Ooo.. Galela!

Ary Hana

 

Ooo.. Galela!

Ingatkah kau kisah tentang Kristus yang berjalan di atas Danau Galilea? Dia lakukan itu demi menyelamatkan nelayan Yahudi yang tertimpa badai! Kurasa Franciscus Xaverius mengingatnya, lalu dia pun  teringin memberikan bakti yang sama. Maka dipilihnya  pedalaman Halmahera bernama hampir sama, Galela, sebagai basis pengabaran injilnya.

Ooo.. Galela!

Konon terkabar pada abad keenambelas, Sultan Bacan hendak memberikan hadiah kepada masyarakat di Ujung utara Halmahera. Bukan sembarang hadiah, tapi sebuah meriam. Meriam yang mampu mengusir cecunguk kolonial mirip Belanda dan Portugis keluar dari wilayah itu.

Melihat besar dan bentuk meriam yang terkirim lewat laut, penduduk  pulau pun terperangah. “Ma ga? ma ga?” tanya mereka. Apa itu? Apa itu?

“O lela!” tukas si pembawa meriam. Itu meriam. Maka ditetapkanlah nama Galela di tempat itu, yaitu daerah turunnya meriam.

Ooo.. Galela!

Sudah ditetapkan bahwa engkaulah si pembawa meriam. Ingatkah kau gempuran yang kau berikan paska mangkatnya Nuku? Ketika para penjajah merajalela, kotori laut Halmahera dengan armada kapal bengis kejam, kau pun muncul, menjelma jadi lamun perkasa.

“Tak hendak kami rampas harta rakyat. Tapi kan kami sapu mereka yang menindas rakyat. Pasukannya. Saudagarnya. Kapalnya. Hartanya. Kami rampas semua. Kerna kamilah pemilik laut ini. Ahli waris sejati tanah ini.”

Ah lamun Galela, ditakuti hingga penjuru segala. Laut Flores. Laut Banda. Laut Maluku. Hingga ke Teluk Tomini.

“Kami bukan perompak biasa. Kami ini abdi setia Nuku. Kami lawan mahadiraja yang membebek Spanyol di Tidore. Kami berangus antek VOC di Ternate. Kami galang semua negeri. Tobelo. Tobaru. Weda. Maba. Patani. Raja Ampat. Bersatu memukul musuh bersama. Di laut kami jaya!”

Ooo.. Galela!

Kini kukisahkan paska terusirnya trio besar kolonial dari tanahmu. Portugis, Spanyol, dan Belanda. Ya, kukisahkan tentang datangnya pasukan negeri yang mengaku ‘saudara tua’ warga Asia pemilik asli negeri. Kau sambut mereka dengan suka cita. Kau buka tanahmu lebar-lebar. Hingga tanpa terasa mereka tanamkan jerujinya dalam-dalam ke tubuhmu. Siap mencabik daging dan darahmu.

Yah, mereka tanamkan meriam dimana-mana. Mereka datangkan beragam alat perang. Kapal perang dan tank penuhi daerah Kao. Lalu pesawat, meriam, mereka pakukan sepanjang Pune, Danau Doma, dan garis pantaimu. Siap bidik musuh bersama, katanya. Musuh kita adalah sekutu! Itu kata mereka.

Ooo.. Galela!

poto

Kugenggam legenda dan sejarah panjang itu kala kutapaki kebun pisang yang berserak di lingkupmu. Ah, sejauh mata memandang hamparan pisang ada dimana-mana. Ada pisang sepatu, ada pisang galpapo, ada pisang batu, lalu pisang manado, pisang ulubebe, pisang tongkalangit, dan puluhan jenis pisang lainnya.

“Negeri pisangkah ini?” tanyaku heran. Yang kutanya, perempuan berambut sebahu hanya tertawa.

 

33 Comments to "Ooo.. Galela!"

  1. Dewi Aichi  23 May, 2013 at 04:04

    Ary…ha ha ha ha…lha mbiyen rung puas le nguyel uyel awakmu.

    Lani…nahhhhh..betul kan sodara kenthirku…..Ary itu kecil, tapi cabe rawit….smart dia….

  2. Lani  23 May, 2013 at 00:03

    AH : nah perkara pendpt DA si prof alumni Pakem wong-e boleh cuilik menthik cm 40 kg……….tp otaknya sgt amat cemerlang………..hehehe bener opo bener??????

    Burung Maleo dikatakan habis bertelor langsung pingsan………..mungkin krn ngeden hrs kuat ktk mengeluarkan sitelor………kehabisan tenaga njur semamput………..kasian.

    wadoh klu bs baik telor dan burungnya jgn dimakan……..nanti lama2 punah rugi dunk

  3. AH  22 May, 2013 at 23:27

    iki ngopo to si dewi munyun hobine nguyek2 wae

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.