Hadiah untuk Para Ibunda

Mega Vristian

 

hitam di mana – mana

ke manakah bisa kusembunyikan taku

tjika malam seperti sekawan hantu yang mengikutiku ke mana saja 

kuberanikan diri mencari rembulan

sebab mama berpesanjika malam diapun sering berbincang dengannya

 

Menatap sepotong rembulan yang mengambang di pekat malam pada sampul buku “30 Hari Dalam Cintanya” yaitu buku yang memuat kumpulan pengalaman puasa para Imigran mengingatkan saya  pada  puisi Bima, anak saya yang berjudul “Malam”.

Puisi yang membuncahkan rasa sesal karena tak bisa selalu menemaninya di masa kanaknya ketika dia memerlukan kasih sayang dan perlindungan saya. Puisi yang selalu menguras air mata walau sudah tak terhitung ingatan membacanya. Saya pun jadi ingat Ibu yang kata Bima, saat jadi penakut setelah ditinggal almarhum bapak.

“Malam suka membuat manusia jadi makluk jahatnya melebihi hantu,” lapor Bima, menirukan perkataan neneknya, ya ibunda saya itu.

Malam menjelang sahur puasa sunah Arafah, saya mencoba menelpon ibu tapi ternyata telpon rumah sedang dicabut oleh Bima, alasannya deringan telpon akan mengagetkan tidur ibu sehingga beliau akan susah untuk tidur lagi.

Di bulan puasa kemarin saya sering menelpon ibu, menanyakan kesehatan beliau. Tahun lalu kesehatan ibu menurun dratis sebab satu bulan penuh saat bulan  puasa nyaris tak pernah pulang dari masjid. Selepas Isya tadarus di masjid hingga menjelang makan Sahur kemudian kembali lagi ke Masjid untuk Sholat Subuh. Keadaan fisiknya tak kuat hingga ibu jatuh sakit menjelang Idhul Fitri.

“Puasamu di sana gimana? Bisa taraweh Tidak? ” Pertanyaan itu selalu ibu ucapkan setiap saya telpon di bulan puasa.

Pertanyaan yang sama juga ditanyakan oleh anak, saudara dan juga teman-teman saya di tanah air. Hingga saya  berpikiran untuk menerbitkan kumpulan cerita saya dan  pengalaman puasa kawan-kawan di luar negeri.

Lewat jejaring sosial Facebook, segalanya bisa lancar untuk menghubungi kawan-kawan di luar negeri. Akhirnya terkumpul 24 warga negara Indonesia yang sedang berada di Hong Kong, Korea, Malaysia, Singapura, Jepang, Belanda, USA, Finlandia dan Jerman.

Alhamdulilah beruntung saya mempunyai mempunyai banyak sahabat baik yang membantu terwujudnya buku pengalaman puasa di negeri rantau. Sehingga pertanyaan ibu saya yang bisa juga mewakili pertanyaan para ibu lainnya yang memiliki anak sedang berada di  luar negeri bisa terjawabkan. Kelak saya akan membacakan buku tsb untuk Ibu.

Sebenarnya pada hari minggu ( 14/11) para penulisnya yang berada di Hong Kong akan mengadakan syukuran buku ” 30 Hari Dalam Cintanya”  bahkan juga akan memulai promosi buku. Acara tidak bisa berjalan sesuai rencana diluar dugaan nenek yang saya jaga harus masuk rumah sakit. Untuk itu dengan segala kerendahan hati saya minta maaf.

“Sudah malam! Kau sedang sakit! segera tidur!!,” Nenek majikan memarahi saya. Demam menyerang tubuh saya hampir bersamaan dengan sakitnya nenek.

30haridalamcintaNya

Saya selalu mencoba iklas dan sabar menjalani suka dan dukanya kehidupan ini. Gelap makin pekat di luar jendela. Sepotong bulan mengambang di langit, sendiri mengarungi sunyi malam perlahan saya bertakbir sebab malam ini malam menjelang hari raya Idhul Adha. Allah Hu Akbar…

 

4 Comments to "Hadiah untuk Para Ibunda"

  1. Mega Vristian  15 May, 2013 at 22:51

    Terimakasih mas Joseph, selalu mencoba mengisi waktu bukan hanya dengan melamun dan mimpi saja.

  2. J C  15 May, 2013 at 21:04

    Mega memang tidak pernah kering ide-idenya dalam berkarya. Saya semakin kagum dengan kiprah BMI Hong Kong terutama dalam self-improvement, dan karya-karya nyatanya…(yang saya cukup yakin mungkin tersumbat jika masih di Tanah Air).

  3. Mega Vristian  15 May, 2013 at 11:19

    Terimakasih untuk Pak Handoko dan Baltyra. Salam santun.

  4. Handoko Widagdo  15 May, 2013 at 11:17

    Terima kasih untuk pemberitahuan tentang buku barunya Mega Vristian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.