Nun, Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis (3)

Juwandi Ahmad

 

Artikel sebelumnya:

Nun, Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis (1)

Nun, Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis (2)

 

Layar proyektor kembali menampilkan slide powerpoint–presentation, dengan judul besar, Harta Karun Psikologis. Musik intrumental masih terus mengalun sayup, seperti ilustrasi musik sebuah film, yang tampanya, adegan dan dialognya tanpa nyawa. Dan wajah-wajah peserta tetap cerah, dalam jilbab dan gaun yang anggun, dalam penampilan yang tetap modis. Di wajah yang lain, ada kepoloson dan ketulusan, dengan rambut yang tersisir rapi dan kemeja yang distrika. Sungguh, masih suci dari pemikiran para aktivis yang begitu gemar bikin guncangan. Dan perkataanku, terus berlanjut:

“Seperti yang dapat kalian tangkap dari judulnya, Harta Karun Psikologis. Kawan-kawan, kalian semua memiliki hidup, kehidupan, dan diberkati pengalaman. Bila menembus jauh ke dalam, kalian akan dapati jiwa. Bila ke dalam lagi temukan diri. Dan pada akhirnya sampai intinya: pusaran roh. Disanalah bersemayamnya nalar dan batin, rasa dan pikir, akal dan hati. Itulah berkah alamiah yang hampir dimiliki setiap orang. Sebuah harta karun psikologis, kedirian, dan spiritualitas yang tumbuh dari pengalaman menjadi manusia. Dan seiring pergumulan hidup, semua itu akan terus bertumbuh, bermetamorfosis. Menjadi bentuk-bentuk yang lain, yang mengagumkan, mencengangkan, dan mengguncang. Menakjubkan, sekiranya kalian menemukan kesadaran bahwa kalian sungguh-sungguh menampung perbendaharaan semesta jagad raya.

senja

“Karena itulah, apa yang kita sebut menulis, pastilah menjadi candu. Dan tak seorang penulis pun dapat menuntaskan ide dan karya-karyanya. Karena itu pula, tak seorang penulis pun dapat mati dengan puas. Selalu saja tersisa banyak, sebelum dia sempat mengunyahnya. Mereka tidak akan dapat menghentikan pertumbuhan dari suatu ide. Bahkan tidak akan dapat menghentikan geliat tumbuh dari sebuah karya, yang dianggap tuntas dan tamat. Itulah dunia menulis. Dan itulah sifat dari tulisan. Sepuluh kali sebuah tulisan di baca, sepuluh kali pula menuntut tumbuh. Selalu ada celah yang dapat diisi. Ada bagian yang dapat diperpanjang. Satu sisi bertemu sisi yang lain. Dan antar bagian bergumul, bersilangan, terus menerus, tanpa henti.

“Begitulah, ketika segumpal jagad di kepala telah bekerja untuk kalian. Dan engkau tak akan pernah dapat menduga, apa yang akan dihasilkan oleh otakmu, pikiranmu, semesta jagad rayamu. Itulah harta karun yang harus dibongkar pada suatu waktu, dan mengisinya ulang di waktu yang lain. Dan menulis, adalah salah satu cara terbaik untuk membongkar dan mengisi ulang harta karunmu.

“Namun tentu saja, kalian tidak dapat mengambil sesuatu yang tidak ada. Seberapa pun keras cara kalian menuang poci, kalau di dalamnya tak ada air, tak akan ada yang keluar daripadanya. Karena itulah, kalian harus pastikan bahwa dalam poci itu ada air, yang kalian dapat menuangnya. Bagaimana caranya? Isilah pocimu. Apa yang ingin saya katakan adalah: kalian hanya perlu memasukkan sesuatu dalam kepala, dalam otak, dalam pikiran kalian. Apakah itu? Sesuatu untuk dipikirkan, direnungkan, diurai, dianalisa, difahami. Pendapat, gagasan, pengalaman, gambaran, atau apapun yang dapat dan menarik untuk kalian tulis. Dan selanjutnya, beri kesempatan kepada pikiran, kepada otak untuk memproses, mengolahnya, dan menunjukkan hasilnya pada kalian.

“Bukan. Bukan dengan keinginan dan berpikir keras untuk dapatkan pengetahun, ilmu, ilham, atau pencerahan, melainkan dengan kesadaran yang tenang dan kemudian memberi kesempatan dan kepercayaan kepada segumpal jagad, otak, atau pikiran untuk bekerja pada kalian. Bukankah engkau tak akan pernah dapat menduga apa yang akan dihasilkan oleh segumpal jagad di kepalamu? Berilah kesempatan dan kepercayaan kepadanya, dan katakan: layanailah aku. Bawakan untukku anggur-anggur pengetahuan yang tak pernah dipetik dan jatuh dari tangkainya Cari, temukan, dan tunjukkanlah, anggur-anggur pengetahuan yang tak lagi dapat kuingat. Pertemukanlah, dengan gugusan pengetahuan yang tak kusadari. Dan padukanlah, dengan semesta kecerdasan yang jauh tersembunyi di keghaiban.

“Nah, dengan demikian apakah kalian masih berpikir bahwa kalian tidak berbakat dalam menulis? Dan dengan begitu, apakah menjadi amat susah dipelajari? Sekiranya susah, bukankah itu sifat dari belajar? Dan bila terus belajar pastilah bisa. Menulis bukan seperti orang bisu yang dipaksa bicara. Orang tuli yang dipaksa mendengar. Menulis tidak lebih dari merubah pikiran menjadi lisan, dan lisan menjadi tulisan. Kalian hanya diminta untuk melangkah sedikit lebih jauh, dari lisan ke tulisan, dari bicara ke menulis. Dan bila kalian bisa membaca, pastilah bisa menyusun huruf, membentuk kata, dan menuliskannya. Sesederhana itulah tentang menulis. Bahwa ada persoalan ide dan bagaimana ide itu diungkapkan, itu tidak lebih dari apa yang dimasukkan dalam otak, seberapa kaya perbendaharaan kata, secakap apa susun kalimat, dan seberagam apa pengungkapannya. Dan semua itu bisa dipelajari, terbentuk dalam belajar, dalam latihan. Ada tanggapan?” Empat peserta mengajukan pertanyaan, dan tiga diantaranya sekedar beri tanggapan. Dan tanggapan paling menarik saat itu, dari Nadjib.

“Sekedar memberi tanggapan. Seperti yang Mas Nizam sampaikan bahwa bukan dengan keinginan dan berpikir keras kita dapatkan pengetahuan, tapi dengan kesadaran, ketenangan, dan memberi kesempatan serta kepercayaan pada otak untuk bekerja. Ini lebih dari yang saya harapkan. Sekarang saya menjadi tahu inti permasalahan yang saya hadapi. Dan karena itu, saya yakin saya bisa mengatasinya. Selama ini saya menulis hanya dengan keinginan dan kerja keras. Saya peras otak saya untuk menghasilkan tulisan yang bagus, saya pastikan idenya, dan saya tetapkan yang bagus itu seperti apa, seolah-olah saya tahu apa yang akan dihasilkan oleh otak dan pikiran saya. Bukankah itu sama artinya dengan merampas kemungkinan otak saya untuk menghasilkan sesuatu yang tak terpikirkan. Saya akan belajar membuat segumpal jagad di kepala ini bekerja untuk saya dengan caranya sendiri yang menyenangkan.”

“Tepat. Kau benar Nadjib. Begitulah semestinya. Mana yang lebih menentukan, apa yang kita pikirkan atau cara memikirkannya? Mana yang lebih menjanjikan, ide atau cara mengolah ide? Tentulah cara memikirkan dan mengolah ide itu yang penting, menjanjikan. Dan tak ada yang lebih hebat dalam cara memikirkan dan mengolah ide selain segumpal jagad di kepala ini. yang kita tak dapat menduga apa yang akan dihasilkannya. Dan bila ia bersenyawa dengan kepekaan dan ketajaman batinmu, kedirianmu, maka akan melahirkan badai pemikiran yang menerbangkanmu dalam kebahagiaan tanpa sebab, membawamu pada pusaran pengetahuan. Sayang bahwa kita, secara tanpa sadar, sering merampas kemungkinan segumpal jagad itu untuk menciptakan keajaiban, dengan membatasi, menetapkan, apa dan bagaimana ia harus bekerja. Dan bahwa kita terlalu sering mengabaikan tanda-tanda, yang membuat batin kita begitu kebal untuk dapat dengan cepat dan tepat menangkap pesan-pesannya.

“Kesimpulannya adalah bahwa pikiran dan hati, nalar dan batin adalah alat. Bahkan lebih dari sekedar alat. Dan siapapun yang menumpulkan pisaunya, tidak akan menghasilkan irisan bawang yang cantik. Bukan seberapa tajam pisaumu, melainkan apakah kau sudah benar-benar mengasahnya dan menggunakannya secara tepat dan benar.”

Meski menyiratkan kesenangan, tapi tampak juga di wajah Nasjib suatu penyesalan. Senang mengetahui bahwa ia menyadarinya. Dan apa yang ia kemukakan adalah tujuan paling puncak dari apa yang saya lakukan hari itu, tidak sekedar membut mereka tahu apa yang mereka tidak tahu, melainkan membangkitkan kesadaran tentang hal-hal terbaik di dalam diri mereka sendiri, yang karenanya, mereka dapat terbang bebas dengan sayapnya. Nadjib benar-benar memenuhi apa yang kuharapkan. Aku kembali melanjutkan:

“Dari apa yang kita bicarakan, teranglah sudah, bahwa kita memiliki alasan yang jelas mengapa kita perlu menulis, dan bahwa menulis sungguh bisa dipelajari. Lebih ke dalam lagi, kita juga mendapati harta karun di dalam diri yang menunggu untuk digali, dan bahwa menulis adalah salah satu cara terbaik untuk mengalinya. Pertanyaannya adalah darimana kalian akan mulai?

script

“Kawan-kawan, ketahuilah bahwa belajar menulis adalah belajar menemukan, mengetahui, membuat, dan menggunakan alat. Alat untuk apa? Alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan secara tertulis. Apakah itu? Kata dan kalimat. Karena belajar menulis adalah belajar menemukan, mengetahui, membuat, dan menggunakan alat, maka pertanyaannya adalah bagaimana cara menemukan, mengetahui, membuat, dan menggunakan alat berupa kata dan kalimat itu? Tidak lain kecuali dengan menulis. Dan kembalilah kita pada pertanyaan awal, darimana akan mulai menulis dan apa yang akan ditulis?

“Kita dapat bayangkan segala hal. Bahkan yang mustahil dialami. Dari berlari di atas api, sampai berjalan di atas awan. Dari sekedar tempat wisata sampai surga yang entah dimana. Apa yang dapat kita bayangkan, nyaris tak terbatas. Berbeda dengan apa yang dapat kita bayangkan adalah apa yang dapat kita ketahui, kita fahami. Kita tidak bisa faham segala hal. Bahkah yang mungkin bisa dicapai. Pada umumnya, kita hanya tahu sedikit tentang banyak hal. Kita tahu dan bisa bicara tentang penyakit, ekonomi, arsitektur, suku, kuliner, bola dan sebagainya, tapi hanya sedikit, tidak mendalam, tidak menguasai, tidak ahli. Mengapa? Sebab kita bukan dokter, ekonom, arsitek, antroplog, koki, dan pengamat bola. Bahwa hidup memberi ruang pengecualian, itu soal lain. Dan biasanya kita juga tahu banyak tentang sedikit hal. Kalian tahu banyak tentang seluk beluk politik dibanding saya, karena kalian mahasiswa ilmu politik. Tapi ilmu politik hanyalah sedikit dari sekian banyak ilmu yang ada. Saya tahu banyak tentang seluk beluk kejiwaan dibanding kalian, karena saya lulusan psikologi. Namun psikologi hanyalah sedikit dari sekian banyak ilmu yang ada. Dan bahwa hidup memberi ruang pengecualian, itu juga soal lain. Singkatnya, apa yang dapat kita ketahui, kita fahami, sangat terbatas.”

“Nah, di antara yang dapat kita bayangkan dan dapat kita ketahui, ada yang kita alami. Itulah yang paling dekat dengan kalian, yang paling mudah kalian temukan, yang paling gampang kalian ingat, dan yang paling cepat kalian mengerti. Itu sudah ada dan tersedia dalam diri, hidup, dan kehidupan kalian. Kalian tak perlu lagi mereka-reka, mencipta, mencari, dan bersusah payah memahaminya. Ia seperti poci yang kalian tinggal menuangkannya. Hari ini yang keluar kopi, besok mungkin teh, dan lusa barangkali susu. Abaikan tentang khasanah cita rasa, lupakan tentang kerumitan dan pernak-pernik penyajian, tuangkan saja pocinya. Titik.

“Karena sifat pengalaman yang demikian itu, maka ia dapat menjadi cara termudah untuk mulai menuangkan sesuatu dalam tulisan. Dari apa yang dialami dan menulis tentang apa yang dialami. Bila harus membayangkan, berimajinasi, barangkali perlu waktu. Dan itu dapat menghambat untuk segera menulis. Atau bila harus menulis apa yang kalian tahu, kalian fahami, barangkali harus berpikir lebih keras. Dan itu juga dapat menghambat untuk segera menulis. Sementara apa yang kalian alami, sudah pasti kalian ketahui, sudah tentu dapat dibayangkan. Itu sangat lengkap, nyata, dan jelas untuk ditulis.

“Sekali lagi bahwa belajar menulis adalah belajar menemukan, mengetahui, membuat, dan menggunakan alat. Alat untuk apa? Alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan secara tertulis. Apakah itu? Kata dan kalimat. Bagaimana cara menemukan, mengetahui, membuat, dan menggunakan alat berupa kata dan kalimat itu? Menulis, menulis, dan menulis. Namun, seperti yang dikeluhkan banyak orang bahwa menulis, tentang apapun, seringkali menjadi sesuatu yang amat susah. Benarkan begitu? Dan apa yang perlu dilakukan?

***

Layar proyektor menampilkan slide powerpoint-presentation, dengan judul besar, Seperti Belajar Naik Sepeda. Berisi uraian singkat, inti pembicaraan. Disaat yang sama, musik instrumental sayup-sayup terus mengalun, berganti dari satu musik ke musik yang lain. Dan dengan penuh gairah aku kembali menguraikannya:

einstein-sepeda

“Seperti yang dapat kalian tangkap dari judulnya, Seperti Belajar Naik Sepeda. Kawan-kawan, mulai hari ini, sadari dan insyaflah bahwa sungguh, tidak ada cara terbaik dalam menulis kecuali menulis itu sendiri. Seribu buku tentang cara naik sepeda yang kalian baca tidak akan pernah membuat kalian bisa menaikinya. Kecuali bila kalian segera mengambil sepeda itu, menaikinya, mengayuhnya. Susah. Dan kalian akan jatuh dan jatuh lagi. Orang gila pun tahu begitulah belajar naik sepeda. Demikianlah sifat dari belajar. Atau, ratusan penulis hebat dapat kalian dengar petuahnya berbulan-bulan. Tanpa keputusan menulis, tak akan pernah cakap dalam menulis. Menulislah kawan-kawan. Dan hanya begitu cara menulis. Dengan menulis akan ada hasil tulisan. Dan bila ada hasil tulisan, berarti kalian bisa menulis: apapun bentuknya. Catat baik-baik: persoalan terbesar belajar menulis adalah bila kalian ingin cakap dalam menulis tapi tidak menulis. Sampai disini komentar?

Seperti pada sesi sebelumnya, ada banyak peserta yang tunjuk jari. Dimulai dari barisan sebelah kanan, seorang perempuan dengan jilbab kemerahan mendapat giliran pertama untuk bertanya. Suaranya agak pelan, tapi sangat halus dan santun tutur katanya. Dan dengan senyum tipis, wajah yang segar alami, dan tatapan teduh matanya, sungguh sangat sejuk untuk dipandang. Apalagi gelang-gelang kecil di tangannya, itu kesenangan gadis-gadis kecil yang rindu bidari dalam dirinya. Sebelum bertanya, ia sebutkan nama.

“Namaku, Zahra. Zahra Annaila.

“Biasa dipanggil?”

“Ada yang panggil Zahra. Ada juga Naila.”

“Itu nama yang cantik. Zahra atau Naila, sama indahnya. Menyebut namamu saja, orang sudah merasakan keteduhannya. Bahwa demikian jugalah semesta wajahmu, adalah bingkisan indah dari langit, yang karenanya, nama Allah banyak disebut. Dan jantung hati Allah, lebih mudah tersentuh melebihi seorang gadis yang tidak mengetahui sesuatu pun selain bahasa cinta.” Zahra hanya menunduk. Dan para peserta tak ada satupun yang bersuara, termangu dalam pusaran kata dan nada-nada hening yang sayup mengalun.

“Ok. Silahkan Naila, pertanyaanmu.”

“Seperti kata Mas Nizam tadi, menulislah dan hanya begitu cara menulis. Masalahnya, untuk mulai menulis adalah perkara yang amat sulit. Bingung mau mulai darimana. Dan bila sedang menulis, gagasan di kepala sangat susah untuk mengalir. Pikiran terasa buntu, otak seakan beku. Hampir selalu tersumbat, tersendat-sendat. Akibatnya, terlalu sedikit yang saya tulis dan dengan hasil yang mengecewakan. Itu membuat saya lelah dan tak bergairah untuk menulis. Bagaimana ini? Apa yang harus saya lakukan? Atau, bagaimana agar menulis terasa menyenangkan, lebih mudah begitu?”

“Pertanyaan bagus Naila. Itu menjadi pertanyaan banyak orang. Ketahuilah Naila, bahwa memulai menulis atau memulai kata pertama, hampir selalu menjadi waktu yang agak menegangkan. Bahkan bagi penulis yang telah melahirkan berpuluh-puluh buku pun, saya kira masih mengalaminya. Mengapa bisa begitu? Sebab, kata atau kalimat pertama akan menjadi landasan pacu bagi kata, kalimat dan gagasan-gagasan berikutnya. Meskipun begitu, bagi penulis yang sudah cukup berpengalaman, itu hanyalah upaya menempatkan diri pada titik awal keberangkatan yang nyaman, yang dirasa cukup untuk menghubungkan dengan ide dasar yang akan ditulis. Mereka seperti penumpang kereta api yang sudah menentukan tujuan utamanya, membeli tiket, menaiki kereta, dan menentukan posisi duduk ternyaman. Dan selanjutnya, kereta api akan bergerak membawanya. Nah bagimu, itu seperti orang yang sedang duduk diantrian pembeli tiket, tapi masih belum begitu jelas akan pergi kemana. Naila dapat membayangkan, bagaimana pikiran dan perasaanmu bila berada dalam kodisi semacam itu: bingung, gelisah, tidak menentu, gamang.

“Karena itulah Naila, sebelum menulis tentukan ide dasar tentang apa yang akan kau tulis. Misalnya, akan menulis tentang kelapa. Jenis kelapa kan banyak. Tentukan kelapa jenis apa yang akan kau tulis. Katakanlah, kau ingin menulis tentang kelapa gading. Bagian dari kelapa gading kan banyak. Ada akar, batang, pelepah, buah, warna, dan sebagainya. Misalnya, kau ingin menulis tentang buahnya, maka yang perlu kau lakukan adalah: pikirkan, renungkan dan bayangkan sejelas mungkin dalam pikiranmu tentang buah kelapa itu. Kau bisa bayangkan dari air yang ada dalam buah kelapa itu, kemudian inti buahnya, batok kelapanya, sabutnya, kulit luarnya, warna, ukuran, dan bentuknya. Kau dapat membayangkannya ulang dengan cara yang sebaliknya, dari mulai bentuk, ukuran, wana, sampai air yang ada dalam buah kelapa itu. Pikirkan, renungkan, dan bayangkan sejelas mungkin dalam pikiranmu. Dengan begitu, kau seperti penumpang kereta api yang sudah menentukan tujuan utamanya: membeli tiket, menaiki kereta, menentukan posisi duduk ternyaman, dan tinggal berangkat saja.

“Bahwa kemudian apa yang kau tulis berkembang bukan hanya tentang buah kelapa tapi juga segala hal yang berkaitan dan dapat dikaitkan dengannya, itu soal lain. Itu tergantung kehendakmu, selain bahwa kau tidak dapat menduga apa yang akan dihasilkan olah otak dan pikiranmu. Dan tentulah, dengan membiasakan berpikir runtut, tertata, sistematis, dan terstruktur akan memudahkannya untuk diingat, terlebih dalam bentuk gambaran yang hidup. Kelak kau akan mudah mengambilnya dari memorimu. Bila memorimu tentang kelapa yang runtut, tertata, sistematis, dan terstruktur, itu terhubung dengan bentuk momorimu yang lain, maka otakmu, pikiranmu, akan dengan mudah dan cepat meresponnya: menciptakan gagasan-gagasan baru, yang tak terpikirkan sebelumnya.

“Bayangkan bagaimana bila apa yang ada dalam memorimu tersimpan secara acak, tak sistematis, tak beraturan, campur aduk, dan bahkan kau tak sengaja menaruhnya disana? Itu seperti menyimpan jarum dalam jerami. Susah dilihat, susah dicari. Bagaimana akan menuliskannya, sekedar mimikirkannya saja pusing. Dan jangankan memikirkannya, mengingatnya saja susah. Bila mengingat saja susah, bagaimana akan membayangkan. Dan bila susah dibayangkan, bagaimana akan ditulis.

“Setelah menentukan ide dasar tentang apa yang akan kau tulis,

yang telah kau pikirkan, kau renungkan, dan kau bayangkan sejelas mungkin dalam pikiranmu, maka itu akan sangat memudahkanmu untuk segera menuliskannya: dengan awal kata atau kalimat apa saja. Dengan begitu, kecil kemungkinannya kau merasakan pikiran buntu, otak beku, tersumbat, tersendat-sendat. Mengapa? Sebab pada intinya, kau sudah tahu dan faham benar apa yang akan kau tulis. Kau sudah memikirkan, merenungkan, dan membayangkannya dengan jelas dalam pikiranmu. Karena itulah, kata atau kalimat apapun yang mengawalinya, tak akan jadi masalah. Bila kau sibuk dengan kata atau kalimat pertama, itu sama artinya dengan merampas kesempatan bagi otakmu untuk bekerja. Namun, bila apa yang akan kau tulis telah sangat jelas dalam pikiranmu, kau tidak akan sibuk, dan tidak butuh waktu lama untuk menentukan kata atau kalimat pertama.

“Kata atau kalimat-kalimat pertama dalam tulisan saya hampir selalu terevisi, terkoreksi. Mengapa? Sekali lagi, itu sekedar langkah awal. Hanya pemicu untuk dapat segera berlari jauh. Karena sekedar langkah awal, sebatas pemicu, maka, kata dan kalimatnya bukanlah kata dan kalimat terbaik. Di akhir tulisan, saya mengoreksinya, mengubahnya. Saya memulai dengan kata atau kalimat apa saja yang dapat menghubungkan dengan ide dasar tulisan saya. Dan setelah itu, saya menuliskannya sesuai dengan apa yang telah saya pikirkan, saya renungkan, dan saya bayangkan secara jelas dalan pikiran saya. Ide dasar itu telah terpetakan, tertata, runtut, sistematis, terstruktur, dalam otak dan pikiran saya. Karena itulah, tidak terlalu sulit bagi saya untuk mengingat, membayangkan, dan menuangkannya dalam tulisan.

“Dan ketika menulis, saya hanya menempatkan diri seperti orang yang hendak berjalan 1000 mil di kegelapan malam dengan sebuah obor. Apakah obor itu dapat menerangi seluruh jalanan yang panjangnya 1000 mil dalam satu waktu? Tentu tidak. Saya hanya memutuskan untuk berjalan, dan obor yang saya bawa itu, akan sedikit demi sedikit menerangi jalanan hingga mencapai 1000 mil. Dan tentu saja, ada banyak hal yang saya temui di perjalanan, yang tidak saya ketahui dan tak terpikirkan sebelumnya. Artinya, apa yang saya tulis, tidak seluruhnya sudah ada dalam otak, dalam pikiran saya. Bahkan hanya sedikit sekali yang benar-benar sudah ada dalam otak saya. Saya hanya membuat ide dasar dan mempercayakan kepada otak dan pikiran saya untuk bekerja mengolahnya. Dan saya tidak dapat menduga apa yang akan dhasilkan oleh otak saya. Karena itulah, sebagian besar dan bahkan ide-ide terbaik dalam tulisan saya, justru muncul begitu saja dalam proses menulis. Dan itu tidak ada dalam pikiran saya sebelumnya.

“Itu konsep dasarnya, Naila. Dan selanjutnya, yang harus kau sadari adalah bahwa pertama-tama tugasmu bukanlah membuat tulisan yang bagus, indah, atau benar susunan kata dan kalimatnya, melainkan sebatas menulis. Bila kau sibuk dengan hal itu, maka waktu atau kesempatan untuk benar-benar menulis menjadi berkurang. Dan dengan begitu, berkurang pula kesempatan bagimu untuk semakin terlatih dalam menulis. Karena waktu yang seharusnya dapat kau gunakan untuk menulis justru habis untuk berpikir dan mencari-cari kata yang indah, bagus, atau benar susunannya. Saat kau tidak juga menemukannya, maka itu bukan saja membuatmu putus asa, tapi juga memutus atau menghambat aliran gagasan yang akan ditulis. Dan itu, akan semakin menghentikan kerja otakmu.

“Sekali lagi, belajar menulis adalah belajar menemukan, mengetahui, membuat, dan menggunakan alat. Alat untuk apa? Alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan secara tertulis. Apakah itu? Kata dan kalimat. Kalau kau sudah memiliki perbendaharaan kata yang kaya, mampu menyusun kalimat yang benar, dan memiliki banyak ragam pengungkapan, maka ide atau gagasan apapun akan mudah kau tuangkan dalam tulisan. Misalnya, ada banyak kata yang dapat digunakan untuk menyebut cinta. Dan ada banyak pula pengungkapan cinta tanpa harus menggunakan kata cinta. Nah, untuk sampai pada taraf itu, kau harus menulis dan menulis sebanyak mungkin. Disanalah kau akan belajar menemukan, mengetahui, membuat, dan memilih kata dan kalimat yang benar, tepat, dan punya cita rasa. Disanalah kau akan belajar merancang pengungkapan yang lebih beragam.

“Dan tentang beragam kata, kalimat, dan pengungkapan itu, dapat dan penting untuk kau pelajari dengan membaca buku. Mengapa? Buku mengajarkan banyak kata, kalimat, dan pengungkapan yang baik, unik, benar, cantik, dan barangkali juga memukau. Buku biasanya ditulis dengan konsentrasi tingkat tinggi, dan dengan kecerdasan puncak penulisnya. Karena itu, biasanya, kata, kalimat dan pengungkapan dalam sebuah buku, atau bentuk-bentuk yang lain, menggunakan kata, kalimat, dan pengungkapan terbaik.

“Dan akhirnya, Naila, tuliskan saja ide dasar tentang apa yang akan kau tulis, yang telah kau pikirkan, kau renungkan, dan kau bayangkan dengan jelas dalam pikiranmu. Seolah-olah kau sedang bicara. Tak usah pedulikan huruf yang salah, tak perlu memilih kata, tak penting seperti apa susunan kalimatnya. Hanya dengan begitu, energimu hanya akan tercurah pada penyampaian ide yang akan ditulis, otakmu terus bekerja, dan gagasan terus mengalir. Seperti orang bicara, layaknya kau curahkan perasaan. Itu akan menimbulkan kenyamanan dan kepercayaan diri. Dan karenanyalah, menulis akan menjadi lebih menyenangkan.

“Setelah yang ingin kau sampaikan atau kau curahkan tertulis semua, maka saatnya bagimu untuk membacanya ulang. Disinilah Naila, kau boleh mengoreksi huruf yang salah. Kau pilih kata yang tepat, yang benar, yang menarik. Atau menata ulang kalimatnya, memperbarui pengungkapannya. Begitulah, Naila. Bagaimana, sudah terjawab?”

“Alhamdulilah, terima kasih. Itu sangat jelas. Benar-benar menjelaskan apa yang saya alami. Meskipun masih akan terasa susah, saya akan coba praktekkan nasehat Mas Nizam. Saya sudah membayangkan, sepertinya akan lebih menyenangkan.” Sang jilbab kemerahan yang rindu bidari dalam dirinya itu, terlihat gembira. Tatapan teduh, senyum tipis, dan semesta wajahnya, terlalu mudah untuk diingat, terlampau mahal dilewatkan. Dan penannya berikutnya sudah menunggu. Seorang laki-laki yang telah kukenal sebelumnya: Fahry Hamzah. Dia yang datang ke rumah dan memintaku jadi pembicara.

“Seperti yang Mas Nizam bilang bahwa belajar menulis seperti seorang anak yang sedang belajar naik sepeda. Sejalan dengan itu, saya berusaha untuk terus menulis. Sayangnya tulisan saya hampir tak pernah tuntas. Dan itu pun dengan hasil yang jelek, tidak menarik. Bahkan saya malu membacanya. Saya buang dan menulis tema yang lain. Dan tak tuntas lagi. Saya merasa tak berbakat dalam menulis. Apalagi ketika membaca buku atau tulisan orang lain, saya heran, kok bisa sebagus itu, dan semakin kelihatan tidak bermutunya tulisan saya. Saya jadi tak semangat untuk menulis. Apa yang harus saya lakukan?”

“Fahry dan kawan-kawan semua, coba nanti dengarkan kembali rekaman pembicaraan kita, dari awal sampai akhir. Itu penting untuk mengkonstruk ulang apa yang telah kita pelajari, sekaligus mendeteksi secara menyeluruh masalah yang kalian hadapi. Mengapa? Bisa jadi masalah yang kalian temui dalam menulis bukan hanya disebabkan oleh satu dua hal. Kalian perlu mendeteksinya. Misalnya, idenya sudah menarik, tapi susah mengeluarkannya dari kepala. Apa masalahnya? Bisa jadi ide dasarnya masih kabur, samar-samar. belum runtut, tertata, sistematis, terstruktur. Atau mungkin juga, belum benar-benar dipikirkan, direnungkan, dibayangkan, dan digambarkan secara jelas dalam otak, dalam pkiran. Bila semua itu sudah dilakukan, terpenuhi, maka masalah lain bisa muncul. Apa? Tidak memiliki cukup kata, kalimat, dan pengungkapan yang tepat, benar, baik, beragam, dan kaya. Dengan begitu, meski ide dasarnya bagus, akan terasa jelek dalam tulisan.

“Kata, kalimat, dan pengungkapan itu, lebih dari sekedar penyampai atau pembungkus ide. Kalian bisa masak yang enak atau mengundang koki terbaik. Namun, bila makanan itu ditaruh dalam piring yang tampak kotor, disajikan di atas meja yang berantakan, dan diberikan kepada kita dengan wajah tak ramah, maka tak sedaplah kita menyantapnya. Dan yang pasti, masalah kalian semua adalah belum terbiasa. Apapun yang belum terbiasa akan terasa susah. Sadari, insyafi, maklumi, dan maafkanlah diri kalian bila belum dapat menghasilkan tulisan yang kalian anggap lumayan.

“Kembali pada pertanyaanmu, Fahry. Mulai hari ini, ada satu hal yang benar-benar harus kau sadari bahwa seburuk-buruknya tulisanmu, tetaplah hasil dari perasan otak, akal, dan hatimu. Membuangnya, itu sama dengan membuang otak, akal, dan hatimu sendiri di kotak sampah. Lihat, kau telah memeras otak dan meluangkan banyak waktu untuk menulis. Namun, tak ada sesuatu pun yang dapat kau hasilkan. Bukan. Bukan tidak menghasilkan Fahry: kau sendiri yang membuang hasilnya.

“Sekiranya tulisan itu tampak buruk olehmu, akan lebih baik kalau kau tetap menghargainya, merawatanya, menyimpannya. Itu mengajarkanmu untuk bersikap baik, menghargai, percaya, menerima, obyektif, adil, dan bijak dalam menilai diri sendiri. Bila tidak demikian, kau telah tenamkan keburukan dalam otakmu, dalam pikiranmu, dalam jiwamu. Lebih jauh, kau telah merusak sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu: otak, pikiran, jiwa, dan dirimu sendiri. Apa yang dapat kau perbuat tanpanya? Tidak ada, Fahry.

“Hargai, rawat, dan simpan semua tulisan yang tidak selesai, yang kau anggap buruk, yang kau anggap gagal. Barangkali, suatu saat kau dapat memperbaiki, mempercantiknya. Kau tidak dapat membayangkan geliat tumbuh dari sebuah tulisan. Bila tidak sekarang bisa jadi kelak. Membongkar memori bukan hal yang mudah. Selembar tulisan yang kau simpan, yang kau baca beberapa tahun kemudian, akan dengan cepat membongkar memorimu. Bukan hanya ide dalam tulisanmu itu, tapi juga perasaanmu saat menuliskannya, usiamu, peristiwa yang menyertainya, dan sebagainya. Siapa tahu menginspirasi. Dan itu adalah cara sederhana merangsang otak, nalar, batin, dan imajinasimu.

“Menjengkelkan memang, mendapati diri tidak dapat melakukan sesuatu yang kau sangat ingin melakukannya. Sadarilah, bahwa sesungguhnya bukan kau tidak dapat melakukannya, melainkan belum waktunya untuk benar-benar dapat melakukannya. Kau tak dapat memaksa matahari untuk muncul lebih awal dari biasanya. Bila hari kamis akan tiba empat hari lagi, mustahil dapat dipercepat, ditawar, dan dipaksa segera tiba, “Hai, hari Kamis, kau harus datang dua hari lagi. Aku tidak mau menunggu sampai empat hari. Bila kau tidak datang, akan kuhapus hari Kamis dari hidupku.”

“Dan janganlah memetik buah yang belum masak. Ada kesenjangan yang telalu lebar antara apa yang kau ingin dengan waktu yang dbutuhan. Itu dapat membuatmu kehilangan kesabaran, dan akhirnya berkesimpulan, “Saya tak berbakat dalam menulis.” Itu menyesatkan. Berbahaya. Mengapa? Karena yang sesungguhnya terjadi hanyalah, kau sedang berada dalam ketidaksabaran bahwasanya kau sedang belajar. Selain bahwa kau juga terjebak dalam penilaian diri yang buruk.

“Suatu hari ada seorang ibu yang berkata kepada anaknya yang sedang belajar naik sepada, “Kalau kau jatuh dan terjatuh lagi, apalagi sampai kakimu berdarah, itu tandanya, sedikit lagi kau akan bisa naik sepeda.” Sang anak begitu gembira. Semangatnya berkobar-kobar mendengar sabda dari ibunya. Ia pun belajar dan belajar naik sepeda. Jatuh dan jatuh lagi. Sampai suatu hari, ia jatuh, dan lututnya benar-benar berdarah. Ia berlari kencang pada ibunya, dan berkata dengan gembira,“Lihat bu, lututku sudah berdarah. Sebentar lagi aku bisa naik sepada. Bisa naik sepada!” Sang ibu dengan semangat dan penuh cinta memeluknya. Senang, anaknya telah sanggup merubah konsepsi buruk tentang belajar, jatuh, sakit, dan darah. Dengan begitu Fahry, ambil sepedamu, naiki, kayuh, dan teruslah begitu. Jangan takut jatuh, sakit, dan darah.

“Adapun para penulis yang kau memujinya, mengapa tidak kau katakan saja pada dirimu, aku bisa melakukannya? Mengapa justru merasa bahwa tulisanmu nyata buruknya? Sepenting apakah perasaan itu bagimu sehingga kau lebih tertarik memilihnya? Apakah dengan merasa begitu kau lebih bersemangat untuk menulis? Tidak kan? Apa yang terjadi? Kau merasa dirimu tak berbakat, dan tak semangat lagi untuk menulis. Kau memang perlu belajar dari orang lain Fahry, dengan membaca tulisannya, atau bertanya tentang caranya: tidak untuk rendahkan diri, tidak untuk seperti dia. Kau belajar pada orang lain untuk membentuk diri yang berbeda. Bukan hanya berbeda dengan orang lain, tapi juga berbeda dengan anggapan-anggapan burukmu, berbeda dengan dirimu yang tersebar sepanjang hari-hari yang telah lewat. Suatu elemen yang baik pada diri orang lain, belum tentu baik, nyaman, dan sejalan dengan elemen dalam dirimu. Kau tidak dapat mencontoh suatu kebaikan dengan apa adanya.

“Meskipun kau tidak dapat sepenuhnya bebas dari yang namanya pengaruh, kau tetap harus miliki cara sendiri, yang dapat kau ambil, kau pelajari, dan kau hayati dari hidup dan kehidupanmu sendiri. Itulah garis hidup setiap setiap orang yang membuatnya berbeda dari yang lain. Selain bahwa kau juga perlu untuk belajar dari kehidupan banyak orang. Hidup, kehidupan, dan orang-orangnya adalah guru yang diam, yang kau mesti jeli untuk dapat menangkap apa yang mereka ajarkan.

“Dan akhirnya, ketika sedang menulis, singkirkan semua bacaan dan bayanganmu tentang para penulis besar yang kau puji, kau kagumi. Hadirlah sebagai diri yang utuh, penuh, dan menyeluruh. Nikmati kepolosanmu. Hargai kekeliruan, kekurangan, kesalahan, dan ketidakmutuan yang kau dapati dalam tulisan. Dan teruslah menulis. Sebab hanya dengan begitu, kekeliruan, kesalahan, dan ketidakmutuan tulisanmu akan berkurang. Semakin baik dan semakin baik, sampai kau temukan kepercayaan untuk menunjukkannya kepada orang. Bahwa ada yang mencela atau mengkritik, itu biasa. Kau bukan pengendali, bukan penentu, atas apa yang harus dipikirkan dan dikatakan orang lain tentang dirimu.”

Fahry mendengarkanku dengan seksama. Ia berterima kasih dan mengiyakan penjelasanku. Pertanyaan terus berlanjut, dari satu penanya ke penanya lain. Cukup menguras energi, tapi sungguh menyenangkan. Sampai kemudian, suara adzan dhuhur terdengar dari masjid-masjid terdekat yang beratus jumlahnya, berpadu, bersahutan dengan masjid-masjid terjauh yang entah berapa ribu banyaknya. Saatnya istirahat. Para peserta mengerubungiku. Bertanya dan berbincang singkat tentang sejumlah hal. Ada gurauan dan kelucuan yang mereka tak sanggup menawan tawa. Senang telah membuat mereka merasa senang.¡

 

CATATAN:

Tulisan ini sekedar ungkapan pengalaman pribadi saya, yang kebetulan pernah diundang dalam suatu acara untuk berbicara tentang menulis. Sangat jauh dari maksud untuk mengajari. Apalagi di Baltyra yang saya tahu dan sadar benar kecanggihannya. Oleh karena itu, barangkali akan tepat bila tulisan ini dipandang sebagai penyemangat. Dan itu pun ditujukan untuk silent reader atau siapa saja yang belum memiliki kepercayaan diri untuk menulis dan mempublikasikan tulisannya.

Naskah asli, “Nun, Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis,” ini saya tulis pada 25 Februari 2004 dalam bentuk artikel. Beberapa hari kemudian, saya publikasikan dalam buletin pribadi saya, “Ekstase Embun” yang terbit setiap Senin di Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Selanjutnya, pada 17 Maret 2011, saya sampaikan pada acara “Sekolah Menulis” di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dan terakhir, saya olah dan kembangkan lagi, sehingga menjadi seperti sekarang ini untuk website kita tercinta: www.baltyra.com.

Dan kepada Chen Gui Fu, terima kasih sekali telah membantu saya mengalihmaknakan basmalah dalam bahasa China. Selain keramahan intelektual, bersahabat, dan lembut hati, khasanah huruf dan bahasamu juga menyeramkan. Senang dapat belajar dan secara diam-diam mencuri pengetahuan darimu.

 

27 Comments to "Nun, Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis (3)"

  1. Dewi Aichi  11 May, 2013 at 00:00

    Wakakakakaka….Jossss tenan jawaban mas Juwandi…

  2. juwandi ahmad  10 May, 2013 at 23:38

    ha ha ha ha ha………la ngopo ngeling-eling peserta pria wakakakak..

  3. Dewi Aichi  10 May, 2013 at 23:26

    Wah..kalau jawabnya…”ada dong” kesannya tuh pasti peserta wanita ha ha…hayo ngaku..

  4. juwandi ahmad  10 May, 2013 at 23:17

    he he he..ada dong

  5. Dewi Aichi  10 May, 2013 at 23:16

    Mas Juwandi ada komunikasi dengan peserta yang hadir di sini setelah mas Juwandi menjadi pembicara?

  6. juwandi ahmad  10 May, 2013 at 22:16

    Yu MBerok: Wakakakakakakakak….

  7. Nur Mberok  10 May, 2013 at 07:41

    APA ?????????????? Saya yang muda harus belajar pada tetua baltyrans ???

    Sopo to sing tuo sapa sing enom ????? wkwkwk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *