Free Man alias Preman

Ki Dalang: Leo Sastrawijaya

 

Sejatinya kisah pewayangan yang jamak dimainkan oleh ki dalang di dunia wayang koplak (bukan wayang yang mengikuti  pakem maksudnya) adalah nyaris tidak beda dengan infotainment selebrities yang marak di stasiun-stasiun telepisi, tabloid wanita, maupun media-media online berbahasa Melayu-Indonesia. Semua hanya berkisar tentang cerita mereka orang-orang terkenal yang kemudian di “orang pentingkan” meski kisahnya sama sekali tidak bermutu. Menjungkirbalikan nalar sehat, atau cerita recehan tentang rencana perkawinan, perselingkuhan  hingga liburan pribadi.

Masih untung bila yang menjadi “hero” bukan bencong … Atau yang menjadi lakon adalah soal aktor “insyaf” yang kini sibuk mencecar kelakuan mantan “guru spiritualnya” yang “sesat”, seperti yang kini gencar menghiasi media dengan berbagai bumbu sensasinya.

Tapi ya sudah semua memang bermuara pada code of conduct bergelar rating di dunia telepisi, traffic di dunia maya maupun oplah di dunia yang sebentar lagi akan menjadi tinggal sejarah yaitu media cetak. Baik rating, traffic maupun oplah semua bermuara pada fulus alias uang.

Ya pengusaha yang “sukses” memang harus selalu paham apa yang dimaui konsumen.  Jika konsumen memang menyukai sensasi ya sediakan sensasi bukan terasi.  Kalau konsumen suka music jazz ya jangan jual dangdut, pasti tidak laku, juga sebaliknya. Jadi ini soal hukum dagang, dengan si keparat yang manis bernama FULUS sebagai biang keladinya.

Kalau ki dalang coba-coba menyajikan kisah seorang Free-Man seperti Arya Golagotha yang tidak memiliki trah bangsawan Astina, Pandawa, Alengka atau yang lainnya pastilah ki dalang tersebut dijamin bakal ketiban sepi order karena kenekatannya.  Lalu darimana fulus mengalir bila begitu?

Jadi tolong mengerti dan ma’afkan mereka para dalang, baik dalang wayang, sinetron, inpotainment atau jualan cerita dan gambar yang lain. Mereka hanya melakukan apa yang memang seharusnya mereka lakukan sehubungan dengan hukum sebab akibat keuangan… Bukankah jaman modern ini kita mustahil bisa hidup tanpa uang? Dunia wayang mati tanpa perdagangan, ki dalang kehilangan fulus jika mengingkarinya!

Sehingga si dalang koplak yang nekat ini kemudian berani mengambil kesimpulan bahwa : Ibu dari segala peradaban modern adalah uang! Terserah dunia mau mengakui apa tidak.

Anda boleh setengah mati membenci saingan anda yang sudah merebut kekasih anda, anda boleh benci setengah mati kepada gadis/jejaka sebelah yang tetap cuek meski anda sudah mengerahkan segala daya untuk menarik perhatian dia, bahkan anda bisa saja membenci setengah mati mertua atau calon mertua anda karena soal benci dan cinta memang selera, sedang selera adalah hal yang tidak bisa dipaksakan.   Namun satu-satunya nasehat bijak ki dalang tolong sedikitdiperhatikan : Jangan sekali-kali mencoba membenci fulus!!!! nda ditanggung kualat seribu adat!

Lalu jika dalam pakeliran kali ini ki dalang mencoba mengangkat lakon dengan tokoh utama seorang Arya Golagotha, bukan priyayi, bukan ningrat, sehingga ditanggung tidak dikenal oleh para dalang, apalagi masyarakat umum. Tentu saja ada alasan-alasan spesial yang mendasarinya, tapi untuk yang ini ki dalang mohon ma’af karena tidak bisa mengatakannya di depan publik “op de recod” (memang = op de recod= tidak salah tulis) meminjam istilah Bawor dalam bahasa Inggris yang jelas ketidak jelasannya tersebut.

Free-Man atau menurut lidah orang Amartapura menjadi Preman adalah fenomena sosial yang sudah menjadi rahasia umum di dunia wayang apapun merek dagang kenegaraannya. Tidak terkecuali di Amartapura, sebuah negeri wayang (untuk membedakan dengan negeri manusia atau hobbit) yang selalu mendapat rangking atas urusan HAM, kesetabilan ekonomi, kesetaraan gender (meski para pejabatnya khususnya Letnan Jenderal Raden Harjuna istrinya bererot, selirnya segudang, pun masih sering ngembat bini orang), juga kesetabilan sosial ekonomi dari berbagai lembaga  rank makers yang jualannya memang produk ranking itu.

Jadi jangan pernah mengkhayalkan bahkan dalam mimpi sekalipun bahwa Amartapura itu sebuah negara pewayangan yang “Free from Free Man” alias bersih dari Preman.  Jangan pernah sekalipun! Sungguh! Anda dijamin patah hati bila terlanjur mengkhayalkan itu.

Di Amartapura yang “elok” tersebut preman telah melakukan penyesuiaian sedemikian rupa, bahkan telah melakukan semacam metamorfosa menjadi berbagai bentuk.  Free-Man bisa berubah ujud menjadi anggota parlemen, pejabat teras berbagai tingkatan dari menteri sampai sat-pol (bayangkan!), anggota eLeSeM, penasehat hukum (maksudnya tukang menasehati klien supaya tidak mengindahkan hukum), aparat keamanan dan berbagai jenis propesi lain. Di samping tentu saja preman yang tetap saja menampakkan bentuk aslinya sebagai preman (yang tentu saja ini pasti preman kecebong yang ototnya banyak tapi otaknya dikit).

Jangan keget bila di Amartapura anda berpapasan dengan sebuah parade barisan preman yang memakai sepatu lars berseragam layaknya tentara, membawa bendera, kemudian pemimpinnya melakukan orasi dengan topik utama gerakan cinta tanah air! Padahal kesehariannya mereka melulu hidup dari memeras sodara mereka setanah air.  Tidak hanya itu, Barisan mereka bisa jadi malah dikawal oleh pasukan kawal negara ….  Huebat bukan??? (itulah hebatnya ki dalang, jangan lupa!)

Walau koplok, ugal-ugalan, telat mikir, aikyu di bawah standard dan gelar minor lain yang memang begitu adanya, ki dalang, masih sedikit bisa melihat dengan mata bathin yang waras.  Bahwa para preman itu meski menyebalkan dan menganyelkan (kalau tidak tahu artinya jangan khwatir ini memang istilah yang belum pernah digunakan siapapun, dari manusia,wayang, hobbit hingga jin merkayangan sekalipun), namun pada dasarnya dulu muasalnya bayi manusia tetaplah sebuah “potensi menjadi baik”, atau bila ingin kedengaran religius ya bayi diciptakan seperti selembar kertas putih yang masih kosong, terserah bagaimana lingkungan sosial akan menulis apa di selembar kertas kosong tersebut.

Tapi baiklah, ki dalang kadang-kadang memang sok up to date sehingga kali ini mau mengajukan pembelaan tentang eksistensi premainisme dengan premis teknologi inpormasi (ya inpormasi bukan Informasi, tidak salah tulis sama sekali). Manusia lahir sebagai mahluk kemungkinan, ketika lahir normal manusia telah disiapkan dengan kelengkapan hardware yang lengkap, prima dan siap kembang.  Dari fasilitas pembangkit tenaga, berbagai sensor (gerak,visual,panas bahkan rasa), central processing unit, saluran penghubung baik otomatis maupun manual dan lain-lain, tentu saja semua dipersiapkan untuk melayani aneka software yang akan di install kedalam sistem meeka. Hebatnya hardware ini adalah hardware yang siap kembang hingga masa tertentu.  Bagaimana agar hardware ini berkembang sempurna? Gizi dan hidup sehat.

Lalu di sinilah alasannya di balik kualitas produk akhir manusia: software to be developed.  Bayi belum bisa bicara, harus belajar banyak hal dan lain-lain agar tumbuh dewasa sebagai manusia.  Agaknya alam hanya menyediakan fasilitas pemrograman yang lengkap, HTML, PHP, SQL dan serangkaian fasilitas pemrograman super canggih, akan menyusun rangkaian program yang akan bersinergi dengan seluruh hakikat human hardware-nya (istilah apapula nih Ki Dalang?).

Memori prakondisi sebagai acuan tindakan dibangun melalui pengalaman – pengalaman moral etika, kualitas memori prakondisi tergantung persentuhan seseorang dengan nilai-nilai moral, etika dan pranata sosial.  Konon menurut para ahli proses penjaringan prakondisi berhenti di usia remaja. Di usia inilah watak sosial manusia sudah terbentuk, output response mereka terhadap gejala sosial kehidupan ditentukan oleh memori prakondisi ini. Orang tua dan lingkungan yang “korup tapi bangga” akan memenuhi memori prakondisi seorang anak yang hidup di lingkungan itu. Anak tersebut jika kelak memiliki peluang untuk korupsi maka besar kemungkinan akan melakukan tindakan korupsi juga, mengingat bahwa memori prakondisi si anak diisi oleh realitas sosial yang ditemui bahwa “korupsi itu membanggaken keluarga asal tidak ketangkap KPK”. Jangan lupa proses penjaringan bahan yang masuk ke dalam memori prakondisi semua alat sensor manusia bekerja bersama, bahan-bahan yang masuk dikumpulkan, diseleksi, yang paling mendekati realitas sejatilah yang masuk.

“Nak, hiduplah yang amanah. ” Nasehat orang tua kepada sang anak sehari tiga kali dengan masing-masing tiga porsi.  Tapi kemudian anaknya menjadi orang yang tidak amanah? Kok bisa?

Bisa saja, karena sensor suara menangkap moral sosial itu, tetapi sensor lain menangkap bahwa si orang tua yang mengajari supaya jadi manusia amanah (dapat dipercaya) tersebut justru di depan mata sang anak setiap hari mempraktekan aktifitas tidak amanah, korupsi, melalaikan tugas, ngembat sana-sini … Kira-kira si anak menyimpan fakta sosial apa di memori prakondisi yang kemudian disebut sebagai memori bawah sadar tesebut?

Bagan-bagan kemungkinan tindakan, berkembang seiring dengan kemajuan sosial seseorang, edukasi (dalam arti luas tentu saja, tidak hanya berkutat pada mendengarkan pelajaran “copy paste” seorang guru yang ketika menerangkan justru terdengar sebagai lagu Nina Bobok yang bikin ngantuk dan kliyengan).

Kombinasi antara memori prakondisi dan bagan-bagan kemungkinan tindakan seseorang itulah yang kemudian menjadi Internal Individual Program.

Internal Individual Program bergabung dengan kualitas jasmani yang kemudian melahirkan System Individu Seseorang.

Itulah sebabnya bayi yang lahir di Jepang secara umum (sekali lagi secara umum) akan cenderung bertumbuh menjadi human asset sedang bayi yang lahir di Amartapura cenderung menjadi human threat.

Karena secara kultur bangsa Jepang cenderung bekerja keras, commited, amanah, pantang menyerah dan jujur.  Pejabat publik Jepang, tidak usahlah korupsi, merasa gagal ketika menjalankan tugas saja akan sangat menyesali dan menghukum diri sendiri.

Di Amartapura?

Busyet daaah … seorang pejabat yang tidak berprestasi apa-apa, punya istri sehoha, kemudian tertangkap tangan oleh KPK (oh iya di Amartapura juga ada lembaga KPK) karena korupsi ratusan milyar, masih cengar-cengir laksana selebrities.  Menggunakan symbol-simbol religi untuk mempertahankan citra secara membi buta.  Kemudian seluruh keluarganya akan mengadakan konfrensi pers untuk “menyanggah upaya penzoliman” terhadapnya, meski tentu saja jika ditanya soal detail perolehan harta dibanding pendapatan legal yang diterimanya akan memberikan jawaban yang lucu bin absurd. Lalu coba dengar pernyataan ini ketika di gedung KPK seorang tersangka korupsi memberikan konferensi pers:

“Ya sebagai WARGA NEGARA YANG BAIK, hari ini saya memenuhi panggilan KPK … dst”

Bayangkan … setelah serangkaian bukti menunjukkan bahwa dia merupakan imam dari jama’ah koruptor yang morotin uang negara hasil pajak yang nota bene milik seluruh warga negara masih saja dengan ikhlas dan bangga menyebut diri sebagai “WARGA NEGARA YANG BAIK”. Welcome to Amartapura …!!!!

Ya di negeri seperti Amartapura itulah bayi teman dekatkuArya Golagotha lahir dan tumbuh.  Meski ayahnya berkulit kuning langsat dan ibunya pun demikian, Arya lahir dengan kulit hitam legam dan rambut kribo telak.  Jauh dari sosok dua orang tuanya yang berkulit coklat terang dan berambut cenderung lurus.

Usut punya usut, asal usul perbedaan cover itu karena dahulu sewaktu sang ayah masih menjadi nawala praja kelas bawah dan ibunya juga demikian ternyata ibunya pernah punya kenalan dekat seorang tukang kredit elektronik yang berkulit legam, berambut kribo telak. Sang ibu adalah konsumen setia sang tukang kredit.

Realitas tersebut tentu belum mengganggunya ketika nalar-nya belum sampai kepada pemahaman tentang =asal usul ing dumadi= dari setiap sosok bayi wayang.

Apalagi meski harus selesai dalam lima tahun, Arya adalah lulusan SMA jurusan pasti alam.  Jadi tahulah dia mengapa harus terjadi “kejanggalan” bentuk fisik terhadap dirinya. Pastilah ada penyebab lebih lanjut dari sekedar kenal dekat dan berjabatan tangan!

Menilik bahwa ibunya adalah penceramah etika yang terpandang di kampungnya, fakta itu tentu kemudian memaksa Arya remaja, menata  ulang konfigurasi memori prakondisi hidupnya.  Sebuah proses yang sadar atau tidak sadar telah melukai jiwanya sejak awal, setidaknya pasti telah mengakibatkan terjadinya crash di Internal Individual Program.  Untung saja tidak menimbulkan fatal error dan program keseluruhan berhenti ….  (hebat kan istilah ki dalang?).

Meski hanya pejabat kelas kecamatan, di kampungnya mereka hidup cukup terpandang, terkadang malah menjadi acuan moral dan religi dari tetangga dan lingkungan sosialnya. Namun beyond of surface reality Arya kecil tahu bahwa banyak setoran aneh masuk ke kantong bapak ibunya. Bapaknya pun sering main kwitansi dan tidak sekali dua kali Arya dilibatkan dalam proses tersebut.

“He kribo, fotokopiin ini ya nanti minta kwitansi seratus ribu. ”

“Wah pak, ini kan paling hanya go ceng biayanya, kok kwitansinya seratus rebu?” Protes Arya saat pertama kali terlibat dalam mark up proyek kecil-kecilan …

“Sudahlah ikutin saja kata ayah, anak kecil kribo tahu apa kamu?” hardik sang ayah. Tentu saja Arya menuruti perintah sang ayah. Dan selanjutnya sesudah itu Arya hanya akan bertanya, “Perlu kwitansi senilai berapa pak?” untuk pembelian-pembelian serupa.

“Nah begitu baru anak pintar. ” Kata si ayah.

Sialnya si ayah dan ibu selalu menasehati dengan percaya diri “Kribo, jadilah manusia amanah …”.  Nah lo!

Bagaimana kemudian perang yang terjadi dalam diri Arya, antara nurani dan dorongan-dorangan tindakan munafik yang sudah terlanjur terinstal dalam memori internalnya?

XXXXXXXXX

Ki Dalang ingat pertemuan kembali dirinya dengan Arya Golagotha dahulu setelah lebih dari tujuh belas tahun berpisah.  Arya memang teman masa kecil ki dalang, dulu kami berburu belut bersama, bermain bola bersama, dan saat menjelang remaja kami memiliki kegemaran yang samamengintip tetangga wanita mandi di kali ….

“Eh, mas bro. Gile kali lo ye.  Duit seabrek, pergaulan jet set, cewek bohai abis, duit bejibun, para petugas di sini naga-naganya semua ngormatin elo.  Gile.  Apa sih rahasia elo?” Tanya ki dalang ketika itu.

“Mangkanye elo kemana saja selama ini? Cuma jadi dalang kampung kurus kering macam itu ikhlas lo? Kalau dari dulu tetep mepet sama ane ditanggung sudah nungganging Perari, Mersi, atawa BeeMWe atau yang sekelas itu.  Dan lebih dari itu, si Lastri bohai yang dari dulu kamu incar kagak bakalan lepas dari tangan elo … Dijamin. ”

“Ah, elo … jangan buat gue sensi tahu …”

“Gue tahu.  Gue emang sengaja biar elo tersinggung terus marah terus niru gue.  Sedih gue lihat temen dekat gue yang lebih ganteng, lebih tinggi nilai ijasahnya tapi hidupnya kurus kering begini …”

Ki Dalang cuma bisa nyengir pasi, apalagi ketika mengingat Sri Sulastri wayang bohai yang dulu memang digila-gilainya, sempat pacaran tapi kemudian memilih menjadi bini ketiga seorang akuwu di tempatnya tinggal.  Itu memang realita yang kelewat ngenes … Bukan apa-apa hanya kepada Lastri-lah Ki Dalang tidak pernah kuasa mengintipnya saking rasa sayang dan hormatnya.  Kalau dia bisa beli Perari, tentu saja Lastri tidak bakalan ngibrit berpindah pelukan.  Apalagi selain alasan klise tapi nyata; demi masa depan diri dan keturunannya!

Tapi sudahlah, itu takdir.  Salah sendiri harus membuat kisah macam ini.  Siapa suruh?

Ia kembali menyadari ketakjubannya terhadap keberhasilan temannya si Kribo itu.  Bagaimana dia diperlakukan membuat dia merasa demikian asing.  Seminggu dia ditraktir tidur di presidential suite hotel bintang lima, sebuah limousine pun siap mengantarkan ki Dalang yang lebih sering naik sepeda onthel kemanapun.  Makannyapun selalu di restoran kelas satu.

Dan yang lebih membikin Ki Dalang “kamithotholen” alias gemetaran campur setengah linglung adalah ketika pintu kamar hotelnya diketuk dan ternyata di depan kamar sudah berdiri artis terkenal yang “tiba-tiba” saja sudah mengenal namanya.

“Saya disuruh Pak Arya menemani anda malam ini … “

Ki Dalang terpana, lalu meski ruangan kamar nan luas itu sebenarnya cukup dingin tak urung seluruh tubuh Ki Dalang mandi keringat karena grogi … Kecian.  (Cerita selanjutnya silahkan dikarang sendiri saja ya sidang pembaca).

XXXXX

Yah … tapi itu dahulu cerita lumayan lama, sepuluh tahun lalu.  Pagi ini, mata Ki Dalang sedikit basah ketika sebuah Koran pagi memberitakan tentang matinya seorang raja preman bernama Arya Golagotha.

Dalam gambar di koran itu, jasad sang preman yang adalah teman baiknya itu terbujur dalam posisi nungging … matanya jelas sekali menampakan ketakutan dan frustasi.

Ki Dalang menjadi teringat kembali semua kisah yang pernah mereka lakukan bersama ketika kecil dan remaja.  Ingat bagaimana berkali-kali Arya memaksanya untuk menerima bantuan finansial untuk sedikit mendongkrak performa kehidupannya yang memang lumayan menyedihkan itu.  Juga teringat bagimana Arya menjamunya sebagai tamu ketika itu.

Ia tahu Arya, meski dia juga tahu bahwa premanisme dalam segala bentuknya adalah menyebalkan. Arya hanyalah korban keadaan, korban dari contoh cara hidup yang berkembang di lingkungannya, carut marut kehidupan, juga moral sosial yang absurd.

Sebagai seorang dalang, Ki Dalang pun merasa sedikit sedih ketika menyadari bahwa dia memang tidak punya pilihan kecuali harus menerima bahwa salah satu teman dekatnya harus mengakhiri hidup dengan status sebagai kepala preman. Coba kalau menjadi koruptor ratusan milyar? Tentu dia bisa ikutan ngetop.

Tapi begitulah takdir ia mengalir lebih dengan wajah egois, ketimbang ramah dan penuh kasih.

 

Pagi mengalir menuju siang, sementara Arya kini entah ke mana, setelah satu sesi kehidupannya selesai di tangan Ki Dalang koplak yang adalah temannya sendiri.

========

Tutup Kelir

 

8 Comments to "Free Man alias Preman"

  1. LeoS  23 May, 2013 at 12:23

    Mudah-2an ada umur panjang mBak Dewi …

  2. LeoS  23 May, 2013 at 12:22

    JC yang menurut saya menakutkan adalah gejala sosial massif yang menunjukkan bahwa proses tidak lagi dihargai. Hasil fisik-lah yang dihargai, tidak peduli bagaimana proses yg digunakan untuk mendapatkan hasil itu.

  3. Dewi Aichi  21 May, 2013 at 08:56

    Kang Chandra..sepakat ha ha..gaya Ki Dalang dalam membawakan wayang koplak ini sangat menarik…aku akan selalu menunggu kehadiran Ki Dalang manggung di baltyra…ceritanya juga oke banget…

  4. J C  20 May, 2013 at 21:11

    Mas Leo, benar sekali memang dari urusan kecil (fotocopy) sudah dibiasakan dan dilatih demikian. Bukan itu saja, orangtua-orangtua yang aku kenal sudah ngajari anak-anaknya tidak jujur, kirim anak-anaknya les ke guru kelas, supaya dapat “hint” ujian, ulangan, sehingga nilainya tinggi dan dapat ranking di kelasnya…

  5. LeoS  20 May, 2013 at 19:53

    Thanks Chandra …

  6. Chandra Sasadara  20 May, 2013 at 14:48

    apikk tenan tulisane.. bagusss banget!!hatur nuhun Pak Leo..

  7. LeoS  20 May, 2013 at 09:20

    Sekarang sudah diralat Pak Handoko … boleh difoto copy asal bayar … hehehe

  8. Handoko Widagdo  20 May, 2013 at 08:59

    “He Kribi, tolong fotocopiin ini ya.” Kribo menjawab: “Maaf Pak, yang ini gak boleh difotocopy. Dilarang sama Pak Mentri, soalnya Pak Mentri mengharuskan semua kelurahan membeli alat pemindai.”

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.