Cerita Liburan yang Tersisa dari Jakarta

Nunuk Pulandari

 

Teman semua, dalam tulisan berikut ini saya ingin berbagi sedikit cerita yang tersisa dari liburan di Jakarta di awal tahun ini. Tulisan-tulisan yang juga merupakan pembayaran janji saya pada dimas JC setelah dalam salah satu silang e-mail kami terbaca  tulisan dimas JC :

”…. Saya mau cerita sedikit. Saya memang mau cerita setelah semua berlalu saja….
Setelah kami dari rumah Panjenengan di Kemang, kami ke gereja dan lanjut makan malam di mall dekat rumah. Pulang rumah memang sudah sekitar jam 9 kurang. Semua rada capek tapi senang karena menikmati erwten soep Panjenengan dan ngobrol seru di sana. Hari Minggu pagi-pagi, suster si Alden laporan kalau malamnya sekitar midnite si Alden panas, karena tidak ketemu obat turun demam, cuma dikasih minum saja, menjelang pagi panas balik ke normal.“ Dst, dst..

Dengan e-mail  dari dimas JC di atas  terlontar janji  saya pada dimas JC untuk menuliskan cerita sekitar  kejadian-kejadian tidak kasat mata  yang  berhubungan dengan rumah di Kemang.  Baik yang telah dialami oleh para penghuninya sendiri maupun oleh para tamunya.

Sedikit cerita yang menurut saya cukup menarik untuk dibaca. Terutama untuk teman-teman yang sangat akrab dengan cerita-cerita dari dunia yang tidak kasat mata. Juga untuk dimas JC yang telah mengalami sendiri ketika dan setelah berkunjung kerumah di Kemang bersama keluarganya. Tentunya juga permohonan maaf untuk semuanya. Saya lupa dan tidak berpikir bahwa akan terjadi hal-hal yang di luar dugaan kita semua. Untuk dimas ISK, semoga tidak ada cerita tambahan yang akan menyusuli tulisan ini setelah kunjungannya ke rumah Kemang.

Dua hari sebelum meninggalkan Jakarta saya masih sempat bertemu dengan dimas JC dan dimas ISK, beserta keluarganya masing-masing. Suatu pertemuan sederhana yang cukup gayeng dan familiar. Dengan nyamikan jajanan pasar hasil olahan tangan Jeng Nani dan makan siang berupa erwtensoep  dari bahan-bahan olahan asli Belanda (yang saya bawa sendiri) serta cemilan keripik special dan es alpukat buatan adik, jadilah ocehan dan obrolan kami semua menjadi lebih ramai dan hangat…

at-kemang

Foto: keluarga dimas JC dan dimas ISK

Tetapi teman-teman, tulisan kali ini tidak akan menceritakan tentang pertemuan itu sendiri. Dalam tulisan ini saya akan lebih menitikberatkan pada cerita tentang  si “Penunggu” rumah di Kemang yang rupanya juga telah menunjukkan partisipasinya dalam pertemuan yang ada. Meskipun kami tidak mengharapkannya sama sekali dan baru mengetahui kelancangannya beberapa minggu (4 atau 5 minggu)  setelah kepulangan saya ke Belanda, lewat e-mail dimas JC.

Beberapa cerita tentang para “Penunggu” rumah-rumah yang pernah saya tempati sudah saya tuliskan. Seperti rumah di Bandung, rumah di Duren Sawit atau rumah di Rawamangun (lihat tulisan di Baltyra yang lalu-lalu – buku saya). Walaupun mungkin belum semua cerita telah saya tuliskan. Seperti cerita tentang “Penunggu” rumah di Kemang atau tentang ”Penunggu”  pavilyun rumah adik di Jaktim atau pengalaman ketika tinggal di rumah tua di Amsterdam. Berikut ini saya tuliskan cerita si Penunggu rumah Kemang yang tidak hanya pernah saya alami sendiri, tetapi juga dialami oleh antara lain mas sulung saya dan oleh terutama  “cucu” baru saya (baby Alden),  bungsunya dimas JC.

Sedikit gambaran bagan rumah di Kemang. Sesungguhnya rumah itu cukup asri dan bisa menampung banyak pancaran sinarnya mentari yang dengan leluasa bisa menerobosi jendela dan pintu kacanya. Melihat banyaknya sinar mentari yang bisa menerangi ruang-ruang dalam rumah, sesungguhnya tidak masuk akal kalau di salah satu ruangannya “ditinggali” oleh “penunggu” yang tidak kasat mata. Atau mungkin “dia” memang tidak tinggal di dalam kamar tidur tamu itu tetapi mungkin hanya mampir atau iseng lewat saja. Seperti yang kita semua tahu, sesungguhnya panas dan terangnya cahaya sinar matahari atau lampu listrik  sudah bisa “membersihkan” dan setidaknya menjauhkan rumah kita dari para “penunggu” yang tidak  kasat mata.

Untuk itu, menjelang magrib kami di rumah selalu diminta oleh orang tua untuk menyalakan lampu di semua ruangan yang ada. Baru setelah lewat sholat magrib, kami boleh mematikan lampu yang tidak diperlukan. Bahkan saya pernah diminta untuk memetik dan menggunakan selembar daun janur kelapa yang masih muda untuk “mengurungi” salah satu “penunggu” rumah yang pernah saya tinggali di Duren Sawit. Setelah dikurungi dengan daun janur ini  si “penunggu” yang muncul tidak bisa berkutik lagi, mati. Rupanya ada pancaran panas dari sinar daun janur yang saya gunakan, yang ternyata tidak tertahankan lagi oleh si “Penunggu” rumah.

“Penunggu” rumah  ini  (salah satunya) muncul dalam bentuk “ular” hitam kelam yang panjang dan  ramping sekecil lidi sapu halaman (agak lebih besar dibandingkan dengan lidi sapu tebah), di teras marmer putih di belakang rumah. Menurut penglihatan pembantu ketika  dia berusaha untuk mengusirnya dengan sapu,  ular itu nampak menjadi lebih besar. Hal ini membuatnya menjadi takut dan akhirnya saya terpaksa harus nyuwun tulung bantuan Oom saya (almarhum) untuk menjinakkan dan mengatasinya…

Kembali ke rumah Kemang. Memasuki rumah di Kemang, kami selalu melewati pintu garasi karena lebih mudah daripada harus membuka pintu di teras lebih dulu. Di sebelah kanan dekat pintu garasi ada pintu yang akan langsung masuk ke ruang makan dan ruang duduk I.  Di sebelah kanan ruang makan dengan menaiki 3 tangga, kita akan sampai di ruang duduk II. Melewati ruang duduk  II, ada pintu yang menuju ke kamar tidur tamu yang sekaligus juga menuju ke kamar mandi (douche  dan toilet) tamu. Sedang di dekat tangga ada sebuah toilet lain.

Di sebelah kiri ruang makan, setelah menaiki 3 tangga, ada lorong yang di sisi kanannya ada ruang mesin cuci dan pengeringnya (plus lemari sepatu). Berjalan ke ujung gang, setelah ruang mesin cuci,  kita akan lihat  kamar tidur Emy. Lalu di ujung gang ada kamar tidur adik dan kamar ganti pakaian yang dilengkapi dengan kamar mandi dll dll. Di kamar tidur besar ini kalau kami sedang berkumpul di Jakarta, di malam hari akan berubah menjadi ruang keluarga yang sangat nyaman. Dan biasanya kami juga tidur bersama di kamar ini walaupun harus  umpel-umpelan. Bahkan tidak jarang sampai harus menurunkan matras dari tempat penyimpanan di loteng untuk bisa tidur  bersama di matras di lantai…

Kembali ke ruang makan. Di sebelah kiri ruang makan ada dapur, dan di teras dapur terjajar kamar tidur dan kamar mandi pembantu.

Adik saya mulai menempati rumah di Kemang, kurang lebih 18 tahun yang lalu setelah dia kembali dari Jepang. Dia telah menempatinya dengan senang hati dan “tanpa” ada gangguan yang berarti… Sampaiiiii terjadinya cerita-cerita berikut ini.

Pertama kali menengok adik telah saya lakukan satu atau dua tahun setelah kepindahan saya ke Belanda. Masih segar teringat ketika saya duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu I dan melihat ke ruang tamu II yang letaknya agak lebih tinggi,  langsung seolah saya terbawa kembali ke suasana puluhan tahun yang lalu, ketika saya masih kuliah di UI.  Dalam kesempatan itu terbayang dalam ingatan seolah saya dikembalikan ke saat-saat ketika sedang berkunjung ke salah satu docent Belanda yang mengajarkan Litteratuur di UI, yang bernama P.C.

Di kemudian hari setelah saya berbicara dengan salah satu docent Belanda lain ternyata pak P.C. memang pernah tinggal di rumah itu. Walaupun hanya seperti bayangan dalam sebuah film dan untuk waktu yang singkat tetapi terlihat terlihat suasana ketika saya duduk di pojok sofa itu.  Di tempat yang sama dimana sofa di letakkan, saya dulu juga duduk dengan  menghadap ke arah yang sama – ruang duduk II. Dalam kesempatan kunjungan itu seolah saya sedang berbicara pada “seseorang”. Suatu percakapan yang intinya mengingatkan bahwa di kemudian hari rumah ini akan menjadi rumah milik adik saya. Suatu percakapan yang untuk saat itu  sungguh sangat tidak masuk akal. Suatu percakapan yang karena kesibukan keseharian yang ada,  segera terlupakan dan terhapus dari ingatan saya. Dan baru puluhan tahun kemudian muncul kembali setelah terwujudkan dengan keberadaan saya di rumah itu.

Teman-teman, pada kesempatan kunjungan liburan tahun berikutnya, ketika akan menginap di rumah adik untuk pertama kalinya saya diminta untuk tidur di kamar tidur tamu. Suatu hal yang wajar karena saya datang bersama konco ngajeng dan anak-anak. Setelah bercerita macam-macam kami harus memasukkan koper-koper ke kamar tidur  masing-masing. Dan kami ke kamar tidur tamu. Entah bagaimana, tetapi saat itu saya seolah dapat merasakan bahwa di dalam kamar tidur tamu ada yang sedang mengawasi dan mengikuti saya sejak dari pintu kamar mandi tamu. Hanya saat itu saya tidak terlalu menggubris apa yang terjadi dan segera terlupakan.

dunia lain

Sampai tiba saat  akan berangkat tidur.  Ketika sedang menuju pintu kamar tidur tamu seolah saya melihat sekelebat bayangan yang mendahului saya masuk ke kamar tidur tamu. Satu kejadian yang sesungguhnya sangat tidak masuk akal karena semua jendela dan gordijnnya sudah tertutup rapih. Dalam keterkejutan yang ada, sekali lagi saya mengawasi keadaan dalam kamar tidur tamu dan terlihat tidak seorangpun berada di sana atau ada keanehan lainnya. Kemudian saya hanya sempat berpikir: “Achhh. Aneh. Tapi mungkin saja terjadi karena saya cukup lelah dan agak mengantuk setelah perjalanan yang panjang dari Belanda”.

Bersiap untuk tidur saya masih sempat me”nebahi” (membersihkan dengan sapu lidi) dulu tempat tidur kami. Satu kebiasaan sebelum tidur yang saya dapatkan dari eyang setelah beliau pernah mengatakan: ”Nduk, nek ranjangmu wis suwe kosong, sak durungé dhi nggo luwih apik yen dhi tebahi ndishik”. Alasan yang di kemudian hari pernah saya dengar adalah bahwa dengan menebahinya lebih dulu setidaknya kita memberitahukan bahwa  “semua” yang tidak berhak tidur di atasnya harus segera meninggalkan tempat tidur itu; dan setidaknya debu-debu atau mungkin serangga yang ada akan tersingkirkan. Daaann, lidi adalah salah satu “senjata” yang menurut kejawen banyak manfaat dan kegunaannya.

Lalu segera setelah menebahinya, saya dan konco ngajeng merebahkan diri di tempat tidur. Sesaat setelah membicarakan tentang salah satu lukisan yang tergantung di tembok yang berseberangan dengan tempat tidur, lampu segera dipadamkan. Sayangnya rasa kantuk  menjadi hilang dan saya harus merasakan betapa sukarnya untuk menutupkan kedua mata saya walaupun badan sudah sangat capai dan ingin segera  istirahat tidur. Lagi pula begitu lampu dipadamkan entah mengapa saya seolah mendengar suara-suara percakapan yang sumber arah datangnya sukar ditentukan.

Seolah suara-suara itu muncul dan berasal dari berbagai sudut di sebuah ruang kamar yang besar. Terasa sekali semakin saya berusaha untuk mencari sumber suara dan mengartikan bunyi-bunyi yang ada,  suara-suara itu justru menjadi  semakin ramai. Yang juga mengherankan adalah bahwa  suara-suara dalam  percakapan itu sesungguhnya tidak terlalu jelas bunyinya tetapi memang seolah terdengar suara-suara dari percakapan dalam suatu perhelatan yang penuh dengan keramaian yang simpang siur dan luar biasa banyaknya. Kedua telinga untuk waktu yang cukup lama tetap menangkap berbagai suara dari percakapan yang seolah berasal dari keramaian “orang” yang sedang berbicara dan bersuka ria, sedang mata saya tidak kunjung bisa terpejamkan.Untuk sesaat saya hanya berpikir:” Mungkin di ujung jalan (jalan buntu) ada yang sedang mengadakan pesta. Atau di mesjid sedang diadakan acara bersama”.

Karena rasa keingintahuan saja, saya menyalakan lampu kecil di sebelah bantal di meja kiri. Mungkin dengan cara ini, semuanya akan reda dan sunyi kembali. Ternyata suara-suara belum hilang juga.  Melirik ke arah konco ngajeng terlihat dia sudah tertidur dengan lelapnya seolah tidak mengengar dan tidak terganggu oleh suara apapun. Bahkan mungkin dekapan tangannyapun tidak merasakan lagi keberadaan belahan hatinya. Menunggu datangnya kesempatan untuk tidur,  saya mencoba untuk berkonsentrasi sambil berdoa untuk bisa mencari tahu sumber asal suara. Sayangnya ternyata antara kerja telinga dan mata saya tidak ada sinkronisasi dan saling tidak  mau berkompromi. Dan menjadi tidak jelas lagi bagi saya entah sejak kapan saya mulai tertidur  karena tiba-tiba merasa dibangunkan di pagi hari.

Keesokan harinya, tentu saja saya mencoba bertanya pada pembantu dan supir tentang kemungkinan adanya keramaian di sekitar rumah. Ternyata jawaban yang ada sama sekali tidak mendukung pertanyaan saya. Tidak seorangpun dari para tetangga yang malam itu telah mengadakan perhelatan atau mengadakan pesta… Untuk tidak meresahkan dan membuat gundah adik, saya tidak menceritakan pengalaman di kamar tidur tamu pada malam itu.

Satu hal yang nyata adalah bahwa entah mengapa kamar tidur tamu itu memang sangat jarang dipakai. Sampai saat ini kami kakak beradik lebih senang menempati kamar adik atau kamar Emy.  Walaupun sering kali harus usek-usekan… Sampai pada suatu hariiiii, beberapa tahun kemudian..

Mas saya yang tertua terpaksa harus tidur dengan anak laki-laki saya, Birrutte, di kamar tidur tamu. Sementara kami-kami tidur di dua kamar tidur  lainnya. Mereka berangkat tidur hampir bersamaan waktunya dengan kami semua.. Hanya, keesokan harinya ketika matahari mulai menerobos tirai-tirai jendela kaca yang ada dan kami mulai terbangun satu persatu, tiba-tiba mas saya masuk kamar tidur kami dan terasa dia membangunkan saya. Di antara kantuk yang ada  saya bertanya: ”Lho mas, kok pindah”. Terdengar jawaban:” Payah, nggak bisa tidur. Nuk, emangnya di kamar depan ada yang tunggu ya”.

Saya langsung terjaga dan melanjutkan dengan pertanyaan: ”Memangnya mas Bambang dilihatin? Perempuan ya mas?”. Mas saya mengatakan:”Enggak sih kalau dilihatin. Cuma nganggu dengan berbagai suara dan percakapan. Ramai sekali”.  Saya masih bertanya: ”Teruuuuusssss”. Mas saya menjawab: ”Teruuus aku lihat ke Birrutte. Heraaannnn, kok dia begitu merebahkan badan langsung bisa ngleker dan lelap. Sedang aq nggak tidur-tidur”… Lalu mas saya melanjutkan ceritanya bahwa pada akhirnya dia memang masih sempat tertidur juga setelah dia memutuskan untuk bersemedhi sebentar memohon perlindunganNYA agar dijauhkan dari godaan yang ada dan dimudahkan tidurnya..Daaan dia baru terbangun kembali menjelang pagi hari ketika hangatnya sinar sang mentari mulai menerobosi  masuk ke kamar tidur tamu.

Dengan cerita mas saya, tentunya para adik yang lainnya menjadi tahu apa yang telah terjadi pada kami berdua. Dua  pengalaman yang identiek sama telah kami rasakan dan yang mudah-mudahan hanya terjadi pada kami berdua.  Suatu pengalaman yang menurut saya cukup sukar untuk dijelaskan dengan logika dan cara berpikir otak  manusia. Juga melihat kondisi keadaan kesehatan (terutama telinga dan mata) kami yang masih tetap prima sampai saat ini, sangat sukar untuk mengertinya darimana asal usul suara yang banyak itu dan mengapa kami harus mendengarnya. Mungkin ada poro pakar dunia tidak kasat mata di Baltyra yang bisa menjelaskannya?

Lucunya setelah dua kejadian di atas, adik saya lalu membuka cerita tentang pernah ditemukannya bungkusan yang telah dia lihat sendiri dengan nyata di luar dekat jendela kamar tidur tamu. Adik bercerita: Di awal tahun setelah menempati rumah ini, kebetulan terjadi penyumbatan di salah satu saluran pembuangan air yang setelah dideteksi dengan alat ternyata letaknya di dalam tanah sebelah luar tidak jauh dari jendela kamar tidur tamu. Di antara kesibukan dan kegiatan mencangkul dan membongkar tanah untuk menemukan penyumbatan itu, salah seorang pekerjanya menemukan bungkusan agak besar yang dibebat dengan kain putih. Bungkusan dengan kain putih yang ketika diangkat keluar walaupun tampak sedikit bercak-bercak warna tanah, masih terlihat cukup putih dan intact.

Awalnya tidak seorangpun dari para pekerja ada yang berani membukanya. Lalu diputuskan bahwa salah satu pekerja yang tertua diminta untuk membuka bungkusan itu. Setelah memohon berkahnya pada Yang Maha Kuasa  bebatan kain putih dibuka lapis demi lapis. Terlihat di dalamnya ada kepala kerbau yang terlihat masih lengkap. Lengkap seolah tidak terjadi pembusukan..Singkat cerita, setelah adik saya berkonsultasi dengan salah seorang yang memiliki kelebihan bisa melihat dan mendalami dunia yang tidak kasat mata, bungkusan dengan kepala kerbau yang tetap intact itu segera dikuburkan kembali di tempat yang sama. Dan tetap berada di sana sampai saat ini.

Mendengar cerita adik, terbesit sedikit pertanyaan dalam hati: ”Apakah ada hubungan antara bungkusan ini dengan semua cerita kejadian dan peristiwa yang tidak kasat mata yang telah terjadi di rumah Kemang?.Dan kalaupun ada lalu bagaimana cara kerja serta apa bentuk  jalur ikatan itu?”. Sedikit pertanyaan yang mungkin hanya bisa dijawab oleh para ahli yang bisa melihat dan mendalami dunia yang tidak kasat mata, saya kira.

**Teman-teman tulisan ini akan saya ceritakan dalam beberapa bagian melihat kejadian yang ada. Dimas JC, ceritanya pakai intro panjang dulu ya. Prettig lezen en werkt ze. Nu2k**

 

85 Comments to "Cerita Liburan yang Tersisa dari Jakarta"

  1. Lani  21 May, 2013 at 02:34

    MBAK NUK : ini yg namanya aneh tp nyata mbak……..musim semi jelang panas kok msh ada hujan, angin ribut…….dingin lagi……..mmm, yg kayak gitu ora ono mbak nang Kona hehehe……..saiki malah padang njingglang……mencorong mentarinya……..anget ngono

  2. nu2k  20 May, 2013 at 22:28

    Jeng, terburu-buru.. dan ini baru masuk rumah lagi… Hé hé kehujanan di tengah jalan… Musim semi menjelng zomer tetapi yang ada hanya dingin, kabut, hujan dan angin yang bertiup dengan kencangnya… Hampir sama dengan musim rontok di bulan oktober…Wis, wis…Doe doei, nu2k

  3. Lani  20 May, 2013 at 03:11

    MBAK NUK : jawabane super duper singkat………ngirit banget jiaaaaaaaan

  4. nu2k  20 May, 2013 at 00:39

    Jeng Lani, saya sudah baca dan jawab dengan singkat.. Hé hé hé. kali ini super singkat…Dag dag, Nu2k

  5. Lani  19 May, 2013 at 23:17

    MBAK NUK : mereka menetap di Kona………mbak aku japri tentunya sdh ditrima………saat ini mo segera pergi kegereja……..mengko dilanjut meneh yo……..selamat ngeteh……..dgn nyamik-an………dinikmati wae yo

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.