Shelly

Chandra Sasadara

 

Artikel sebelumnya:

Nirwana (http://baltyra.com/2012/11/20/nirwana/)

Ratna (http://baltyra.com/2013/04/25/ratna/)

 

Shelly tidak punya pilihan selain menikahi Nirwana. Hanya dengan menikahinya ia bisa dekat dan mengikuti perkembangan jiwanya. Nirwana sedang berada di antara hidup dan mati setelah mengetahui bahwa Ratna, perempuan yang selama ini menggunakan jasa seksnya adalah ibu kandungnya. Sudah berbulan-bulan laki-laki itu tidak dapat diajak bicara. Semua daya fisik yang dimiliki tidak tersisa setelah peristiwa itu. Ia hanya diam dengan mata kosong, Nirwana seperti kehilangan daya hidup.

Niat untuk menikah dengan Nirwana pernah disampaikan oleh Shelly kepada bapaknya. Namun orang tua itu tidak merestui pernikahan yang ia rencanakan. Nirwana bukan hanya bekas gigolo yang meniduri ibunya sendiri, tapi laki-laki itu juga dalam keadaan terganggu jiwanya, kata bapaknya saat itu “laki-laki seperti itu tidak pantas menjadi pendamping hidupmu”. Penolakan bapaknya bukan tidak benar. Shelly memahami alasan penolakan tersebut sebagai sesuatu yang masuk akal.

Bagi Shelly, menolong Nirwana bukan semata karena laki-laki itu dalam keadaan limbung dan kehilangan semangat hidup. Namun ia juga ingin membalas cinta dan kebaikan yang selama ini diberikan oleh Ratna terhadap dirinya. Di mata Ratna, Shelly yang hanya bekerja sebagai asisten pribadi tidak pernah diperlakukan layaknya orang suruhan. Majikannya itu memperlakukan dirinya seperti anak kandungnya sendiri. Bu’ Ratna adalah ibu kandung Nirwana, apa salahnya membalas kebaikan seseorang kepada anaknya pikir Shelly.

Perempuan cantik itu tidak dapat memungkiri. Selain alasan membalas kebaikan Ratna, ia juga punya perasaan khusus kepada Nirwana. Sejak pertama kali bertemu dengan laki-laki itu di pintu kamar hotel, hatinya terbakar api cinta. Apalagi ketika laki-laki itu menyampaikan pujian untuk dirinya secara langsung di depannya. Shelly masih ingat kalimat itu, “anda terlalu muda dan cantik untuk memesan orang sepertiku”. Kalimat yang membuat hatinya berloncatan. Hanya karena Nirwana adalah laki-laki “milik” majikan sehingga dirinya tidak bisa berhubungan secara terbuka.

Tak urung, sesuatu yang diharapkan pun terjadi juga. Antara dirinya dan Nirwana, di bekakang Ratna sebagai “pemiliknya”. Malam yang membuat hari-harinya bergetar kalau mengingatnya. Pantas begitu banyak perempuan dalam sosialita Bu’ Ratna yang ingin merasakan tubuh dan wangi keringat Nirwana pikir Shelly. Dekapan, pijatan, sentuhan, belaian, ciuman dan gigitan Nirwana yang menghipnotis. Ah Nirwana.

Berkali-kali dirinya terus managih dan menagih untuk bertemu dengan Nirwana. Shelly merasa bahwa laki-laki itu bukan hanya milik majikannya, namun juga miliknya. Namun semua telah berubah, Nirwana sekarang hanya tubuh yang tidak lagi punya jiwa.  Seorang laki-laki yang hanya bisa diam dan tidak lagi sanggup berbicara. Shelly masih berharap Nirwana bisa sembuh. Bisa menemukan lagi semangat hidupnya. Kemungkinan itu ada kalau dirinya menjadi pendamping hidupnya secara total. Menikahinya adalah pilihannya, tidak ada cara lain. Perempuan itu berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa pilihan itulah yang paling benar.

*****

Telah dua kali surat panggilan dari kantor notaris datang dan baru sekarang Shelly bisa menemui notaris yang telah ditunjuk oleh Ratna untuk mengurus semua harta warisan dan wasiat yang ditinggalkan majikannya. Ia sendiri merasa bukan siapa-siapa dalam lingkaran keluarga Ratna dan Suaminya. Menurut Shelly, kalau pun ada orang yang paling berhak mendapat warisan dari Bu’ Ratna tak lain adalah Nirwana, ia anak satu-satunya. Majikannya itu tidak punya anak dengan suaminya yang sekarang. Namun tidak mungkin menghadirkan Nirwana. Laki-lali itu tidak dapat bertindak sebagai subjek hukum karena jiwanya yang labil.

Mungkin dirinya hanya mewakili Nirwana terkait dengan harta warisan dan surat wasiat Bu’ Ratna pikir Shelly. Tapi mengapa harus diwakili, bukankah notaris bisa menunggu sampai Nirwana sembuh dan bisa bertindak sebagai subjek hukum sendiri. Pertanyaan itu dibiarkan menggantung. Shelly tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Apakah ia akan bertindak sendiri sebagai subjek hukum atau mengampuh Nirwana. Ia tak peduli. Baginya yang penting bisa datang di kantor notaris yang telah tertunda beberapa kali. Apapun yang akan dijelaskan oleh notaris tidak akan jadi masalah.

Telah menunggu di ruang tamu kantor notaris orang yang sangat dikenalnya, ia adalah duda Ratna. Shelly dan mantan suami majikannya itu saling sapa dan bertanya tentang kabar masing-masing. Memang sejak enam bulan kematian majikannya yang tragis itu dirinya sudah jarang ketemu dengan duda Ratna.  Sekilas laki-laki tambun itu seperti menyesali kematian  Ratna. Namun bagi Shelly, laki-laki itu telah membunuh istrinya dengan hasil uji DNA dan menghancurkan jiwa Nirwana hingga dalam keadaan antara hidup dan mati di rumah sakit jiwa.

Sebenarnya Shelly juga menyadari tidak sepantasnya dirinya mempersalahkan duda Ratna. Laki-laki itu berhak untuk mengatahui dan mencegah istrinya dekat dengan laki-laki lain, apalagi berhubungan dengan seorang gigolo. Tidak ada salahnya hal itu dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya. Tapi kematian mengenaskan yang dipilih Ratna tak urung membuat hati Shelly tersayat. Bagi Shelly, Ratna adalah ibunya. Namun apa yang akan terjadi kalau suami Ratna tidak melakukan uji DNA. Apakah hubungan birahi antara ibu dan anak itu akan terus berlanjut. Shelly tidak dapat membayangkan.

*****

Seorang perempuan usia lima puluhan memotong pembicaraan Shelly dan duda Ratna di ruang tamu.  Ia memperkenalkan diri sebagai notaris yang telah ditunjukan oleh Ratna untuk mengurus aspek hukum harta peninggalan dan surat wasiat.

“Ada satu surat memuat pembagian warisan yang telah dibuat oleh Bu’ Ratna di depan notaris dan dua surat wasiat.” Notaris itu mulai menjelaskan sambil membuka map warna biru tua.

“Satu surat wasiat untuk Bapak Nirwana dan satu lagi untuk Bu’ Shelly Maruti.” Jantung Shelly berdegup lebih cepat ketika namanya disebut sebagai penerima surat wasiat dari Ratna. Begitu baiknya Bu’ Ratna, hanya seorang pesuruh seperti diriku pun mendapat surat wasiat, pikir Shelly.

Notaris itu membacakan isi surat warisan. Perempuan cantik itu berkeringat dingin ketika notaris menyebutkan bahwa dirinya termasuk yang menerima warisan Ratna. Tidak pernah berpikir akan dapat warisan peninggalan majikannya. Mendapat surat wasiat saja dirinya sudah senang. Ini mendapat warisan dari  Bu’ Ratna. Oh Tuhan mimpi apa aku, batin Shelly.

Cukup banyak, bahkan sangat banyak. Notaris itu menyerahkan kunci ganda deposit box, sertifikat hak milik villa di Puncak dan semua perhiasan yang ditinggalkan Ratna sebelum meninggal dunia. Campur aduk hati Shelly, tidak tahu apakah harus senang atau sedih. Sedih mengenang nasib tragis yang telah dipikul oleh majikannya, seorang perempuan yang begitu baik. Sedih karena nasib Nirwana yang belum menemukan daya hidupnya. Sambil menahan haru, perempuan itu bergegas pulang untuk membaca surat wasiat yang ditulis oleh Ratna khusus untuk dirinya.

*****

Dear Shelly Maruti,

Aku telah tenang di pembaringan terkahir ketika surat ini kau baca. Surat ini bukan berisi tentang apa yang aku mau, tapi tentang apa yang telah aku layari sepanjang hidupku. Ini kisahku yang hanya aku bagi kepadamu. Kepada sesama perempuan. Kapada kau, orang yang begitu dekat denganku. Kepada kau orang yang begitu aku cintai.

Shelly, sebelum kau lihat aku bergelimang kekayaan dan mencecap semua kenikmatan dunia, aku hanya seorang perempuan buangan. Aku dibuang oleh orang tuaku karena hamil di luar nikah di usia yang masih sangat muda. Usiaku pada saat itu delapan belas tahun ketika aku meninggalkan Kota Sibolga, daerah asalku. Aku dititipkan oleh orang tuaku di rumah nenekku di Batang Toru, kecamatan kecil di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan. Orang tuaku adalah guru terpandang di kota asalku, dan mereka tidak mau mendapat malu dari anaknya yang hamil tanpa suami.

Aku tidak membantah ketika keinginanku untuk kuliah di Medan tidak mendapat ijin dari orang tua. Tapi aku melawan. Aku berhubungan dengan pacar SMA-ku hingga hamil, itu adalah bentuk perlawanan yang bisa aku lakukan. Perlawanan itu yang membuat aku terlempar di Jakarta. Aku tinggalkan bayiku yang masih merah di rumah nenek. Bayi itu yang sekarang kau kenal bernama Nirwana. Laki-laki tampan yang mewarisi kulit kakeknya, wajah neneknya dan kelembutan bapaknya.

Sepanjang perjalanan aku menangis, menangisi bayi merah yang aku tinggalkan di rumah nenek. Bertahun-tahun aku masih menangisi bayi itu. Bahkan aku sendiri lupa bahwa nasibku juga sangat pahit pada tahun-tahun awal di Jakarta. Hampir semua pekerjaan perempuan pernah kulakukan sebelum aku kenal dengan laki-laki yang akhirnya menjadi suamiku yang kau kenal sekarang.

Aku pernah kenal seorang laki-laki. Ia penjaga keamanan tempat hiburan di mana aku kerja. Ia sangat baik, melindungiku dari gangguan laki-laki yang sering memerasku. Kami hidup satu rumah tanpa ikatan pernikahan. Hidup seperti suami istri, menikmati seks seperti pasangan sehati dan berbagi segala kepahitan bersama. Kami disatukan oleh nasib yang sama sebagai sesama perantau di ibu kota.  

Hamil untuk kedua kalinya tanpa ikatan pernikahan. Aku tidak menyesal, sebab aku sadar resiko yang harus ditanggung. Saat itu yang aku pikirkan adalah menyelamatkan nasib anak di kandunganku. Tidak mungkin anak yang akan aku lahirkan hidup dari pekerjaanku di dunia hiburan malam. Pendapatanku tidak seberapa. Sedangkan laki-laki yang saat itu hidup satu rumah denganku, bapak bayi yang aku kandung juga tidak bisa diandalkan. Ia adalah seorang bapak dan suami di kampungnya.     

Shelly berhenti membaca. Dadanya sesak, hatinya berombak. Air matanya bercucuran, giginya beradu. Untuk sesaat ia merasa wajah Ratna begitu dekat di depannya. Ingin disentuh. Wajah itu tersenyum getir. Ia berniat untuk tidak membaca lanjutan surat itu. Membakarnya jauh lebih baik pikirnya. Secara bergantian bayangan wajah Nirwana dan Ratna menghampirinya. Surat itu diremas, dilempar di tumpukan pakaian.

*****

Benar-benar membuatnya tidak bisa tidur. Isi surat wasiat tentang kisah masa lalu majikannya itu tidak bisa beranjak dari pikirannya. Shelly mencari surat kumal yang telah dilempar di antara tumpukan pakaian. Ia mempertimbangkan untuk melanjutkan baca atau membakarnya. Surat itu terlalu berat, terlalu pahit. Namun tarikan untuk membaca semua isi surat juga sangat kuat.  Dibukanya surat itu, dirapikan dari kusut. Ia tarik nafas dalam-dalam.

Shelly, yang aku pikirkan saat itu adalah mencari laki-laki mapan yang mau menjadi ayah bagi anak yang kukandung. Sekali lagi, aku tidak bisa berharap dari laki-lali yang hidup satu atap denganku saat itu. Aku perempuan muda dan menarik. Dengan modal itu aku yakin bisa mendapatkan ayah bagi anak dalam kandunganku. Aku ingin mengubah nasibku. Aku ingin menghapus jejakku sebagai perempuan yang hidup di dunia malam. Menghapus masa-masa pahit sebagai perempuan rantau.

Tidak mudah. Umumnya laki-laki yang aku dekati hanya ingin tubuhku meskipun aku mengatakan sedang hamil. Bahkan beberapa di antara  bersedia memberi apapun asal mau menjadi istri simpanan. Aku bertekad tidak akan memilih jalan yang penuh resiko. Saat itu aku berpikir menjadi istri simpanan adalah pilihan beresiko. Aku mau menjadi istri resmi dari seorang laki-laki yang mapan secara ekonomi. Firman Abbas, laki-laki yang telah lama mendekatiku akhirnya menjadi pilihanku. Ia belum menikah, kariernya bagus meskipun tidak terlalu tampan.

Namun laki-laki yang kamu kenal sebagai suamiku itu tidak menginginkan anak dalam kandunganku. Ia ingin menikahiku tapi anak yang aku kandung harus diurus oleh orang lain. Berhari-hari aku menjerit, menangis dan meratapi nasib. Mengapa harus terjadi dua kali, mengapa tidak bisa menimang dan membesarkan anak yang aku lahirkan sendiri.  Namun aku masih punya sedikit harapan, dengan menjadi istri Firman Abbas setidaknya anak yang aku kandung memiliki jaminan hidup sebab laki-laki itu bersedia memberikan apa saja yang aku minta termasuk biaya hidup, pendidikan dan semua yang dibutuhkan anak itu sampai menikah. 

Anak itu lahir sesar di rumah sakit ternama di Jakarta. Aku tidak sempat melihat bayi itu, sebelum sadar dari pengaruh obat bius bayi itu telah dihilang. Dadaku hampir retak, aku menangis berminggu-minggu di salah satu ruang perawatan mewah di rumah sakit. Semua atas biaya Firman Abbas, calon suamiku. Aku hampir membatalkan pernikahan dengan Firman Abbas karena sakit hati lantaran telah mengambil bayiku sebelum aku melihat wujudnya. Firman menjelaskan, jika sampai aku melihat bayi itu maka hatiku akan lebih sakit ketika harus berpisah. Bayi itu terlalu cantik dan lucu untuk berpisah dengan ibunya kata Firman Abbas menambahkan. 

Shelly terisak, berurai air mata. Ia memilih mengambil waktu jeda sebentar. Dadanya sesak.  Butuh beberapa saat untuk meneruskan baca surat dari majikannya itu. Perempuan itu mengingat senyum dan cara tertawa majikannya untuk mengusir kesedihan yang mendera hatinya. Shelly tersenyum sesaat. Kata demi kata dalam surat itu pun mulai menjejali kesedihan dalam hatinya. Shelly kembali larut dalam kehidupan masa lalu Ratna.

*****

 Tidak ada kerabat dari pihakku yang hadir dalam pernikahan sederhana itu. Hanya orang-orang yang aku kenal di Jakarta, keluarga dan sahabat Firman Abbas yang hadir. Mereka bahagia, aku pun merasakan hal yang sama. Itu adalah pernikahan pertamaku setelah aku melahirkan dua anak dari rahimku.

Setiap bulan aku memastikan bahwa anak yang aku lahirkan di Jakarta itu mendapatkan haknya. Berkali-kali Firman, suamiku itu meyakinkanku bahwa anak yang aku lahirkan tidak akan hidup susah. Aku menghitung usia anak itu. Ketika kenaikan kelas, ketika masuk pada jenjang sekolah berikutnya sampai kuliah. Aku memang belum pernah melihat wajahnya, tapi kapan pun aku menghendaki informasi tentang anak itu, aku selalu mendapatkan.

Ketika anak itu duduk di usia sekolah dasar, keinginanku untuk bertemu begitu besar. Namun saat anak itu masuk jenjang sekolah menengah pertama aku mulai ketakutan untuk bertemu. Aku takut kalau anak itu menolakku. Aku takut menyakiti hatinya. Aku memilih untuk diam. Aku lebih menerima mendapat julukan ibu yang khianat dari pada menghancurkan hatinya. Aku tidak mau ia mengetahui kenyataan pahit tentang dirinya. 

Setelah puluhan tahun, persisnya dua hari sebelum hasil uji DNA Nirwana aku terima. Suamiku menceritakan siapa anak itu, di mana ia tinggal dan siapa namanya. Ternyata aku telah kenal anak itu. Anak yang aku lahirkan itu ternyata seorang perempuan cantik yang selama ini dekat denganku tanpa aku sadari. Anak perempuan itu adalah kau. Kau Shelly Maruti…

Bumi tiba-tiba berguncang hebat. Langit gelap gulita dan berderak. Shelly hilang kesadaran. Bahkan perempuan itu tidak sempat menangisi kenyataan. Kertas surat wasiat yang berada dalam genggamannya itu jatuh bersama jiwa yang melayang entah kemana.

 

70 Comments to "Shelly"

  1. triyudani  21 May, 2013 at 12:30

    aduh…..aku ikut limbung membacanya……

  2. Chandra Sasadara  16 May, 2013 at 11:09

    Bos menyamar itu ga biasa.. tapi bupati/walikota menyamar itu biasa.. mereka menyamar agar bisa masuk di tempat hiburan malam..ehehehehe

  3. Chandra Sasadara  16 May, 2013 at 11:07

    Bu’ Nur : tidak ada manusia yang memilih jalan itu, bahkan Ratna sendiri mungkin juga tidak ingin masuk di dalam lorong gelap itu…

  4. Chandra Sasadara  16 May, 2013 at 11:06

    betul Ensie..itu cermin. penting menanamkan nilai moral kepada anak2..

  5. Linda Cheang  16 May, 2013 at 10:11

    Ibu Matahari : terima kasih untuk koreksinya. Perilaku incest seperti yang si aopak itu sekarang mulai banyak terjadi di Indonesia, Mungkin juga sudah karena sudah semakin banyak pembiaran. Berita paling akhir yg sempet aku dengar di berita TV, 1 siswi SMU yang hamil saat mengikuti Ujian Nasional karena dihamili kakek kandungnya sendiri.

    Oom Dj : Bos-bos pabrik mau turun ke bawah secara menyamar?? Itu adalah hil yang mustahal terjadi di Indonesia. Contoh : selama 8 tahun aku kerja di pabrik, nggak pernah sekalipun para bosnya mau turun ke bawah… apalagi menyamar segala….

  6. Nur Mberok  16 May, 2013 at 07:40

    so… complicated ……

    Itukah hidup ????

  7. ensie  16 May, 2013 at 02:55

    Cermin untuk kita, bahwa penanam nilai-nilai agama yang kuat akan mencegah perbuatan maksiat. Ya mudah”an ceritanya berakhir di Ratna.

  8. Chandra Sasadara  15 May, 2013 at 17:56

    Pak DJ : stuju dengan koreksinya.. tidak setiap lingkungan kluarga .. Maaf. bermaksud menulis ” setiap lingkungan sosial dan bisa jd kluarga” mauliate godang (terima kasih banyak)

  9. Chandra Sasadara  15 May, 2013 at 17:53

    Bu’ Elnino : saya juga senang menulis ttg wayang.. terima kasih atas apresiasinya..

  10. Chandra Sasadara  15 May, 2013 at 17:52

    Alvina : spertinya cerita ini berakhir di Shella

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *