Membaca Fidelis Situmorang

Ita Siregar

 

Fidelis Situmorang. Tahun lalu pada satu acara di kantor PGI Salemba, dia memberi saya dua bukunya: Remah Kehidupan dan Tuan Ringo.  Waktu itu saya bahkan belum mengenalnya. Kemudian kami bertemu dalam pokja pembuatan iklan layanan masyarakat untuk radio. Kami membuat naskah sekaligus menjadi dubber. Berperan sebagai Bang Rojali, logat Betawi pria Batak ini pas buanget. Bisa jadi lantaran dia kelahiran ibukota.

Sebulan lalu dia memberi saya buku barunya: Aku Menciptakan Ibu. Dia mampir ke rumah pada satu sore terang, ngobrol sampai tengah malam, ditemani kopi hitam. Sepanjang kami bicara, rokoknya mengepul setia. Dia bercerita apa saja, termasuk pernah bekerja sebagai pegawai BCA, tetapi memutuskan hengkang karena tak kuasa menanggung kemacetan ibukota yang membuatnya nelangsa.

Lalu dia menulisi dinding facebook-nya dengan rekaman perasaan dan pikiran. Beberapa teman menyukai tulisan-tulisan itu. Mereka bilang: bukukan saja. Tak tanggung-tanggung, dia merespons dengan menerbitkan sendiri kumpulan tulisannya.

Tetapi rupanya orangtua keberatan bila anak kedua mereka ini menjadi penulis. Bagi mereka, pekerjaan kantoran dianggap lebih terhormat. Syukur seorang teman mengulas satu bukunya dan dimuat di harian Batak Pos Medan. Dia menunjukkan tulisan itu kepada sang bapak. Akhirnya orangtua itu bangga juga kepada anaknya.

Selesai membaca ketiga bukunya, saya merasa kawan satu ini peka terhadap dunia sekelilingnya. Itu membuatnya mudah menemukan gagasan. Gaya bertutur lembut, bahkan terlalu lembut, sehingga terkesan lebay. Kecanggungan dalam menyelesaikan tulisan menjadi utuh selain penguasaan bahasa dan tanda baca, rasanya mutlak dikuasai oleh penulis bila ingin terus berkiprah dalam dunia tulis-menulis.

Saya menikmati membaca puisi dan prosanya. Saya menemukan kejutan pada akhir cerita atau humor segar pada beberapa bagian yang merupakan hiburan yang menyenangkan.

type-writer

Buku 1

Remah-Remah Kehidupan; Puisi; Januari 2011; 90 halaman

Berisi 56 puisi, buku ini terbagi tiga, yang oleh penulis disebut remah.

Remah pertama, tentang cinta. Di sini penulis menawarkan cinta yang tulus, lembut, percaya diri, positif, saling memuja, indah, penuh pengorbanan, cinta demi cinta itu sendiri, cinta sejati. Pokoknya, semuanya cinta.

Coba lihat puisi ini: Dik (hal. 9). Dik, kalau kau mau, jantung ini pun akan kuberikan/karena aku bisa hidup tanpa jantung/asalkan bersama kamu. Atau puisi  Aku mencintaimu sampai terkantuk-kantuk (di buku tergantuk-ngantuk), hal 12 .

Remah kedua, juga tentang cinta, tapi sudah berbau curiga, kepedihan, keraguan, kepahitan, nyeri, sepi. Larik-larik puisi menggambarkan rasa takut kehilangan, benci, cinta yang egois.

Mengapa hanya satu kau diciptakan/mengapa tidak dua/agar aku juga bida mendapatkan cintamu/bukan hanya dia. Tetapi seandainay engkau diciptakan dua/aku ingin memiliki keduanya/bukan dia. Dari puisi Mengapa Hanya Satu Kau Diciptakan (hal. 30).

Aku mencintaimu,” kataku kepadanya/Dia diam/Air matanya jatuh/Kulihat wajah pria itu di air matanya.Dari puisi Air Mata (hal 39)

Kepada Batsyeba, Istriku (hal 34), prosa liris, merupakan tafsir dari satu bagian Kitab Suci, cukup menarik. Dikisahkan Uria, seorang tentara muda, baru menikah dengan Batsyeba, pacarnya yang jelita. Namun kewajiban memanggilnya ke medan perang sehingga mereka belum lagi sempat memadu kasih. Prosa ini belum selesai, terasa menggantung. Entah penulis memang berniat demikian. Tetapi cerita sebenarnya adalah Uria yang penuh dengan harapan akan bertemu istrinya setelah perang, sangat memilukan, karena yang terjadi adalah istrinya telah menyerahkan diri kepada panglima perangnya.

Remah ketiga masih tentang cinta. Yang ini bersifat universal, cinta ibu, cinta yang berpihak kepada wong cilik, cinta alam, hilangnya orang-orang tercinta dalam tragedy dan musibah. Sepeda (hal 61), adalah puisi sederhana tentang harapan seorang ayah kepada anaknya. Bukan sekedar belajar sepeda tetapi pelajaran penting untuk hidupnya kelak. Mati (hal 62-63) adalah puisi yang bernada kritik namun elegan. Saya memuji gagasan personifikasi kata-kata yang disitir dari Undang-undang namun mati tak berdaya akibat ulah manusia yang korup.

Puisi-prosa Pangkalan Ojeg Sayang Istri (hal 72-75) menggambarkan dinamika kehidupan rakyat kecil yang serba tak ada pilihan kecuali menerima apa adanya. Puisi Pohon Natal (hal 82-83) betul-betul segar. Saya tak berhenti tertawa membacanya ketika penulis bermain-main dengan kata kontekstual dan berhasil menempatkan kata itu dengan tepat.

 

Buku 2

Tuan Ringo; Prosa; Mei 2011; 81 halaman

Buku ini terdiri dari 10 cerita pendek ditinjau dari panjangnya kalimat. Secara struktur, masing-masing cerpen nyaris tak utuh. Masih bolong di sana sini, baik dari tata bahasa dan makna, sehingga kekosongan terasa di banyak tempat. Sebenarnya penulis mempunyai banyak kesempatan menyelesaikan cerita dengan sedikit kesabaran memasuki karakter tokoh dan peristiwa. Ibarat koki yang sedang mengajar memasak, ia memberitahu bahan-bahan yang diperlukan tetapi tak memberitahu fungsi masing-masing bahan. Akibatnya, pembaca harus menerka-nerka sendiri kelengkapan cerita.

Cerpen Lembur (hal 65) cukup mengesankan. Penulis berhasil merahasiakan tokoh ‘aku’ dan kejutan pada akhir cerita sungguh manis. Namun lagi-lagi sayang, penulis kurang sabar dan tak berani mendalami pergumulan batin tokoh. Tarik-menarik godaan asmara dan pergumulan hati sama sekali tak diulik sehingga pembaca tak sempat bersimpati kepada tokoh.

Cerpen Aku Tidaklah Penting, Hanya Seorang Pelacur, adalah cerita sejarah yang diambil dari satu Kitab Suci. Penggambaran Rahab memiliki warung remang-remang (hal 57) ditarik pada keadaan sekarang. Namun sayang sekali penerjemahan ini tidak disertai dengan ending yang lengkap. Penulis bertindak serampangan dalam membuat nasib tokoh yang menggantung. Kecacatan ini akan menimbulkan rasa tak selesai yang cukup mengganggu pembaca. Seandainya Rahab dan keluarganya dikabarkan meninggal atau selamat, cukup untuk menutup dengan baik.

Tuan Ringo cerita yang menarik tapi bernasib sama.  Nilai dan tradisi dari etnik tertentu, Batak dalam hal ini, berpotensi menghadirkan sesuatu yang unik tetapi tidak diangkat di sini. Perselisihan antar keluarga yang dimaksud tidak dibeberkan secara terbuka sehingga saya meraba-raba penyebab tokoh ini tidak mau mengakui keluarganya.

 

Buku 3

Menciptakan Ibu; :Puisi dan Prosa; 64 halaman; Maret 2012

Masih seperti dua buku sebelumnya, penulis masih bertahan dengan tema ibu, cinta, masalah ketidakadilan sosial. Sebanyak tiga puluh dua puisi prosa dalam buku ini mudah dibaca dengan terang benderang seperti penulis mengungkapkan segala isi hatinya secara gamblang.

Aku Menciptakan Ibu (hal 1) adalah sebuah renungan sederhana tentang seseorang yang tidak pernah mengetahui apa dan bagaimana mempunyai seorang ibu itu. Puisi Nyala (hal 41) lahir setelah peristiwa seorang anak muda yang beberapa waktu lalu membakar dirinya di depan istana akibat frustasi tidak adanya perubahan dalam kepastian hukum di negeri ini. Puisi Takdir (hal 43) dan Sepatu (hal 45) cukup menggelitik tetapi naif. Malam Pertama (38) memotret kikuknya penyanyi jalanan yang akan menyanyi untuk pertama kalinya di depan publik.

Saya curiga, semua puisi dan prosa yang ditulis ini mempunyai kisah nyata tersendiri dan ditambahkan dengan pesan-pesan yang ingin disampaikan penulis secara pribadi. Meski tidak yakin betul, tetapi saya merasa Fidelis di dunia nyata adalah seperti membaca buku-bukunya.

Selamat terus berkarya, bro.

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung di Baltyra, Ita Siregar. Make yourself at home dan semoga kerasan ya…ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih Dewi Aichi yang mengenalkan Baltyra ke Ita Siregar…

 

8 Comments to "Membaca Fidelis Situmorang"

  1. Matahari  15 May, 2013 at 21:47

    Buku buku karya bang Fidelis S dijual dimana ? Karena toko buku di Indonesia tidak hanya Gramedia….

  2. Alvina VB  14 May, 2013 at 21:22

    Baru balik ke kandang, Wi….akhirnya Ita Siregar berhasil ditarik si Dewi ke rumah ini…Brava!!!
    Selamat gabung di sini eda Ita, terima kasih buat bedah buku2nya bung Fidelis Situmorang!

  3. Dewi Aichi  14 May, 2013 at 01:31

    Senang…ada tulisan mba Ita Siregar di sini…..(sambil nyari Alvina mana ya) he he….

    Saya dapat dua buah buku dari Fidelis..mantap lho…eh 4 buku ding….

  4. J C  13 May, 2013 at 21:43

    Tulisan Fidelis R. Situmorang memiliki ciri khas tersendiri gaya bahasa penuturan dan dialog-dialog’nya. Renyah sekali cara bertutur Fidelis R. Situmorang ini…(tapi kalau puisi, saya tidak sanggup mencernanya).

  5. Matahari  13 May, 2013 at 14:30

    Ita S..terimakasih sudah bercerita tentang bang Fidelis…dan menyebut nama buku buku beliau….Saya yakin bukan hanya saya satu satunya di Baltyra yang tertarik untuk beli…bahkan mungkin ribuan orang…

  6. Dj. 813  13 May, 2013 at 13:29

    Salam kenal Ita Siregar…
    Selamat bergabung di Baltyra, semoga mau berbagi cerita disini.
    Salam,

  7. Handoko Widagdo  13 May, 2013 at 12:28

    Selamat bergabung Ito Regar. Mari berbagi kehidupan di Baltyra.

  8. Chandra Sasadara  13 May, 2013 at 10:39

    selamat datang di Baltyra.. semoga kerasan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)