Bertemu Tiga Jurnalis

Sanie B. Kuncoro

 

Mula-mula cita-cita saya adalah menjadi jurnalis. Merasa mampu menulis, saya membayangkan akan mengunjungi berbagai Negara sebagai bagian dari tugas dan akan saya tuliskan sisi lain penjelajahan itu. Mimpi yang tidak pernah terwujud hingga kini karena hidup suatu kali menghadapkan saya pada tikungan dan membuat saya berbelok pada jalur perbankan dan terjebak di dalamnya 10 tahun. Tikungan-tikungan hidup berikutnya makin menjauhkan saya dari cita-cita awal itu.

journalist

Baiklah. Ces’t la vie. Hidup tidak selalu seperti yang kita inginkan.

Tersebab cita-cita tak sampai itu, saya memiliki ketakjuban tersendiri setiap berteman dengan jurnalis. Beruntung sahabat saya Liston P Siregar, yang adalah jurnalis BBC memahami ini sehingga selalu dikirimkannya kartupos dari setiap perjalanannya.

Secara tak terduga, pada sebuah hari di akhir bulan Juni yang berangin, saya ala estafet bertemu dengan 3 jurnalis di ibukota. Suatu hal yang sebelumnya tak terbayangkan.

Saya baru saja selesai sarapan di Santika bersama Nusya Kuswantin dan Ita Siregar saat Mbak Maria Hartiningsih datang. Sepagi itu Mbak Maria telah membuat saya terharu. Disapanya saya dengan sayang dan menyempatkan diri singgah setelah melewati macetnya lalin Jakarta. Itu membuat saya merasa disayangi. Padahal Mbak Maria adalah sahabat baru yang bertemu secara tak terduga beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya saya hanya mengenal tulisannya di Kompas, tentang tokoh dan perjalanan, yang mengendap dalam ingatan karena pengungkapannya yang dalam dan inspiratif.

Mbak Maria seorang yang sangat peduli dan melaluinya saya mendapatkan penguatan. Saat “A crazy monkey mind” yang ribut di kepala terus menghadapkan saya pada tanya jawab yang menggoyahkan ketabahan, menjadikan saya tidak “mandiri” sehingga harus menyandarkan diri pada banyak hal sebagai tiang penopang. Tiang-tiang itu adalah persahabatan, buku-buku dan kegiatan ini itu.

Dengan sabar dia berkata : “Semua itu sarana hingga kau mandiri, Dik. Jalan hidup itu tidak pernah linier, tapi bergelombang tajam. Bisa melemparkan ke atas lalu menghempaskan ke bawah. Kalau rajin ‘hening’ maka kalaupun terhempas akan lebih membal. Life is about learning from experiences we are facing. Let’s learn. I will be at your side, holding your hand. Don’t feel alone.”

Adakah yang tak bersyukur mendapatkan dukungan serupa itu? Pagi itu saya seolah mendapat saapan bergizi dengan porsi yang pas tanpa merasa kekenyangan. Menjelang siang kami berpisah. Mbak Maria harus ke kantornya dan saya menuju ke kafe Basilico di Gandaria City demi menemui seseorang.

Dia adalah Leila S Chudori.

Sehari sebelumnya seorang teman sempat heran dengan rencana pertemuan kami.

“Kamu serius bahwa penulis terkenal itu mau bertemu denganmu?” dia bertanya sungguh-sungguh.

Saya sempat mangkel dengan pertanyaan itu dan harus menjelas-jelaskan padanya bahwa saya juga cukup “terkenal”. Terpaksa saya maklum karena teman saya ini memang tidak update dengan dunia perbukuan terkini. Penulis yang diingatnya sejak remaja hingga kini hanya Marga T dan Leila S Chudori.

Saya belum pernah bertemu Leila, maka saya nyaris keliru menyapa orang lain. Untunglah Ita Siregar mencegah sapaan nyasar itu. Bertemu dengan Leila memicu debaran tersendiri. Tulisannya saya baca sejak remaja, lalu kini resensi filmnya menjadi acuan wajib saat memilih film. Tentu saya juga kesengsem dengan 9 Dari Nadira. Maka saya agak gugup sebenarnya. Apalagi keterkaitan kami sungguh tak terduga. Adalah Leila yang mengulurkan tangan saat saya menjalani kemoterapi. Ketika itu majalah Femina menggalang dana untuk saya melalui pemuatan cerpen para sahabat. Leila sebenarnya tidak temasuk yang dilibatkan karena kami tidak saling mengenal secara pribadi. Ternyata justru Leila yang mengajukan diri berperan serta. Saya terkejut sekaligus haru. Apalah saya sehingga seorang LSC mengulurkan hatinya?

“Karena kita sesame perempuan dan penulis,” demikian Leila berkata. “Maka teruslah menulis.”

Anjuran yang saya taati dan menjadikannya sebagai bagian dari terapi pemulihan kesembuhan batin.

Pertemuan kami siang itu membawa saya pada sesuatu. Leila ternyata adalah seseorang yang sangat menghargai orang lain. Selain Ita, Kurnia Effendi akan bergabung dalam pertemuan itu. Dia sedang dalam perjalanan dan minta dipesankan makanan. Dan Leila dengan telatennya menuliskan menu tersedia melalui sms sehingga Keff bisa memilihnya.

OMG. Saya tidak memiliki kesabaran itu. Saya pasti akan memilih untuk menentukan menu bagi Keff demi alasan kepraktisan. Tapi Leila menyediakan diri untuk repot demi keleluasaan orang lain memilih menu yang diinginkannya. Pastilah itu karena dimilikinya hati yang lapang. Tersebab lapang hati itu pula tangannya terulur pada saya yang relative tidak dikenalnya.

Penemuan lain yang mengejutkan adalah kerapiannya merancang detil novelnya. Dia bahkan membuat diagram serupa pohon silsilah keluarga yang lengkap dengan detil. Setiap tokohnya bahkan memiliki data tempat dan tanggal lahir. Diagram itu rapi, tidak kusut apalagi sembarangan, bahkan dilengkapi gambar temple. Astaga. Itulah cetak biru sebuah novel.

Detik itulah saya tahu mengapa 9 Dari Nadira begitu utuh. Penggalan cerita yang terjahit rapi satu sama lain, tanpa lubang tertinggal yang tak diketahui. Puzzle besar yang tiap bagiannya telah direncanakan sejak awal dengan pertimbangan matang.

Pada perbincangan siang hingga menjelang sore itu saya menemukan betapa Leila sangat serius dengan apa yang ditulisnya. Menulis prosa baginya sama seriusnya dengan menyusun laporan investigasi untuk laporan utama majalah Tempo di mana dia bekerja.

*

Lalu petang dan saya harus menuju Bentara Budaya. Ada malam Anugerah Cerpen Pilihan Kompas dan kebetulan cerpen “Tradisi Telur Merah” menjadi “kursi” saya untuk berada di sana. Di sana pula Yoseptin Pratiwi telah menunggu. Dia adalah Redaktur Eksekutif di majalah Femina, yang bersama Veronica Wahyuningkintarsih (redpel sebelumnya) menjadi juru repot saat menerbitkan “Cerpen untuk Sahabat” sebagai tanda kasih untuk saya. Yoseptin pula adalah editor yang baik bagi cerpen-cerpen saya. Hasil editannya selalu terasa pas tanpa membuat saya merasa “dikurangi”. Kebaya Kenanga adalah judul pengganti yang ayu, yang diberikannya untuk salah satu cerpen saya.

Cerpen saya termuat di berbagai media, melewati berbagai redaksi. Namun tidak semuanya menjadi jembatan persahabatan seperti yang saya jalani bersama Yoseptin dan Vero. Namun demikian, persahabatan itu tidak menjadi penghalang baginya untuk bersikap professional. Sejauh ini Yoseptin tetap memiliki ketegasan untuk menolak naskah saya yang tidak pas untuk Femina.

Yang khas darinya adalah, seolah seseorang dengan seribu wajah. Berulangkali dia tampil di Femina ataupun FB dengan wajah-wajah yang sangat berbeda. Suatu kali dia tampil eksotis dengan rambut keriting sebahu di halaman kecantikan. Kali yang lain, pada rubrik diet dia tampil dengan rambut digelung ke atas ala stupa candi. Pada foto yang lain dia tampil natural dengan kostum olahraga seusai pertandingan futsal. Semuanya tampil berbeda satu sama lain, seolah bukan satu orang yg sama.

Namun dari semua itu, yag tercantik adalah ketika dia berfoto menggendong bayinya Banyu Isaias yang mewarisi garis wajah Ibunya.

Malam itu kami bertemu dan berfoto bersama di depan lukisan Sunaryo yang menjadi ilustrasi cerpen saya di Kompas. Dia dengan penampilan barunya sebagai seorang ibu yang bahagia, dan saya dengan penampilan baru rambut kruel-kruel yang tumbuh seusai merampungkan kemoterapi. Yoseptin adalah salah satu sahabat di kejauhan yang mendukung saya melewati masa-masa itu.

*

journalist-wordle

Saya tidak pernah melupakan cita-cita awal menjadi seorang jurnalis. Tak pula menjadikannya sebagai keinginan terpendam oleh karena kesadaran bahwa jalur takdir saya tidak di sana. Tapi bahwa saya bersahabat dengan mereka yang jurnalis, seolah menjadikan angan itu begitu dekat. Seolah saya berada dalam peristiwa-peristiwa yang saya bayangkan pada suatu masa silam.

Mbak Maria pernah mengatakan : “Everything happen for it’s reason. There is no coincidence.”

Saya yakini kebenarannya. Bahwa pertemuan saya dengan ketiga sahabat tersebut bukanlah faktor kebetulan belaka, melainkan karena mereka telah menjadi bagian dari takdir saya.

 

***

 

12 Comments to "Bertemu Tiga Jurnalis"

  1. Lani  16 May, 2013 at 12:25

    SANIE : jd teringat almarhum………ktk menjalani chemo, rambut brodooooooool……sampai gundul kelimis, ktk tumbuh lagi warnya jd berubah dr warna aslinya, selain itu jd agak kaku tdk selembut sebelumnya…….rambut yg dl lurus, jd berintik………..aneh tp sgt nyata……..hiksssssss……..jd sedih ingat dia yg telah ada disana………

  2. probo  16 May, 2013 at 12:07

    kasihan teman mbak Sani…nggak kenal nama Sanie B Kuncoro

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.