Segera Terbit: Proklamasi – Sebuah Rekonstruksi

Osa Kurniawan Ilham

 

Saya adalah produk sistem pendidikan ala Orde Baru. Tapi anehnya, saya mulai tertarik pada sejarah malah setelah rejim Orde Baru tumbang. Alasannya, karena sejak Orde Baru tumbang ternyata banyak data dan fakta sejarah; yang selama Orde Baru disembunyikan; kemudian muncul ke permukaan dalam era keterbukaan ini.

Salah satu peristiwa bersejarah yang paling menggelitik rasa penasaran saya adalah peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945. Banyak kabut misteri yang masih menyelubunginya. Banyak orang hanya samar-samar mengetahui duduk masalahnya. Dan masih banyak orang pula yang tega memelintir peristiwa bersejarah ini sekehendak hati hanya untuk kepentingan pribadi maupun golongannya sendiri. Jadi terus terang saya merasa tertantang untuk membedah habis-habisan kisah seputar proklamasi ini.

Tahun 2001, saya menemukan di internet sebuah tulisan dari Iwan Satyanegara Kamah yang berjudul “Fakta-fakta Seputar Proklamasi”. Fakta-fakta yang menarik dan terkadang kontroversial ini seakan membuka mata saya bahwa ternyata banyak cerita yang menarik di balik proklamasi yang bisa saya ceritakan kepada generasi anak dan cucu saya. Sejak saat itulah saya mulai berburu literatur tentang sejarah proklamasi dan sejak itu pula saya mulai banyak menulis tentang sejarah Indonesia.

Dari berbagai bahan pustaka yang saya pelajari, saya mendapat kesan bahwa setiap pelaku sejarah seringkali menulis dari sudut pandangnya sendiri, sehingga entah disengaja atau tidak cenderung lebih menonjolkan peranan dan kontribusinya sendiri dalam sejarah proklamasi. Saya juga mendapati, terutama dalam buku sejarah proklamasi resmi yang diterbitkan oleh lembaga pemerintah Orde Baru, bahwa peranan dan kontribusi beberapa golongan (terutama golongan berideologi kiri, sosialis atau komunis) dihilangkan sama sekali dari sejarah proklamasi. Sebaliknya kontribusi golongan militer (dalam hal ini diwakili PETA) sangat ditonjolkan dalam beberapa naskah produk Orde Baru. Saya pikir ini kurang baik bagi generasi selanjutnya karena melalaikan keseimbangan dalam penulisan sejarah.

Saya ingin menulis buku tentang sejarah proklamasi dengan bahasa yang mudah dicerna, tidak terlalu ilmiah tapi memuat fakta dan data yang banyak tercecer di berbagai literatur. Untuk itu saya memilih model penulisan seperti film serial CSI (Crime Scene Investigation). Saya mempelajari semua data, fakta dan pengakuan dari setiap bahan pustaka yang ada. Saya pelajari dan analisa keterkaitan fakta satu sama lainnya dan menemukan ada data yang tampaknya tidak nyambung dengan data yang lainnya sehingga patut dipertanyakan. Tapi di sisi lain saya juga menemukan sebuah data atau fakta yang ternyata nyambung dengan data dan fakta yang lain. Terkadang ada pertanyaan yang muncul karena ada rantai data yang hilang, dan alangkah senangnya ketika saya menemukan rantai data yang hilang itu berdasarkan kesaksian tokoh yang lainnya. Ini menariknya, saya merasa seperti detektif saja kala menuliskan buku ini.

Seperti film CSI, saya kemudian berusaha merekonstruksi fakta-fakta yang terjadi berdasarkan kesaksian dari bahan-bahan pustaka itu. Kalau perlu saya coba rangkaikan jam per jam, hari per hari semua fakta yang ada di sekitar proklamasi sehingga sejarah di sekitar proklamasi menjadi lebih hidup, lebih berwarna dan mengandung banyak perspektif dari para pelakunya yang berasal dari berbagai latar belakang dan ideologi itu.

Saya juga mencoba pendekatan sebuah skenario film dalam membuat rekonstruksi proklamasi ini. Hal ini saya dapatkan dari hasil berguru saya kepada penulis skenario andal, Musfar Yasin, kala bergabung lewat dunia maya dalam sebuah proyek penulisan skenario film televisi. Jadi jangan heran kalau di bagian awal buku ini saya coba secara ringkas menampilkan beberapa potong sejarah yang akan menjadi latar belakang peristiwa proklamasi, seperti istilah teaser dalam skenario film. Lalu saya tampilkan secara umum latar belakang para pelaku sejarah proklamasi supaya para pembaca bisa memahami kenapa mereka mengambil sikap tertentu menjelang proklamasi. Sebagai jalan menuju klimaks, saya ceritakan secara detail rangkaian mosaik fakta sekitar proklamasi sampai kemudian terjadilah peristiwa 17 Agustus 1945 sebagai puncaknya. Di bagian akhir, saya tampilkan secara ringkas akhir masa para pelaku sejarah proklamasi supaya kita semua mendapat gambaran bahwa sifat kepahlawanan ternyata harus dilihat sepanjang rentang masa hidup seseorang, bukan hanya pada periode sejarah yang menguntungkannya saja.

Calon buku itu pun jadi sudah, tepatnya di akhir tahun 2010. Saya memang berniat menyelesaikan buku itu sebelum keberangkatan saya ke Perancis dalam rangka menempuh program pendidikan sertifikasi yang berkaitan dengan pekerjaan saya. Dan di sinilah cerita klasik penerbitan buku pertama selalu berulang. Dua tahun lebih ternyata tidak cukup lama untuk mendapatkan penerbit yang bersedia menerbitkan buku bertema sejarah ini. Satu persatu dari penerbit yang saya hubungi menolaknya bahkan ada yang tidak memberikan tanggapan sama sekali.

proklamasi-rekonstruksi

Tahun 2013 barulah ada jalan untuk melahirkan buku ini. Tersebutlah Penerbit Matapadi Pressindo dari Yogya yang memberikan respon. Penerbit yang mengambil spesialisasi menerbitkan buku bertema sejarah dan militer ini kemudian menyatakan bersedia untuk menerbitkan buku ini. Semuanya berakhir melegakan, buku pertama ini akhirnya akan diterbitkan di pertengahan bulan Mei 2013 ini.

Di akhir tulisan ini ijinkan saya untuk mengumumkan bahwa buku pertama saya akan segera hadir di toko-toko buku langganan Anda. Judulnya adalah Proklamasi – Sebuah Rekonstruksi, sebuah buku non fiksi bertema sejarah tapi ditulis dalam gaya santai dan popular sehingga Anda tidak perlu mengernyitkan dahi kala membacanya. Dengan tebal sekitar 342 halaman, buku ini dibanderol oleh penerbit dengan harga Rp 70.000,- per eksemplarnya. Bagi yang tertarik untuk mendapatkannya secara online silakan mengirimkan email ke [email protected], tentu saja harga tersebut belum termasuk ongkos kirim.  Tersedia pula kaos T-shirt dengan desain mirip sampul buku yang ditawarkan terpisah.

Walaupun kecil, semoga kehadiran buku ini akan bermanfaat untuk menambah wawasan kebangsaan kita semua. Amin.

 

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 13 Mei 2013)

 

30 Comments to "Segera Terbit: Proklamasi – Sebuah Rekonstruksi"

  1. soewarno  5 October, 2013 at 05:58

    Saudara Osa Kurniawan Ilham Yth,
    Terdapat kejanggalan dalam uraian perjalanan Bung Karno, Bung Hatta, dokter Radjiman memenuhi panggilan Laksamana Terauchi ke Dalath:
    1. Tanggal 09 Agustus 1945
    • Berangkat dari Kemayoran jam 05.00 pagi : ” Pesawat butut ini akhirnya meninggalkan Jakarta jam 5 pagi untuk memulai sebuah penerbangan yang berbahaya” (hal 121)
    • Sampai di Singapura malam : ”Karena berbahaya melakukan penerbangan malam maka pesawat mendarat di Shonanto” (hal 122)
    Komentar : Meskipun pada waktu itu pesawat belum secanggih dan secepat sekarang, tetapi untuk jarak Jakarta – Singapura tidak mungkin memerlukan waktu sebanyak itu, lebih 12 jam. Paling 3 – 4 jam sudah sampai. Lagi pula kalau terlalu lama juga bahan bakarnya bisa tidak cukup.
    2. Tanggal 10 Agustus 1945
    • “Pesawat kembali tinggal landas dari lapangan terbang Singapura menuju Saigon” (hal 124). Tidak disebutkan waktunya. Tetapi logikanya pagi hari.
    • Karena lapangan udara Saigon dilanda banjir, dan mau mengubah rute ke Kotabaru, Malaysia ada masalah kemungkinan kekurangan bahan bakar, maka pesawat akhirnya mendarat pada lapangan darurat di kota kecil Rottan, dekat Saigon pada jam 7 malam.
    Komentar : Juga terdapat kejanggalan masalah waktu terbang yang terlalu lama untuk jarak yang sedekat itu. Apa tidak terdapat kekhilafan?

    Jakarta, 4 Oktober 2013
    THE SOEKARNO FOUNDATION.COM

  2. soewarno  4 October, 2013 at 13:25

    Saudara Osa KI Yth,
    Terdapat kejanggalan dalam uraian perjalanan Bung Karno, Bung Hatta, dokter Radjiman memenuhi panggilan Laksamana Terauchi ke Dalath:
    1. Tanggal 09 Agustus 1945
    • Berangkat dari Kemayoran jam 05.00 pagi : ” Pesawat butut ini akhirnya meninggalkan Jakarta jam 5 pagi untuk memulai sebuah penerbangan yang berbahaya” (hal 121)
    • Sampai di Singapura malam : ”Karena berbahaya melakukan penerbangan malam maka pesawat mendarat di Shonanto” (hal 122)
    Komentar : Meskipun pada waktu itu pesawat belum secanggih dan secepat sekarang, tetapi untuk jarak Jakarta – Singapura tidak mungkin memerlukan waktu sebanyak itu, lebih 12 jam. Paling 3 – 4 jam sudah sampai. Lagi pula kalau terlalu lama juga bahan bakarnya bisa tidak cukup.
    2. Tanggal 10 Agustus 1945
    • “Pesawat kembali tinggal landas dari lapangan terbang Singapura menuju Saigon” (hal 124). Tidak disebutkan waktunya. Tetapi logikanya pagi hari.
    • Karena lapangan udara Saigon dilanda banjir, dan mau mengubah rute ke Kotabaru, Malaysia ada masalah kemungkinan kekurangan bahan bakar, maka pesawat akhirnya mendarat pada lapangan darurat di kota kecil Rottan, dekat Saigon pada jam 7 malam.
    Komentar : Juga terdapat kejanggalan masalah waktu terbang yang terlalu lama untuk jarak sedekat itu. Apa tidak terdapat kekhilafan?

    Jakarta, 4 Oktober 2013

  3. Drs. Soewarno  30 September, 2013 at 15:26

    Saudara Osa Kurniawan Ilham Yth,
    Buku Proklamasi, sebuah rekonstruksi, hasil jerih payah dan ketekunan yang luar biasa; buku yang paling komprehensif dan detail meriwayatkan proklamasi; buku yang bukan hanya akan berguna untuk anak-cucu penulisnya, tetapi juga untuk bangsa dan negara ini. Heibat !!!
    Tetapi karena penulisnya bukan orang yang mempunyai latar belakang pendidikan sejarah, tidak berprofesi di lingkungan sejarah, melainkan seorang teknisi lulusan ITS yang bekerja di Cilegon dan Balikpapan di bagian teknik, tentu tidak luput dari kekurangan dan kekhilafan.
    Kekurangan penting yang perlu diperhatikan, menurut kesan saya, antara lain ialah dalam menilai sumber sejarah, dan acuan metode penulisan sejarah. Mudah-mudahan kesan saya ini tidak terlalu subyektif yang dipengaruhi oleh pengalaman pribadi saya. Saya sendiri adalah peminat sejarah yang tidak berlatar belakang pendidikan sejarah atau berprofesi di lingkungan sejarah.
    Saya yakin dan berharap, saudara tidak keberatan untuk menyempurnakan lebih lanjut buku yang sudah bagus tersebut. Dan bersama ini saya sampaikan beberapa catatan kecil yang saya ambil dari pendapar pakar sejarah.
    Selamat berkarya.

    Jakarta, 1 Oktober 2013

    Soewarno
    THE SOEKARNO FOUNDATION.COM
    [email protected]

    SUMBER SEJARAH
    1. DOKUMEN (CATATAN), SEPERTI ARSIP
    2. BENDA-BENDA PENINGGALAN MASA LALU
    3. SAKSI SEJARAH YANG MELIHAT ATAU DALAM KEDUDUKAN DAPAT MEMBERI KETERANGAN
    4. PELAKU SEJARAH, SEJAUH BERDASARKAN KEJUJURAN ATAU ITIKAD BAIK (PERLU KOROBORASI)

    METODE PENULISAN SEJARAH
    1. HEURISTIK, mencari dan menemukan sumber sejarah,
    2. KRITIK EKSTERN, pengkajian atas kebenaran asal sumber,
    3. KRITIK INTERN, pengkajian atas kebenaran isi sumber,
    4. INTERPRETASI atas informasi dari sumber sejarah sehingga diperoleh makna yang tersirat, bukan hanya yang tersurat. Interpretasi dapat berupa analisis dan sintesis,
    5. KOROBORASI: pengukuhan atau dukungan atas sesuatu sumber,
    6. HISTORIOGRAFI atau PENULISAN SEJARAH.

    JAKARTA, 22 M

  4. Osa KI  14 May, 2013 at 11:21

    @Mas JC,
    Makasih banyak ya. Mas JC dan mas ISK sudah banyak membantu sejak 2 tahun lalu untuk penyusunan buku ini. Bahkan masih mau digangguin lagi untuk memberikan endorsement di buku ini. Sekali lagi terima kasih. Moga-moga ada kesempatan untuk bertemu dan mendiskusikan banyak hal.

    Salam,
    Osa KI

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 May, 2013 at 22:19

    Walaah….mBak Probo menyebut sumber atau tidak biarkan kebebasan seseorang saja. Yang penting saya ke Jogja gak naik bis malam “Sumber Djaja”. Sering dioper di Purwekerto…. hahahaha..

  6. probo  13 May, 2013 at 21:58

    ISK, Komen 10.percaya 100% kok……yang di Indo gengsi menyebut sumber referensi ya?

    sampai ketemu di Daerah Istimewa Yogyakarta

  7. J C  13 May, 2013 at 21:46

    Mas Osa, saya senang, bangga, terharu, dan campur aduk perasaan lainnya. Walaupun belum pernah bertemu langsung dengan mas Osa, tapi berinteraksi dan mengenal mas Osa di sini, sepertinya kita sudah kenal bertahun-tahun dan kalau ketemu saya yakin akan langsung klik dengan segala macam topik. Saya mengucapkan terima kasih sudah mendapat kehormatan luar biasa untuk sekedar menuliskan sebaris-dua kesan saya membaca buku ini…

    Buku ini memang DAHSYAT dan layak menjadi koleksi!

  8. Linda Cheang  13 May, 2013 at 16:56

    kalo udah terbit, bagi, duonk

  9. Osa KI  13 May, 2013 at 14:38

    Benar Bu Probo,
    Tulisan mas ISK tentang proklamasi begitu menginspirasi banyak orang lho.
    Bahkan acara Mata Najwa juga sering mejeng tulisan mas ISK

    Salam,
    Osa KI

  10. Osa KI  13 May, 2013 at 14:35

    @Mas Paspampres,
    Kalau pesan lewat online akan dapat tanda tangan dari penulisnya Mas, bukan dari penerbitnya

    Salam,
    Osa KI

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.