kang JC, OM Nawari, Kang ANoew..hehehehe

  8. Dj. 813  3 May, 2013 at 14:09

    Lala…
    Terimakasih, sungguh tulisan indah, dari wanita luar biasa.
    Salam,

  9. James  3 May, 2013 at 11:05

    SATOE, asal jangan Perempuan Binasa aja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.