Cinta dan Rembulan Telanjang

Wendly Jebatu Marot

 

Bulan purnama menjadi saksi bisu pertemuan kami malam itu. Di emperan gereja tua, tempat aku dulu sering bermain mengisi waktu sore bersama teman sebaya.

Di situ, kami berdua berdiri sambil menatap langit terang malam itu.

Tangan bertemu, saling menggenggam.

Tanpa suara.

Hanya sesekali suara nafas mendesah gemuruh seperti gemuruh tiupan bocah dekil bermain karet gelang. Konon waktu bocah dulu kami sering bermain karet gelang. Salah satunya adalah memasukkan karet ke lidi pendek yang tertancap di tanah.

Pada mulanya hening. Kemudian hening menjadi gemuruh desah rasa yang kian tak menentu.

Langit cerah! Rembulan telanjang! Katanya membuka pembicaraan.

Aku mengangguk. Aku seakan tak peduli apakah dia melihat anggukanku.

Langit cerah, rembulan telanjang! Katanya lagi dengan nada yang makin meninggi.

Mengapa mesti diulang? Tanyaku sambil tersenyum.

Dia menoleh dan menatapku sambil tersenyum.

Kamu lupa masa lalu. Kamu lupa sejarah cinta kita! Katanya dengan bibir tetap teerkulum menyimpan senyum.

Maksudmu?

Maksudku tak lain, supaya kamu bisa ingat mengapa kita menatap rembulan telanjang malam ini!

Rembulan telanjang! Aku mengulang kata-kata itu dengan gumaman.

Apa maksud kamu Del? Aku tak paham!

Apa? Kamu tak paham?Tiba-tiba dia melepaskan tengannya dari genggaman tanganku.

Dia duduk dengan menjadikan dinding got samping gereja itu sebagai kursi. Dia memainkan hpnya yang elit itu dan mengeluh.

“Dugaanku benar! Ternyata kamu tak pernah mencintaiku dengan tulus.”

Jangan terlalu buru-buru menilai Del! Jawabku.

Aku tidak menilaimu buru-buru. Aku membawamu ke sini dan mengajakmu menatap langit dan rembulan telanjang. Aku membiarkan tanganku kau genggam. Aku sengaja mengulangi kata-kataku, langit cerah. Tapi rupanya kamu tak mengerti. Aku mencoba mengingatkanmu pada masa lalu kita, tapi kamu seperti tak mengingat apa-apa.

Kamu lupa sejarah kita! Kamu amnesia! Katanya dengan nada kesal.

Apa hubungannya semua itu dengan cinta? Logika apa yang kamu pakai sampai kamu menghubungkan rembulan telanjang dengan kesimpulan bahwa saya tidak lagi mencintai kamu? Tanyaku dengan tetap berusaha tenang.

Dia tidak menjawab. Dia malah menangis.

Aku berusaha menanarik tangannya dan mau merangkulnya. Namun menepis tanganku menghindar.

“Aku tidak memakai logika seperti yang kamu pelajari di bangku kuliah karena aku tak bisa menggunakannya saat ini! Aku memakai logika pribadiku. Aku bisa menghubungkan semua ini, rembulan telanjang, langit cerah, malam sepi ini dengan cinta kita. Kalau kamu tak ingat dengan rembulan itu, berarti kamu tak ingat aku. Kalau kamu tak mengerti mengapa aku membawamu di sini, berarti kamu tak ingat awal cinta kita. Dan dengan sendirinya kamu tak mencintaiku.

Itu tidak benar Del! Apakah kisah awal cinta kita itu penting? Apakah kamu lebih penting mengingat masa lalu dari pada pengorbananku datang dari jauh untuk bertemu kamu?

Itu benar Bram! Dan mulai sekarang kita putus!

Aku tersentak. Putus!!

LAYAR DITUTUP. AKU TERBANGUN DARI TIDUR. TERNYATA HANYA MIMPI…

 

Nantikan sambungannya dan akan kutulis di dinding gereja tua…

 

3 Comments to "Cinta dan Rembulan Telanjang"

  1. Dewi Aichi  14 May, 2013 at 01:44

    Del…ngga usah membahas hal hal yang ngga penting, rasakan saja yang ada…kalau tanya melulu tentang hal hal yang musti diingat juga sama Bram…justru akan lupa untuk menikmati indahnya malam.

    Eh tapi cuma mimpi sih ya he he..

  2. J C  13 May, 2013 at 21:33

    Sedikit mengernyitkan dahi mencernanya… ditunggu lanjutannya tulisan di dinding gereja tua itu…

  3. Lani  12 May, 2013 at 10:04

    satoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.