Mengenang 20 Tahun Kematian Marsinah – ATKI-HK Gelar Doa dan Pagelaran Seni

Hanna Yohana

 

Hong Kong  –  Buruh Migran Indonesia di Hong Kong yang tergabung di Asosiasi Buruh Migran Indonesia di Hong Kong ( ATKI-HK)  menggelar doa bersama dan pagelaran seni dalam rangka mengenang Marsinah, aktifis buruh yang dibunuh 20 tahun lalu karena memperjuangkan kenaikan gaji di pabriknya di Sidoarjo. Bertema Marsinah 20 Years Cry for Justice, acara ini diikuti 120 orang dengan pakaian serba hitam simbol duka.

“Marsinah adalah pahlawan. Dia buruh dan seorang perempuan yang tidak kenal takut menghadapi apapun demi memperjuangkan hak-hak kaumnya di tengah tindakan rejim tangan besi Suhato ketika itu. Semangatnya benar-benar tauladan bagi kami semua” jelas Ganika di sela-sela acara.  

Seperti halnya perempuan-perempuan desa yang bercita-cita tinggi, Marsinah yang tidak punya biaya untuk kuliah setelah lulus SMA, akhirnya terpaksa bekerja sebagai buruh pabrik di PT. Catur Putra Surya. Upah rendah dan beban kerja berat memaksa para buruh untuk menuntut kenaikan gaji sesuai standar UMR yang telah ditetapkan pemerintah ketika itu. Namun tuntutan tersebut tidak disambut baik pemilik perusahaan dan berakhir dengan penangkapan hingga pembunuhan terhadap Marsinah di tahun 1993.

“Persoalan yang diperjuangkan Marsinah dan kawan-kawannya di masa itu masih terus kami hadapi hingga hari ini. Kemiskinan, perampasan tanah, sistem outsourching dan upah murah memaksa pemuda-pemudi desa menggadaikan tenaganya sebagai buruh di dalam dan luar negeri.” tutur Ganika di tengah orasinya.

Selama satu jam program, Tim Kesenian ATKI-HK mempersembahkan beberapa karya seperti puisi dan theater yang mengangkat kondisi buruh Indonesia hari ini dan semangat perjuangan Marsinah.

“Kematian Marsinah bukti keberpihakan pemerintah kepada pengusaha dan bukan rakyatnya sendiri. Tentara bukan lagi untuk melindungi rakyat tapi membungkam mereka yang berjuang mempertahankan hak-haknya. Dan kekerasan militer ini masih berlangsung hingga hari ini” tegasnya

Ganika menjelaskan peristiwa kekerasan militer masih kerap terjadi seperti bentrok polisi dengan petani di Mesuji hingga 30 petani ditembak mati, di Sumatra 60 petani luka tembak dan 1 anak kecil mati.  Menurut AGRA (Aliansi Gerakan Reforma Agraria), selama kurun 2012 tercatat 156 petani ditahan, 55 dianiaya, 25 luka tembak dan 3 orang tewas.

_DSC0791

_DSC0786

_DSC0783

Ironisnya Indonesia dan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinobatkan dengan berbagai julukan termasuk sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di antara negara-negara G-20, negara demokratis dan toleran dengan perbedaan, dan lain sebagainya. Namun penobatan ini berbeda jauh dengan yang dirasakan rakyat Indonesia. Kebijakan-kebijakan negara yang merugikan rakyat seperti kenaikan BBM yang akan segera disahkan mendorong rakyat makin kritis dan melawan. Tetapi selalu ditanggapi dengan moncong senjata. Bahkan tahun ini pemerintah rencananya akan mengesahkan RUU Keamanan Nasional dan RUU Ormas untuk membatasi hak bersuara dan beroganisasi.

“Rejim Suharto sudah jatuh dan jangan biarkan kekejamannya hidup kembali melalui pemerintahan hari ini. Kita harus terus menuntut demokrasi sesungguhnya, menghentikan kekerasan militer dan mencabut kebijakan negara yang merugikan. Buruh Migran juga ingin pulang ke rumahnya sendiri tetapi tidak akan terwujud selama perubahan sosial sejati belum terjadi.

 

15 Comments to "Mengenang 20 Tahun Kematian Marsinah – ATKI-HK Gelar Doa dan Pagelaran Seni"

  1. Silvia  19 May, 2013 at 13:15

    Banyak Kali memang kasus krimininalitas di Indonesia ini tdk serius ditangani.

    Kasihan yg jd klg Marsinah.

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  18 May, 2013 at 22:12

    Oh Marsinah… ingat betul pemberitaan tewasnya dia oleh aparat yang dibayar majikan-majikan serakah. Ini sebuah bagian kecil yang memalukan dalam Orde Baru.

    Terima kasih laporannya.

  3. tammy  18 May, 2013 at 16:45

    Aku waktu itu jg mengikuti berita ini. Pengusaha/pemilik pabrik yg ditangkap dan dituduh membunuh ini akhirnya dibebaskan, karena memang ini hanya rekayasa. Selama ditahan dia disiksa utk mau menandatangani/mengakui isi BAP. Jadi si pembunuh dan otak pembunuhannya tidak pernah tertangkap dan masih bebas berkeliaran.

  4. Hanna  18 May, 2013 at 12:54

    Pak Joshchen @ kembali mengenang sejarah 20 tahun silam. Terima kasih apresiasinya pak. Salam

    Mas Rinto @ ya, Marsinah yang jadi korban orang-orang yang hanya mementingkan uang juga kehormatan. Terima kasih apresiasinya mas

  5. J C  18 May, 2013 at 10:59

    Reportase yang lengkap. Aku masih ingat itu di sekitar semester 3 pas kuliah. Seluruh pemberitaan media massa heboh…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.