Mengikuti Prosesi Ngolik’ng Suku Dayak Beka’eh

Jemy Haryanto

 

Seorang dukun mempersiapkan bahan-bahan ritual, menyalakan lilin, kemudian beranjak duduk di atas ayunan. Sambil menggoyangkan tubuh, matanya terpejam dan mulutnya terus bergerak mengucapkan mantra-mantra…..

Ada sebuah upacara tradisional unik di tanah pedalaman, dusun Tokot, desa Bengkawan, kecamatan Seluas, kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Suatu tradisi peninggalan nenek moyang yang masih dipertahankan turun temurun komunitas suku dayak Beka’eh yang merupakan rumpun dari suku dayak Bidayuh, yaitu Ngolik’ng.

Ritual ini merupakan ritual memetik padi baru yang ditujukan bagi para pemilik ladang yang padi-padinya sudah siap panen. Wajib digelar sebelum merujuk pada aktivitas panen besar secara keseluruhan. Tujuannya sebagai pengharapan berkat pada Tuhan atau Jubata terhadap segala hasil bumi yang akan diperoleh.

Dalam implementasi, ritual Ngolik’ng tidak sembarang dilakukan. karena harus menyertakan bahan-bahan sebagai syaratnya. Selain itu juga harus melibatkan seorang dukun yang nantinya akan bertugas memimpin upacara, yang tidak saja tahu seluk beluk dan tata cara ritual, tapi juga seorang spesialis yang telah ditunjuk oleh segenap kumpulan masyarakat di kampung itu.

Ada beberapa tahapan upacara yang harus dilalui dalam ritual Ngolik’ng. Yang dari setiap tahapan itu memiliki makna dan simbol-simbol kekuatan bagi mereka yang percaya. Sehingga wujud dari refleksivitas kegiatan dari spirit nenek moyang masa lalu terkorelasi secara transendental dengan kebesaran Jubata.

Langkah pertama adalah menyiapkan bahan-bahan yang nantinya akan menjadi media ritual. Seperti gendang panjang atau tite’ek, gong atau atau agong, ayunan yang terbuat dari kulit kayu, kain merah  atau tino’et, dua batang bambu yang telah dipotong kemudian dilancipkan pada ujungnya, tutup kepala atau sie’et yang nantinya digunakan oleh dukun, sarung, pelepah mayang dan parang atau golok atau pono’et dan alat Tampik.

Bahan-bahan sebagai syarat ritua

Untuk parang sendiri, menurut Amou, dukun yang memimpin prosesi ritual itu, menyarankan menggunakan parang khusus yang memang dibuat untuk upacara tradisional Ngolik’ng. “Karena jika tidak demikian saya tidak bisa bekerja,” ucap dia.

Selain itu rempah-rempah. Di antaranya adalah telur yang sudah direbus, beras ketan  atau pega’at, daun sirih atau bo’et, beras, emping beras atau beras yang telah ditumbuk, beras lama yaitu beras yang dipetik pada panen terdahulu, minyak kelapa dan tuak (minuman keras khas suku dayak yang terbuat dari ketan).

pak amou

Sebelum upacara dimulai, terlabih dahulu dibuka dengan acara minum tuak. Pada bagian ini ada tata cara yang harus dilakukan sebelum minum. Pertama-tama jari kiri dicelupkan ke dalam gelas yang telah terisi tuak kemudian dicipratkan ke bawah. Tujuannya untuk membuang roh jahat. Setelah itu giliran jari kanan yang dicelupkan lalu dicipratkan ke atas.yang tujuannya untuk memanggil roh baik.

Tuak

Setelah itu pak Amou mengeluarkan batu-batu yang diyakini berkekuatan megis, kemudian menyemburkan daun sirih yang telah dikunyah sebelumnya pada salah satu batu, dan menempelkan batu itu pada kening petani yang akan melangsungkan panen padi dan seluruh keluarganya. Tak lupa minyak kelapa juga dioleskan. Langkah ini bertujuan agar Jubata mengenal mereka.

Batu-batu yang dipercaya oleh pak amou sebagai media ritual

Selanjutnya menyalakan lampu minyak, telur dibuka dan pak Amou mengoleskan tubuhnya dengan minyak kelapa. Sebuah pertanda bahwa upacara tradisonal Ngolik’ng dimulai. Alat musik tradisional pun, yang terdiri dari gong dan gendang panjang segera dimainkan. Bersamaan dengan itu pak Amou naik dan duduk di atas ayunan. Dia bergoyang sambil membaca mantra, sementara tangannya memegang tino’et.

Menyalakan pelita, pertanda ritual dimulai

“Saat dukun sudah duduk di atas ayunan, musik tidak boleh berhenti, atau salah memainkannya, karena fungsinya untuk membuka jalan pada roh baik yang hendak datang,” jelas seorang warga kampung yang ikut menyaksikan upacara tradisional itu.

Musik terus berbunyi. Di selah-selah itu beras lama dihamburkan di atas lantai dan kain yang telah diberi bulatan-bulatan logam kecil digoyang, sehingga menciptakan suara bergemerincing. Lalu sarung dikenakan.

Setelah berayun, tahap berikunya masuk pada proses pemberian semangat dengan membaca mantra-mantra yang dilakukan oleh pak Amou pada petani dan keluarganya. Tak lupa telur, beras dan ketan diberikan juga di atas kepala mereka satu persatu.

pemberian berkat

Tahap terakhir adalah mengarahkan pelepah mayang ke sebelah Barat. Hal itu dilakukan karena ritual tersebut digelar pada malam hari. Dan mereka percaya pada saat itu roh-roh baik sedang bepergian. Roh-roh itu akan pulang pada pagi hari sehingga pelepah mayang itu harus dirubah lagi arahnya menghadap Timur.

Menurut Pak Amou, sebenarnya ada tiga tahap dalam upacara tradisional Ngolik’ng. Pertama, ritual dilakukan di ladang. Diawali dengan aktivitas pembuatan pantak, yaitu sebuah media interaksi dengan roh yang terbuat dari kayu yang berbentuk segi empat. Setelah dihias dengan daun enau muda, pantak didirikan menggunakan bambu dan diberi rempah-rempah yang terdiri dari daun-daunan. Acara ditutup dengan pemotongan ayam dan babi untuk diambil darahnya, untuk kemudian disimpan di pantak sambil diberi mantra-mantra sebelum akhirnya dimakan.

“Untuk ritual tahap tiga, tak jauh beda tata caranya dengan ritual yang baru saja dilakukan. Hanya saja ritual tersebut dilakukan pada pagi hari dan pelepah mayang yang sebelumnya mengarah ke Barat, dirubah menghadap ke Timur,” jelas Amou.

Dia juga menambahkan, untuk padi-padi yang telah dipanen, tidak semuanya dimakan, tapi harus disisihkan beberapa bagian untuk dijadikan benih. Biasanya padi dengan tekstur cerah dan segar yang dipilih. “Dan untuk mengetahui proses padi menjadi benih, masyarakat kampung di sini memiliki cara tradisional,” ucap lelaki tua itu.

Padi yang telah dipilih, dijemur di bawah sinar matahari, dengan menyertakan beberapa helai daun bambu. Ketika daun tersebut layu dan warnanya berubah sedikit kuning keputih-putihan, itu adalah indikator bahwa padi-padi tersebut sudah menjadi benih dan siap ditanam.

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Jemy Haryanto. Artikel perdana ini memperkaya satu lagi khasanah budaya Nusantara di Baltyra. Make yourself at home dan ditunggu artikel-artikel lainnya ya… Terima kasih Dewi Aichi yang sudah mengajak Jemy Haryanto bergabung di rumah kita ini…

 

9 Comments to "Mengikuti Prosesi Ngolik’ng Suku Dayak Beka’eh"

  1. Jemy Haryanto  8 May, 2013 at 14:23

    Salam kenal juga mas JC, senang bisa berbagi. Betul mas, banyak sekali tradisi budaya kita yang belum terangkat ke permukaan, tdak saja lokal tapi juga nasional. Dan Ritual ini hanya ku buat untuk salah satu media di italia dan baltyra, dan masih ada beberapa ritual lagi yang nantinya akan ku kirim ke sini. Faktor sulitnya medan, dan jauhnya jarak tempuh, membuat kawan2 enggan melakukan eksplorasi. Belum lagi isu2 Pengayau atau Head Hunter, yang tradisi tersebut (Kayau) masih dipertahankan oleh sekelompok suku yang ada di sana. Oh iya jika melihat di gambar, mungkin pakaian mereka terlihat bagus2, itu kerena mereka dapatkan dari Malaysia. mengingat hanya 5 menit jarak tempuhnya dari kampung itu ke malaysia, menyusuri hutan rimba.

  2. J C  7 May, 2013 at 22:35

    Jemy Haryanto, salam kenal dan selamat datang ya. Wuuuuiiiiihhh…ini dia budaya-budaya Nusantara yang belum terekspos ke dunia luar. Kekayaan budaya Nusantara semakin hari semakin dikenal masyarakat luas dan dunia karena teknologi internet. Di masa lalu, budaya-budaya seperti ini, “terpendam” di kerimbunan rimba Kalimantan. Mungkin sudah mulai dikenal, tapi masih sedikit yang mengabadikan dan menuliskannya seperti ini. Terima kasih, Jemy…

  3. Jemy Haryanto  7 May, 2013 at 12:28

    Halo mas Handoko dan mas DJ, salam kenal untuk kalian berdua. Indonesia memang sangat indah, kaya akan keberagaman agama, suku dan budaya. Dan aku sangat senang juga bisa bergabung di sini, sangat Indonesia. Thank you untuk mbak Dewi yang telah memberi ruang, dan mas N Mursidi setelah berdiskusi panjang. mas DJ : kebetulan aku pindah ke borneo barat saat umur 10 tahun. Dan telah banyak terpengaruh oleh bahasa2 beraneka ragam, ada tionghua, bugis, sunda, batak, melayu sambas, melayu pontianak, melayu pinggiran sungai kapuas, melayu sintang, melayu kapuas hulu, melayu malaysia, melayu Brunei, dan dayak dengan jumlah 405 sub suku dayak yang setiap sub suku itu bahasanya tidak sama. sehingga ketika ditanya ‘koe wong opo Le?’ aku jawab ‘aku wong Indonesialah’ hehe

  4. Handoko Widagdo  6 May, 2013 at 20:06

    Halo JH, selamat bergabung di Baltyra. Semoga kerasan di sini. Terima kasih untuk artikelnya tentang budaya Dayak.

  5. Dj. 813  6 May, 2013 at 14:13

    Salam kenal mas Jemy…
    Terimakasih sudah berbagi cerita tentang kehidupan di Kalimanta Barat.
    Sangat menyenangkan, boleh mengetahui adat kita yang unik.
    Sampeyan ki, kepriben, kok rak ngerti boso Jowo…???
    Salam Sejahtera dari Mainz.
    Ditunggu cerita berikutnya mas.

  6. Jemy Haryanto  6 May, 2013 at 11:33

    Terimakasih juga mbak dewi, dan salam kenal buat mbak atau mas Alvina. Senang bisa bergabung, begitu pertama kali membaca baltyra, saya juga jadi banyak belajar di beberapa artikel, khususnya artikel yang ada unsur bahasa jawanya, saya sendiri orang jawa, tapi tidak banyak mengerti bahasa jawa.

  7. Alvina VB  6 May, 2013 at 10:23

    Blm selesai ngetik dah ke-click secara tdk sengaja….Selamat gabung di Baltyra mas Jemy dan trima kasih buat artikelnya, jadi saya lebih tahu ttg budaya Dayak.

  8. Alvina VB  6 May, 2013 at 10:22

    Wuih….Dewi te o pe dah…recruit org baru lagi….Wi, minta hadiah bonus dari redaksi (he..he…kaburrrrrrr dulu ya…

  9. Dewi Aichi  6 May, 2013 at 09:24

    Selamat datang mas Jemy, saya juga berterima kasih kepada mas N Mursidi, yang telah memberitahukan keberadaan baltyra kepada mas Jemy.

    Tulisan ini sangat menambah pengetahuan tentang budaya nusantara..banyak sekali bahasa daerah yang baru kali ini saya baca. Penjelasan dari awal hingga akhir prosesi sangat jelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.