Sebuah Sabtu Siang

Wesiati Setyaningsih

 

Situasi seperti apa yang dibutuhkan saat mengajar? Semua orang pasti membayangkan suasana yang hening dengan siswa-siswa yang tenang mendengarkan gurunya yang sedang menerangkan lalu mereka yang tidak tahu akan mengacungkan tangan bertanya. Semua terjadi dengan tertib. Andai anda menjadi guru, apa yang anda lakukan, bila bukan itu yang terjadi? Dan apakah situasi yang tenang dan tertib itu menjamin bahwa semua murid akan paham pelajaran yang diberikan? Pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu saya.

Ketika tahun ini saya menjadi wali kelas yang murid-muridnya susah disuruh tenang, anak bungsu saya juga mengalami hal yang sama. Teman-temannya semakin sulit diatur. Gurunya sering marah. Berbagai cara dilakukan, dari curhat sampai memberi denda bagi yang suka ramai, tak terlalu berpengaruh. Izza masih saja mengeluh tentang gurunya yang marah-marah karena temannya suka ramai di kelas. Selama di kelas IV ini dia kurang nyaman belajar di sekolah. Saya tidak bisa menyalahkan. Gurunya tidak nyaman kalau muridnya ramai. Marahlah dia. Anak lain yang tidak terlibat ikut melihat gurunya yang marah dan ketakutan. Salah semua jadinya.

Menghadapi masalah yang sama, saya sendiri sudah melakukan berbagai cara. Dari menasehati baik-baik, marah-marah dan ngambek, hingga saya ajak mereka untuk meditasi bersama yang saya beri judul ‘Silent Time’. Rasanya dari semua itu tidak ada yang berhasil menjinakkan mereka. Tiap kali saya mengajar, masih saja beberapa dari mereka berjalan kesana ke mari.  Menjelang akhir semester genap yang berarti juga mengakhiri satu tahun ajaran ini, saya merasa sudah tidak terlalu terbeban lagi. Saya tidak lagi idealis bahwa mereka harus menjadi anak-anak yang alim dan mengikuti pelajaran dengan tertib.

Maka hari ini saya menyerah. Seharian ini saya mengajar di empat kelas dan diakhiri dengan mengajar kelas perwalian saya, X-1 yang penuh dengan anak ajaib itu. Saya mengajar di jam ‘kritis’ yaitu jam terakhir di akhir pekan. Fokus mereka biasanya ingin segera pulang. Setelah lelah seharian, saya tidak mau menguras tenaga untuk marah-marah lagi. Dan lagi saya ingin sekali-sekali saya membebaskan mereka dengan apa yang mereka mau.

Dengan berbekal soal Passive yang sudah saya susun dan saya berikan di kelas lain, saya pakai lagi di kelas itu.Saya mengawali dengan memberikan sedikit nasehat tentang mengambil keputusandan konsekuensiny karena di kelas itu kemarin ada beberapa anak yang kenahukuman karena makan di kelas.

Lalusaya mengajak mereka mengingat lagi tentang pola kalimat Passive yang kemarinsudah saya ajarkan. Saya minta mereka membuka lagi buku tugas yang kemarindipakai mengerjakan soal yang saya berikan. Ternyata anak yang duduk palingdepan tidak mengerjakan soal di bukunya. Bahkan catatan terakhir di bukunya adalah materi beberapa waktu lalu. Saya jadi menasehati dulu tentang pentingnya mencatat.

Saya jelaskan sekali lagi pola Passive. Kemudian lembar soal saya edarkan. Saya berikan 10 soal dari 40 soal yang mampu dikerjakan anak kelas lain yang saya minta mereka untuk kerjakan.Beberapa anak segera bersemangat mengerjakan. Yang lainnya yang tidak bisa bergerombol dengan teman-temannya untuk minta diajarkan. Segera kelas yang tadinya tertib menjadi berantakan. Saya ingin meminta mereka duduk manis di tempat masing-masing. Namun tiba-tiba terbesit, bagaimana kalau mereka tidak nyaman duduk manis? Bagaimana kalau mereka tipe orang yang suka berpindah tempat karena mudah bosan? Maka saya diamkan saja dulu mereka yang mulai berpindah-pindah ke tempat duduk lain.

Saya diamkan saja meski posisi duduk menjadi tidak beraturan. Mereka yang bisa mengerjakan, duduk manis di tempat mereka masing-masing dan hanya sesekali berdiskusi dengan teman sebelahnya.Tapi ketika menemui kesulitan, mereka langsung maju ke meja saya untuk minta diajari. Teman-teman lainnya tak mau kalah. Kalau temannya maju, mereka ikut maju bergerombol di depan saya, ingin tahu apa yang saya ajarkan pada temannya.Lalu mereka kembali ke tempat dengan menggumam, “Oh, iya, aku bisa,” atau “Iya,aku tahu.” Beberapa meninggalkan meja saya dengan berlari kegirangan.

Beberapa saat kemudian saya berjalan dari meja ke meja melihat sejauh mana mereka mengerjakan soal. Mereka yang sudah bisa saya beri pujian, yang salah saya ajari lagi. Ketika saya mengajari salah seorang anak, anak lain yang duduk di sekitarnya biasanya ikut melihat apa yang saya jelaskan. Kalau apa yang mereka kerjakan sudah benar, mereka akan berseru, “Yes, aku bener!” Kalau ternyata pekerjaan mereka salah juga dan belum paham, mereka meminta saya gantian mengajari mereka. Beberapa anak lain sudah berantakan menyebar di seluruh kelas. Beberapa memang mengerjakan bersama teman lain, namun ada juga yang memang sudah selesai.

Salah satu anak yang memang pandai, Roy, sudah berlarian mengganggu teman lainnya. Melihat polah tingkah anak-anak yang sudah berantakan saya duduk di lantai depan papan tulis yang dibentuk lebih tinggi seperti panggung. Benak saya penuh dengan pertanyaan, apakah saya harus menertibkan kelas ini, atau saya biarkan saja. Melihat mereka menikmati suasana berantakan yang saya biarkan saja, saya tidak tega membentak mereka untuk tertib. Toh nyatanya mereka memang mengerjakan soal yang saya berikan.

Melihat Roy berlarian ke sana kemari, saya minta dia duduk di samping saya. Tapi begitu duduk, melihat Anjar yang berlutut membelakangi dia mengerjakan soal di meja Dinda, segera kakinya menyepak kaki Anjar. Belum sempat saya memperingatkan, Anjar sudah berbalik dan memukulkan tongkat panjang yang dibuat dari sedotan yang disambung-sambung ke kepala Roy. Entah untuk apa Anjar membuat tongkat seperti itu dan membawanya ke sana ke mari.

Melihat kaki Roy yang salah satunya tidak bersepatu, saya menanyakan ke mana sepatunya. Dia bilang, tidak tahu. Tak lama dari kejauhan saya melihat Ratri membawa sepatu Roy yang sebelah.

“Buang aja ke luar,” kata saya iseng.

Ratri yang biasanya pendiam dan tertib, kali itu mengikuti ide iseng saya. Dia berjalan mendekati jendela dan segera melemparkan sepatu Roy lewat jendela. Roy berteriak-teriak. Saya kembali duduk di depan kelas. Anak-anak yang sudah selesai mengerjakan ikut-ikutan duduk di situ. Akhirnya mereka menggerombol di samping saya, di belakang saya dan di depan saya. Temannya yang lain memotret. Saya membuka kaca mata lalu tersenyum agar tampak lebih cantik. Murid-murid lain yang tidak ikut, terkekeh-kekeh dari tempat duduknya.

Kemudian mereka semua berdiri. Menunggu yang belum selesai, saya iseng mengambil sepatu Roy yang sudah diambilkan temannya dan dilempar ke dalam kelas.

“Buang, bu.. Buang..” kata Ratri.

Saya lempar sepatu Roy ke lapangan di depan kelas. Anak-anak tertawa.  Akhirnya anak-anak selesai mengerjakan 10 soal yang saya berikan. Saya ajak mereka untuk duduk tenang lagi, mendiskusikan jawaban pertanyaan yang sudah mereka kerjakan. Banyak anak yang ikut menjawab menandakan mereka memahami apa yang saya jelaskan sebelumnya. Menutup pelajaran saya berpesan bahwa mereka memang tadi saya biarkan semaunya asalkan mereka mengerjakan soal. Namun itu bukan berarti mereka boleh melakukan hal yang saya di pelajaran lain karena tidak semua guru mau memaklumi hal yang sama.

Tidak seperti Sabtu siang yang lain di mana saya sering kali keluar dari kelas dengan marah, hari itu saya meninggalkan kelas X-1 dengan hati senang. Saya ikut bergembira bersama mereka. Sebuah pertanyaan bergayut dalam benak saya, apakah sebuah kelas harus tenang dan tertib menjamin agar pelajaran bisa dipahami dengan baik sehingga guru harus melakukan berbagai cara agar murid mau duduk tenang? Apakah ketika mereka bergerak ke sana ke mari namun mereka mau mengerjakan soal yang diberikan dan memahami materi yang diberikan dengan cara itu, merupakan sebuah kesalahan?

Sabtu siang yang saya hadapi dengan cara yang berbeda ini, menjadi bahan perenungan saya sendiri.

wesiati

lagi duduk di depan kelas karena capek langsung dikerubuti dan difoto

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

26 Comments to "Sebuah Sabtu Siang"

  1. Alvina VB  8 May, 2013 at 22:10

    Wah..wah…ternyata gurunya bisa seiseng muridnya. Hati-hati loh ntar disetrap Kep Sek, he..he…..

  2. wesiati  8 May, 2013 at 13:41

    JC : mugakno kuwi jare mas Handoko ‘gemblung’..
    mas Juwandi : hah? kasus ki…
    mbak Nur : untung rak reti. ojo kanda2 lho…

  3. Nur Mberok  8 May, 2013 at 12:24

    Wah wah… iyem ….. kuwi kalo di sekolah bisa dimaraahin KEPSEK nya… juga tetangga kelasnya….. aku yo wis tau begitu… hahahaha…. hasilnya KEPSEK mentheleng

  4. juwandi ahmad  8 May, 2013 at 00:43

    ha ha ha ha..bu Wesi emang Ok..! I love you bu….

  5. J C  7 May, 2013 at 22:46

    Guru unik dan nyeleneh seperti dirimu jelas langka dan dianggap “nganeh-nganehi”, keluar pakem, tidak sesuai ‘wibawa guru’ dsb. Bener khan? Tapi yang seperti inilah yang disebut PENDIDIK bukan sekedar PENGAJAR…

  6. Dj. 813  7 May, 2013 at 22:06

    Menurut Dj. sih hak mbak Weeees untuk menulis apa saja.
    Sebuah bunga, sebuah burung, sebuah sapi, sebuah ikan…. hahahahaha…!!!
    Hanya Dj. saja yang sok … Maaf…
    Karena Dj. pikir, dengan berjalannya waktu, bisa jadi hari Sabtu bisa berbuah, Who Knows…???
    Karena saat Dj. masih di Indonesia dulu Sabtu itu hari dan bukan buah.
    Salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *