Semangat dan Tangisan Pahlawan Seni dan Budaya Bumi Sabalo

Jemy Haryanto

 

Meskipun sudah mengabdi puluhan tahun sebagai pekerja seni, bahkan kerap membawa nama harum daerah kelahirannya sampai ke luar negeri, namun apa yang dia lakukan dirasa berbanding terbalik dengan kondisi hidupnya. Tak ada materi yang dia miliki, apalagi rumah. Meski demikian dirinya tetap bersemangat

Indonesia merupakan negara yang memiliki beraneka ragam suku, seni dan budaya. Yang sekaligus menjadikan ciri khas dan asset tak terbantahkan untuk bangsa Indonesia. Tak heran, jika setiap suku yang jumlahnya ribuan itu, yang bertebaran di atas bumi Indonesia, masing masing memiliki budaya dan hasil karya seni yang berbeda pula.

Contohnya saja di pulau Kalimantan. Ada sekitar 405 sub suku Dayak. Indonesia sendiri memiliki 34 provinsi. Namun masing-masing suku itu tidak sama. Melainkan memiliki bahasa, tata cara hidup dan interaksi, budaya dan kesenian yang berbeda beda.

Namun seiring berjalannya waktu, untuk saat ini semua itu perlahan-lahan mulai terlupakan oleh sebagian besar bangsa Indonesia. Mereka tidak peduli lagi dengan keberadaan budaya yang merupakan identitas dan jati diri bangsa. Apakah nantinya akan berkembang atau akan musnah ditelan zaman. Bahkan pemberian apresiasi kepada para pekerja seni dan budaya pun tidak banyak lagi. Seolah-olah keinginan untuk mengembangkan budaya di Indonesia, khususnya West Borneo tidak menjadi agenda perioritas dalam benak penerus bangsa.

Meski demikian, masih ada ditemukan di Bumi Sabalo –nama lain untuk kabupaten Bengkayang,  West Borneo. Seseorang yang begitu mencintai budaya dan mengabdikan dirinya sebagai pekerja seni. Dia adalah Petrus Lengkong, 71 tahun.

Petrus Lengkong

Awal mula tuan Petrus terjun sebagai pekerja seni, ketika dirinya masih berumur 15 tahun. Terinspirasi oleh kakek dan neneknya yang juga menyukai dan mencintai seni. Yang waktu itu mereka dikenal sebagai pemahat patung ‘Pantak’. Yaitu patung yang digunakan sebagai alat upacara adat suku dayak yang diyakini memiliki kekuatan untuk Nyangahatn. Sejak saat itu diapun belajar.

“Hanya saja saya tidak diajarkan langsung, melainkan hanya memperhatikan bagaimana kakek dan nenek saya membuatnya. Selanjutnya adalah otodidak,” jelas lelaki kelahiran 25 Desember 1943.

Namun bukan patung yang dia kerjakan untuk saat itu. Terlebih dahulu, dia tertarik pada dunia lukis melukis dengan konsep lanskap. Ketertarikan itu dilandasi karena dirinya mencintai alam dan ingin menyatu dengan alam. Dia memandang alam juga mengandung unsur kesenian dan budaya. Dan itu banyak luput dari perhatian manusia.

“Banyak yang tidak tahu. Itu adalah alasan saya memilih menekuni dunia lukis-melukis terlebih dahulu. Setelah melihat banyak sekali pemandangan alam yang indah di sekitar tempat tinggal saya. Dan saya pun menemukan arti seni dan budaya dari sana,” ungkap lelaki yang memiliki nama lengkap Belarminus Piter Petrus Lengkong.

Masuk tentara

Pada tahun 1969, Petrus kemudian ditarik oleh pemerintah Indonesia menjadi militer untuk konfrontasi Malaysia dan bertugas di Batalyon Infanteri 642 di kabupaten Sintang.

Masuk tentara dengan pangkat ‘Tamtama’ ternyata tidak membuat Petrus meninggalkan hobinya melukis, kapan saja dimana saja selalu melukis. Menurutnya, ketika berperang dengan ‘PGRS/Paraku’ atau pemberontak di Lanjak, kabupaten Kapuas Hulu, salah satu temannya tertembak musuh. ”Saya menyaksikan sendiri bagaimana teman saya tertembak. Kemudian saya lukis bagaimana keadaannya sambil berlindung, sehingga ada laporan untuk komandan,” Petrus menjelaskan.

Tidak saja sekedar goresan kuas di atas kanvas. Melainkan setiap hasil karya lukisannya itu memiliki pesan-pesan moril. Mengajak masyarakat untuk selalu menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Ada sekitar 100 lukisan yang telah dia ciptakan dari tangan terampilnya itu, dari dulu sampai saat ini. Setelah itu barulah dirinya terjun sebagai pemahat patung.

GEDSC DIGITAL CAMERA

“Meski demikian, saya tidak meninggalkan bidang lukis itu. Justru dua bidang itu saya kerjakan sekaligus,” tutur Petrus.

Dalam hal membuat patung, Petrus selalu memberikan makna pada setiap pahatannya. Misalnya mengenai patung Pantak, Menurutnya ada tiga penjaga perbatasan, penjaga lumbung padi, dan untuk Nyangahatn. Kemudian ketiga unsur itu ia simbolisasikan dalam bentuk karya pahat.

“Setidaknya itu yang kami percayai. Karena merupakan tradisi turun-temurun nenek moyang kami. Tidak secara ritual tapi lihatlah dari sudut keindahan, makna dan keseniannya,” tutur lelaki keturunan suku dayak Bakatik dan suku Manado.

Namun tidak mudah bagi Petrus untuk menghasilkan karya patung yang indah. Diperlukan waktu dan konsentrasi. “Hanya ketika saya mendapat inspirasi baru saya memahat patung. Jika pikiran tersendat, saya akan istirahat sampai inspirasi itu muncul kembali,” ucap lelaki yang selalu tersenyum setiap bertemu orang orang.

Tak cukup sampai di situ, dia kemudian mengembangkan kesenian yang lain. Yaitu seni tari Enggang. Dia menciptakan sendiri tarian itu dan uniknya dia belajar dari seekor burung Enggang atau Alo’ yang merupakan maskot West Borneo. Itu ketika dirinya sedang berjalan sendiri di hutan. Dan itu dia pelajari selama satu tahun.

Peragaan Tari Enggang

“Mulai dari gerak kepala, badan dan kaki burung itu saya perhatikan. Unik dan mengandung banyak filosofi. Orang orang dayak menerapkan filosofi itu dalam hidup. Cinta, kasih sayang kepada keluarga dan anak anak, juga orang lain. Dan saya menerapkannya dalam gerakan tari,” jelas lelaki berambut panjang itu.

Selain itu Petrus juga membuat beberapa kerajinan tangan. Seperti tas, perisai dengan motif dayak, baju trdisional dayak, vas bunga dan lain lain. Dan semua barang kerajinan itu dibuat dari bahan dasar kulit kayu. Termasuk baju yang dia kenakan. Namun saat ditanya mengenai baju itu, dia mengatakan, itu adalah satu satunya baju adat dayak yang dia buat dan dia miliki.

GEDSC DIGITAL CAMERA

“Tidak saya jual. Hanya ada satu. Ini saya buat dengan waktu yang cukup lama. Kurang lebih 6 bulan. Dikarenakan sulit menemukan bahan bakunya. Terutama untuk asesoris. Dan baju ini hanya boleh dipakai untuk para pemangku adat. Karena itu tidak dijual,” jelasnya.

Asesoris baju itu adalah taring babi dan kepala burung Enggang untuk penutup kepala. “Namun untuk memperoleh semua ini, saya tidak membunuh binatang. Karena itu tidak boleh. Saya hanya memanfaatkan hewan yang sudah mati saja,” jelasnya lagi.

Dari hasil karya karyanya itu, tak heran, berbagai prestasi berhasil dirinya dapat, juga sering sekali dirinya mengikuti pameran pameran budaya. Mulai dari lokal, nasional bahkan menjajal sampai ke luar negeri. “Kalau pameran, biasanya diajak oleh pemerintah,” celetuk Petrus.

Mengaku sering dibohongi

Namun di balik nama besar tuan Petrus, ternyata berbanding terbalik dengan kondisi kehidupannya. Petrus yang sudah mengabdikan hidupnya selama puluhan tahun sebagai pekerja seni, dan telah mampu membawa nama kota kelahirannya ke manca negara, tidak memiliki apa-apa. Jangankan rumah, galeri pun dirinya tidak punya.

“Saya sudah sering menghadap pemerintah daerah setempat agar memperhatikan para pekerja seni, tapi jawaban mereka selalu nanti, nanti dan nanti. Sampai sekarang tidak ada kepastian. Saya tidak minta apa-apa. Saya hanya perlu galeri dan sanggar seni sebagai wadah menciptakan regenerasi. Karena saya berpikir, setelah saya mati, lalu siapa yang akan meneruskan pekerjaan ini,” ucap Petrus dengan tatapan kosong.

Ditemui secara terpisah, Aminah, berumur 57 tahun. Dia adalah istri Petrus, menjelaskan, meskipun suaminya sudah sering mengharumkan nama daerah, bahkan negara, lewat pameran pameran seni dan budaya, tapi sampai detik ini tidak ada perhatian serius dari pemerintah terhadap kelangsungan hidup keluarganya.

GEDSC DIGITAL CAMERA

“Sama sekali tidak ada. Setiap pulang dari pameran di luar negeri, suami saya hanya diberi uang sejumlah 2 juta – 3 juta rupiah. Sedangkan pameran hanya diadakan setahun sekali. Itupun kalau rutin,” ucap Aminah.

Tidak hanya itu saja, ternyata pak Petrus menurut Aminah juga sering dibohongi. Pernah pada suatu hari, pak Petrus diminta untuk membuat beberapa tas dari kulit kayu oleh Dekranasda. Tas-tas itu akan dibawa ke sebuah pameran kerajinan tangan di Jakarta.

“Usai pameran, pihak dari Dekranasda memberitahu suami saya, kalau hasil kerajinan tangannya tidak bagus. Tapi ternyata tas-tas itu dijual tanpa sepengetahuan suami saya. Dan kami tidak dapat apa-apa dari itu,” jelas wanita berpenampilan sederhana itu.

Selain itu, menurut dia lagi, saat pameran juga dua buah patung karya pak Petrus pernah dibeli oleh pengunjung dari Malaysia seharga 50 juta rupiah dan 18 juta rupiah. Namun tidak jelas uang itu kemana. “Tidak pernah ada kabar lagi sampai sekarang,” ucap Aminah.

Saat ini pak Petrus dan keluarganya tinggal di sebuah rumah kecil. Rumah itu dipinjamkan oleh seseorang untuk mereka. Karena semangat seninya cukup besar, dia pun menyulap ruang tamu rumah itu menjadi galeri seni sederhana. Di galeri itulah pak Petrus menghabiskan waktu tuanya untuk terus membuat karya seni.

“Biarkan saja, untuk seni saya ikhlas. Tidak ada yang dapat melemahkan semangat saya untuk berhenti. Justru ini adalah motivasi saya untuk terus membuat karya seni. Meskipun saya harus berhutang bahan baku pada orang kampung,” ucap Petrus tegas.

Pak Petrus memang tidak memiliki apa-apa. Tapi semangat juangnya untuk terus berkarya dan melestarikan kesenian khususnya kesenian tradional dayak di Kalimantan Barat, harus kita dihormati dan apresiasi.

 

15 Comments to "Semangat dan Tangisan Pahlawan Seni dan Budaya Bumi Sabalo"

  1. Dj. 813  22 May, 2013 at 19:55

    Jemy Haryanto Says:
    May 22nd, 2013 at 19:24

    sama-sama mas JC. pak DJ,, Apa yang bapak katakan itu adalah kisah nyata yang dialami oleh seluruh seniman dan seniwati di Indonesia dari keberpalingan pemerintah. Miris dan miris. Tapi biarlah, mungkin pejabat-pejabat itu bahagia berlaku demikian. Dan bagi para seniman, penulis dan lain2, karya adalah kehidupan. oh iya jujur saya baru tahu kalau bapak seorang pelukis juga. saya juga punya seorang sahabat dekat yang jg seorang pelukis yang nasibnya juga sama. Tetap semangat pak DJ. Salam hangat dari west borneo
    ———————————————————–

    Mas J. Haryanto…
    Benar memang, hati seorang seniman itu sangat laiin.
    Tapi kami sudah merasa senang, kalau karya kami dibeli orang, walau sering tidak dibayar…
    Hahahahahahahaha… anggap sebagai reklame saja.
    Dj. kerja srabutan, apa saja Dj. kerjakan, olehnya mas Juwandi sering bicara, Dj. nyuri kerjaan orang lain.
    Hahahahahahahaha….!!!
    Tapi masih banyak juga karya lukisan yang di gudang dan garasi,
    Saat ini sedang malas, tapi satu saat datang rajinnya, ya hampir setia hari melukis.
    Sekarang sibuk mengurus bonsai, karena setalh musim dingin,mereka mollai berdaun lagi dan perlu pengarahan ranting, agar tidak berantakan.
    Kalau hobby jepret dengan Camera, sih setiap hari, leher di kalungi Camera.
    Mungkin seperti anda juga yang hobby photograpy.
    Okay, selamat berkarya.
    Salam sejahtera dari Mainz.

  2. Jemy Haryanto  22 May, 2013 at 19:31

    mbak/mas alvina,, wah tidak saja ada yang baru, yang lepas juga ada, bahkan yang berencana lepas lagi juga akan buaaanyyaakkkkk nanti,, hehe

  3. Jemy Haryanto  22 May, 2013 at 19:24

    sama-sama mas JC. pak DJ,, Apa yang bapak katakan itu adalah kisah nyata yang dialami oleh seluruh seniman dan seniwati di Indonesia dari keberpalingan pemerintah. Miris dan miris. Tapi biarlah, mungkin pejabat-pejabat itu bahagia berlaku demikian. Dan bagi para seniman, penulis dan lain2, karya adalah kehidupan. oh iya jujur saya baru tahu kalau bapak seorang pelukis juga. saya juga punya seorang sahabat dekat yang jg seorang pelukis yang nasibnya juga sama. Tetap semangat pak DJ. Salam hangat dari west borneo

  4. J C  18 May, 2013 at 10:52

    Jemy Haryanto, terima kasih sekali lagi menampilkan kesenian dan budaya yang tidak banyak terekspos media lain… Bumi Borneo ternyata banyak menyimpan kekayaan budaya…

  5. Alvina VB  18 May, 2013 at 00:25

    Terima kasih banyak buat artikel ini. Btw…sejak kapan Ind punya 34 provinsi, soalnya dulu sekolah tahunya ada 27 provinsi, ada provinsi yg barukah saat ini….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.