Kenali Tari-tarian Indonesia (10): Wayang Topeng – Saat Dibutakan Cinta

Probo Harjanti

 

Wayang topeng, atau bisa juga disebut sebagai drama tari topeng, merupakan salah satu bentuk drama tari Jawa yang menceritakan kisah Panji. Kisah Panji menceritakan siklus perjalanan cinta antara Panji Asmara Bangun (Raden Inu Kertopati), dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana, yang penuh liku. Kisah cinta yang diwarnai perjalanan pisah-sambung, dan melahirkan banyak episode. Cerita Panji menyebar tidak hanay di seantero Nusantara, tetapi ada juga di Thailand, Malaysia, Khamboja, Myanmar, juga Filipina.

Banyak versi cerita tentang Panji, dari cerita Keong Emas, Ande-ande Lumut, Golek Kencana, Panji Semirang, Kuda Narawangsa, dan lain-lain. Dua nama terakhir adalah nama Dewi Skartaji saat menyamar menjadi pria.Selain drama tari, cerita Panji ini juga sudah menjelma menjadi tari berpasangan, yakni Tari Karonsih, yang hampir selalu dipentaskan pada acara pernikahan di daerah Jateng-DIY.

Di bawah ini adalah salah satu episode tentang kisah cinta Panji Asmara bangun dengan Galuh Candra Kirana, berjudul Kuda Narawangsa.

Menjelang pernikahan, Dewi Sekartaji atau Candra Kirana tengah bercengkerama di taman, bersama dayang-dayang, ketika tiba-tiba datang seorang raksasa perempuan, dan menculik sang Dewi. Kerajaan pun geger dengan hilangnya sang Dewi. Kegemparan juga melanda kerajaan tempat Panji Asmara bangun bermukim. Semua bergegas mengirim prajurit untuk mencari keberadaan Dewi Sekartaji.

wayangtopeng (1)

Dewi Sekartaji  bersama dayang-dayang di taman

 

wayangtopeng (2)

Dewi Sekartaji diculik rakseksi (raksasa perempuan) Dewi Sarak Jodhag

Ketika sedang diadakan pertemuan membahas belum ditemukannya Dewi Sekartaji, tiba-tiba datang ‘Dewi Sekartaji’, dan tentu saja disambut suka cita oleh sang Panji Asmara Bangun, juga  besar nya. Keduanya segera melangsungkan pernikahan. ‘Dew i Sekartaji’ sangat berbahagia, dia menari-nari kegirangan. Dia kadang lupa bahwa dia sedang menyaru (menyamar) menjadi Dewi Sekartaji. Adegan ini sangat menggelikan, di tengah tarian yang lemah gemulai, tiba-tiba ada gerak yang amat perkasa, kocak,  dan jenaka.

wayangtopeng (3)

‘Dewi Sekartaji’ bersama Panji Asmara Bangun

Di luar kerajaan, adalah Kuda Narawangsa, seorang  pemuda tampan yang tindak-tanduknya dianggap mencurigakan, lalu  ditangkap oleh Panji Gunungsari.  Sang pemuda ternyata bisa ndhalang, dia menyatakan akan suwita (mengabdi) kepada Panji Asmara Bangun, dengan keahliannya mendalang. Syahdan, dalang muda pun mendalang di hadapan Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji.

Diceritakan oleh sang Dalang, perjalanan hidup sang Panji, yang menikahi perempuan cantik jelita, tetapi sayang, tingkah-lakunya aneh. Kadang lemah lembut, kadang tertawanya macam rakseksi (raksasa perempuan). Dewi Sekartaji marah-marah, tetapi disabarkan oleh suaminya. Ki Dalang melanjutkan kisahnya, dikatakan pula bahwa  Dewi Sekartaji doyan daging mentah. Sampai di sini Panji Asmara Bangun ikut tersulut amarahnya. Diseretnya Kudarawangsa, dan dihajarnya.

wayangtopeng (4)

Panji dan istrinya marah kepada Kuda Narawangsa, karena menjelek-jelekkan Sekartaji

Kuda Narawangsa melawannya, tetapi ada yang membuat Panji Asmara Bangun ngungun, heran. Di sela perlawanan itu, Kuda Narawangsa sering berlaku aneh, tiba-tiba saja memukul-mukul pundak Panji dengan gemas juga manja, selain itu saat adegan perang dia seperti tidak sungguh-sungguh, malah seperti memijit. Di saat lain dia menowel pipi Panji Asmara Bangun, lama-lama Panji Asmara Bangun tahu bahwa Kuda Narawangsa tak lain dan tak bukan adalah Dewi Sekartaji yang sesungguhnya. Kekasih yang sangat dicintainya, lalu siapa perempuan yang elama ini bersamanya?

wayangtopeng (5)

Panji Kuda Narawangsa yang mendadak kemayu di sela-sela perang tanding

Dan terjadilah pertemuan yang mengharukan. Ini membuat  ‘Dewi Sekartaji’ marah besar, dan menyerang Dewi Sekartaji. Mereka bertarung memperebutkan cinta Panji Asmara Bangun yang kebingungan melihat ada dua Sekartaji . Adegan ini mengundang tawa, terutama saat Panji ditarik ke kiri dan ke kanan. Juga saat /Dewi Sekartaji’ memaksa Panji untuk memeluknya, dengan menarik-narik tangan Panji.

Pada saat yang tepat, rambut ‘Dewi Sekartaji’ dijambak (ditarik) Panji Asmara Bangun, sampai mahkota lepas, ‘Dewi Sekartaji’ badhar (kembali  ke wajah asli), berujud raksasa perempuan, dan kalah oleh panah Panji Gunung Sari.

wayangtopeng (6)

Kuda Narawangsa kembali ke ujud aslinya, Dewi Sekataji

 

wayangtopeng (7)

Terjadilah perebutan antara Sekartaji asli dengan yang palsu

 

wayangtopeng (8)

Salah satu adegan kocak saat Sekartaji palsu menarik-narik tangan Panji agar memeluknya

 

wayangtopeng (9)

Panji Asmara bangun yang bingung diperebutkan dua orang perempuan

 

wayangtopeng (10)

Cerita berakhir bahagia, Panji kembali bersama Dewi Sekartaji yang asli, kerjaan pun kembali tenteram

Itu adalah cerita Wayang Topeng yang dipentaskan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM), di ulang tahunnya yang ke 50. Wayang topeng (dulu pada jaman Kediri namanya wayang wwang, dan dimungkinkan ini adalah cikal bakal wayang wong), bedanya dengan wayang wong terutama pada cerita yang dibawakan. Wayang topeng (wayang wwang) membawakan cerita Panji, dan semua penari memakai topeng, sedangkan wayang wong membawakan cerita Ramayana dan Maha Barata, juga tanpa topeng kecuali tokoh tertentu. Seingat saya, wayang topeng juga dikenal sebagai Topeng Dhalang.

Dialog di dalam wayang topeng sebagian dilakukan oleh Dalang, karena semua mengenakan topeng, tentunya sulit untuk berbicara, selain tentunya tidak jelas suara yang dihasilkannya. Menari dengan mengenakan topeng sungguh tidak mudah, keseimbangan kurang, dan kadang  kehilagan ‘arah’. Kalau wayang wong, dialog dilakukan pemeran secara langsung.

Foto-foto oleh Effy WP

 

46 Comments to "Kenali Tari-tarian Indonesia (10): Wayang Topeng – Saat Dibutakan Cinta"

  1. probo  16 September, 2013 at 21:54

    terima kasih Jojo, sudah komen di sini, sudah saya balas via email ya..

  2. Jojo  14 September, 2013 at 10:33

    Selamat Pagi…

    Maaf, saya mau numpang tanya. Saya tertarik dengan tarian Jawa dan waktu saya lihat Tari serimpi, kebanyakan penarinya adalah putri, tapi kenapa ya, saya sempat melihat foto-foto di internet yang memberi judul tari serimpi, tapi penarinya adalah kelompok laki-laki. Mohon dibalas ke email saya ya… terima kasih banyak sebelumnya…. (Jojo)

  3. probo  18 May, 2013 at 16:01

    ya masih banyak Dimas Jc……untuk tari klasik Joga saja buanyaaaak banget……….
    dokumentasi tari klasik memang belum banyak dilirik
    sebenarnya awalnya saya ingin ada teman lain yang ikut nulis serial ini…..
    tapi nampaknya belum ada….

    memangnya tulisan macam gini laku? saya kok sagsi ya Dhimas….
    saya masih mengumpulkan kostum tari Jogja berikut peruntukan perannya…

  4. probo  18 May, 2013 at 15:57

    Alvina…berahagialah kita yang pernah menari…untuk menyenangkan hati penonton….

    iya nih…dua anakku semua nari, yang gede sudah diterima di ISI Yogya……
    yang kecil diterima SMP SALAM (Sanggar Anak ALam….sekolah suka-suka…….tanpa seragam. pend Agama menjadi tanggung jawab ortu, dll…dll…kaykany menyenangkan, anakku sudah tak mau ke lain hati hehehe)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.