Belajar Tak Kenal Libur

Dian Marta Wijayanti

 

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Begitulah sekiranya yang dapat saya kutip dari kegiatan pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Unnes (Sabtu, 11/05/2013). Kegiatan dilaksanakan di Gedung H lantai 4 Unnes. Acara dimulai pada pukul 08.30. Dengan semangatnya ketua panitia (Achmad Farchan) memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada peserta pelatihan karena telah menyempatkan waktu untuk hadir di long weekend ini.

Pelatihan yang mengusung tema “Semangat berbagi wawasan, menulis untuk berbagi” dibimbing oleh tiga pembicara yaitu Dr.Ir.Saratri Wilonoyudho (Anggota Dewan Riset Prov.Jateng), Edi Subhan, M.Pd (penulis buku Manipulasi Kebijakan Pendidikan), serta Surahmat (redaktur portalsemarang). Materi pertama tentang “Landasan Filosofis Menulis” disampaikan oleh Bapak Saratri yang juga merupakan dosen Unnes. Menurut beliau “Jika ingin eksis, menulislah”. Tidak ada kata sulit untuk menulis jika seseorang mampu melihat fenomena dari berbagai macam sudut. Satu topik dari fenomena dapat disajikan dalam berbagai bentuk tulisan. Untuk meningkatkan minat peserta dalam menulis wacana di media cetak, Pak Saratri memberikan beberapa alamat email media-media cetak baik tingkat lokal maupun nasional. Pada prinsipnya menulis itu hanya butuh dua hal “baca” dan “berpikir”.

Pembicara kedua dari pelatihan tersebut adalah Bapak Edi Subhan,M.Pd.  Pak Edi mengajari tentang cara berpikir kritis kepada peserta. Beliau juga menjelaskan bahwa berpikir kritis dan berpikir kreatif itu berbeda. Berpikir kritis merupakan langkah menuju berpikir kreatif yang nantinya akan menghasilkan gagasan-gagasan baru untuk memecahkan permasalahan. Pada penjelasan yang dipaparkan, Pak Edi memberi contoh cara menulis bagi para pemula melalui teknik mind mapping. “Jangan pernah menulis sesuatu jika Anda tidak tahu betul tentang hal tersebut”. Peserta pun mulai paham cara menarik sudut pandang karena kalimat lebih mudah dirangkai menjadi paragraf wacana kritis. Salah satu cara membuat tulisan yang berkualitas adalah mencoba gaya menulis para penulis-penulis hebat. Jika sudah terbiasa, maka karakter tulisan akan terbentuk dengan sendirinya.

Pembicara terakhir pada pelatihan tersebut adalah Mas Surahmat. Mas Surahmat membagikan pengalaman beliau kepada peserta agar termotivasi untuk menulis. Ada beberapa pertanyaan dari beliau yang membuat peserta sedikit malu. Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum banyak yang tidak mampu dijawab oleh peserta. Tengok kanan, tengok kiri, tersenyum, menunduk, menjadi berbagai action yang dilakukan peserta ketika tidak mampu menjawab pertanyaan. Ya, memang tidak salah jika mahasiswa zaman sekarang tidak begitu dekat dengan keberadaan media massa.

 

Hal tersebut bisa menjadi salah satu faktor rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa. Pada dasarnya proses menulis diawali dengan membaca sehingga terbuka pemahaman dan pengalaman. Namun kurangnya kuantitas membaca (khususnya media membaca) membuat minat menulis pun berkurang. Setiap tulisan tentunya akan menyisakan ruang kosong yang mampu diisi oleh penulis lain. Itulah salah satu cara mencari ide dalam menulis berita aktual. Memilih sudut pandang yang unik juga penting dilakukan oleh seorang penulis agar pembaca lebih menikmati isi tulisannya. Kriteria tulisan yang layak dimuat menurut Mas Surahmat ada 4, yaitu tema, bahasa, ketentuan teknis, serta karakter media dan pembaca. Tulisan yang menarik sebenarnya tidak hanya berita-berita aktual. Namun cerita lama yang dikemas dalam perspektif baru/data baru pun disukai oleh pembaca. Gigantisme dan akuratisasi data menjadi tambahan penilaian redaksi untuk memilih atau tidak meloloskan suatu tulisan.

“Seseorang tidak hanya bisa menulis melalui workshop”

Let’s practice it…

^_^

 

6 Comments to "Belajar Tak Kenal Libur"

  1. Dian Marta Wijayanti  1 June, 2013 at 06:16

    Alhamdulillah, bisa banyak belajar di Baltyra

  2. Handoko Widagdo  16 May, 2013 at 09:44

    Saya teringat di tahun 1991 saat ikut kelas menulisnya Pak Mochtar Lubis. Sesi pertama, beliau meminta kami untuk menulis dengan hati. Beliau memberi tema lilin. “Coba tulis dengan hati, apa saja yang ingin kau sampaikan tentang lilin.”

  3. J C  15 May, 2013 at 21:07

    Setuju dengan pak Hand. Menulis dengan hati dan menulis adalah legacy… (apapun bentuk tulisannya).

  4. Dian Marta Wijayanti  15 May, 2013 at 11:10

    Saya setuju dengan Pak Handoko tentang “Menulis dengan hati”. Maturnuwun nggih Pak

  5. [email protected]  15 May, 2013 at 08:30

    saya belajar menulis dari TK…. tulisan saya acak2an….

    *eh… ini menulis yang lain ya…*

  6. Handoko Widagdo  15 May, 2013 at 08:06

    Dian manulis maka Dian ada.

    Teori menulis Pak Edy dengan main map untuk pemula adalah berbeda dengan apa yang diajarkan oleh alm. Mochtar Lubis. Mochtar Lubis mengajarkan ‘menulis dengan hati’. Curahkan saja apa yang ada di benak dan jangan takut dengan struktur.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.