Tiga Sahabat (9): Usai Sekolah

Wesiati Setyaningsih

 

“Gimana perkembangan ibu kamu, Nung?” Aji bertanya pada Anung yang menyedot es teh.

Suara air hujan yang menimpa atap kantin menimbulkan suara berisik. Mereka harus sedikit berteriak saat bicara.

“Baik. Sudah mulai melakukan pekerjaan rumah kaya masak gitu. Kalo yang lain-lain kan aku dan bapak bantuin. Kami kerja bakti lah. Sekarang kami dibantu tenaga pembantu rumah tangga. Dari pagi sampai siang. Biar ibu ada yang nemenin kalo kami nggak ada.”

Aji mengangguk. “Iya, sih. Biar kalo tiba-tiba kecapekan atau apa, ada yang bantuin.”

Siang itu harusnya mereka sudah pulang ke rumah. Tapi karena tiba-tiba hujan deras turun tepat sesaat sebelum bel pulang sekolah berbunyi, mereka memilih ke kantin dulu. Daripada basah kuyub, lebih baik mengisi perut dulu.

Maka Anung mengajak Aji ke kantin untuk sekedar mengisi perut sebelum makan siang yang sesungguhnya di rumah nanti. Aji yang tidak terlalu lapar memilih bakso sementara Anung memilih mie ayam. Juwandi yang sedang asyik ngobrol dengan Tia di teras kelas tidak berminat mengikuti kedua temannya.

Mie ayam tinggal separuh dan Anung sedang menyendok mie untuk didorong masuk ke mulut ketika tiba-tiba tangannya berhenti dan mulutnya dibiarkan ternganga. Matanya tertuju pada sesuatu yang bergerak sehingga kepalanya bergerak perlahan ke kanan dan ke kiri. Penasaran, Aji mengikuti arah tatapan mata Anung.

Tampak oleh Aji seorang gadis manis yang kira-kira umurnya beberapa tahun di atas mereka. Tubuhnya padat berisi, kulitnya bersih. Gadis itu membawa nampan berisi dua gelas minuman dan dua mangkok soto. Sambil meletakkan bawaannya ke meja pemesan, gadis itu tersenyum pada para pemesan. Tampaklah lesung pipit di kedua pipinya.

Kaos bertuliskan “SUCK” tepat di dada, ketat membungkus tubuhnya yang padat berisi. Demi melihat dadanya yang penuh hampir tumpah ruah, Aji segera maklum. Selesai meletakkan pesanan gadis itu berlalu menuju warung yang bertuliskan “Warung Bu Lani”. Bersama bu Lani gadis tadi duduk di kursi plastik.

tiga-sahabat

(Klinik Fotografi Kompas)

“Hush!” Aji mengibaskan tangannya ke muka Anung.

Anung terhenyak , meringis pada Aji, lalu melanjutkan makannya. Saat mengunyah matanya tak lepas dari gadis cantik yang baru saja lewat.

“Siapa sih, itu? Anak bu Lani ya?”

Aji mengedikkan bahu. “Kenapa nggak langsung tanya aja?”

Anung melotot. “Gila apa?”

Aji memicingkan mata. “Emangnya enggak?”

Anung tergelak. Untung mie ayamnya sudah tandas. Diambilnya gelas es teh lalu diseruputnya pelan. Matanya masih saja lekat pada gadis yang duduk di warung bu Lani.

“Duh, tau gini tadi aku pesan makanan di warung bu Lani aja,” keluhnya.

Aji tertawa. “Pesan aja lagi.”

“Udah kenyang, tau! Lagian nanti di rumah masih harus makan masakan ibu. Biar  senang. Capek-capek masak nggak ada yang makan kan sakit hati.”

“Ya nggak pa-pa. Masakan ibumu kan enak.”

“Iya sih. Pasti lebih enak daripada masakan bu Lani. Soto bikinan ibu sedap luar biasa.”

“Tapi mendoan bu Lani enak lho kata anak-anak. Tipis dan kering. Juwandi pernah kasi ke aku waktu Tia beli banyak gitu.”

“Oh ya?”

Aji mengangguk mantap.

“Beli, yuk!” Anung segera berdiri.

Tapi gerakannya terhenti pada posisi berdiri dan tidak jadi melangkah menuju warung bu Lani. Dia melihat gadis tadi sedang menutup warung sementara bu Lani mengemasi peralatan makan. Siang hari usai sekolah begini pemesan tidak sebanyak waktu istirahat. Mereka yang masih ke kantin biasanya adalah anak-anak yang akan mengikuti kegiatan ektra kurikuler.

“Yah, tutup..” keluhnya.

Aji terkekeh.

“Sudah. Besok lagi kan buka. Kamu bisa tanya-tanya nama gadis itu siapa.”

Anung duduk lagi. “Iya, sih.”

Matanya menerawang menatap hujan yang tinggal gerimis. Di kantin tersisa beberapa anak yang sedang ngobrol. Deretan warung-warung yang berdiri di pinggir kantin sudah hampir tutup semua.

“Udah enggak hujan. Pulang yuk.”    Aji berdiri.

Anung mengikuti. Berdua mereka berjalan menuju tempat parkir melewati kelas-kelas yang sudah kosong. Sampai di salah satu kelas yang masih berisi beberapa anak, Aji berhenti.

“Ngapain sih mereka?”

“Anak debat. Mau lomba katanya.” Anung menjelaskan. “Kok kamu dulu nggak ikut debat sih, Ji?”

“Enggak tau, ya. Dulu aku nggak terlalu peduli sama ekstra kurikuler. Aku pikir kegiatanku sudah cukup banyak.”

“Memang apa sih kegiatan kamu?”

Aji menatap Anung. “Iya, ya. Apa ya?” Aji berpikir sebentar. “Oh, iya! Dengerin musik, nonton film, baca novel.”

Anung menepuk dahinya sendiri. Aji tidak peduli dan berusaha melongok ke dalam. Seorang gadis hitam manis berambut panjang berombak sedang bicara di depan. Dengan bahasa Inggris yang lancar gadis itu begitu percaya diri menyampaikan pidatonya.

“Keren, ya..” gumam Aji.

“Mana?” Anung ikut melongok. “Oh, itu kan si Nia. Anak kelas sebelah.”

“Manis, ya.”

Anung mengedikkan bahunya. “Bukan tipeku.”

“Aku tahu.” Aji menjawab seperti menggumam. “Tipe tipis begini kamu nggak mungkin suka.”

“Kamu suka?” Anung menatap Aji.

“Bukan masalah fisiknya. Tapi liat cara dia bicara aku suka.” Aji mulai berjalan lagi meninggalkan kelas itu karena Nia baru saja selesai bicara dan duduk.

“Aku malah minder kalo sama yang pinter gitu.”

“Karena kamu nggak bisa bahasa Inggris, atau karena kamu suka yang dadanya besar?” Aji bertanya sambil tersenyum lebar.

Anung terkekeh. “Setahuku kalau ada cewek yang ininya gede,” Anung meletakkan ke dua telapak tangannya satu jengkal dari dada.” Aku langsung suka. Enggak peduli dia pintar atau enggak.”

Aji tertawa. “Yah, itu karena kamu enggak pernah minum ASI kali.”

Anung tidak ikut tertawa. “Iya, kali,” katanya dengan nada sedih.

“Wow…Wow. Enggak lantas sedih gitu, dong.”

Anung mengangkat wajahnya sambil tersenyum menatap Aji berusaha menunjukkan kalau dia baik-baik saja.

That’s my man!

Aji menepuk pundak sahabatnya. “Ngomong-ngomong Juwandi sudah pulang belum ya?” Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu.

“Biasanya kalo sudah enggak nyamper aku begini dia pulang sama Tia.”

“Pake apa?”

“Motor Tia, lah.”

“Dia yang boncengin Tia? Kan dia nggak bisa naik motor.”

“Ya dia yang bonceng.”

Aji tergelak. “Bisa-bisanya.”

“Tia orangnya baik, kok. Rumahnya kan bisa lewat rumah Juwandi, meski jadi sedikit memutar. Tapi Tia oke aja, tuh.”

“I see.” Kata Aji masih dengan sisa tawanya. “Besok aku mau cari yang bisa ditebengin juga, ah.”

“Apa? Gila aja. Badan kamu segede gajah gitu, masak cewek suruh boncengin. Juwandi mah kecil. Masih mampu si Tia boncengin. Na kamu? Mana sanggup Nia bocengin kamu.”

“Kok jadi Nia, sih?”

“Kan kamu naksir dia.”

“Emang Nia naik motor juga?”

“Enggak, ding. Ngangkot dia.”

Aji mendengus kesal.

Sampai di tempat parkir mereka malah bertemu Juwandi yang sedang ngobrol dengan Tia di dekat motor Tia.

“Ealah. Dicariin malah di sini.” Anung menonjok lengan temannya pelan.

“Kalian nyariin aku?”

“Enggak juga, sih.”

Aji tergelak. “Kalian ini, kalo ketemu selalu begini. Ribut mulu.”

“Iya, nih.” Tia ikut nimbrung. “Nung, titip Juwandi ya. Aku nggak langsung pulang. mau latian dulu. Bentar lagi tanding.”

“Gitu?”

“Iya. Jagain dia, ya?”

“Waduuuu….” Anung tersenyum meledek Tia.

Tia tersenyum malu. “Jangan gitu, ah. Dia sahabatku yang paling baik di sekolah ini.”

“Loh, aku ini kamu anggap apa?” Anung menunjuk ke dadanya sendiri.

“Kamu?” Tia balik bertanya, lalu berpikir sejenak.

Anung mengangguk.

“Kamu.. Teman yang baik.”

Juwandi dan Aji tertawa. Anung menunjukkan wajah sedih.

“Aku pulang dulu ya. Ingat, jangan ribut di jalan. Berbahaya. “ Tia menghidupkan motornya. “Titip Juwandi, yaaa…” katanya seraya berlalu.

“Iyaaaa! Hati-hati ya, sayaaaang… Sering-sering kirim surat ya!” Anung berteriak mengiringi kepergian Tia.

“Lebay!” tukas Juwandi.

Anung cuma tertawa.

Mereka bertiga mengikuti arah Tia pergi hingga gadis itu tak tampak lagi.

“Asik bener ngobrolnya. Sampai enggak ingat sama kita-kita. Ngobrolin apa, sih?” tanya Anung ingin tahu.

“Ngobrolin pelajaran. Tia itu asik diajak bicara. Mana dia kan atlit KONI. Di sini cuma titipan. Bakal sering nggak masuk kalo pas ada pertandingan gitu. Dia pesan untuk kasi tau dia kalo ada tugas-tugas.”

“Tia itu pintar sebenarnya.” Aji menambahkan.

“Iya. Jarang-jarang anak KONI yang pintar. Maklum, mereka ketinggalan pelajaran. Tiap hari dia latihan dari sore hingga menjelang malam. Pagi-pagi latihan lagi.”

“Wah, keren juga. Untung ada kamu yang pinter dan baik Ju.” Anung menepuk bahu temannya.

“Alah,” tukas Juwandi mengelak. “Ngomong baik kalo lagi ada maunya.”

“Sudah, yuk, pulang. Mau pada mampir nggak, nih?” kata Aji.

Anung dan Juwandi berpandangan. “Gimana?” tanya Anung.

“Kamu nggak kangen sama Iyem?” Juwandi bertanya balik.

“Hehe… Kangen sama pantatnya yang bahenol, sih. Tapi kan kita ada yang mesti dilakukan.”

“Oh, iya!” Juwandi menepuk dahinya.

“Apa, sih?” Aji heran mendengar percakapan dua sahabatnya.

“Enggak.” Anung menukas.

“Kalian ini! Tega-teganya main rahasia sama aku.”

“Bukan gitu, Ji.” Juwandi meletakkan tangannya di dada Aji, memintanya bersabar.

“Alah. Aku nggak suka kalau kalian gitu.” Aji cemberut.

“Nung.” Juwandi menatap Anung yang diam saja.

Anung menatap Juwandi, ragu. “Malu.”

“Apaa? Kamu malu sama aku?” Aji hampir meledak. “Kaya kita ini siapa, Nung. Semua baik buruknya kamu aku sudah tau. Buat apa malu sama aku?”

“Tapi ini kan pengalaman yang memalukan.” Anung berbicara pelan takut-takut.

“Bukankah selama ini tingkahmu juga memalukan? Kamu enggak pernah malu, kok. Tumben-tumbenan kamu malu.”

“Ju..” Anung menatap Juwandi memohon pertolongan.

Juwandi tak segera menjawab. “Kasi tau aja, ya. Sama Aji ini.”

Anung menatapnya ragu. “Gitu?”

Juwandi mengangguk. “Nggak papa,” katanya. “Kasi tau aja.”

Anung mengalihkan pandangan pada Aji.

“Apa?” tanya Aji dengan mata melotot.

“Sabar, dong.”

Aji menarik nafas panjang. “Iya.” Aji menarik nafas panjang lagi berusaha sabar. “Kasi tau, cepat!”

Anung tidak menjawab malah menarik tali tas punggung dari bahunya. Dibukanya penutup tas pelan. Kemudian tangannya masuk ke dalam tas.

“Apa, sih?” Aji tak sabar.

“Aku bilang, sabar!” kata Anung.

Perlahan Anung menarik tangannya. Ditunjukkannya sebuah benda berbahan kain yang tampak lembut berwarna hitam dengan renda-renda hitam.

“Itu.. Itu…” Aji menunjuk barang yang ada di tangan Anung tapi tidak melanjutkan kata-katanya.

Anung mengangguk pelan. Mata Aji melotot, lalu tertawa keras-keras.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Tiga Sahabat (9): Usai Sekolah"

  1. J C  13 May, 2013 at 21:34

    Waduh…

  2. probo  13 May, 2013 at 05:52

    hahaha…siap-siap ngapa ya? ngamuk?

  3. elnino  12 May, 2013 at 23:15

    Hayooh bu Probo, siap2…

  4. juwandi ahmad  12 May, 2013 at 21:27

    Perlahan Anung menarik tangannya. Ditunjukkannya sebuah benda berbahan kain yang tampak lembut berwarna hitam dengan renda-renda hitam…..

    nek ra hordeng taplak meja….mung kok do ngguyu

  5. Hennie Triana Oberst  12 May, 2013 at 20:36

    wahhhahaha…pasti cd itu ya?

  6. probo  12 May, 2013 at 09:50

    waduh! matek aku!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *