Dunia Tanpa Wanita, Suami Tanpa Istri

Dewi Aichi – Brazil

 

Dalam rangka menyambut Hari Ibu internasional, hari Minggu kedua di bulan Mei mendatang…

Apa yang akan terjadi bila dunia tanpa wanita, suami-suami tanpa istri? Apa yang akan terjadi bila para suami ditinggal pergi oleh istri-istri mereka, dan harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga seorang diri? Itulah yang ingin saya sampaikan melalui program reality show: “Mundo Sem Mulheres,” atau dunia tanpa wanita. Acara itu ditayangkan salah satu televisi di Brazil pada hari minggu, pukul 22.00.

Melalui acara itu, diam-diam saya juga tergoda untuk memberikan pelajaran pada suami saya tanpa harus merubah mulut menjadi petasan banting (istilah mas Juwandi saat mengomel atau banyak omong). Saya ingin dia temani saya menonton acara itu. Tidak lama, hanya 30 menit. Dan sebenarnya, suami saya nggak suka acara itu. Tapi saya memaksanya. Benar-benar memaksanya. Dengan sedikit rayuan dan sentuhan palsu, ia menyerah dan duduk manis di samping saya: menyaksikan penderitaan suami-suami tanpa istri.

Mundo Sem Mulheres01

Sebelas pria dalam foto di atas adalah para suami yang berasal dari berbagai kota dan latar belakang pekerjaan: guru, pengusaha, jurnalis, pedagang, dokter, pengacara dan sebagainya. Mereka telah menerima tantangan untuk menggantikan posisi istri mereka. Atau mengambil peran sebagai ibu rumah tangga. Itu artinya, mereka harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga yang biasanya dikerjakan oleh istri-istri mereka, seperti nyapu, ngepel, belanja, masak, memandikan anak, dan sebagainya. Tidak lama, hanya satu minggu.

Adapun istri mereka, akan bebas menikmati liburan, bersantai, berfoya-foya, tertawa, bergembira, bersenang-senang. Mereka mendapat perawatan kecantikan, spa, jalan-jalan, nonton, belanja, dan wisata kuliner. Setiap malam, dari hotel tempat mereka menginap, mereka akan berkumpul untuk menyaksikan video yang merekam segala kesibukan suami mereka dalam mengurus rumah tangga. Dan satu per satu, akan diperlihatkan bagaimana suami mereka mengurus rumah dan anak-anak seorang diri. Tanpa istri, tanpa pembantu.

Mundo Sem Mulheres02

Kita lihat seberapa hebat para suami-suami tanpa istri. Kita tonton seberapa tangguh para pria ketika dipaksa hidup dalam dunia tanpa wanita. Apakah mereka masih akan berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan sepele? Apakah mereka berniat untuk menghargai, mengapresiasi, dan mengucapkan terima kasih atas apa yang telah dilakukan istri mereka? Apakah mereka berpikir untuk membantu meringankan tugas isterinya?

Di hari pertama, Gomes yang berprofesi sebagai dokter bangun lebih pagi. Tentu saja itu tak mudah. Dan hari yang tak biasa pun dimulai. Pertama-tama, ia mandikan anaknya, lalu menyiapkan pakaian sekolah, menyiapkan sarapan, kemudian mengantarkannya ke sekolah. Begitu pulang ke rumah, langsung membereskan tempat tidur, lantai, perabot, tumpukan baju, meja makan, dan juga dapur yang berantakan. Itu baru separuh. Dan Gomes sudah berkali kali menarik napas dan memegangi pinggangnya. Pegal! Ia masih harus memasak, menyiapkan makan siang, menjemput anaknya, dan setumpuk pekerjaan yang sudah bikin pusing sebelum ia mengerjakannya. Dan besok, ada tumpukan baju yang harus dicuci, sembako yang mesti dibeli. Pening!

Lebih konyol nasib Azevedo yang berprofesi sebagai pengusaha. Hanya menyetrika baju saja,  tempat setrikanya sudah meluncur bebas jatuh ke lantai. Dua anaknya yang berusia 4 dan 6 tahun juga lumayan mbeling. Kamarnya berantakan. Mainan berserakan di mana-mana. Ada saja yang membuatnya kesal, marah, dan stres. Apalagi ketika anak-anaknya nggak mau makan. Katanya nggak enak. Azevedo, si koki dadakan itu benar-benar ingin luapkan kemarahan. Apa boleh buat, wong masakannya memang nggak enak. Dan itu, adalah hari pertama, di mana meja makan menjadi mimpi buruk bagi anak-anaknya. Suami tanpa istri, sama kacaunya dengan anak tanpa ibunya.

Hebert Silva yang berprofesi sebagai guru terlihat sedikit lebih tenang dan sabar dibanding Gomes dan Azevedo. Hebert punya anak berusia 5 tahun dan ikut les ballet. Urusan perballetan ini juga tak kalah rumit. Dua kali sudah baju ballet ia kenakan pada putrinya, tapi masih nggak bener juga. Diputar-putar, dilepas, ditarik-tarik, masih salah. Itu baru bajunya. Belum tata rambutnya. Saat menyisir dan mengikat rambut, si anak berkali-kali protes pada ayahnya. Katanya sakit.

Bagaimana nggak protes, gimana nggak sakit, kalau sisir rambut yang tajem ditekan terlalu keras dan menggaruk kulit kepala. Memangnya menyisir rambut boleh asal-asalan. Itu perlu pakai hati, rasa, dan perkiraan yang penuh cinta. Juga ketika membuat gulungan rambut dengan jepitan yang buanyak, ditambah jaring pengaman yang melingkupinya. Sangat ribet, susah, dan kaku. Dan Hebert, harus rela dicereweti oleh putrinya yang terlihat sangat terdidik. Agar bisa melihat ekspresi mereka, lihat adegan-adegan dalam video ini.

Fernandes yang berprofesi sebagai jurnalis juga tak kalah pening. Ia punya anak yang belum lagi genap 3 tahun. Dengan begitu, ia harus membuat susu, mengganti pampers, mencuci baju, memandikan, dan menyuapinya. Bagi Fernandes, itu amat sangat susah, njlimet, melelahkan, dan bikin stres. Begitu anaknya tidur, ia mulai bersih-bersih, ngepel, mencuci, dan sebagainya. Lebih memilukan, ia harus belanja sambil menggendong bayi. Kalau belanja dengan istri, lumrah sajalah, tapi kalau sendirian, itu cukup memilukan. Butuh keberanian, cinta, dan kasih sayang yang tak sedikit.

Itulah sedikit gambaran tentang derita para suami tanpa istri. Dan dari sebuah hotel, para istri menyaksikan tayangan video yang merekam kesibukan suami mereka dalam mengurus rumah tangga. Menarik, bahwa sebagian besar dari mereka justru menangis, terharu, dan sekaligus tak tega melihat suami mereka begitu kewalahan mengurus pekerjaan rumah seorang diri. Bayangkan, betapa mulia dan penuh cinta istri-isteri mereka. Jauh di dalam hati mereka, juga tak ingin melihat suaminya bergumul dengan pekerjaan rumah tangga seorang diri.

Dari rumah masing-masing, para suami mengirimkan pesan lewat video untuk istrinya. Isinya, tentang keluhan dan kesulitan yang mereka hadapi. Menarik dan cukup mengejutkan bahwa banyak di antara para suami mengutarakan kesulitannya mengurus rumah tangga dengan suara terputus-putus dan dengan isak tangis yang begitu polos. He he, agaknya, merasa baru sadar betapa buanyak, njelimet, dan melelahkannya pekerjaan seorang istri. Mereka juga mengungkapkan rasa rindu yang sangat mendalam pada istrinya. Halahh, paling hanya karena tak kuat lagi memikul beban: ngepel, masak, cuci piring, mandikan anak, belanja, ini dan itu. Sadar! Sadar, kalau pekerjaan rumah tangga nggak ada habisnya. Kalian pikir gampang jadi ibu rumah tangga. Haduh, baru seminggu jadi ibu rumah tangga sudah mewek-mewek, nangis!

Itu adalah acara televisi yang sangat bagus untuk menyadarkan para suami, bahwa pekerjaan ibu rumah tangga sangatlah banyak. Seperti daftar panjang. Tak pernah habis, tak pernah selesai. Dan semua itu dikerjakan seorang diri. Dari sekedar menyiapkan sarapan, sampai pada persoalan mendidik anak. Oleh kerena itu, sangatlah kejam bila seorang suami tidak mengakui, tidak mengapresiasi, dan mengucapkan terima kasih atas apa yang telah dilakukan oleh istrinya.

Seberat-beratnya pekerjaan resmi suami di luar rumah, tentu ada jadwalnya. Ada jam kerja, ada jam istirahat. Dan ketika pulang ke rumah, mereka berpikir tuntas sudah tanggungjawabnya. Tapi lihat pekerjaan rumah tangga seorang istri. Benar-benar tak kenal jam. Selalu ada yang harus dikerjakan. Selalu ada yang perlu dibereskan.

Dimulai dari pagi hari. Keperluan sekolah anak-anak harus disiapkan. Belum lagi harus memasak, menyiapkan sarapan. Begitu anak pergi sekolah, dan suami berangkat kerja, langsung membereskan meja makan dan merapikannya. Piring, gelas, sendok, dan perkakas kotor diangkut ke dapur. Bertumpuk-tumpuk. Dan semua itu, butuh waktu, butuh tenaga untuk mencucinya. Urusan cuci-mencuci beres, beralih ke kamar tidur. Selimut mesti dilipat, bantal-bantal harus ditata, baju-baju kotor dikumpulkan. Bergerak lagi ke tempat lain untuk mencuci baju, menjemur pakaian. Setelah itu, masih harus berpikir akan masak apa hari ini. Kalau bahannya belum ada, masih harus pergi belanja. Begitu anak-anak pulang sekolah, makan siang sudah harus tersedia. Selesai makan siang, beres-beres lagi, ke dapur lagi, cuci perabot lagi. Ketika suami pulang kerja, jadi pelayan lagi. Masih ada lantai yang harus di pel, toilet yang harus dibersihkan, mainan anak yang perlu dirapikan, dan banyak lagi.

Dan selama 15 tahun berumah tangga, saya belum pernah mempunyai pembantu. Semua pekerjaan rumah saya kerjakan sendiri. Ketika menonton acara itu, saya bilang pada suami, “Lihat tuh betapa banyak item pekerjaan yang diambil alih para suami. Tak semuanya teridentifikasi. Tak terhitung. Namun kelelahannya demikian nyata! Itu baru seminggu. Dan aku melakukannya 15 tahun! Pernah melihatku menangis karena kelelahan mengurus rumah? Tidak pernah kan? Seorang istri itu akan sedih bila suaminya tidak menghargai atas apa yang telah dikerjakannya. Hanya pengakuan, hanya ingin dihargai. Tidak lebih. Dan para suami seringkali gagal melakukannya?” Suami saya hanya diam.

Tidak gampang menemukan seorang suami yang benar-benar dapat mengakui, menghargai, dan berterima kasih atas apa yang dikerjakan oleh istrinya. Apalagi menemukan suami yang dengan senang hati meringankan tugas istrinya, hah susah. Malah ada lo suami yang sama sekali tidak mau membantu, meski tahu istrinya sibuk, capek, dan pekerjaan masih menumpuk. Kalau melihat kerjaan sang istri kurang beres, ngomel, ngeluh. Dan kalau dimintai tolong jawabannya justru nyakitin, “Itu kan urusanmu!” Haduh, makan hati.

Dalam mengurus rumah tangga, sebenarnya bukan persoalan pembagian tugas. Bukan pula masalah siapa bertanggungjawab tentang apa. Ini hanya masalah tugas pokok, dimana yang satu tetap perlu dan harus membantu tugas yang lain. Atau sekurang-kurangnya mengakui, menghargai, dan mengucapakan terima kasih atas apa yang telah dikerjakan.

Kalau istri sedang sibuk, mbok ya bikin kopi sendiri. Kalau sedang tak sibuk, mbok ya ngepel kan bagus. Kalau sekali waktu ada pekerjaan yang kurang beres, mbok ya dimaklumi. Kalau rumah terlihat bersih, kamar begitu rapi, anak-anak tumbuh sehat, dan makanan siap tersaji, mbok ya ucapkan terima kasih. Jangan pernah berpikir bahwa itu sudah tugasnya. Setiap orang pantas dan perlu mendapat ucapan terima kasih, bahkan untuk pekerjaan yang sudah menjadi tanggungjawabnya. Kalau susah mengucapkan terima kasih kepada istri, lewat tindakan kan bisa. Misalnya, bersikap lebih ramah dari hari biasanya. Kasih senyuman, sentuhan, atausekali-kali dibelikan apa kek. Begitu kan bagus, apa susahnya.

Hasil dari pekerjaan rumah tangga tidaklah begitu tampak. Seolah-olah tidak berdampak dan membawa perubahan apapun dalam keluarga. Karena itu, banyak orang begitu mudah mengabaikannya, meremehkannya. Mereka mengangap bahwa apa yang dikerjakan ibu rumah tangga sebagai pekerjaan sepele, tidak penting, tidak signifikan, tidak membanggakan.

Padahal justru sebalinya. Menjadi ibu rumah tangga hampir menentukan segalanya. Siapa yang detik demi detik mengupayakan agar anak-anak dapat tumbuh dengan sehat? Siapa yang setiap saat mengurus anak-anak agar dapat tumbuh dengan cinta? Siapa yang setiap waktu menjaga anak-anak agar tumbuh dengan aman? Rumah yang tertata, kamar yang rapi, toilet yang nyaman, baju-baju yang bersih, makanan yang selalu siap tersaji, dan banyak lagi: apakah tidak berdampak luar biasa besar bagi anak-anak dan suami?

Suami hanya tinggal pakai baju, sarapan, dan berangkat kerja. Begitu juga dengan anak-anak. Semua itu memerlukan kekuatan, ketabahan, keuletan, kesabaran, cinta, dan kesetiaan luar biasa dari seorang ibu rumah tangga. Dan tanpa semua itu, apa yang kita sebut sebagai keluarga benar-benar bisa berantakan.

Menyadari, mengalami, dan merasakan semua itu, mengingatkan saya tentang sosok ibu, yang sepanjang hidupnya total menjadi ibu rumah tangga. Itulah ibu saya, yang menunjukkan kekuatan, ketabahan, keuletan, kesabaran, cinta, dan kesetiaannya dalam mengurus rumah tangga, keperluan anak-anak dan suaminya. Saya sangat mengaguminya. Menjadikannya teladan, tentang bagaimana menjadi ibu bagi anak-anak, dan istri bagi suaminya.

Sudah sepantasnya bagi ibu rumah tangga untuk percaya diri, bangga, dan senang dengan pekerjaan mereka. Menjadi ibu rumah tangga tidak kalah terhormat dan mulia dengan wanita karir. Mereka tidak kalah hebat dengan para wanita yang duduk di meja rapat dengan kaum pria. Mereka memikul tanggung jawab besar dan mengambil peran mulia, yang setiap anak, suami, dan masyarakat yang sehat akalnya akan mengakui, menghargai, dan benar-benar berterima kasih kepadanya. Dan bila anak, suami, dan masyarakat benar-benar bersikap demikian, maka itulah kebahagiaanya. Dengan begitu, bila bertemu dengan wanita dari profesi apapun, mereka akan percaya diri.

Kepada ibu rumah tangga yang masih mempertahankan pola pikir kuno bahwa menjadi ibu rumah tangga tidak penting, tidak membanggakan, mari mulai hari ini kita mendongak dan mengatakan dengan mantap bahwa saya adalah ibu rumah tangga. Saya bangga dengan peran saya. Menjadikan rumah senyaman mungkin. Memastikan anak-anak tumbuh dewasa. Dan menghebatkan suami agar saya semakin bangga kepadanya. Siapakah yang akan menyangkal bahwa menjadi ibu rumah tangga menentukan segalanya?

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

44 Comments to "Dunia Tanpa Wanita, Suami Tanpa Istri"

  1. Silvia  19 May, 2013 at 13:17

    Suami itu plg bingung kalau disuruh dandanin rambut panjang anak kami yg sulung

    Saya angkat jempol dan menjura utk single parents.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *