Pertemuan 2012 – 2013 (8)

Dewi Aichi – Brazil

 

Pertemuan kedelapan (Semarang-Padepokan Suplak, Lawang Sewu, Sam Po Kong)

“Hei wong kenthir, aku mencium aroma pengkhianatanmu, denger-denger dirimu ngga akan berkunjung ke Semarang ya?”

Begitu kira-kira sms dari Nyai Mberok alias Meita. Mungkin ini konspirasi…eh kok konspirasi sih he he..maksud saya ini hasil percakapan antara Ratna Elnino dan Nyai Mberok, bahwa saya sudah tidak sanggup lagi ke mana-mana untuk bertemu teman-teman. Saya memang pernah mengatakan hal itu melalui tilpon kepada Ratna Elnino.

Nyai Mberok kebakaran jenggot (tidak terima), wis pokok e ngamuk kalau saya ngga sampai Semarang. Tiap hari sms ke saya, akhirnya saya janji untuk ke Semarang. Langsung konfirmasi siapa saja yang ikut, saya sebutkan sederetan nama yang berada di Jogja. Bu Probo, Sekar, Mas Juwandi, Tia, saya. Anung Hartadi termasuk dari Jogja, walaupun pagi-pagi Anung meluncur dari Solo. Wah ini benar-benar niat mau meguru ke padepokan Suplak, jauh-jauh dari Solo.

Dari pagi sibuk banget tilpon sana-sini, antara saya, Tia, Bu Probo dan Anung. Mau mandi dari subuh malah ngga jadi-jadi karena sibuk tilpon. Padahal saya harus ke pasar dulu untuk beli gatot tiwul yang saya janjikan. Werrrrr…meluncur ke pasar, sampai lupa ngga pakai helm, ah..lanjut mblasak (masuk jalan) melalui kampung, walau lebih jauh. Aduh…antri lagi nih yang beli, ternyata masyarakat masih tetap menyukai makanan legendaris, gatot tiwul.

Masih ada pesanan saya yang akan diantar adik ipar yaitu katul jagung, ini makanan jaman penjajahan Belanda tapi, enaknya, dan bergizi tentunya, mengandung banyak vitamin B, biar ngga beri-beri he he…, sore hari sebelumnya, saya juga sudah blusukan di kebun salak milik adik saya, ditemani adik saya menjelang surup (maghrib), saya metik salak, upeti untuk Nyai Mberok, pemilik padepokan Suplak.

pertemuan (36)

Jam 7;30 saya meluncur ke rumah bu Probo, dalam perjalanan saya dan Anung tilpon-tilponan untuk saling tau posisi, karena Anung berangkat dari Solo. Tia memberi informasi untuk Anung, agar menuju ke Mirota Kampus saja kemudian barengan menuju Jombor. Sampai di rumah bu Probo, segera bergegas menjemput Sekar di kampusnya. Kemudian menuju Jombor. Di Jombor Tia, Anung dan mas Juwandi sudah menunggu. Mereka sampai duluan. Keikutsertaan mas Juwandi kali ini atas kegigihan rayuan gombal Anung Hartadi. Mas Juwandi akhirnya menyerah, tidak tahan oleh godaan Anung yang ..yang…..yang….hmmm…

Setelah anggota lengkap, langsung tancap gás menuju padepokan Suplak-Semarang alias rumah Meita. Sepanjang jalan Magelang hingga Simpang Lima-Semarang, adanya cuma ketawa dan ketawa ngakak. Perut ini hingga keras kebanyakan ketawa, ini sungguh suatu perjalanan yang benar-benar menyenangkan.  Sangat menyenangkan, dan menyenangkan sekali. Bagaimana tidak menyenangkan kalau hampir 4 jam kami ketawa terus menerus?

Dan di pertengahan jalan, Ikha Ismawati memberi kepastian kedatangannya dari Kudus. Senang sekali rasanya bertambah lagi teman yang akan ke padepokan Suplak. Hanya saja Ikha terlalu pagi atau kami yang dari Jogja yang kesiangan, sebab Ikha menunggu lama sekali di Simpang Lima, dan saya berusaha menghubungi mas Awan Tenggara dan ternyata ikutan..woww..tambah seneng lagi.

Saya meminta Ikha dan mas Awan, menunggu di Simpang Lima. Dan mereka sepakat menunggu di Gramedia. Begitu kami sampai di Simpang Lima, tilpon Ikha dan mas Awan, untuk menuju pinggir jalan, agar segera bisa masuk ke mobil. Saat itu Simpang Lima sangat padat lalu lintas dan macet. Tetapi kami belum menemukan tempat yang cocok untuk berhenti, akhirnya butuh hampir setengah jam menemukan Ikha dan mas Awan, ditambah Anung pakai jalan-jalan segala, mungkin observasi tentang ojek mio he he he…mbuh ahh.

Perjanjian lancar, kami langsung menuju padepokan suplak. Berhubung tuan rumah alias Nyai Mberok bikin peta ngga jelas, kita dikasih ancer-ancer Giant, ehhhh…ngga ketemu, kita muter-muter, ngga ketemu juga, jebul (ngga taunya) petit Giant, mini Giant, atau anaknya Giant ya, lha ukurannya kecil, kita ngga tau, mana plangnya juga kecil. Tapi akhirnya tuan rumah ngga sabar dan menjemput kami pakai motor. Anung turun dari mobil dan boncengan sama Meita. Mobil kami membuntuti. Sampailah kami di padepokan Suplak.

pertemuan (37)

pertemuan (38)

Di padepokan, telah hadir Bambang Priantono, Wesiati, dan juga mas Mastok. Katanya Jonathan Leung juga telah hadir, tetapi sedang menjemput putrinya yang tinggi semampai. Oya, cerita sedikit kenapa kami melakukan pertemuan pada tanggal 13 Januari? Ini karena selain tanggal tersebut, Jonathan tidak bisa hadir, pokoknya hari Minggu Jonathan pasti ke Semarang untuk mengantar anaknya ke sekolah model. Maka, saya memutuskan tanggal 13 dan Meita sebagai tuan rumah sepakat. Saya awalnya minta tolong mas Joseph Chen menghubungi Jonathan karena saya ngga punya no hp-nya.

Padepokan Suplak gempar, para hadirin kenthir mendadak. Semuanya bercanda, makan, saling ledek, makan lagi, ngakak bareng sampai puas. Wesiati yang masih capai karena baru tiba dari Bali, dengan senang hati dipijitin oleh mas Mastok. Sekar, Anung, Jonathan, mas Juwandi pada lihat kartu remi plus-plus. Entahlah mereka meracuni mas Awan Tenggara atau tidak, saya tidak begitu perhatian kepada manusia yang berada di teras. Saya sibuk di dalam rumah dengan bu Probo, Ikha, Tia, Wesiati, menikmati hidangan. Lumpia panas-panas mengundang selera, tapi dasar saya hanya gede maunya, 1 lumpia tidak sanggup habis. Maka 1 lumpia berdua dengan Tia, saking rukunnya. Bahkan pisang coklat bikinan Nyai Mberok saja tidak saya sentuh sama sekali.

pertemuan (39)

pertemuan (40)

Puas mengobrak abrik padepokan suplak. Kami pamit kepada tuan rumah yang baik hati dan tidak sombong. Bingung, satu mobil ngga muat, akhirnya dibagi menjadi dua rombongan, satu pakai mobil yang dari Jogja, rombongan kedua cari angkot he he he. Rombongan pertama langsung menuju Lawang Sewu. Menunggu dan menunggu, yang ditunggu-tunggu tak jua datang. Ngga taunya mereka ke Sam Poo Kong dulu. Walah, kita rombongan pertama kuciwaaaa…ngga ke Sam Poo Kong. Tapi enjoy sajalah, Saya, Tia, bu Probo dan Ama, mas Juwandi dan mas Awan menerima dengan ikhlas cieee…foto-foto di Lawang Sewu sepuasnya.

pertemuan (41)

pertemuan (42)

pertemuan (43)

Begitu rombongan kedua datang, kita sudah duduk-duduk dekat pintu keluar, dengan sabar kita menunggu mereka selesai mengunjungi sodaranya di Lawang Sewu. Akhirnya kedua rombongan bersatu padu, duduk-duduk di dekat pintu keluar menikmati salak, dan Wesiatipun pamit, mau pulang. Ikha dan Jonathan beserta anaknya, yang sama-sama dari Kudus, tidak ikut ke Lawang Sewu. Mereka pulang duluan. Ikha kuatir nanti kemalaman dan sendirian pula.

pertemuan (44)

pertemuan (45)

pertemuan (46)

Setelah berpamitan dengan Wesiati, kita menuju ke tempat di atas itu namanya apa ya lupa, disitu kita menikmati kopi panas, roti bakar, dan ada yang pesan mie atau nasi goreng. Sayangnya hujan sangat deras, tempat duduk kami ketampu (tampias), mas Juwandi kedinginan, ngga tahan. Mungkin juga kondisi tubuh sudah mabok.

Di tempat ini rombongan dari Jogja harus berpamitan kepada mas Awan Tenggara dan mas Mastok. Dengan berat hati, kami berpisah. Ngga tega saya sebenarnya membiarkan mas Awan Tenggara dan mas Mastok turun, dengan cuaca dingin dan sedikit hujan. Tapi kami yang dari Jogjapun sudah terlalu malam. Tidak apa, semuanya tertebus dengan luapan kegembiraan dan kebahagiaan di hari pertemuan itu.

Waktu menuju Jogja sangat cepat, tidak sampai 2 jam. Begitu sampai Jogja, saya kontak adik, untuk menunggu di pertigaan Medari (tempat tinggal saya), karena saat saya hubungi, adik masih kelayapan dengan temannya. Tunggu sebentar, adik saya muncul dengan móbil temannya. Saya tarik, ikut ke rumah bu Probo. Dari rumah bu Probo, semua pamitan, Dan sopirnya ganti adik saya. Mengantarkan mas Juwandi, Sekar, dan masih tersisa Tia dan Anung. Kami antar Anung dulu ke Janti, mengobrol dan sempat-sempatnya foto bertiga he he he…tapi masih lumayan, ngga sayu-sayu amat, kami masih bisa tersenyum.

pertemuan (47)

Bus jurusan Solo datang, kami melepas Anung berpelukan dan dadaaaaggggg…semoga selamat sampai tujuan. Saatnya membawa Tia ke peraduan. Saya dan adik mengantar sampai samping tempat tinggalnya. Setelah Tia masuk, saya lega dan meninggalkannya dengan tenang.

Tinggal saya berdua dengan adik saya, menuju rumah. Hari itu, tanggal 13 Januari 2013, satu lagi cerita indah telah tertulis di rumah Baltyra.

 

Mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:

Mas Joseph Chen beserta istri, ibu Liliani beserta suami dan kakaknya, bapak Anwari beserta istri, Ratna Elnino beserta suami, Lida Ulfa,pak Iwan Satyanegara Kamah, mas Mastok Setyanto, Anung Hartadi,bu Ida Cholisa beserta suami, Emilia Reiliasanti beserta suami, bu Probo Harjanti dan suaminya (mas Effy), Ki Ageng Similikithi, mas Juwandi Ahmad, Alfred Tuname, Sekar Hudi Wang, Pak Handoko Widagdo beserta istri (mba Indra), Lembayung beserta suami (Octavero), mas Joko Prayitno, Wesiati Setyaningsih, Bambang Priantono, Ikha Ismawati, mas Awan Tenggara, Nyai Mberok alias Meitasari beserta suami, Jonathan Leung, Ary Hana.

 

Permintaan maaf saya dari lubuk hati yang paling dalam kepada:

 

Mas Kurnia Effendi dan Endah Sulwesi, karena saya membatalkan pertemuan yang sudah kita sepakati. Sekali lagi saya minta maaf.

Mas Dion Erbe, bu Roesmi S Roes, Kang Putu, karena kelalaian saya tidak menghubungi saat kami mengadakan pertemuan di Semarang. Sekali lagi saya minta maaf yang sedalam-dalamnya. Ada sebersit rasa penyesalan karena itu.

 

Berkat baltyra.com, memudahkan saya untuk menemukan teman-teman yang baik. Saya berterima kasih dengan baltyra yang akhirnya saya seperti menemukan rumah yang nyaman dan membuat hidup saya lebih berwarna.

 

Foto-foto di atas adalah milik pak Iwan Satyanegara Kamah, Anung Hartadi, Tia Yuliantari, bu Probo Harjanti, dan sedikit milik saya.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

107 Comments to "Pertemuan 2012 – 2013 (8)"

  1. Awan Tenggara  26 May, 2013 at 03:57

    Lho, saya ketinggalan kereta jebulnya kelingan hari itu lagi ik

  2. Nur Mberok  8 May, 2013 at 12:37

    wuih….. gelo ra nggelar klasa nang kene….

  3. probo  6 May, 2013 at 19:23

    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:
    May 6th, 2013 at 06:29

    Sampai ketemu di Kopdar Agung 23-26 Mei 2014 di Jogjakarta.

    siap among tamu……ndandakke kebayak sih ah……

  4. Dewi Aichi  6 May, 2013 at 09:14

    Elnino huwahaha..kowe esuk iki berkali-kali bikin aku ketawa….

    Pak Iwan..betul itu pak…di Jogja next kopdar kopdur he he

  5. elnino  6 May, 2013 at 08:50

    Nanti kita datangkan ondel2 supaya gak biasa…

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  6 May, 2013 at 07:54

    Lha, di Pondol sudah “bosen” dan reguler di sana terus untuk yang mepet dan darurat.

  7. elnino  6 May, 2013 at 07:40

    Lha itu Wik, di baltyra ini kok orientasinya agak2 gimana gitu ya.. Mas Juwandi kok yo kepingine malah nyium JC bukan nyium kamu, apa Sekar, apa Ayla

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *