Daun Waru Mbah Lastipah

Gunawan Budi Susanto

 

QIRAAH dari masjid memecah kesunyian. Mbah Lastipah bangkit dari dipan, mendekati meja, mengangkat kendi, dan minum seteguk-dua.

Lalu, perlahan-lahan mengambil peralatan mandi dari pojok rumah gedeknya, membuka pintu, keluar ke pekarangan. Perempuan tua itu melangkah terbungkuk-bungkuk, tanpa kasut menapaki jalanan kampung. Dia menembus kabut dini hari, menuju sendang di tepian kali.

Jarak dua ratus meter dari rumah ke sendang terasa jauh bagi perempuan delapan puluhan tahun itu. Sebentar dia berhenti, menggerendeng entah apa, lalu kembali melangkah. Pelan, pelan seperti siput.

Di sendang, dia mencopot pakaian dan mandi seraya berdiri. Kaku persendian membuat dia tak bisa jongkok lagi. Usai bebersih diri, dia menapaki jalanan licin, kembali ke rumah. Ketika azan masih menggema, dia duduk berselonjor kaki di dipan: salat subuh.

Usai berdoa tanpa suara, dia melipat mukena. Tanpa gegas dia keluar, mengambil sapu lidi dari samping rumah. Beberapa langkah dia berhenti, menepuk-nepuk sebatang pohon waru di pekarangan rumah. Di sebelah kakinya bertumpuk daun waru kering setinggi pinggang.

Dia meniti wot di atas selokan. Di jalan, seraya menyalangkan mata dia menyapu perlahan-lahan. Dalam kesamaran pagi buta, tubuh renta itu seperti timbul-tenggelam. Dia suntuk dalam pekerjaan, menyapu jalanan.

Dia punguti daun-daun waru dari pekarangan rumah tetangga, dari jalanan, dan dia tumpuk di bawah pohon. Dari hari ke hari gundukan daun makin tinggi. Dia tak pernah membakar dedaunan itu. Dia biarkan dedaunan itu jadi rabuk, jadi pupuk.

Mbah Lastipah menunaikan pekerjaan itu tanpa bayaran. Setiap pagi, setiap hari, bertahun-tahun. Entah sejak kapan.

Malam-malam, ketika kantuk menyerang, acap dia menangis sendirian. Dia sesali tubuh renta yang tak kuat lagi bekerja seharian, sehingga selalu ada daun waru tersisa, terserak di jalanan, di pekarangan rumah tetangga.

 

***

“Siapa Mbah Lastipah?” tanya saya, seusai mendengar kisah dari Pak Pi, karib saya di kampung.

“Dia tinggal di seberang jalan dari rumah saya,” jawab Pak Pi dengan wajah keheranan.

“Oh, dia….?” Ya, ya, saya kenal sosok perempuan tua itu. Namun, tak pernah tahu namanya. “Hampir tiga tahun kau tinggal di kampung ini. Dan tak mengenal tetangga yang berumah sepelemparan batu dari rumahmu?” sergah Kluprut, jauh di relung hati. “Tak bermalu!”

Saya tercenung.

Ya, kecuali pendengaran yang melemah dan tubuh yang merenta, Mbah Lastipah sepenuhnya sehat. Nalar, rasa, dan karsa perempuan sebatang kara itu hidup sesungguh benar hidup. Dan, terus menguarkan kearifan.

Kearifan yang bertolak belakang dengan, misalnya, akrobat para kader berbagai partai politik yang melakukan vandalisme kontrakehidupan berskala masif: memaku pohon untuk memajang segala poster dan spanduk. Dan, hoopla, ruang publik pun disesaki sampah visual!

Daun-daun waru yang ditumpuk di bawah pohon oleh Mbah Lastipah adalah sampah organik. Proses alami mengubah sampah itu jadi humus, penyubur tanah.

Sampah visual yang ditebar para calon anggota parlemen adalah sampah anorganik; nyaris kalis dari proses penguraian di tanah. Kelak, usai “pesta demokrasi”, sampah itu berubah menjadi racun dan mengurangi tingkat kesuburan tanah.

Laku Mbah Lastipah, setiap hari, bertahun-tahun, memang cuma memberikan kontribusi kecil bagi kelestarian lingkungan. Tidak sebesar, misalnya, kontribusi Sariban, yang setiap hari, bertahun-tahun, secara sukarela mencabuti paku dari batang pepohonan di Kota Bandung. Juga tak sedahsyat tekad dan tindakan Badri, yang setiap hari, bertahun-tahun, menanam pohon di mana pun, di sebuah kawasan di Jawa Barat. Namun, sekecil apa pun tindakan Mbah Lastipah, bukankah itulah laku prokehidupan?

daun-waru

Sebaliknya, lihatlah ulah para calon anggota parlemen yang terhormat menjelang pemilihan umum ini. Memang tak sampai berbilang tahun, namun sungguh tindakan mereka telah memberikan kontribusi lebih besar bagi perusakan alam, perusakan lingkungan. Vandalisme kontrakehidupan!

Mbah Lastipah berbuat tanpa mengharap pujian, tanpa mengharap bayaran. Dia bertindak tanpa kata, tanpa koar.

Dia memang buta huruf, tetapi tak buta kesadaran: terus berbuat sesuatu, menjaga keseimbangan alam, keberlangsungan kehidupan. Setiap pagi, setiap hari, bertahun-tahun. Entah sampai kapan.

Seraya tersenyum kecut, menekan malu, saya menarik simpulan: Mbah Lastipah, perempuan renta itu, sesungguh benar jauh lebih terhormat daripada siapa pun calon anggota parlemen. Dialah pengibar panji-panji prokehidupan. Bukan saya. Bukan sampean. ()

 

9 Comments to "Daun Waru Mbah Lastipah"

  1. Dewi Aichi  14 May, 2013 at 06:18

    Sungguh mbah Lastipah adalah sosok teladan kalau begitu ya Kang Putu, tapi urik..saya komentar di wallnya mas Juwandi, kok njawab nya di sini he he…

    Kang Putu, terima kasih, ini renungan, sekecil apapun kontribusi untuk bangsa ini, seperti yang dilakukan mbah Lastipah, adalah sangat terhormat…

  2. gunawan budi susanto  14 May, 2013 at 01:48

    terima kasih atas tanggapan simpatik kawan-kawan. dan dewi, tulisan ini bukan fiksi — sebagaimana sampean sebut dalam komentar di dinding bung juwandi ahmad. saya menulis berdasar pengamatan terhadap sepenggal hari dalam kehidupan mbah lastipah, tetangga saya di kampung. namun, kini, hampir setahun sudah mbah lastipah meninggal dunia. saya yakin: dia berbahagia dalam rengkuhan Sang Mahacinta. sala, salam!

  3. gunawan budi susanto  14 May, 2013 at 01:45

    terima kasih atas respons simpatik kawan-kawan. dan untuk dewi, tulisan tentang mbah lastipah ini bukan fiksi — sebagaimana sampean sebut dalam komentar di dinding bung juwandi ahmad. saya menulis ini berdasar pengamatan pada sepenggal hari kehidupan mbah lastipah di kampung saya. dan, belum lagi setahun mbah lastipah meninggal dunia. salam, salam!

  4. Dewi Aichi  9 May, 2013 at 23:10

    Waduh Kang Putu ini, tulisannya mencabik cabik hatiku….duh mbah Lastipah…rasa hormat setinggi tingginya untuk mbah Lastipah…terima kasih, tulisan yang bisa dijadikan renungan, menyejukkan.

  5. Alvina VB  9 May, 2013 at 22:07

    Tulisan yg menarik….semoga masih banyak spt si mbah Lastipah ini…..

  6. juwandi ahmad  9 May, 2013 at 21:36

    Seraya tersenyum kecut, menekan malu, saya menarik simpulan: Mbah Lastipah, perempuan renta itu, sesungguh benar jauh lebih terhormat daripada siapa pun calon anggota parlemen. Dialah pengibar panji-panji prokehidupan.

    yapp..! tulisan yang Inspiratif.

  7. J C  9 May, 2013 at 21:01

    Setiap artikel Kang Putu selalu dalam bermakna, terutama kritikan terhadap para durjana penyelenggara negara…mantap selalu, Kang Putu…

  8. Dj. 813  9 May, 2013 at 14:05

    Kang Putu…
    Terimakasih untuk ceritanya yang mengharukan.
    Ditunggu cerita yang demikian, agar terbuka mata hati para
    cendikiawan di bumi ini.
    Tidak hanya memikirka isi perutnya sendiri, tapi juga melihat
    orang lain yang kekurangan.
    Salam,

  9. James  9 May, 2013 at 11:51

    SATOE, Daun Waru

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.