Menyambung Hidup

Wendly Jebatu Marot

 

Siang itu, Kota Metropolitan dibakar panas mentari. Di langit kota, tak seberkas pun awan putih yang membendung sinar surya yang panas membakar itu. Debu mengepul bak asap api menambah gerahnya siang itu. Hiruk-pikuk kota kelihatan kaku dan menjenuhkan.

Tapi panasnya mentari dan semua situasi metropolitan tak menyurutkan semangat seorang gadis belia untuk bernyanyi di sebuah traffic light pada sebuah jalan yang cukup ramai di Kota metropolitan, kota penuh gejolak itu. Dia menyanyi sambil memukul kaleng blue band.

Lagu yang dia lantunkan kayaknya tak ada dalam barisan lagu faforit masa kini bahkan tak ada dalam album yang dijual di toko-toko kaset. Itu karyanya sendiri, dan mungkin lahir dari situasi hidupnya sendiri yang penuh dengan gejolak pula. Peluh yang mengalir di sekujur tubuh tak digubrisnya. Dia terus bernyanyi di samping kendaraan yang lagi parkir karena lampu merah. Walau parau dia tetap benyanyi tak berhenti.

Demi menyambung hidup!

Gadis itu bernama Dara. Dia bukan turunan darah biru. Ia hanyalah anak kolong. Bukan kolong siku kuning atau jenderal tapi anak kolong jembatan tak berdinding. Sendiri dia mendiami rumah reot di pinggir kali itu setelah pemukiman kumuhnya di bawah kolong dibongkar atau pasnya digusur. Digusur karena katanya mengganggu pemandangan kota dan mengganggu penciuman mereka yang biasa mencium masakan yang diracik dengan bumbu istimewa dan menyebarkan bau yang harum menusuk hidung dan mungkin membuat orang pilek bersin-bersin dan akhirnya pileknya sembuh seketika tanpa harus bersusah-susah cari obat. Tentu saja itu makanan khas orang berduit yang membuatnya perut gendut dan terus gendut karena busung kenyang bukan busung lapar a la Dara.

Dan gadis itu terus bernyanyi. Demi menyambung hidup!

Dara! Itulah nama gadis itu! Nama yang indah. Sayang, nasibnya tak seindah namanya. Dara indah tapi sekarat karena kurang darah. Kalau mendengar namanya, orang mungkin akan menduga bahwa dia gadis dari golongan kelas atas atau barang kali dari darah biru.

Bukan!

Dia hanyalah salah satu dari gadis yang saban hari mondar-mandir di tengah kota dan mencari tempat yang ramai untuk menjual suara.

Demi menyambung hidup!

Ia seorang gelandangan. Tepatnya pengemis. Ia menjual suara untuk mendapat uang receh yang diberi lebih karena merasa terganggu ketimbang rasa kasihan dari mereka yang berduit.

Dia menjual suara bukannya membeli suara ala para pejabat agar lolos ke kursi empuk tempat mereka berhayal dan ngorok.

Bagi Dara, suara yang dia jual tidak mempertimbangkan merdu atau tidak. Dia tampilkan yang asli tanpa ada penyaring dan tanpa ada kebohongan. Suara itu berceritera tentang situasi hidupnya  yang nyata. Tak ada makanan untuk mengisi perut keroncongnya.

Ia lapar! Ia butuh makan demi menyambung hidup.

Dia butuh makan untuk hari ini! Itu saja. Tak ada janji bahwa kalau dia dapat uang dia akan tampung dan nanti bangun jalan atau bantu orang melarat lainnya.

Dara mengemis benar-benar untuk menyambung hidup. Ya! Menyambung hidup!

Dara bukan sendiri menjalani panggilannya menjual suara. Dia bersama dengan rekan-rekan senasibnya yang melarat dan diberi gelar konglomelarat. Mereka begitu akrap. Mereka akrap bukan karena sedarah melainkan karena senasib yaitu bukan lahir dari darah biru. Mereka senasib lahir di kolong, besar di kolong, diusir dari kolong, lalu kembali ke kolong dan terusir lagi sampai kurang darah karena lelah kurang istirahat.

Dara!

Kesehariannya hanya jalan-jalan dari satu tempat keramaian ke tempat keramaian lain. Di mana ada kemacetan dia mampir di situ. Kadang di mana ada perkelahian dia juga ada di situ. Dia datang dengan memegang kaleng blue band yang dia dapatkan dari tempat sampah.

Ya! Dari tempat sampah!

Dia juga sering mangkal di tempat sampah untuk mencari barang rongsokan yang dibuang oleh mereka yang ber-ada. Kalau harinya baik, kadang Dara bisa mendapat nasi bungkus yang agak basi yang dibuang begitu saja atau bisa juga menemukan sepotong besi tua yang kemudian dijualnya untuk membeli sesuap nasi sisa di warung padang di sudut perkumuhan mereka.

Dan kaleng blue band yang dia bawa itu didapatnya dari tempat sampah; itu pun setelah berebut dengan teman pemulungnya.

Konon ceriteranya, gara-gara kaleng itu dia juga hampir mati dicincang oleh teman pemulungnya yang merasa disaingi. Untungnya ada Kang Kadir yang saban hari berada di sekitar tempat sampah itu untuk mengurusi kambing satu-satunya yang cengeng. Cengeng memang karena dia hanya bisa makan kalau ditempatkan di dekat TPA itu.

Untuk Dara dan kawan-kawannya, Kang Kadir itu menjadi orang yang disegani dan dihormati di lingkungan kumuh  itu. Biasanya kalau Kang Kadir omong, semua yang lain ikut, menurut dan mengangguk tanpa mempertimbangkan apakah yang dia omong itu benar atau salah. Tapi sejauh pengalaman, Kang Kadir tak pernah keliru dalam mengambil keputusan…

Pagi itu, di bawah teriknya matahari yang baru menggeliat, lantaran kelelahan Dara memiliih untuk tidak pergi mengemis. Dia pergi ke tempat pembuangan terakhir itu untuk memulung.

pemulung1

Di sana dia bertemu dengan saudara-saudara senasibnya yang tengah sibuk menggali, mengais dan memungut sampah yang masih bisa dipakai. Ada kaleng minuman yang sudah menumpuk, ada bekas botol air yang masih ada sisanya dan ada gardus yang sudah tercabik tapi masih bisa dipakai.

Dara datang pada saat orang berada dalam ketegangan antara lapar, haus dan kurangnya penghasilan. Keringat mengalir membasahi tubuh dekil mereka. Dara langsung mendapat rejeki. Dia menemukan sebuah kaleng blue band. Saking senangnya, dia melompat sambil menunjukkan hasil temuannya itu kepada semua orang di situ. Dia begitu bangga seperti para penemu barang baru hasil inovasinya. Tak disangka, ternyata ada seorang ibu tak terima kenyataan. Seketika kegembiraan itu lenyap pergi bersama debu yang beterbangan tak beraturan.

Ibu yang cemburu itu berupaya merebut kaleng itu dari Dara’ tapi Dara tak mau kalah. Maka terjadilah pertarungan sengit antara Dara dengan ibu tua itu.

“Kau pengemis! Kau tak punya hak untuk masuk di tempat ini! Kamu tidak boleh merebut rejeki kami di sini! Ini wilayah pemulung.” Teriak ibu itu.

Dara tak setuju.

“Aku juga butuh makan! Jawabnya.

Kaleng bekas itu menjadi barang rebutan seperti para pemain sinetron Indonesia yang sedang merebut sehelai kertas yang berisi surat wasiat dari seorang kaya raya yang mau meninggal.

Tempat sampah itu menjadi ramai karena perkelahian kedua perempuan beda usia itu. Keduanya adu mulut; sambil mencaci maki, jambak-menjambak rambut, tarik menarik, dorong mendorong, terguling-guling di atas tumpukan sampah yang bau tengik itu.

Suara orang yang berupaya menghalangi perkelahian itu tak digubrisnya. Mereka asyik berkelahi merebut kaleng blue band yang mungkin di mata kaum berduit tidak lebih dari sepotong sampah yang tak berguna.

Dara tetap memegang kaleng itu dengan erat. Dia biarkan mukanya tergores kuku kotor. Tak peduli virus dari sampah itu masuk dalam darahnya lewat kulit muka yang tercabik dan mungkin akan menimbulkan penyakit kulit. Dia membiarkan rambut kusutnya dijambak habis-habisan sampai dia terlempar, terjatuh dan terguling di atas tumpukan sampah itu. Dia tetap memeluk erat kaleng itu. Kaleng blue band yang karatan.

Ini soal hidup mati!

Saat itu, Kang Kadir sedang memberi makan kambingnya. Mendengar suara gaduh di tempat sampah itu dia pun pamit pada kambing kesayangannya itu dan mampir ke tempat sampah itu. Betapa kagetnya sang bujang lapuk itu melihat kedua perempuan beda usia itu sedang jambak-menjambak, cakar-mencakar, jatuh, tendes-menendes, terguling-guling di atas tumpukan sampah, darah mengalir. Mereka mandi peluh dan lumpur sampah nan bau.

Kang Kadir tolong! Teriak yang lainnya.

Begitu mendengar Kang Kadir datang, mereka berhenti berkelahi dan langsung duduk mematung. Kang kadir memang sangat disegani bahkan ditakuti. Tak ada suara. Semuanya sunyi. Rambut acak-acakan. Muka Dara berdarah karena luka goresan kuku kotor sang ibu. Mereka menunduk dan tak berani menatap Kang Kadir. Dara memeluk kaleng blue band itu semakin erat. Suara nafas membara, mendengus tanda tidak puas. Kang Kadir berdiri di depan mereka.

“Aku pernah menonton TV di Pak Lurah dan aku menyaksikan para wakil kita adu jotos dan katanya mereka berkelahi demi memperbaiki dan membawa perubahan bagi nasib kita! Demikian Kang Kadir membuka pembicaraan tanpa peduli apakah kedua perempuannya mendengar atau tidak.

Lalu dia duduk di antara mereka berdua dan melanjutkan.

“Peristiwa itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu! Tapi sampai sekarang kita belum juga berubah! Kita tetap memulung! Saya tetap memberi makan kambingku satu ekor yang tak pernah bertambah karena memang aku tak mampu menambahnya! Dara tetap Dara pengemis dan menjual suaranya dan tak pernah jadi artis tenar. Ibu tetap mengais sampah! Rumah kita tetap digusur! Semuanya seperti dulu hanya usia kita yang berubah!”

Lalu dia menarik napas panjang dan dalam..

“Sekarang aku sadar bahwa perkelahian tidak pernah membawa perubahan! Kita tak pernah bisa kaya karena adu jotos merebut kaleng itu saudariku.” Lanjutnya.

Lalu dia menyuruh dua perempuan beda usia itu bangun dan menatapnya.

Dia menangis! Keduanya pun menangis.

“Aku mau kaleng itu dibuang atau dihancurkan saja.

Keduanya diam.

Tiba-tiba Dara menyerahkan kaleng itu ke perempuan tua tadi.

“Aku minta maaf mama! Aku merebut hak mama! Tak sepantasnya aku merebut apa yang menjadi hak mama di tempat ini! Dari pada kaleng ini dihancurkan lebih baik mama ambil saja”

Perempuan itu menangis terisak-isak. Dia menerima kaleng blue band itu. Tapi tak lama berselang, dia menghampiri Dara dan menyerahkan kaleng blue band itu.

“Nak, kamu lebih membutuhkan kaleng ini! Kamu bisa menjadikan kaleng ini musik mengiringi suaramu atau menjadi celengan tempat mengisi recehan pemberian orang itu! Terimalah nak! Dan maafkan ibu.”

Keduanya berpelukan dan keduanya pun menangis menjadi-jadi. Air mata menjadi tanda perdamaian mereka berdua.

Awalnya Dara keberatan menerima kaleng itu tetapi atas desakan ibu tua itu dan atas masukan Kang Kadir, dia pun menerima kaleng itu.

Dia memang merasa bersalah karena sudah mengais di tempat yang sebenarnya bukan wilayahnya. Dia mengakui kekeliruannya kepada semua anggota pemulung yang sering mengais di tempat sampah itu. Tetapi mereka semua tak menganggap itu kesalahan. Mereka yang diwakili oleh mama yang berkelahi dengan Dara itu justru meminta maaf kepada Dara atas sikap mama itu yang egois. Mereka sama-sama berterima kasih kepada Kang Kadir. Lalu mereka kembali ke tempat masing-masing.

Sejak peristiwa itu, Dara semakin giat berusaha di jalurnya. Dia menjadi pengemis professional dengan musik kaleng blue bandnya. Dia tak pernah putus asa. Batuk, pilek atau demam tidak pernah menghalangi karyanya dan di kalangan mereka dia dikenal sebagai dara yang dermawan dan dara yang tak pantang menyerah.

Saban hari dengan pakaian kusutnya dia berjalan dan berhenti di tempat-tempat ramai sambil meminta dan kadang sengatan matahari atau guyuran hujan tidak menghalanginya melantunkan lagu-lagu demi menyambung hidup.

Di kaleng blue band itu tertulis moto menyambung hidup.

Ya demi menyambung hidup barang sejenak!

******

Lalu mereka yang bersafari hitam lewat dengan mobil elit. Kaca mobil ditutup rapat, mata ditutup riben hitam. Lalu masuk di Senayan. Moto mereka biar tidur, yang penting datang. Akhir bulan ada gaji. Hari-hari kerja mereka datang, duduk, diam, dengar, dengkur, dream, duit. Cara mereka menyambung hidup agak lain.

 

 St. Agustin-Ledalero

Kamis 17 Februari 2011

 

9 Comments to "Menyambung Hidup"

  1. elnino  23 May, 2013 at 21:24

    Kenyataan pahit yang terjadi sehari2 di tengah2 kita. Rakyat harus memperjuangkan nasibnya sendiri krn menggantungkan diri pada mereka yg menyebut diri sebagai wakil rakyat adalah kesia2an belaka. Sigh..
    Nice writing bung Wendly.

  2. Dj. 813  23 May, 2013 at 18:19

    Hallo Wendly Jebatu …
    Terimakasih untu cerita yang bagus dan cukup mengharukan
    Dj. yakin,ini tidak sekedar cerita, tapi banyak anak-anak yang mengalami nasib seperti ini.
    Semoga banyak tangan-tangan Kasih yang meu berbagi rejeki, kepada mereka.
    Kalau Dj. mungkin judulnya akan menjadi ” KALENG BUE BAND “…Setiap orang harus berjuang untuk menyambung hidup.
    Salam ejahtera dari Mainz

  3. Dewi Aichi  23 May, 2013 at 18:00

    Dan berita berita tentang para petinggi negara ini sungguh sangat melukai hati rakyat Indonesia.

  4. wendly  23 May, 2013 at 13:30

    Kenyataan Negeri kita seperti ini… Eksekutif, Legislatif, Yudikatif semua mencari makan untuk perut sendiri. Rakyat, Dara yang berdarah-darah itu hanya barang dagangan mereka. Kemana-mana, dan di mana-mana selalu menyebut nama rakyat
    Negeri sialan…

  5. Lani  23 May, 2013 at 12:18

    Mmg begitulah kondisi sebenarnya………..tp ngakune wakil rakyat……..la rakyat yg mana? Kerjaannya datang mendengkur………..akhir bulan trima duit……..duitnya sapa? dpt drmn? hehehe………memprihatinkan………memalukan………..

  6. Alvina VB  23 May, 2013 at 11:59

    Wendly J.M: Kenyataan yg ditoreh dalam tulisan yg menarik (kenyataan yg memprihatinkannnn…..)
    Semoga para calon anggota DPR yg baru…. pinjem istilahnya ya…. gak cuma “datang, duduk, diam, dengar, dengkur, dream, duit, dugem dan daging”, ttp 2K buat rakyatnya….
    (2K=kerja keras).

  7. Chandra Sasadara  23 May, 2013 at 11:44

    di Republik ini terlalu banyak Dara yg berdarah-darah..

  8. wendly  23 May, 2013 at 09:35

    Thanks atas posting ceritera ini… Mari kita menyembung hidup dengan kerja kita. Mas Handoko.. 7D menjadi 9D

  9. Handoko Widagdo  23 May, 2013 at 09:01

    D7 adalah motto di awal reformasi. Setelah 15 tahun bertambah 2 D lagi, yaitu dugem dan daging.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.