Mengejar Nomor Antrian

Risma Purnama

 

Sudah lama saya ingin membuat passport sebenarnya,  persiapan siapa tahu ada undangan kopdar atau dapat tiket gratis jalan-jalan keluar negeri, ya, siapa tahu! Beberapa kali sahabat saya menawarkan paket perjalanan ke luarnegeri plus pengurusan passportnya, yang dikenai biaya lewat calo sekitar  Rp.600.000. Tapi saya tak berminat. Saya pikir nanti saja kalau ada waktu saya mau urus sendiri. Selama syarat dan prosedur jelas dan berkas-berkasnya saya miliki dan bisa saya penuhi, kenapa juga saya harus keluar biaya lebih lewat calo. Kalau urus sendiri hanya kena biaya sekitar Rp.200.000. Kan lumayan murah! Tapi ya, resiko harus siapin waktu bolak-balik ke kantor imigrasi.

Setelah saya membaca semua persyaratan di situs www: imigrasi.go.id, sayapun mendaftar online dan saya terima tanda pra permohonan lewat email saya. Di situ tertera agar saya hadir antara jam 8.00 sd 11.00 WIB untuk mengambil nomor antrian di kantor imigrasi untuk melakukan pendaftaran ulang dan membawa berkas-berkas asli saya! Saya pikir waktunya lumayan panjang, saya datang agak siang jam 10.30 saya sampai di sana, setelah ngebut bareng tukang ojek! Berharap saya tidak telat sampai di kantor imigrasi. Tapi apa hasil, rupanya jam 9.30 loket pengambilan nomor antrian sudah ditutup! Kenapa, kan batasnya jam 11.00, tanya saya, agak kesal juga, jauh-jauh datang loket sudah tutup! Rupanya nomor antrian hanya dibatasi quota 100 orang, jika sudah terpenuhi maka, loket ditutup meskipun masih pagi! Kalau mau dapat nomor antrian, datangnya jam  pagi mbak, kalau boleh sebelum kantor buka, karena yang antri banyak, kami buka jam 7.30, kata petugas Customer Servicenya. Ibu-ibu di sebelah saya malah datang dari luar kota, ga dapat nomor antrian, terpaksa harus kembali besoknya, padahal sama seperti saya sudah mendaftar online. Rupanya tak ada bedanya apakah kita sudah mendapat surat pra permohonan atau mendaftar manual, quota nomor antriannya hanya 100 orang/hari. Bah! Banyak juga rupanya orang kita mau keluar negeri.

paspor

Oleh petugas yang melayani saya di loket paling depan menjelaskan bahwa, sebaiknya saya mencari kantor imigrasi terdekat dengan domisili saya saat ini! Nah ini dia pokok permasalahannya. Rupanya saya kekurangan informasi. Saya memilih lokasi kantor kehadiran saya di Jakarta Timur padahal saya tinggal di Karawaci Tangerang, karena saya pikir sesuai dengan alamat KTP dan KK saya di situlah saya harus mendaftar. Rupanya, saya juga bisa mendaftar di kantor imigrasi Tangerang, itu tidak jauh dari tempat tinggal saya. Oh, saya sudah berlari jauh, melewati macet dan ngebut bareng tukang ojek, dan saya salah alamat? Usaha saya untuk mengejar nomor antrian hari ini pun gagal total dibarengi hujan yang tak berhenti sepanjang saya berangkat ke Cipinang Jaktim sampai saya kembali ke Karawaci.

Di pintu keluar kantor imigrasi saya sempat melihat beberapa orang yang berdiri menyapa saya, bisa dibantu, mbak? Ah, itu mungkin calo, saya hanya menggeleng, melenggang pergi, saya sudah bertekad takkan menggunakan jasa calo. Hari ini mungkin saya belum beruntung, tapi saya yakin yang kedua kali saya pasti bisa mendapatkan nomor antrian, asal saya berangkat lebih pagi, subuh mungkin! Dan saya harus mendaftar ulang lagi secara online. Dengan jasa calo mungkin saya tinggal duduk manis bisa menerima passport saya, tapi bagi saya pengalaman mengurus sendiri itu yang paling penting dan tentunya lebih irit. Meskipun saya harus keluar tenaga dan waktu,  tulisan ini takkan menjadi kalau saya tak menjalani semua itu, hehehehehehe…

 

16 Comments to "Mengejar Nomor Antrian"

  1. Lani  15 May, 2013 at 22:36

    AKI BUTO : nampaknya di Indonesia malah lebih serba canggih ya………ada E-KTP……..E-PASPOR……trs pertanyaanku spt apa bentuknya? Tp dr sgl btk kecanggihan itu jgn diartikan memudahkan, malah mempersulit…….selain tentu saja biayanya amit2……..makane bagaimanapun jg para calo msh diperlukan, dan sebagian org Indonesia maunya tinggal trima jadi………tp ya ora maido, coba klu aturan ditaati, diikuti…….semuanya lancar………tp yo emboh taon piro????????

  2. Matahari  15 May, 2013 at 21:33

    Calo calo itu incomenya luar biasa pasti…dan …bebas pajak…karena incomenya hanya dia yang tau

  3. J C  15 May, 2013 at 20:57

    Passport sekarang lebih ribet. Di kebanyakan kantor imigrasi sudah pakai e-passport, yang biometric itu, tapi ribetnya luar biasa dan mahal. Kantor imigrasi setempat dekat tempat tinggalku sudah e-passport, harganya imbang kalau diurus via calo di kantor imigrasi lain tapi masih yang bukan e-passport. Ya mendingan kasih saja ke calo, tahu beres, lha wong urus sendiri e-passport ribetnya tidak tahan dan mbulet urusannya, kudu bolak-balik…

  4. Rismapurnamaa  15 May, 2013 at 11:34

    kalok pakai telp dulu, saya yakin huntingnya akan BUSY LINES terus, heheheehehehe…tapi, thanks God, upaya saya tak sia2, dah dapat tuh pasportnya, memang begitulah birokrasi kita, logika saya ya, di sana tuh ga sampai 50 orang di ruang tunggu, masa sih 100 nomor sudah habis, nah sisanya siapa yang ambil? bukan nuduh…tapi praktek adanya calo patut dicurigai, hehehehehehehehe

  5. Alvina VB  14 May, 2013 at 21:32

    Selamat jalan2 ke LN, Risma…..ditunggu ceritanya nanti….

  6. Matahari  14 May, 2013 at 18:06

    Saya juga paling anti dengan calo tapi ada satu kejadian yang membuat kami sekeluarga berterimakasih kepada calo…cukup sekali itu saja berterimakasih….saat saat genting…orang tua harus berobat ke LN…sebelumnya tidak pernah mau urus passport..buat apa kata mereka….sudah tua tidak perlu liburan seperti kalian kalian…tapi ke LN tidak sellau hanya liburan kan? Sakit…juga satu alasan kenapa banyak orang Indonesia ke LN..dan dengan bantuan calo…semua beres …terbang..berobat dan sembuh…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.