Tiga Sahabat (8): Rasa Sayang Itu

Wesiati Setyaningsih

 

Anung menatap bu Nani yang terbaring di kamar rumah sakit. Dia berdiri lunglai dengan wajah pasi memandangi bu Nani yang terpejam rapat dengan kabel-kabel menghubungkan tubuhnya dengan alat-alat di sampingnya. Anung menoleh ke arah alat yang ada di samping bu Nani dan mengeluarkan suara ritmis.

​“Dekati ibumu,” tiba-tiba pak Iwan sudah di belakangnya.

​Sebuah tepukan pelan di bahu Anung mengiringi kata-katanya. Anung tak bergerak, hanya kepalanya yang semakin menunduk. Bahunya mulai berguncang pelan.

​“Dekati dia, Nung. Cuma kamu yang dia panggil-panggil ketika sadar.”

​Anung malah berbalik namun pak Iwan segera menahan.

​“Jangan pergi. Hadapi dulu, demi ibumu. Dekati dia.”

​Anung terisak, “Aku nggak bisa, pak. Ibu seperti itu gara-gara aku.”

​“Dan sekarang kamu mau melarikan diri lagi? Kalo kamu menyesal, kamu harus berani memperbaiki kesalahanmu. Dekati Ibumu.”

​Perlahan Anung berbalik lagi dan menatap Ibunya. Dengan langkah berat didekatinya tubuh yang terbaring tak berdaya. Pak Iwan mengikuti dari belakang. Hampir sampai ke pembaringan Bu Nani, Anung luruh seolah kakinya tak sanggup lagi menyangga tubuhnya.Kakinya menekuk perlahan dan berlutut, tangannya memegang tangan bu Nani. Kepalanya menyender pada pinggir tempat tidur.

​“Bu..” ratapnya di antara isak tangis tertahan.

​Tubuhnya berguncang. Pak Iwan berdiri di sebelahnya memegangi pundaknya, lalu meremasnya perlahan. Beberapa saat Anung mengisak di sambil berlutut di samping tempat tidur ibunya hingga perlahan bu Nani membuka mata.

​“Anung…” bisiknya lemah.

​Anung segera berdiri.

​“Aku di sini, Bu.”

​Bu Nani menoleh. Matanya berbinar.

“Anung..” bisiknya lagi.

“Maafkan Anung, Bu.”

Bu Nani hanya menatap anak kesayangannya itu dengan tatapan bahagia.

“Anung,” bisiknya lagi.

“Anung sudah kembali. Ibu istirahat dulu saja, ya,” kata pak Iwan.

Tapi tangan bu Nani menggenggam kencang tangan Anung tak ingin anak itu pergi lagi.

“Baik, aku di sini sama Ibu. Ibu tidur saja, ya,” kata Anung.

Bu Nani menarik nafas panjang dan berat, wajahnya menunjukkan kelegaan yang sangat, menatap Anung dengan tersenyum, lalu memejamkan mata lagi. Dengan masih menggenggam tangan Anung, Bu Nani kembali tidur. Pengaruh obat membuatnya terus mengantuk.

Tak lama Bu Nani sudah tertidur lagi dan genggaman tangannya terlepas. Melihat itu pak Iwan mencolek bahu Anung dan mengajaknya ke luar. Anung mengikuti ayahnya. Berdua mereka duduk di selasar rumah sakit, depan ruang ICU.

“Kenapa kamu minggat?” tanya pak Iwan membuka pembicaraan.

Anung tak segera menjawab. Matanya mengikuti tatapan pak Iwan pada sekelompok orang tak jauh dari mereka tidur dengan alas seadanya. Mereka adalah keluarga dari pasien yang sedang ada di ruang ICU. Orang-orang itu menanti kepastian atas orang yang mereka cintai di dalam ruang ICU, apakah mereka masih bisa berharap atas kesembuhannya, atau tidak.

Terdengar panggilan untuk keluarga pasien. Satu dua orang bangun dan menuju ruang ICU. Tak lama kemudian mereka kembali dengan wajah kacau dan berurai air mata. Anung memandang itu semua dengan wajah gundah.

“Ada yang meninggal,” gumam pak Iwan menjelaskan pada Anung apa yang terjadi.

Anung mengangguk menandakan bahwa dia sudah tahu.

“Menunggui di sini memang ibarat menunggu orang yang sedang ditentukan hidup matinya. Mengerikan kalau kita tidak siap kehilangan,” tambah Pak Iwan dengan nada seperti keluhan.

Anung tak menjawab. Wajahnya yang kusut kini tertunduk.

“Jadi, kamu kenapa kamu minggat?” tanya pak Iwan lagi.

Anung menghela nafas panjang, menyusut matanya.

“Aku… “ kalimatnya mengambang, kemudian dia menggeleng.

“Katakan saja. Apa yang kamu rasakan?” pak Iwan bertanya dengan nada datar dan perlahan.

“Enggak tau. Aku merasa kacau. Kaget. Bingung. Merasa tertipu. Merasa bukan siapa-siapa. Merasa… “Anung kembali menggeleng, “Nggak tau..”

“Kamu kaget, itu wajar. Itu respon paling masuk akal. Selama ini kami tidak pernah mengatakan apa-apa padamu. Ibumu sakit jantung, jelas itu tidak memungkinkan bagi dia untuk mengatakannya padamu. Emosinya akan melonjak dan aku sendiri kuatir dengan responmu.”

“Bapak sendiri? Kenapa bukan Bapak yang mengatakan padaku?”

Pak Iwan tak segera menjawab, tapi membalas tatapan anaknya yang menunggu jawaban darinya. Ditatapnya mata Anung seolah mencari jawaban, tapi yang ada adalah tuduhan. Pak Iwan seperti orang yang lepas dari pegangan.

“Aku..” pak Iwan bingung, “Aku takut ibumu sakit lagi.”

Anung menatapnya tak mengerti. “Lagi?”

“Ibumu sudah pernah sakit seperti ini.  Dan kalopun aku yang mengatakannya padamu, kamu pasti marah dan itu akan menyakiti ibumu. Sama saja.”

“Yah,” Anung mendesah,”Dan sekarang kejadiannya juga sama saja. Aku tau sendiri, aku marah, minggat, dan ibu kumat lagi sakitnya.”

Anung menatap lekat Ayahnya.

“Sama saja kan, Pak?”

Pak Iwan mengangguk lemas.

“Iya. Apapun itu, ibu kamu tetap saja kumat. Sakit lagi. Aku bingung lagi.”

“Kenapa bingung?”

“Aku takut kehilangan ibumu.”

“Bapak juga takut kehilangan aku, tidak?” tanya Anung tiba-tiba.

Pak Iwan terdiam.

“Bapak sayang sama aku, tidak?”

Pak Iwan tak juga menjawab.

“Bapak tidak sayang sama aku,” keluh Anung.

Pak Iwan terdiam sejenak sebelum menjawab, “Mungkin, juga.”

Anung menoleh cepat. Wajahnya protes.

“Kenapa bapak mengambil aku sebagai anak kalau bapak tidak sayang sama aku?”

“Tunggu dulu,” kata Pak Iwan tetap tenang,”Dengarkan dulu. Aku tidak tahu ini perasaan sayang atau bukan.”

Dahi Anung mengkerut, berpikir.

“Maksudnya?”

“Bantu aku. Aku bingung kalo kamu tanya aku sayang padamu atau tidak. Jadi dengarkan dulu. Nanti beritahu aku, perasaanku terhadapmu ini apa.”

Anung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

“Waktu itu dokter sudah memvonis kami sulit punya anak karena penyakit jantung ibumu, jadi aku tidak memaksa. Kalau saja ibumu sehat, aku sudah mengajak dia menjalani program agar punya anak. Tapi dengan kesehatan seperti itu, aku tidak mau mengusulkannya.”

Pak Iwan menghela nafas panjang, “Aku mencintai perempuan itu. Buatku dia segalanya. Mungkin kamu akan berkata, lebay. Tapi itulah kenyataannya. Sepanjang masa remajaku aku sudah sering berganti pacar. Memilih ibumu bukan tindakan terburu-buru atau gegabah. Aku memilih dia karena memang dengan dialah aku benar-benar merasakan dialah orangnya.”

Pak Iwan berhenti sebentar. Terdengar lagi suara panggilan untuk keluarga pasien. Kali ini tidak ada orang yang bangun lalu bergegas ke ruang ICU seperti tadi. Mungkin tidak ada keluarga pasien yang menunggui malam itu.

“Aku ini anak siapa?” tanya Anung tidak sabar.

“Kamu ditawarkan pada kami oleh temanku yang seorang polisi. Kamu ditemukan di tempat sampah dalam keadaan dikerubutin semut. Bayi merah yang sehat. Temanku itu dilapori penduduk setempat yang menemukan kamu lalu merawat kamu di rumahnya. Dia ingat aku yang sudah sekitar sepuluh tahun tidak punya anak.”

“Jadi, aku..” Anung menggumam kelu.

happy-family

“Tidak tahu kamu ini anak siapa, tadinya. Kemudian setelah dilacak, ada seorang pembantu rumah tangga yang baru saja keluar dari rumah majikannya. Ternyata memang dia yang melahirkan kamu. Hasil hubungannya dengan majikan lelakinya.”

“Berarti aku anak haram?” wajah Anung memerah.

“Tidak ada anak haram, Nung!” kata pak Iwan dengan nada meninggi. “Jangan pernah berpikir seperti itu. Itu pemikiran sia-sia yang tidak ada gunanya. Aku tidak ingin mengatakan itu pemikiran bodoh meski sebenarnya begitu.”

Anung mengatupkan bibirnya, nafasnya memburu.

“Aku bukan siapa-siapa,” gumamnya.

“Kamu boleh berpikir begitu kalau itu maumu. Tapi tugasmu belum selesai. Aku tadi memintamu mengatakan padaku, apa perasaanku padamu. Biarkan aku melanjutkan ceritaku.”

“Ya,” Anung mengangguk tak sabar kemudian meremas kepalanya.

“Ibumu setuju. Dia senang sekali ketika melihatmu pertama kali. Baru pertama kali itu aku melihat cahaya yang luar biasa di matanya. Aku segera setuju begitu dia ingin membawamu pulang dan menjadikan kamu anak kami.”

“Bapak sendiri tidak ingin mengambil aku?”

“Aku tidak punya punya pemikiran apa-apa selain ingin membahagiakan Ibumu. Aku ingin membawamu pulang, karena kamu adalah kebahagiaan buat perempuan yang ingin kubahagiakan sepanjang hidupnya.”

“Berarti..”

“Jangan katakan apa-apa dulu. Dengarkan dulu.”

Anung diam dengan wajah kesal.

“Tiap hari Ibumu merawatmu seperti anak sendiri. Tidak ada kerepotan sedikitpun yang dia keluhkan. Semua tentangmu adalah kegembiraan baginya. Setiap kemajuanmu, dia ceritakan padaku dengan riang. Lama-lama aku merasa aku harus berterima kasih padamu. Karena kehadiranmu, istriku jadi begitu bahagia. Lama-lama aku juga tak ingin terjadi sesuatu padamu. Lama-lama aku ikut melibatkan diri dalam segala kegiatanmu. Aku ingin ikut bahagia bersama Ibumu dan kamu.”

Anung menghela nafas panjang.

“Aku ikut mengajarimu berjalan. Aku yang mengajarimu naik sepeda. Aku mengajarimu main layang-layang. Aku mengajakmu bermain gundu.  Melihat tawamu, tawa Nani, saat kamu bisa naik sepeda sendiri, itu surga buatku.”

“Akhirnya, bukan cuma senyum gembira Nani yang ingin aku lihat, tapi senyum bahagiamu juga.”

Pak Iwan berhenti.

“Jadi, Nung, menurutmu itu rasa sayang, bukan?” tanyanya dengan suara serak.

Anung tak segera menjawab. Matanya kembali basah.

“Tanpa cerita ini, menurutmu perasaanmu, apa yang sudah aku lakukan padamu selama ini, itu wujud rasa sayang, bukan?”

“Pernahkah aku menyakitimu? Membentakmu? Memukulmu?”

Anung menggeleng. Ditutupnya wajahnya dengan kedua tangannya.

“Jadi menurutmu, aku ini sayang tidak sama kamu?”

Tak ada jawaban. Suasana malam semakin sunyi, hanya ada dengkur orang-orang yang tidur dengan alas seadanya di selasar khusus untuk keluarga pasien di depan ruang ICU.

Lama kedua orang itu berdiam diri. Anung terisak perlahan. Pak Iwan menepuk pundak Anung.

“Kamu pulanglah,” kata pak Iwan akhirnya.

“Biar aku di sini menunggui ibumu.”

Anung menggeleng. Tanpa diduga dia memeluk pak Iwan erat dan tanpa malu terisak-isak di atas pundak Pak Iwan.

“Maafkan aku pak.”

Dengan lembut pak Iwan menepuk punggung Anung. “Sudahlah. Yang terpenting adalah, kamu tahu bahwa aku tidak ingin perempuan yang kita cintai itu kenapa-kenapa lagi.”

Anung melepaskan pelukannya. Sambil menyusut air matanya, dia mengangguk.

“Aku janji akan menjaga perasaan ibu. Aku sayang sama ibu meski dia bukan ibu kandungku, yang bahkan tega membuang aku.”

“Kamu tetap saja tidak boleh menghakimi dia. Ketakutan membuat dia hilang akal sehat. Ketakutan, selalu membuat kita melakukan hal-hal konyol. Dia melakukan itu karena ketakutan jadi dia melakukan hal konyol yang bahkan bisa jadi sampai saat ini membuat dia menyesal setengah mati. Penyesalan yang meracuni hidupnya, sepanjang sisa usianya. Jadi jangan menghakimi dia. Ingat itu.”

Anung mengangguk lagi.

“Terima kasih sudah menjadi bapak yang bijak untukku, Pak.”

Pak Iwan meninju dada Anung pelan sambil tersenyum lebar.

“Be my best!” bisiknya pada Anung.

“I will,” Anung tersenyum.

Terdengar suara orang berjalan. “Tok..tok..tok..”

Hak sepatu beradu dengan lantai. Anung dan pak Iwan sama-sama menoleh ke asal suara. Tampak seorang perawat yang cantik berjalan ke arah mereka. Di malam yang semakin larut dan sunyi, kehadirannya seolah selingan yang menghibur.

Perawat itu melewati mereka dan tersenyum menyapa. Pak Iwan dan Anung membalas senyumnya. Segera Anung menyisir pemandangan tampak depan dari perawat itu. ternyata perawat itu hanya melewati mereka. Ketika perawat sudah lewat, tatapan mereka berdua tak juga lepas hingga perawat itu tak tampak lagi.

“Gila, seksi bener… “ gumam Anung.

“Iya.. Seger ya,” pak Iwan menjawab lirih, masih memandang ke arah perawat tadi menghilang, seolah berharap perawat tadi kembali lagi.

“Ah, bapak ini. Sudah tua masih suka begituan.”

Pak Iwan terkekeh. “Namanya pemandangan bagus, nggak boleh dilewatkan.”

Anung terkekeh perlahan. Telapak tangannya terulur pada pak Iwan mengajak toss. Pak Iwan menyambutnya.

“Partners in crime,” kata Anung.

​Pak Iwan terkekeh pelan. Tangannya menyusut sisa air mata yang sempat mengambang di sudut matanya karena pelukan Anung tadi.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

25 Comments to "Tiga Sahabat (8): Rasa Sayang Itu"

  1. wesiati  8 May, 2013 at 13:44

    oia… ketemu ibu kandunge. tapi itu nanti aja… setelah diselingi episode2 lain. sesuk sing ngedan meneh wae. dramane nanti2 lagi…

  2. Nur Mberok  8 May, 2013 at 12:35

    Melas tenan anung di rubung semut yo…… untung rak di mut jaran….. hahahha

  3. juwandi ahmad  8 May, 2013 at 00:48

    ha ha anung dan iwan nyok nyok podo kenthire

  4. probo  7 May, 2013 at 22:04

    ketemu karo ibu kandunge wae…….jebul wis dadi tukang pijet…..

  5. wesiati  6 May, 2013 at 14:03

    kasi ide dong, yang seru. kuwi anung dirubung semut wis tak gawe… mosok aji naksir iyem- iyem naksir pak han? sinetron banget…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.