Arbeit Macht Frei (memaknai sekali lagi)

Fikrul Akbar Alamsyah

 

Membicarakan suatu slogan / jargon atau istilah tak akan pernah lepas dari mana ia berasal, dari mana ia muncul, mengapa ia muncul sampai penggunaannya. Begitu juga dengan jargon yang muncul di judul di atas itu, pasti ia tidak muncul begitu saja di benak manusia, mungkin ia sudah terbang dan hinggap di berbagai ide manusia, akan tetapi tidak semua manusia mampu, bisa atau ingin mengeluarkan ide tersebut.

Arbeit_Macht_Frei
Arbeit Macht Frei

Dilihat dari susunannya, ia hanya terdiri atas tiga kata, singkat sekali tetapi dari tiga kata tersebut menyimpan berbagai makna yang dapat dipahami. Dari bahasanya sudah tampak bahwa ia bukanlah berasal dari bahasa Indonesia ia merupakan bahasa asing yang mana memerlukan penjelasan lebih lanjut. Berikut dalam tulisan singkat saya ini akan mencoba memaknai kata-kata tersebut meski dari sudut pandang terbatas, sudut pandang saya.

Jargon kata-kata di atas berasal dari bahasa Jerman yang dapat diartikan sebagai kerja adalah pembebasan, mungkin dari arti secara bahasa akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan lain mengenai apa makna sebenarnya dari “kerja adalah pembebasan, apa yang dibebaskan, apa yang membuat bebas?

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pembebasan dan kaitannya, maka perlu diketahui akar awal makna munculnya istilah ini. Kata-kata ini berasal dari sebuah novel berbahasa Jerman karangan  Lorenz Diefenbach, kemudian dipakai juga berapa kali dalam penggunaan yang berbeda di sekitar Eropa. Dan puncaknya ialah saat Nazi memakainya sebagai bahan propaganda untuk tahanan Yahudi pada era Perang Dunia II, sampai sekarang pun istilah tersebut masih terpampang di beberapa tempat yang dahulunya digunakan untuk menahan Yahudi.

Nah, beranjak dari keterangan sekilas di atas, apakah berarti menggunakan istilah tersebut merupakan istilah yang tidak pantas?, atau menggunakan istilah tersebut merupakan usaha membangkitkan paham NeoNazi?. Tentu perlu dipahami lebih lanjut sebelum berkesimpulan seperti itu, perlu dimaknai sekali lagi.

Pemaknaan istilah Arbeit Macht Frei atau kerja adalah pembebasan dapat diartikan sebagai berikut :

Pada zaman awal komunitas manusia terbentuk, manusia menghadapi alam semata-mata dengan kerja, tentunya kerja yang tidak seperti saat ini, kerja yang benar-benar bersentuhan dengan alam, yang benar-benar terlibat dengan alam secara langsung. Tubuh dan anggota badan benar-benar digunakan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari khususnya makanan. Otot dan keterampilan tubuh berperan penting untuk mencari tempat yang terdapat makanan, baik tanaman, buah-buahan dan binatang. Manusia pada awalnya seperti teori-teori yang disampaikan selalu berpindah-pindah tempat apabila makanan di suatu tempat mulai habis. Tempat yang dituju terkadang keras  sampai mengancam nyawanya sendiri, seperti adanya bencana alam, iklim yang tidak bersahabat atau penghuni (manusia) lainnya. Akan tetapi tekadang alam ramah / mudah dihuni .

Banyak peristiwa di alam yang di hadapi manusia, perjumpaan dengan pengalaman-pengalaman pastinya membuat manusia belajar jika ingin bertahan hidup. Oleh karena itu, kerja merupakan dasar untuk perkembangan pola pikir dan ciri kehidupan (termasuk kultur). Akumulasi hasil dari kerja yang dilakukan oleh manusia selama jutaan tahun ini telah menghasilkan suatu capaian yang pada akhirnya justru mempermudah kehidupan manusia dan menjadi tonggak untuk proses terciptanya budaya, teknologi juga filsafat dan pada akhirnya kedua hal tersebut akan membebaskan manusia dari tempurung kebodohan yang dijalani selama jutaan tahun yang lalu, tempurung kebodohan yang dijalani manusia pada generasi awal. Kerja merupakan praktek kehidupan harian yang membuat manusia mau bergerak, mau untuk menggunakan tubuh, tangan dan seluruh anggota badannya dalam rangka menghadapi alam kehidupan. Dari proses inilah, kebudayaan, teknologi, filsafat berkembang yang nantinya akan membebaskan manusia dari keterkungkungan pola pikir yang tidak mencerahkan.

Berangkat dari pemahaman di atas lah maka, saya pribadi menyimpulkan bahwa eksistensi manusia (kerja) yang didasari atas hanya urusan perut merupakan eksistensi yang paling dasar (manusia jaman purba) atau kalau sedikit kasar eksistensi yang paling dangkal (akan tetapi saya menghargai hal itu). Kemudian dari bekerja pun saya pribadi menyimpulkan dapat menghasilkan pembebasan, melalui hubungan yang dijelaskan secara singkat seperti di atas.

ARBEIT MACHT FREI.

Bagaimana pemahaman anda mengenai bekerja?

Sumber inspirasi:
wikipedia.org
Soyomukti,N.,”Metode Pendidikan Marxis Sosialis“, Ar-Ruzz Media, Yogya

 

5 Comments to "Arbeit Macht Frei (memaknai sekali lagi)"

  1. fikrul  11 May, 2013 at 09:16

    Mbak Dewi : Hmm…banyak yg terlibat ya mbak, kyanya itu bisa dijadikan bahan tulisan tuh mbak
    Pak DJ : Terima kasih pencerahannnya Pak, memang benar ya Paka dengan bekerja membuat pikiran jadi makin fokus dan ga mikir macam2.
    Pak Handoko : Kangmas Djokonya ada di mana Pak?, mungkin bisa berbagi pencerahan buat kita semua.
    Pak J.C : Terima kasih juga Pak, kutipan ini juga saya dapat dari seorang kawan. Semoga terus bermanfaat untuk semua.

  2. J C  7 May, 2013 at 22:31

    Wuuuiiihhh…filosofi yang sangat mendalam. Pembelajaran penting dari pemikiran budaya Jerman: Arbeit Macht Frei, sangat-sangat bermakna. Terima kasih mas Fikrul.

  3. Handoko Widagdo  6 May, 2013 at 20:14

    Wah ini bagiannya Kangmas Djoko untuk membahas lebih mendalam.

  4. Dj. 813  6 May, 2013 at 13:53

    Bung Fikrul A. Alamsyah…
    Danke schön…
    ARABEIT MACHT FREI . . . ! ! !
    Das ist gut so.
    Slogan ini, tetap masih berlak sampai sekarang “untuk orang Jerman”.
    Walau sebenarnya untuk semua orang.
    Karena dengan bekerja, maka pikiran kita bebas dari yang macam-macam.
    Orang nganggur ( banyak waktu ) , akan memunculkan pikiran yang tidak-tidak.
    Olehnya bekerjalah, agar pikiran kita tidak memikirkan yang bkan-bukan.
    Kita merasa bebas, karena itu orang Jerman memang hidup untuk kerja dan bukan kerja untuk hidup.
    L.G. aus Mainz.

  5. Dewi Aichi  6 May, 2013 at 10:13

    Nazi dan Yahudi masih sensitif dibahas di Brasil, karena banyak yg terlibat, .

    Ini tulisan bikin aku mikir tentang pemahaman bekerja he he..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.