Maret

Fidelis R. Situmorang

 

Selalu saja ada yang terasa kurang setiap kali aku berdiri berhadap-hadapan dengan cermin. Mungkin sudah waktunya untuk belajar menerima apa saja yang akan dikatakan cermin.

“Mata genit, mata genit,” kata cermin di hadapanku menirukan ucapan ibu. Mata dia yang di dalam cermin berkerlap-kerlip mengajakku tersenyum.

Kubalas senyumnya sambil merapikan kerah kemejaku.

“Selamat tinggal bodat kecil,” kataku kepada lelaki di dalam cermin.

“Selamat jalan, diriku,” sahutnya melambaikan tangan.

Di ruang keluarga, ayah yang sedang tidur, terbangun karena terkejut mendengar suara dengkurnya sendiri.

“Suara apa itu?” tanya ayah

“Bukan apa-apa ayah, itu suara televisi,” jawabku, lalu mematikan televisi.

“Oh,” kata ayah menjadi tenang mendengar jawabanku. “Kau mau kemana malam-malam begini?”

“Mau menggembalakan mimpi, Yah…”

“Jangan terlalu jauh, nanti kau hilang!”

“Jangan kuatir, Ayah, aku dijaga Tuhan,” jawabku lalu melangkah pergi meninggalkannya.

Langit malam memancarkan warna kemerahan, tanda akan turun hujan. Angin menjatuhkan beberapa jambu air ke dekat tissu kotor dan kulit jeruk yang dilempar keluar dari jendela mobil dan angkot yang melintas.

Di emperan toko dekat stasiun kereta, seorang lelaki tua sedang menyelimuti anak kecil yang tengah lelap tertidur. Mata kami bertemu. Ia membelai kepala si kecil, lalu bangkit berdiri, menggeser gerobak di dekatnya, melindungi si kecil dari tatapan mataku.

Lalu dari dalam gerobaknya, ia mengeluarkan kardus televisi, menyalakan api, lalu membakarnya.

“Setiap malam ia selalu membakar mimpi-mimpinya,” kata seorang penjual rokok menghampiriku.

“Mungkin untuk mengusir dingin malam,” sahutku.

“Mungkin…”

“Si kecil yang sedang tidur itu anaknya?”

cermin retak

“Oh, itu bukan anak sungguhan, itu cuma boneka. Anaknya tercinta hilang diculik orang jahat, istrinya kemudian mati sakit dalam rindu pencarian. Akhirnya lelaki tua itu terus mencari si buah hati seorang diri. Katanya, dia bertemu dengan boneka itu di depan Istana Negara tepat hari Kamis, persis dengan hari lahir anaknya. Tapi walau pun itu cuma boneka, sepertinya ia sangat menyayanginya seperti menyayangi anak sendiri. Boneka itu diajarnya berbicara, dibuatkan pesawat terbang dari kertas, diajak bermain kemidi putar dan menonton sepak bola.”

Tiba-tiba aku merasa rindu mendengar suara dengkur ayah.

Maret menurunkan gerimis di mataku.

 

9 Comments to "Maret"

  1. Fidelis R. Situmorang  20 May, 2013 at 00:28

    @ Bu Alvina VB: Iya, lagi sedih ceritanya nih, Bu.
    Hehehe… Macet jakarta bikin nggak kangen ya…

    @ Mbak Dewi: duh, jadi kangen juga ya, Mbak… eh, kemarin sempet pulang ya

    @ Om Dj: Terima kasih pujiannya, Om… Aneh ya, banyak hal yang tidak kita sukai justru memanggil kita pada kerinduan. Saya jadi teringat cerita tentang mawar; katanya duri-duri pada mawar adalah bagian keindahan menyeluruh darinya.
    Makasih, Om Dj, salam sejahtera juga untuk Om Dj dan keluarga.

  2. Fidelis R. Situmorang  20 May, 2013 at 00:13

    @ James: Hehehe… Iya, udah pertengahan mei

    @ Probo: Maret dibuai Mei

    @ J C: Pasti sedang tersenyum di surga sana ya

    @ Pak Juwandi Ahmad: Seringkali merasa seperti itu kalau sudah jauh ya, Pak…

  3. Dj. 813  9 May, 2013 at 23:34

    ***Tiba-tiba aku merasa rindu mendengar suara dengkur ayah.***

    Bung Fidelis R. Situmorang…
    Terimakasih untuk cerita yang pendak, tapi sangat bagus.

    Dj. jadi teringat saat berteman dengann satu keluarga.
    Istrinya sering cerita dan marah karena selalu terganggu tidurnya
    denga suara ngork suaminya.
    Tapi setelah beberapa lama suaminya meninggal, dia cerita.
    Dia kangen dengan suara ngorok suaminya.
    Alangkah indahnya bila saat ini masih bisa mendengarkannya….

    Hal yang dianggap jelek sekalipun, kalau hilang, bisa jadi kerinduan.
    Olehnya, sekecil atau sejelék apapun, terimalah dengan senang hati.
    Karena bisa jadi, satu saat orang akan merindukannya kalau sudah tidak ada lagi.

    Salam Sejahtera…!!!

  4. Dewi Aichi  9 May, 2013 at 23:02

    Aku merindukan baju baju kumal ayah yang tergantung di dinding…dan ibu ngomel ngomel oleh kebiasaan ayahku itu.

  5. Alvina VB  9 May, 2013 at 22:44

    Sedih sich ceritanya bung Fidelis R.S……bikin rindu papi di Jakarta (ttp gak pernah rindu sama kota Jakarta.)

  6. juwandi ahmad  9 May, 2013 at 21:40

    Tiba-tiba aku merasa rindu mendengar suara dengkur ayah.

    Bahkan seringhkali rindu dengan kemrahan ayah, yang dulu tak disuka.

  7. J C  9 May, 2013 at 20:46

    Hiks…jadi ingat mendiang Papa…

  8. probo  9 May, 2013 at 13:00

    Maret di bulan Mei

  9. James  9 May, 2013 at 11:53

    SATOE, dah bulan Mei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.