Untuk Kaleng Susu

Emi Suyanti

 

Suatu  hari ketika persediaan susu habis. Ujung jempol Emily sudah mulai terasa semutan, pegal dan baal. Mata minus satupun mulai pedas dan pandangan sedikit kabur. Diletakkan hand phone ke pangkuan. Lalu ia gerak-gerakkan kedua jempolnya untuk mengusir rasa kesemutan yang sangat tidak nyaman ini. Pemilik mata coklat ini mencoba mengedip-ngedipkan mata berharap penglihatannya kembali normal dan jelas. Semua usaha sia-sia, keadaan tidak berubah.  

“Ah… mungkin lebih baik istirahat saja sebentar mungkin keadaan akan kembali normal. Kusingkirkan hand phone kesayanganku dari pangkuanku dan kuletakkan di atas meja” gumam Emily sendiri.

Hand phone tua inipun mungkin juga sudah lelah, bodinya sudah terasa hangat. Hand phone murah ini begitu besar jasanya buat Emily, menemani perjuangan selama ini tanpa mengeluh sedikitpun.

Perempuan penyuka puisi ini sering memposting sajak-sajak sunyi dan sajak kaleng susu ke dinding Face Booknya atau di catatan Face Booknya. Baru saja Emily meposting puisi di dinding FB dengan hand phone bututnya yang berjudul:

SAJAK KALENG SUSU

sajak-sajakku tergerus goresan sunyi

di balik pintu dan di bawah langit langit kamar

bercerita tentang kesah yang tak jauh dari jiwa sunyi

ataupun celoteh dua putriku yang lucu dan pintar

sajakku adalah cerita kaleng susu yang harus ada setiap waktu

bukan hanya kalengnya namun isi kaleng susu itu

hanya cerita tentang ibu dengan kecintaannya

pada buah hati dan belahan jiwa

Sajakku bukanlah cerita

Tentang pengembaraan yang beribu kisah

atau berjuta warna dan penggalan perjalanan setapak

dan hutan rimba belantara jiwa

hanya tentang hujan di sepertiga malam

dan rintik embun yang bening menyejukkan

hanya tentang senja dengan jingga

yang membahana diantara senja

yang melembayung dimana matahari mengintip di ufuk barat

sajak-sajakku serupa dengan kaleng susu anak-anakku

pergi pagi pulang senja

demi susu kaleng dan masa depan mereka

yang kudo’a kan gemilang

susu kaleng atau kaleng susu

isi atau bungkus luarnya

yang ku ceritakan adalah kaleng beserta isinya

sajak sajak ku adalah cerita kaleng susu

perempuan pemilik sunyi dalam senandung kidung hati

SAJAK KALENG SUSU

ku buka kaleng bekas susu anakku yang bermerk x

lalu kutuang sajak-sajakku ke dalamnya

biar saja tersimpan dan memenuhi tumpukan kaleng – kaleng bekas itu

kelak anak-anakku yang membukanya

dan mengeluarkan dari sana

sajak-sajakku tersimpan di pojok gudang  lusuh bertumpuk debu

Jakarta,  Juni 2011

 

Tak lama kemudian terdengar.

“Bu, bubur si adik diberikan sekarang?” tiba-tiba mbak Jum pengasuh Valen, anak bungsu Emily yang baru berumur 9 bulan sudah berdiri di samping mamanya. Di tangannya ada mangkok biru kesayangan Valen.

“Hmm…. Ya deh, kasih sekarang saja “ Emily menjawab sedikit bingung.

“Ya bu”, mbak Jum menjawab dan sejenak kemudian punggungnya sudah tidak terlihat lagi di balik tirai yang memisahkan ruang tamu tempat Emily duduk dan ruang tengah sekaligus ruang makan dimana biasanya Valen di baringkan.

Disandarkan punggung Emily ke sofa lusuh tempat duduk selama ini. Kepalapun sejenak diistirahatkan di atas sandaran sofa agar leher yang sudah sedari tadi terasa pegal bisa juga ikut istirahat. Kepalanya yang sedikit menengadah membawa pandangan mata yang kabur pada kipas besar yang tergantung di plafon ruang tamu sempit itu. Kipas berbilah triplek terlihat makin kusam dalam pandang matanya yang masih juga sedikit kabur. Bilah kipasnya berputar pelan seakan menggambarkan berjalannya waktu. Hembusan anginnya terasa menggoyangkan rambut-rambut halusnya di atas kening yang terasa mulai panas karena terus berkonsentrasi dari tadi. Lalu dipejamkan matanya yang terlihat lelah.

Mungkin sudah lebih satu setengah jam Emily mengetik cerpen di dalam hand phone tua itu sejak pulang kantor tadi. Bahkan pakaian kantorpun belum sempat  ganti dengan baju rumah. Emily menuliskan cerpen di hanphone sejak computer kuno Pentium II  mulai sering ngadat dan akhirnya rusak sama sekali sejak tiga bulan yang lalu. Cerpen-cerpen ini biasanya  dikirim ke redaksi tabloid melalui email atau kadang melalui pengiriman file di Yahoo Messenger.

Dengan mengirim cerpen-cerpen ini ke tabloid Emily mendapat uang tambahan untuk membeli susu kaleng Valen dan kakaknya, Vanes, anak sulung Emily yang kelas satu sekolah dasar. Tadi karena terlalu asyik menulis sampai tidak begitu mendengar ketika Vanes berteriak sambil berlari minta ijin main keluar dan Emily hanya mengiyakan saja tanpa menanyakan kemana mainnya seperti biasa. Budi, suami Emily, bila sedang libur setelah dinas malam biasanya pada waktu seperti ini selalu mencoba menjauhkan anak-anak dari mamanya agar tidak terganggu. Tapi saat ini dia belum pulang kerja. Perempuan yang berasal dari Madiun itu masih ingat kemarin Budi mengingatkan untuk istirahat menulis di hand phone.

“Mah, istirahat dulu, nanti jempol mamah bengkak lho” Budi mengingatkan Emily dengan penuh sabar hawatir istrinya kelelahan.

“Sebentar sayang”. Jawab Emily singkat karena sambil mengetik.

Dari samping hand phone yang dipegang, Emily sempat melirik dan terlihat kaki Budi berdiri di sampingnya. Lantas Emily memandangnya sambil sedikit bermuka masam. Sejenak dihentikan ketikannya. Mengalihkan pandangan dari screen handphone ke wajah sang suami. Terlihat pandangan mata Budi yang jelas menyiratkan kekawatirannya namun di wajah itu juga menggambarkan rasa bersalahnya karena sampai hari itu tidak juga  mampu membelikan laptop bekas yang ditawarkan anak bosnya di kantor.

“Sebentar lagi, ayah tolong urusin Valen dulu deh” Emily mengulang jawaban dan melanjutkan mengetik. Budi biasanya tidak memprotes hal ini karena dia tahu dari tulisan-tulisan Emily ini telah terbukti sangat membantu keuangan yang selalu pas-pasan setiap bulannya meskipun kedua gaji mereka sudah digabungkan.

Memang sudah tiga bulan ini, Budi berusaha keras mencari uang tambahan untuk membeli laptop itu supaya istrinya tidak lagi menulis cerpen-cerpen dan puisi-puisi dengan handphone yang menyakitkan ini.

“Bu, adik nggak mau Jum suapin tuh” tiba-tiba suara mbak Jum membuyarkan lamunan Emily

“Kenapa?” tanyanya sambil membuka mata dan menegakkan punggung.

“Si adik selalu susah disuapin sama saya kalau sudah melihat ibu pulang kantor seperti ini “ mbak Jum menjawab sambil memperlihatkan mangkok bubur di tangannya yang masih penuh.

“Eeeaaa…. ” Sayup terdengar suara Valen di ruang makan seakan memprotes karena ditinggalkan sendirian di sana.

“Ya sudah nanti biar aku yang nyuapin Mbak”.

Emily sedikit kawatir dengan Valen. Sudah hampir sepuluh bulan kata-kata yang keluar dari mulutnya eeeaaa… eeeaaaa saja. Dulu Vanes pada seumuran Valen ini sudah bermacam-macam kata dan bunyi-bunyian bisa diucapkannya. Emily meraih hanphonenya. Kulihat di layar ponsel masih terlihat hasil ketikan cerpen yang belum usai.

“Ah, aku belum mensavenya, bisa-bisa kejadian kemarin-kemarin terulang lagi, tulisanku yang sudah aku buat dengan susah payah akhirnya hilang karena lupa tidak aku simpan ketika baterainya habis dan handphone mati saat kutinggal mengurusi pekerjaan rumah. ”

Emiliy bergumam senndiri lalu setelah menyimpan beranjak menyusul mbak Jum ke ruang tengah.

Ruang tengah rumahnya hanya berukuran empat kali tiga setengah meter. Udaranya lebih panas dibanding ruang tamu tempat ia duduk tadi. Ruangan ini sekaligus  menjadi ruang keluarga, ruang makan juga ruang bermain dan tidur siang bagi Valen dan Vanes. Ruangan terasa sempit karena meja makan dan rak televisi pemberian bosnya di kantor memenuhi ruangan ini. Di tengah terbentang tilam, kasur tipis, dimana kulihat Valen duduk memegang mainannya. Melihat mamanya masuk ruangan Valen mengangkat wajahnya memandangnya.

“Eaaa. . eaaaa. . ” teriak Valen gembira.

“Cayaaaang…. Kenapa anak mama nggak mau disuapin mbak …?” Emily berlutut di depannya.

Tadi pulang kantor memang Emily sempat menggendongnya sebentar kemudian diserahkan ke mbak Jum saat ingat  harus cepat menyelesaikan cerpen sebelum batas waktu sebelum penerbitan mendatang. Menulis memang menjadi satu-satunya hal yang bisa dilakukannya untuk menambah penghasilan keluarga di samping pekerjaan rutinitas di kantor. Emily bekerja hanya sebagai tenaga administrasi perusahaan keluarga. , sebuah perusahaan kecil jasa pergudangan.

Kesenangannya menulis puisi sudah kurasakan sejak masih di sekolah dasar. Dia bahkan memiliki buku khusus berisi puisi-puisinya sewaktu di sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Teman-temannya yang sedang jatuh cinta ataupun yang sedang cemburu biasanya memesan puisi-puisi padanya untuk mengungkapkan perasaannya. Mereka selalu mengatakan puisi Emily terasa lain, entah apa maksudnya.

Setelah menikah iapun terus menulis bahkan semakin produktif dengan semakin banyaknya referensi dari hasil tulisan penulis-penulis puisi terkenal. Puisi-puisinya makin berisi bahkan mengandung mistis, begitu komen-komen teman di jejaring social Facebook tempatnya menumpahkan karya-karya puisi yang seakan tidak berhenti mengalir di pikirannya.

Akhirnya tulisan Emily dikirimkan ke beberapa tabloid dan majalah setelah beberapa kali penolakan akhirnya berhasil diterbitkan. Sekarang sudah menjadi kegiatan rutinku untuk menambah penghasilan. Semakin deras pula ide dan inspirasi menulis. Beberapa seniman dan penulis senir yang aku coba ajak berkawan ternyata memberikan penilaian yang cukup baik pada tulisanku di Facebook. Bapak Ersis Warmansyah Abbas sang motivator pencetus gagasan Indonesia menulis selalu menyemangati untuk terus menulis. Slogan mari menulis beliau dengungkan hampir di seluruh kota. Melalu seminar-seminar dan workshop menulis dari kampus ke kampus,ke sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren. Sangat ku ingat kalimat-kalimat ini.

“Menulis itu melakukan,menulis itu membersihkan kerak-kerak yang mengendap di pikiran. Menulis itu berbagi dengan orang lain”

Petikan motivasi dari prof. Ersis Warman Abbas yang lebih sering dipanggil Pak EWA ini selalu menyebarkan virus menulis agar menular ke semua kalangan. Mulai dari anak sekolah,pembantu, ibu rumahtangga, wanita karir, mahasiswa, tukang parkir semua bisa berkesempatan menulis asal mau melakukan menulis dan tidak menundanya. Menulis memperbaiki diri.

Emily semakin bersemangat. Sampai pada akhirnya timbul keinginannya untuk membuat buku kumpulan puisi dan menerbikannya. Itu obsesi yang sampai detik ini semakin kuat mendesak dada dan pikiran. Namun juga belum terwujud. Jangankan untuk bikin buku puisi. Untuk membeli susupun masih kekurangan uang.

“Eaaaaa…” terdengar kembali suara Valen.

Emily terkejut, ketika tangan Valen yang kecil mencoba meraih dan menyentuh wajah mamanya. Aah rupanya bidadari kecil ini protes karena sang mama terlalu lama melamun sementara wajah Emily tepat di depan wajahnya. Matanya yang besar bulat dengan bola mata hitamnya menyiratkan pandangan yang jernih, tidak menghakimi, tidak menilai hanya memancarkan kekaguman dan persahabatan memandangku. Mulutnya yang tertawa lebar selalu memaksa Emily ikut tertawa dan lupa dengan segala masalah.

Bibirnya yang merah  basah karena liurnya yang masih selalu menetes. Pipinya ranum penuh, berwarna kemerahan menghiasi kulitnya yang lembut dan halus, yang selalu berhasil menariknya untuk selalu tidak bosannya menciuminya. Setiap mamanya mencium untuk yang kedua kalinya dari ciuman pertama, Valen selalu bereaksi membuka mulutnya dan mengarahkannya ke hidung mamanya seperti yang dilakukannya kini. Emily selalu membiarkan mulut mungil itu mengisap dan mencoba menggigit-gigit hidungnya dengan giginya yang kecil-kecil, semenatara tangan gemuknya mencoba mencengkeram pipi.

Digoyangkan hidungnya di antara kedua bibirnya sampai terrasakan air liurnya membasahi seluruh hidung Emily. Momen ini selalu memberikan sensasi indah dan bahagia yang selalu melebur segala gundah pikiran Emily  akan segala persoalan yang mendera. Malaikat kecil ini selalu memberikan sesuatu yang bahkan diapun pasti tidak menyadarinya.

“Valen, kaulah malaikatku kaulah yang selau menghidupkan kembali semangat mama untuk terus berjuang mencoba mewujudkan cita-cita suatu saat bisa menerbitkan buku sendiri”

“Valen nakal ya, tidak mau disuapin mbak. Sini mama yang suapin ya…. haaaak…. aku coba suapin anak mama yang pinter ini”

”Kalau mama tidak ada kenapa mau disuapin mbak, iiihhh …. . anak mama manja ya…?”

Meski awalnya seperti tidak mau, akhirnya Valenpun mau membuka mulut dan mencoba mengunyah buburnya meski hanya dengan gusinya karena giginya yang hanya empat buah di depan tentu tidak terlalu membantu mencerna bubur halusnya.

“Bu, ini susu adik sama kakak dah tinggal dikit lagi, besok juga sudah habis semua” kembali suara mbak Jum terdengar.

Mbak Jum menyodorkan kaleng susu Valen dan Vanes dengan sedikit memiringkannya  agar bisa melihat ke dalam isi kaleng. Emily menengok ke dalam kedua kaleng bergantian. Ah, benar, terlihat sebagian dasar kaleng yang berkilat karena isinya yang sudah hampir habis. Semua beban yang tadi sempat hilang karena kuluman Valen pada hidungnya kini mendadak muncul, membuncah di pikiran, menyerbu tak tertahankan seperti sebatalyon tentara musuh yang menyerbu masuk kedalam benteng yang telah runtuh dimana pasukan di dalamnya sudah tidak berdaya mempertahankan. Seketika rasa nyeri menyerang kepalanya di bagian kiri atas. Otak terasa kosong tidak menemukan jawaban apa yang harus  dia berikan.

“Apa saya beli ke supermarket sekarang Bu” kembali terdengar suara mbak Jum.

“Eeemm…. besok aja deh, biar sama saya aja mbak, atau nanti malam kalau ayah sudah pulang”, jawaban itu meluncur begitu saja tanpa tahu apakah benar bisa dia lakukan.

“Iya deh”, mbak Jum menuju dapur meneruskan membuat susu Valen. Emily melanjutkan menyuapi Valen yang masih saja bermain dan tertawa-tawa dengan bunyi eeaanya.

Susu Valen dan Vanes adalah anggaran terbesar dalam keuangan mereka. Setiap gajian, kedua jenis susu mereka ini yang selalu memenuhi tas belanjaan mereka. Menjadi muatan utama motor suami yang kadang hampir tidak memberi ruang lagi untuk membonceng di belakangnya saat pulang belanja.

Seusai belanja susu, biasanya mereka berhitung, berapa lama sisa gaji kami bisa bertahan untuk hidup sampai akhir bulan dengan memperhitungkan kebutuhan hariannya. Kalau bisa bertahan sampai lima hari menjelang gajian berikutnya itu sudah sangat beruntung. Keuangan yang tekor, tidak sampai ke akhir bulan, bukanlah hal yang aneh bagi kami.

Seminggu sampai sepuluh hari tekor adalah jadwal yang selalu hampir terjadi setiap bulannya. Dari sini Emily dan Budi akan menentukan langkah agar mendapat pengahsilan tambahan menutupi tekor harinya. Budi akan mencari kawannya yang perlu tenaga pengganti dinas malam dan Emily harus menulis puisi lebih banyak untuk dikirim ke tabloid. Dengan harapan agar mendapat honor.

“Yah, kalau nanti tulisan mama tidak berhasil dimuat, mama akan coba minta tambahan kasbon di kantor deh” aku mencoba mengajukan solusi masalah itu.

Solusi? Ah sebenarnya kasbon hanyalah menunda masalah saja, tapi hanya itulah yang bisa dilakukan bila nanti tulisannya ditolak.

“Kan yang bulan kemarin belum lunas dikembalikan ma, emang boleh minta kasbon lagi?” pertanyaan Budi ini tidak pernah terjawab, karena Emily sangsi juga akan keberhasilan usaha itu. “Nanti ayah saja yang cari deh” Budi mencoba mengurangi beban pikiran istrinya, tetapi tidak berhasil karena aku tau Budipun juga tidak selalu berhasil mendapat tambahan.

Sebenarnya Emily masih menyimpan sedikit uang sisa mendapat arisan kantor bulan lalu ditambah hasil budi ngobyek membantu pak Haji Sanusi menjual hasil panen empangnya. Simpanan ini mereka cadangkan untuk membeli laptop bekas itu yang adalah sarana utama untuk bisa menulis dengan baik. Jantung utama menghasilkan karya dan ungkapan inspirasi-inspirasi. Jalur utama menuju tercapainya cita-cita dan keinginan Emily menulis sebuah buku. Terkadang terjadi pertengkaran yang hebat antara Emily dan Budi saat tenggelam di dalam menulis dan menurut Budi Emily mengabaikan urusan rumah tangga.

“Ma, mama boleh saja menulis. Ayah juga tau tulisan mama membatu keuangan kita, tetapi jangan mengabaikan urusan rumah tangga dong” itu yang selalu menjadi protes Budi.

“Ah, kamu tidak tau. Kalau ini aku tuda semua bisa hilang. Otakku sudah sangat penuh dengan ide-ide tulisan yang sejak tadi terus bermunculan”

Emily ingin memprotesnya demikian, tetapi aku lebih memilih diam dan tetap meneruskan menulis, takut semua inspirasi yang terus mendesak dikeluarkan ini terlanjur lenyap berganti kemarahan. Di mata Budi, sikap seperti ini dianggap sebagai keacuhan terhadap protesnya. Setelah dia anggap selesai menulis Emily pun akan berapi-api memberi argumen atas protesnya.

Kemarahan yang sudah terpendam di bawah sadar akibat segala problem yang ada terutama masalah ekonomi di otak mereka akhirnya menjadi penyulut pertengkaran hebat di antara Emily dan Budi.

Seperti biasa akan merembet kemana-mana seperti api disiram minyak, nyalanya makin berkobar. Bahkan dua bulan yang lalu kejadian seperti itu akhirnya membuat Budi gelap mata dan praang….

Handphoneku hancur berantakan dibantingnya di lantai. Mereka tidak saling menyapa beberapa hari. Dalam kondisi seperti itu mereka akan tidur terpisah, salah satu dari kami akan tidur di luar kamar dan tidur diruang keluarga, Emily atau Budi, tergantung siapa yang sudah duluan tertidur di kamar.

“Ini bu susu adik” mbak Jum menyodorkan botol susu Valen. Bubur di mangkokpun juga sudah hampir habis.

“Bentar, biar habis dulu buburnya, nanti mbak Jum yang kasih susunya ya” Emily menjawab sambil menyodorkan suapan terakhir ke mulut malaikat kecil ini.

Setelah menyeka mulut Valen yang berlepotan bubur dan memberinya air putih, Emily bangkit ke dapur untuk meletakkan bekas mangkok makan Valen. Mbak Jum mengambil alih memberi susu Valen. Kulihat dari dapur yang memang sama sekali tidak terpisah dari ruang tengah itu, Valen mau minum susunya. Yah … untuk yang satu itu, susu, Valen tidak pernah memilih siapa yang akan memberikan, akan dilahapnya habis seluruh isi botol, bahkan kadang masih merengek minta tambah.

Selesai mencuci mangkok, Emily menuju kamar untuk berganti pakaian. Melewati ruang tamu kulihat Valen berbaring dengan dibantu mbak Jum masih asyik menyedot botol susunya dengan rakus. Mata beloknya sama sekali tidak terpejam, bahkan pandangannya tidak lepas memandang mamanya yang berjalan pelan menuju kamar.

Kaus katun tipis dan celana pendek akan lebih memberi keleluasaan gerak Emily, dan itu akan lebih memperlancar inspirasi kembali menulis dengan handphone. Perempuan yang suka buah pisang ini menuju ruang tamu sambil kembali membuka file cerpen yang tadi sempat tertunda. Kembali melewati ruangan dimana Valen berbaring sambil minum susunya, terlihat matanya kembali memandangi ke arah mamanya.

Emily tidak tahan membiarkan tanpa menciumnya. Dia dekati tempatnya berbaring, berlutut di sampingnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Valen.

“Valen cayang… habis ini bobo yah, tidak boleh bandel …. mengerti” mamanya pura-pura memarahinya dan kemudian mencium pipi ranumnya. Tiba-tiba Valen menghentikan sedotan pada botolnya, ditepisnya botol yang dipegangi mbak Jum ke samping sehingga terlepas dari mulutnya. Sebagian sisa susu mengucur ke pipi dan lehernya.

“Eeeeaa…. eeeaaa” Valen tertawa melihat mamanya. Tangannya yang mungil mencoba meraih wajah Emily. Sama sekali tidak ada tanda-tanda takut dimarahi.

“Tidak boleeee…. Cayaang…. , mama mau kerja. Valen mimik cucunya sama mbak aja yah”  kali ini tidak membiarkan Valen meraih hidung dengan mulutnya. Bahkan Emily beranjak meninggalkannya menuju ruang tamu. Mbak Jum yang sudah selesai membersihkan bekas tumpahan susu di pipi dan leher Valen dengan air hangat kembali menyodorkan botol susu ke mulut Valen yang sudah pasti menyambutnya tanpa penolakan sama sekali. Yah… kedua anak Emily ini benar-benar susu mania.

Di ruang tamu perempuan berkacamata itu kembali melanjutkan mengetik cerpen dengan handphone. Ya, cerpen, bukan puisi. Beberapa hari yang lalu Emily ditelpon Mas AL redaktur tabloid yang biasa menerima kiriman puisi Emily

“Mbak,coba mbak buat cerpen ya. Mungkin pembaca ingin variasi. Honornya lebih besar lho” terdengar suar mas Al di ujung telepon.

“Bener nih mas?” Emily masih belum yakin,

“Kalau bener ako coba buat, tetapi aku tidak yakin. Aku nggak biasa pikin cerpen”

“Coba deh. Aku yakin mbak bisa. ” Mas Al menyemangati “Aku kasih waktu semingu dari sekarang ya. . . , buat saja kira-kira 7 halamanlah”

Itulah mengapa Emily menulis cerpen saat ini, bukan puisi. Honor lebih lumayan.

“Ah, mengapa aku menjadi mata duitan begini. Sampai-sampai kukorbankan diriku, dari seorang penulis puisi menjadi penulis cerpen. Tapi apa salahnya aku membuat keduanya. Dua-duanya adalah sarana mengungkapkan inspirasi yang terus bermunculan seperti air mancur di tugu Monas. “

Gumam Emily dalam hati sambil menulis.

Emily hanya perlu menambah referensi apa itu cerpen dan bagaimana cara membuatnya.

“Yah aku harus mencoba. Mumpung ide cerita itu sudah mulai kudapat”.

Kembali jari-jari ibu beranak dua ini menari lincah diatas tombol-tombol mungil di handphone. Tidak jarang aku salah tulis, del dan backspace mungkin akan marah karena berkali-kali  pencet  del untuk menghapus bagian yang salah tulis. Layarnya yang mungil menyebabkan tidak bisa melihat keseluruhan tampilan kalimat-kalimatnya secara utuh.

“Ah, bagaimana aku bisa melihat apakah narasiku, deskripsiku juga dialog-dialog yang ku bangun bisa konsisten, runtut , tidak berulang dan bisa memaparkan dengan jelas pada pembaca nanti kalau layarnya hanya dua inci begini. Huuuh,”

Sesaat Emily teringat Budi.

“Gara-gara dia tidak mampu membelikanku laptop yang bahkan cuma bekas, harus mati-matian berjuang seperti ini. Bulan depan apapun yang terjadi kedua gaji kami akan aku ambil setengahnya untuk menambah beli laptop bekas anak bos itu, biar tidak sengsara begini. Aku semakin marah bila ingat ini semua juga untuk menambah penghasilan rumah tangga”

Bicara pada dirinya sendiri Emily sambil menahan rasa kesal. Emily masih melanjutkan menulis, meski pikiran timbul tengelam antara ide cerita dengan rencana membeli laptop bekas itu. Di facebook puisinya bahkan sudah menjadi langganan teman-teman. Komen yang selalu panjang penuh pujian kekaguman sudah biasa  diterima, kali ini aku harus mati-matian memeras ide menulis cerpen.

“Hhhhhuuh, ternyata sangat berbeda dan tidak gampang. Saat menulis puisi bahkan aku bisa santai membiarkan perasaanku meluncur dan berubah menjadi kata-kata indah di tanganku. Kini, harus membuat cerpen. Setiap beberapa baris kutulis aku mengulang membacanya dan …. . kembali cerpenku bertabur kata-kata indah dan kiasan kas puisi. Huuuuhhh… del, del…. . del. Mulai lagi. Narasi, Deskripsi dan Dialog, ketiga kata itu terus saja aku munculkan di pikiranku agar aku tetap bisa konsisten menulis cerpen, bukan puisi”

Kembali Emily bicara pada diri sendiri. Jari-jari lentiknya kembali terasa nyeri dan merah. “Bulan depan laptop itu harus kuperoleh”. Katanya pada Budi.

“Mam, kalau mama mau bersabar barang tiga bulan, mungkin ayah bisa dapatkan uangnya untuk membayar laptop bekas Ahim itu”, ini kalimat Budi minggu lalu selesai kami berdamai setelah ribut dan saling mendiamkan selama tiga hari.

“Tiga bulan,…?” balas Emily setengah berteriak “Sudah telat tahu …. !”

“Aku harus mendapatkan laptop itu bulan depan, titik. Hatiku sudah tidak bisa ditawar lagi. Kalaulah Budi tidak ada tambahan uangnya, seluruh gajiku akan kugunakan untuk menambah kekurangannya. Biar Budi mencari uang tambahannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai akhir bulan. Aku tidak mau lagi menunda-nunda terus cita-cita dan tekadku untuk menulis dan memnerbitkan buku. Harus!. Tidak ada kompromi. Sudah terlalu lama aku menunggu, bahkan sudah terlalu lama kedua jempol ini disiksa, sementara otakku setiap hari penuh dengan ide-ide yang ingin kutulis. Kalaulah memang harus ribut besar, kali ini aku sudah siap dengan segala resikonya. Ayo kita ribut sampai dimanapun, aku tidak akan mundur lagi kali ini. ”

Emily terus saja berbicara pada dirinya sendiri. Peseteruan antara hati Emily melawan Budi.

Di dalam kemarahan, jari terus menari semakin lincah. Ide terus mengalir deras seperti hujan yang turun di setiap awal tahun. Membanjiri seluruh persawahan, demikian juga ide Emily membanjiri seluruh pikiranku. Tak terasa lagi rasa nyeri itu. Perempuan yang suka warna ungu itu terus mengetik dengan handphone.

“Eeeeeaaaaaaaa…. eeaaaaaa…. . ” tiba-tiba terdengar jeritan Valen di ruang sebelah.

Suara tangisan Valen yang melengking seakan menahan kesakitan yang sangat dalam. Seketika Emily terhenti menulis. Spontan ia letakkan handphone di sofa, dan meloncat menuju ruang dimana Valen berada. Terlihat mbak Jum yang rupanya tertidur, terlihat matanya yang masih merah dengan rambut acak-acakan, mencoba menenangkan Valen yang menangis menjerit-jerit.

“Kenapa mbak Jum …. ” Emily berlutut menghampiri mbak Jum yang menggendong Valen.

“Nggak tau bu, saya tertidur habis memberikan susu tadi” mbak Jum menjawab dengan ketakutan. Sekilas kulihat Jam didinding, jam 22. 35.

Ah rupanya sudah hampir dua jam Emily menulis. Tidak terasa, terlihat Vanes yang tidur disamping adiknya ikut terbangun dan bengong duduk disampingnya.

“Eeeeaaaaaa…. . eeeaaaaa” Valen masih menangis kencang. Matanya yang besar tidak lagi terlihat. Mata itu setengah tertutup. Napasnya tersengal-sengal. Kepalanya nampak berkeringat.

“Mungkin mimpi bu “ mbak Jum mencoba memberi argumen.

Aku meraih Valen dari pelukan mbak Jum.

“Cup…cup…cup … sayang, mimpi yah ?” Aku peluk Valen dan membawanya ke ruang tamu yang lebih terang. Aku tepuk-tepuk dan kuelus punggung dengan sayang.

Beberapa saat kemudian tangisnya mereda.

“Mbak Jum, tolong buatin susu Valen yah”

“Tapi bu, kan itu tinggal sedikit sekali, bagaimana dengan besok” mbak Jum mengingatkan.

“Ya ampun, ini sudah hampir tengah malam, mana bisa membeli susu sekarang. Bagimana ini? Ah, gara-gara keasyikan nulis jadi begini. Besok mau tidak mau harus membeli. susu Valen dan susu Vanes. Sekarang masih pertengahan bulan artinya untuk sampai akhir bulan harus membeli untuk persediaan minimal sepuluh hari. Hah…. Sepuluh hari? Itu berarti akan memerluakan uang kira-kira ……. . ah. Itu juga berarti aku harus membongkar simpanan untuk membeli laptop, berarti laptop juga gagal kudapat bulan depan. Sementara laptop ini aku yakin akan memberikan tambahan penghasilan yang lumayan dibanding aku menulis dengan handphone”.

Emily  masih berkecamuk di hatinya memikirkan susu yang habis.

Perang batin sempat memuncak saat suara tangis Valen makin lirih dan napasnya makin teratur. Budi harus bertanggung jawab tentang ini. Dia harus berusaha untuk mendapatkan biaya susu Valen dan Vanes besok, entah bagaimana caranya. Terserah, dialah kepala rumah tangga ini. Masih mending bakat Emily menulis bisa memberikan hasil, dia harus tahu itu, dia harus berterima kasih atas segala usaha istrinya Dia harus bisa menutup semua kekurangan ini. Emily tidak mau kompromi lagi.

“Valen cayang … bobo lagi yah” Emily mengangkat tubuh mungil Valen yang menelungkup di bahu kiri ke pangkuannya sambil duduk di sofa.

Kini Ibu dua anak ini bisa melihat dengan jelas wajah yang menggemaskan. Tangisnya sudah benar-benar berhenti, matanya yang masih berkaca-kaca memantulkan sinar lampu di ruang tamu. Matanya yang tadi setengah tertutup kini terbuka lebar, bulat, bercahaya. Bibirnya yang merah itupun kini sudah tidak melengkung ke bawah, tetapi mulai menampakkan senyumnya. Valen benar-benar sudah bangun sepenuhnya. Matanya yang jernih memandang mamanya, entah apa yang ada dalam pikiran anak sekecil ini saat mata keduanya saling bertatapan.

“Kenapa tadi menangis Valen cayaaaang…. hah… napaaaa” Emily sambil tersenyum menggoyang-goyangkan kepala maju mundur kearahnya.

“Eeeeaaaaaa …. . ”

“Anak manja mama bikin mama gemes muaaahhh muaaahhhh”, Emily menciumi Valen yang sedang menggelinjangkan tubuh mungilnya.

“Eiiihhh, nggak malu ya. Tadi anak mama nangis, sekarang kok tertawa-tawa. Malu niiih sama mama” canda Emily padanya sambil menggelitik dadanya.

“Eea. . ma. . ma. . ma. . ma “ kambali Valen tertawa spontan memasukkan kepalan tangannya yang mungil ke dalam mulutnya:”mama…ma. . ma. . ma…” kali ini kakinya menendang-nendang seakan ingin turun dari pangkuan Emily, “mama…mama…mama”

Ah, bahagia sekali Emily melihat Valen kini sudah tenang bahkan bisa tertawa-tawa dan berceloteh. Eeiiit …. Tertawa? Berceloteh? Perempuan yang mempunyai tinggi badan 162 cm ini tiba-tiba seperti diguyur dengan seember air dingin di kepalanya.

“Mama katanya …. ? Mama, Valen memanggilku? Ah … ehmmm ya, Valen tadi mengucapkan kata-kata itu. Kata yang sudah lama aku tunggu. Kata yang dulu selalu membuatku merasa berharga saat pertama Vanes memanggilku dengan mama” Emily terus bergumam dengan hati yang gembira.

“Mama. . mama. . ma”.

Jelas, kali ini terdengar dan sadar, bahkan mata Emily langsung menatap bibir mungil yang mengucapkan itu. “Valen, anak bungsu manjaku ini mulai menyebutkan kata mama. Kata-kata yang selalu aku ucapkan padanya untuk ditirukan. Kata yang lebih lama ditunggu dari mulut mungil Valen dibandingkan dulu ketika Vanes belajar mengucapkan itu”.

Pikiran Emily yang bergemuruhpun sirna seketika. Valen sangat cepat dalam mengenal dan mengucapkan kata indah itu. Valen memanggilku mama kini, bukan dengan eeaa… eaaa seperti biasa.

“Terimakasih Tuhan, akhirnya kau anugerahkan kata indah itu melalui bibir mungil putri bungsuku ini. Terimakasih Tuhan” Doa perempuan penyuka kesunyian ini.

“Bu, susu adik jadi mau dibuat ?” tiba-tiba suara mbak Jum membuyarkan eforia rasa bahagia Emily bersama Valen.

“Yah, buat sekarang mbak. Habiskan saja” kataku tegas tanpa keraguan. Meskipun sedikit ada tanda-tanya mbak Jum pun beranajak ke dapur membuat susu untuk Valen.

Terbayang di mata perempuan berkuning langsat itu, kilat dasar kaleng itu akan terlihat sepenuhnya bila kita melihat ke dalamnya, karena susu bubuk di dalamnya akan ditumpahkan habis untuk diseduh. Oleh mbak Jum. Huh, Emily panik. Sebentar lagi Budi akan sampai di rumah setelah sift siangnya. Tadi Emily sudah pesan Budi pulang kerja mampir ke supermarket 24 jam di ujung taman langganan kami untuk membeli susu buat Valen dan juga Vanes. Sebenarnya uang di dompet Budi pas-pasan tetapi agar malam ini lelaki bertumbuh tambun ini pulang membawa susu anak-anak Emily menganjurkan cari pinjaman dulu di kantor tempatnya bekerja. Nah kebetulan dapat pinjaman dari Difi teman sekantor Budi. Difi meminjamkan Enam Ratus Ribu Rupiah pada Budi.

Sedangankan uang simpanan Emily di bekas kaleng susu Valen ada Enam Ratus Lima Puluh  Ribu Rupiah. Masih sisa Lima Puluh Ribu Rupiah jika yang Enam Ratus besok buat mengganti uang Difi. Salah satu teman akrab Budi yang baik dan sering membantu jika ada kesulitan ialah Difi lelaki yang masih bujangan ini selalu ringan tangan. Ia tak pernah hitung-hitungan menolong Budi. Lelaki lajang yang bahkan sudah punya mobil Honda Jazz ini sama sekali tidak sombong.

Padahal uang yang tadi sudah terkumpul di bekas kalemg susu itu berencana untuk membeli Laptop bekas.

Emily tidak peduli lagi kapan laptop bisa ia dapat. Dalam hatinya masih bisa menggunakan kedua jempol untuk menulis di handphone. Cita-citanya menulis buku juga tidak akan surut meski belum mampu beli laptop bekas.

Kedua malaikat kecil in adalah hasil cinta antara Emily dan Budi, bukan sekedar tanggung jawab Budi, ayahnya, tetapi juga tanggug jawab Emily sebagai  ibu.

Kebahagiaan yang selalu menjadi sumber inspirasi Emily untuk menulis puisi-puisi kaleng susunya. Dan berusaha mengirimnya ke beberapa media on line juga tabloid mingguan dan koran-koran. Meski harapannya besar namun tak selalu dimuat hasil karya yang Emily kirim. Tak henti-hentinya Emily selalu bersyukur pada Allah. Doa selalu ia panjatkan sebagai rasa terima kasih atas segala nikmat pada Yang Esa.

Kembali Emily menuliskan sebait kata di blog pribadinya mengungkapkan kebahagiaanya.

“Terkesima penuh rasa syukur pada Yang Esa atas segala karunia dan rahmatNya Rahmat sehat yang tak bisa dikurskan dengan trilyunan dollar atau pun rupiah aku kaya karena diberi oleh Allah kesempurnaan dan kesehatan aku kaya karena  diberiNya dua putri yang lucu sehat dan pintar. Alhamduliilahirabbil Alamin Terima KasihYa Rahman Ya Rahhim, aku kaya karena aku bahagia dengan keluargaku anak-anakku dan suamiku aku kaya karena senyum anak-anakku membuatku kaya akan kebahagiaan dan cintaku kaya bukan karena mobil  dan rumah mewah atau harta yang berlimpah aku kaya atas bahagiaku sehatku seluruh keluargaku. Terimakasih Ya Allah atas kekayaan ini yang menjadikan aku merasa kaya”.

Jakarta September 2011

Untuk anak-anak dan suami tercinta. Valen malam ini memanggil Emily “mama” untuk yang pertama kalinya. Entah disadarinya atau tidak, Emily  tidak perduli. Hati penuh. Akalnya tiba-tiba terbuka terang. Anak-anaknya adalah segalanya. Tidak ada satu halpun yang bisa menyingkirkannya dari hati Emily, tidak juga laptop bekas itu. Cita-citanya tidak akan pupus. Semoga jalan terang kan membentang selama asa tetap berkobar dalam dada.

 

37 Comments to "Untuk Kaleng Susu"

  1. anoew  26 May, 2013 at 09:57

    Luar biasa cara menulisnya, membuat pembaca terayun-ayun dalam emosi. Mantap!

  2. Lani  25 May, 2013 at 10:57

    Cerita yg sgt menyentuh…….miris, spt diiris sembilu……….hanya bs dirasakan……….

  3. Lani  25 May, 2013 at 10:33

    31 AKI BUTO : halah bosone membetot………mmgnya bass betot? hehehe……….

  4. probo  25 May, 2013 at 08:30

    salam Emi,
    untungnya anak saya tidak maniak susu, dan saat kecil pemakan segala…..tidak pilih-pilih
    tapi bahwa pernah berada di posisi nol rupiah pernah tentu saja…….sampai nyari-nyari di lipatan apa saja……
    tidak bisa memberi yang lebih baik, yang dimilik teman-teman mainnya….
    yapi grafiknya tak pernah melejit hehehe, hanya merayap……

    Mbak Nunuk ….terima kasih dicolek di Mbak komen mbak …

  5. nu2k  16 May, 2013 at 04:34

    Terutama membaca komentar yang ada saya menjadi ikut hanyut, bernostalgi kemasa-masa ketika harus pontang panting seorang diri bekerja di Kamar Dagang Belanda dan memberi kuliah di Depok. Belum kalau harus mengajar di Erasmushuis. Terpaksa anak saya dititipkan di perpustakaan Erasmushuis (untung dia senang membaca) karena saya harus mengajar di Erasmushuis.. Semua harus dijalani agar asap di dapur tetap bisa mengepul dan semua keperluan anak bisa terpenuhi…Hmmm
    Sekarang saya baru bisa mengatakan bahwa dalam setiap kehidupan berumah tangga akan selalu mengalami masa periode yang UP and DOWN. Tak terkecualikan apakah itu yang bernama JC, ISK atau Handoko atau Probo atau Nunuk ! Tetapi selama semuanya kita jalankan dengan penuh kerelaan dan dedikasi yang tinggi demi keperluan buah hati kita, tentunya Yang Maha Kuasa akan membantu menunjukan jalan yang terbaik yang harus kita tempuh. Yakinlah bahwa semuanya akan ada jalannya masing-masing. Tentunya selama kita tidak berhenti berusaha. Semoga anda semua selalu berada dalam lindunganNYA. Amen.

    Slaap lekker en tot weer schrijven, Nu2k

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 May, 2013 at 03:38

    Waah kok seperti cerita kami 7 tahin silam. Untuk ke dokter saja tak punya yang karena habis untuk kebutuhan primer: rumah. Tapi untuk susu tak pernah, karena anak pertama kami hanga ASI sampai 3 bulan dan disapih plus ASI sampai 3 tahun.

    Ini jeleknya ibu2 Indonesia maunya dibohongi produsen barat susu bubuk, yg di negeri mereka sudah tak ada. Beri susu cair lebih murah.

  7. J C  15 May, 2013 at 20:54

    Emi, aku sangat bisa merasakan alunan emosi dan perasaan dalam cerita ini karena aku mengalaminya sendiri. Ketika anak ke 2 lahir, aku dan istri terlempar ke posisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hampir-hampir nyaris tidak bisa membelikan susu untuk abangnya dan si baby. Segala daya upaya kami lakukan, termasuk menjual beberapa barang kami ketika itu. Istri juga tidak sampai 4 bulan ASI karena memang sedikit sekali. Masa-masa itu benar-benar kami pontang-panting…

    Kisah ini apik sekali mengalir dan membetot alunan perasaan yang membacanya (halah bahasaku… )

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.