Penilaian Sesaat Seringkali Tidak Tepat

Emi Suyanti

 

Penumpang di kursi depanku adalah  Agus. Lelaki separuh baya itu juga menuju Jakarta. Kami berkenalan dan saling berjabat tangan.

“Saya Emi pak, Bapak turun dimana?” aku mengulurkan tangan pada pria itu.

”Oh saya Agus mbak, turun di stasiun Gambir”. Agus sesekali terbatuk dan menutupinya dengan tangan kirinya.

Untuk  sebagian orang, menilai orang lain adalah perbuatan yang menyenangkan dan menggairahkan. Bahkan bisa jadi bikin ketagihan. Padahal aku tahu menilai orang lain belum tentu yang dinilai itu lebih buruk dari  kita yang menilai.

Aku membayangkan, betapa seru dan asyiknya orang-orang yang sedang ‘berdiskusi’ tentang kekurangan atau masalah yang sedang dihadapi saudara, teman bahkan artis dan tokoh politik yang sebetulnya hanya kita kenal melalui layar kaca.

Apalagi kalau orang tersebut bukan orang yang kita sukai atau justru sangat  dibenci. Dari  semua hal hanya keburukannya saja yang menarik buat dibahas. Sedangkan sisi positifnya, seperti menghilang entah kemana. Bahkan orang-orang  seolah lupa, bahwa manusia itu tidak diciptakan melulu dengan keburukan tapi juga punya banyak  sisi kebaikan.

Aku baru saja  mengalami kejadian ini. Dalam perjalananku  pulang dari Madiun melawat ayahandaku yang meninggal  menuju  Jakarta, seorang remaja putri berkerudung putih memintaku  agar mau bertukar tempat duduk. Rupanya dia ingin duduk di dekat jendela kereta posisiku duduk. Dengan halus permintaannya  kutolak.

“Bu, bolehkah saya bertukar tempat duduknya. Maaf saya ingin dekat jendela”.

“Maaf dik, saya sudah jauh hari memesan tempat duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan luar sana” jawabku yang tak ingin bertukar tempat dengan gadis itu.

Gadis itu terdiam sepertinya sedikit kecewa padaku.

Selain  memang sengaja, kumemesan tempat duduk di sebelah jendela, aku juga ingin mengajarkan bahwa untuk memperoleh sesuatu itu perlu proses  yang tidak mudah dan tidak terjadi seketika. Harus jauh-jauh hari pada saat pesan tiket, dan cari alternatif bila kursi yang kita minta ternyata sudah penuh terisi.

Sesaat kemudian, setelah  duduk berdampingan, gadis itu lalu bertanya kemana tujuanku. Sambil tersenyum aku menjawab.

“Saya mau ke Jakarta. Wah, rupanya tujuan kita sama ya dik”.

Setelah itu dia minta izin untuk memasang charger handphone yang stop kontak-nya memang ada di sisi kanan kakiku.

Ok-lah, biarpun kakiku sebetulnya agak geli karena kesentuh-sentuh kabel charger di sepanjang perjalanan, tapi hal itu saya biarkan.

Sesaat setelah kereta meninggalkan stasiun Semarang, gadis itu melepas kerudungnya dan menutup rambutnya dengan topi jaket yang dikenakannya. Sambil tetap mendengarkan musik melalui kabel yang terus terpasang di telinganya, dia mulai membuka ransel biru yang rupanya berisi bekal makanan buat di perjalanan.

Aku meliriknya dari balik buku yang sedang kubaca.

Eh, rupanya dia mengambil sekotak biskuit bersalut coklat panjang-panjang yang mulai dimakan dengan asyik. Sekali-sekali dia menyesap minuman bersoda dari botol ukuran sedang yang juga diminumnya dengan nikmat.

Tak lama kemudian, dia kembali memejamkan mata.

Aku juga mengalihkan pandang ke luar jendela dan dia kembali asyik dengan buku yang  dibacanya. Sawah, kebun, tepi laut, rumah penduduk semua berkejaran silih berganti. Membuatku merasa sayang jika kulewtkan untuk mengobati kepenatanku di perjalanan.

Aku juga tidak terlalu beramah-tamah dengan si gadis itu karena rupanya dia kurang suka bertukar cerita. Kulihat dia sering asyik mendengarkan musik dengan earphonenya.

Menjelang tengah hari, si gadis kembali terbangun. Kali ini sasarannya adalah keripik kentang merk ternama berukuran jumbo yang iklannya sering terlihat di layar kaca. Lagi-lagi dia makan sendirian. Minum juga tanpa berusaha untuk menawarkan.

Aku yang duduk di sebelahnya jadi merasa agak diabaikan. Tapi dia biarkan saja, toh namanya juga anak muda.

“Jangan-jangan generasi saya yang terlalu perasa dan penuh dengan etika sehingga sering berprasangka buruk pada generasi yang lebih muda”. Gumamku di hati berusaha tidak kesal.

Perjalanan  kami pun tetap dalam kebisuan.

Sekitar 15 menit sebelum kereta tiba di stasiun Gambir aku merasa tanganku disentuh pelan oleh gadis itu . Oho, rupanya gadis di sebelahku bertanya sesuatu tapi aku tidak mendengar karena perhatianku tercurah sepenuhnya pada pemandangan di luar kereta yang sudah gelap gulita.

Sambil tersenyum aku meminta dia mengulangi pertanyaannya.

“Maaf dik tadi tanya apa ya?” tanyaku.

“Ibu tinggal dimana? Gadis itu mengulang pertanyaan padaku.

Aku  jawab  sejujurnya.

“Saya tinggal di Cengkareng dik”sambil balik bertanya di mana daerah yang menjadi tujuannya malam itu.

“Adik tinggal dimana?”

Tanyaku sambil menyiapkan tas karena sebentar lagi akan turun.Ternyata dia mau ke rumah bapaknya di daerah Senin gang Keramat Sentiong untuk  menghabiskan liburan selama dua minggu. Gadis tinggal bersama nenekknya. Sedangkan ibunya tinggal di Surabaya.

Deg. Perasaanku mulai tidak enak.

Don't judge people

Gadis kelas 2 SMA itu betul-betul menarik perhatianku justru saat kereta akan tiba di perhentian terakhirnya. Dengan hati-hati penuh tanda tanya.

“Dimana kamu bersekolah?” tanyaku pada gadis itu sebelum kami berpisah.

“Di Semarang bu saya tinggal bersama nenek saya”.

Setelah kedua orang tuanya bercerai saat dia berumur 5 tahun, dia lalu dititipkan di rumah nenek dari pihak ibunya yang tinggal di Semarang. Dia juga bercerita bahwa sebagai anak tunggal, sekarang dia sudah punya 2 orang saudara tiri yang tinggal di Jakarta dan Surabaya bersama keluarga baru bapak dan ibunya. Sedangkan dia sendiri tetap tinggal bersama neneknya.

Duh, perasaanku ngilu jadi tidak karuan!

Penilaianku tentang gadis ini rupanya salah besar. Dirinya jadi mengerti kenapa sifat tidak pedulinya begitu dominan selama di perjalanan. Rupanya benteng untuk menutup diri itu telah dibangunnya selama bertahun-tahun karena merasa ditinggalkan.

Aku  juga sangat menyesal karena tidak mau memberikan tempat dudukku  kala dia memintaku untuk bertukar tempat. Bukankah seharusnya dia yang perlu diberi banyak kegembiraan karena sedang liburan dari pada diriku?

Apa boleh buat. Sesal kemudian memang tidak berguna aku  hanya bisa mengucapkan selamat jalan dan berharap agar liburannya menyenangkan. Malam kian larut. Dan penyesalan itu tak juga hilang dari hatiku.

Penilaian sesaat, memang seringkali tidak tepat.

Akhirnya sampailah aku di stasiun Gambir dan berpisah dengan gadis itu. Dari stasiun Gambir, tubuh lelahku sudah tidak memungkinkan naik Trans Jakarta yang pastinya selalu penuh sesak, berdiri dari Gambir  sampai  Cengkareng. Aku memutuskan naik taxi saja toh nanti bisa dibayar sampai di rumah. Karena sisa uangku hanya cukup buat bayar tol saja. Cuti yang aku ajukan masih sisa satu hari dan kugunakan untuk istirahat. Besok lusa baru kembali masuk kerja.

Pesanku, jangan menilai sesaat dan dari apa yang kita lihat. Dan jangan lekas menarik kesimpulan emosi sesaat sebelum kita tahu apa yang sebenarnya. Salam hormat.

 

68 Comments to "Penilaian Sesaat Seringkali Tidak Tepat"

  1. anoew  26 May, 2013 at 08:06

    Gaya berceritaya asik, pesan yang disampaikan pun tak rumit. Suka! Tengkiu Emi.

    Salam Duduk di Pinggir Jendela.

  2. Lani  25 May, 2013 at 02:37

    66 ora ono yg serupa pleg 100%……….itu yg bikin lengkap dunia ini………….jd berwarna warni………..

  3. Asianerata  24 May, 2013 at 00:49

    @Lani…iya kita memang sama tapi tak serupa hehehe

  4. elnino  23 May, 2013 at 18:49

    Catatan yg perlu direnungkan mbak Emi… Kecenderungan mudah menghakimi pada pandangan pertama memang harus ditahan ya, karena sering salahnya. Suspend judment

  5. Dewi Aichi  23 May, 2013 at 08:39

    mba Emi..kemarin baru jadi tukang ngecat ha ha…makanya ngga bisa komen-komen..

  6. Lani  23 May, 2013 at 08:22

    62 ASIANERATA : sama………aku jg tdk suka duduk didekat jendela di pesawat……….plg seneng di aisle

  7. Asianerata  23 May, 2013 at 06:14

    @Emi, akan kuingat pesanmu ….tapi terus terang kalau aku di kereta atau bis, rasanya berat sekali kalau diminta tukeran. Di kereta itu kan banyak pemandangan yg dilihat, saya rasa Emi tidak salah dalam hal ini.
    Kalau di plane/kapal udara, aku lebih suka tidak duduk dekat jendela, mau ditukar juga aku sih senang2 saja.
    Malahan enak kalau duduk dipinggiran (ayle), gampang ke toiletnya hehehe…

  8. Emi Suyanti  22 May, 2013 at 20:49

    59 : mbak Dewi Murni , kemana aja mbak…kok lama gak ada beritanya, moga sehat selalu ya…amiinn oh ya…aku tunggu-tunggu dari kemarin koment dari mbak Dewi…iya mbak selamat melanjutkan aktifitasnya ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.