Surat Kelima dari Desa

Angela Januarti Kwee

 

Dear David,

Bagaimana kabarmu? Hal ini selalu menjadi pertanyaan utama yang ingin kutanyakan padamu. Kamu tahukan artinya? Aku sangat merindukanmu, David.

Aku baru saja pulang berpetualangan. Kali ini, petualangannya hanya satu hari saja. Aku pergi kedua kampung yang berbeda dalam sehari. Kami menggunakan mobil Strada untuk antisipasi kalau-kalau jalanan rusak terkena hujan.

Perjalanan menuju ke sana berjalan lancar, cuaca sangat cerah. Terik matahari menembus masuk ke mobil yang kutumpangi. Namun aku menikmatinya. Kami mengambil jalan pintas agar sampai tujuan lebih cepat. Kamu tahu David, aku melewati beberapa kampung yang pernah kamu ceritakan padaku. Sejenak aku memikirkanmu. Aku membayangkan kamu berada di tempat ini sekarang. Apa yang kamu pikirkan? Rindukah kamu padaku?

Jujur saja, sejak kamu bercerita, aku pun ingin segera berkunjung. Aku tidak menyangka Tuhan mewujudkannya begitu cepat. Meski tidak denganmu, semua yang kualami hari ini sangat menghiburku.

Kami tiba pukul 13.30 dan segera memulai kegiatan. Masyarakat yang hadir cukup banyak. Secara keseluruhan acaranya berjalan lancar, meski sempat terkendala karena satu alat elektronik milik kami hangus terkena arus listrik yang tinggi. Maklumlah, masyarakat di sini belum dapat pasokan listrik negara. Mereka masih menggunakan mesin genset atau dompeng/diesel.

Di kampung kedua, masyarakat yang hadir lebih banyak. Kalau malam hari, lebih mudah untuk mengumpulkan mereka. Sejak pagi hingga sore hari mereka bekerja – menoreh, berladang dan terkadang begaji/bekerja dengan orang.

Menjelang waktu pulang, hujan mengguyur sangat deras.  Untunglah kami menggunakan mobil, jadi tidak perlu menunda waktu pulang. Temanku bilang kira-kira pukul 11 malam kami baru bisa tiba tujuan. Aku mulai mengantuk. Badan terasa lelah seharian bekerja. Aku terlelap.

Saat terbangun, aku melirik jam untuk memastikan waktu. Ternyata sudah pukul 10 malam. Masih sekitar 30 menit perjalanan untuk sampai. Hujan tak kunjung berhenti, temanku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.

Dari belakang, sebuah mobil melaju mendahului kami “Gila, mereka ngebut sekali!” tutur seorang teman.  Tahu apa yang terjadi selanjutnya, David? Kami melihat sebuah motor tergeletak di tengah jalan tempat kami akan melintas. Entah dimana pengemudinya. Mobil yang melaju tadi berhenti dan penumpangnya turun. Apa terjadi kecelakaan? Ini pun menjadi tanda tanya bagi kami. Rasanya tidak nyaman sekali melihat hal seperti ini di tengah malam. Semoga orangnya baik-baik saja.

Sekilas teringat perkataanmu, David. Kamu selalu mengingatkanku untuk memberi tanda kemenangan sebelum berkendaraan dan memulai aktivitas. Nah, kami ada berdoa sebelum perjalanan pulang. Hatiku lega karena kami sampai tujuan dengan selamat. Perkiraan waktu sampainya pun lebih cepat 30 menit.

David juga hati-hati ya kalau berkendaraan. Jangan terlalu mengebut.

Aku tahu kamu pribadi yang disiplin waktu. Jadi tak akan tergesa-gesa menuju satu tempat. Ini cukup membuatku lega. Aku hanya ingin mengingatkan saja. Okay?

Btw, Aku kirimkan satu foto untukmu. Foto ini kuambil agar selalu ingat pernah berkunjung ke tempat yang sudah kamu kunjungi. Semoga kamu menyukainya.

travel-mawar

Jaga kesehatanmu, David. Miss you!

 

Love,

Mawar

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Surat Kelima dari Desa"

  1. Angela Januarti  24 May, 2013 at 09:31

    Alvina VB : Bisa masuk kategori itu juga kak. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.