Takut

F. Rahardi

 

Rasa takut itu tiba-tiba saja menyergap batok kepala Ki Dalang Pawiro Bajul. Dia sendiri kurang begitu tahu sebab-musabab serta asal-usul rasa takut itu. Mulai dari belakang rumah sampai dengan pojokan WC sudah dia telusuri semua, tapi Ki Dalang tak juga berhasil ketemu dengan kambing hitam penyebab rasa takut itu. Apakah karena dia menelantarkan anak istrinya? Jelas tidak. Selama ini dia tetap setia memberikan nafkah baik lahir maupun batin pada istri tercintanya. Sejak terjun ke dalam profesi dalang, dia juga belum pernah sekalipun main mata sama si pesinden yang cantik dan suaranya bak burung perkutut itu. Tegasnya, sampai dengan detik ini dia merasa masih tetap merasa sebagai seorang dalang yang senantiasa setia menjunjung tinggi nilai-nilai kepribadian para leluhur. Dia sopan. Dia juga loyal pada penguasa setempat. Maksudnya dia baik-baik saja sama pak lurah. Menempeleng orang Ki Dalang juga belum pernah. Jangankan sampai menempeleng, melotot atau ngomong kasar juga jarang sekali dia lakukan kecuali kalau memang sangat diperlukan. Tapi kenapa tiba-tiba saja dia telah dikepung pagar betis oleh rasa takut yang tanpa ujung pangkal itu?

Ki Dalang Pawiro Bajul lalu menelusuri dirinya sendiri lebih jauh lagi. Apakah rasa takut ini akibat dia salah memainkan wayang? Maksudnya dia telah alpa mengucapkan mantera, tak sengaja menyelewengkan lakon atau keliru telah membunuh tokoh baik-baik yang mestinya tidak usah dibunuh. Ki Dalang Pawiro Bajul lalu mengingat-ingat. Mulai dari saat dia belajar mengucapkan “ontowacono” dan menjejak “krepyak” sampai saat mendalangnya yang terakhir. Apakah ada yang keliru? Lantaran dia yakin bahwa dirinya masih belum pikun, maka dia pun memberanikan diri untuk menganggap bahwa tak ada sesuatu yang salah dengan profesinya mendalang. Tapi rasa takut itu ternyata tetap saja ada dan sekarang makin keras.

takut

Semula Ki Dalang Pawiro Bajul hanya menganggap rasa takut ini hanyalah semacam sakit masuk angin yang pasti akan hilang dengan sendirinya setelah selang beberapa hari. Tapi nyatanya kian hari rasa takut itu malah kian memojokkannya hingga napasnya seperti napas orang kelelap. Ki Dalang Pawiro Bajul lalu bersemedi. Dia memohon pada Tuhan Yang Maha Esa agar dirinya diberi kekuatan batin. Semakin dia bersemedi, kekuatan batin yang dia minta itu bukannya semakin dekat tapi malah makin jauh. Dia kesal. Maksudnya kesal pada dirinya sendiri. Rasa takut yang mengganggu itu lalu dia persetankan. Dia lalu tak ambil pusing. Silakan menakut-nakuti terus wahai rasa takut yang kurangajar. Ki Dalang Pawiro Bajul lalu pura-pura merasa tidak takut lagi. Dia juga bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak membocorkan rahasia ini pada siapa pun. Sebab kalau sampai ada orang yang tahu bahwasanya Ki Dalang kejangkitan penyakit takut yang tak ketentuan ujung-pangkalnya, maka profesinya sebagai dalang pasti akan terancam. Dan ini berarti periuk nasi keluarganya akan terguncang lalu jungkir-balik. Sambil tetap was-was dia lalu ambil keputusan untuk menerima tawaran mendalang di pekan depan ini.

Biasanya kalau ada tawaran mendalang, meski dengan honor berapa pun, Ki Dalang Pawiro Bajul senantiasa menerimanya dengan semangat yang menggebu. Tapi kali ini lain. Semakin dia tekan dan dia sembunyikan rasa takut itu, semakin keras pengaruhnya pada dirinya. Suaranya jadi parau. Padahal ini merupakan aib yang sangat besar bagi seorang dalang. Kalau dia kebetulan lagi memainkan tokoh raksasa atau Bima, suara yang parau itu malah akan makin mendukung. Tapi kalau yang ngomong kebetulan Arjuna? kalau Arjuna parau tentunya dunia percewekan akan gempar dan si Arjuna pun akan kehilangan predikat playboynya. Apalagi kalau dia memerankan tokoh putri ayu yang mestinya suaranya merdu. Apakah pantas kalau putri ayu suaranya serak?

Ki Dalang tambah resah. Lebih-lebih karena sekarang tangan dan kakinya juga sering kesemutan. Bayangkan! Bagaimana kalau tokoh wayang yang lagi dia angkat tinggi-tinggi itu tiba-tiba lepas dari tangan lalu mencelat dan kena si pesinden? Apakah ini bukan sesuatu yang memalukan? Ki Dalang makin takut, tapi tawaran mendalang tak bisa dia tolak. Pertama lantaran faktor rezeki yang selalu dianjurkan oleh orang banyak agar jangan ditolak, dan kedua atas dasar faktor tenggang rasa. Maksudnya semacam rasa solidaritas atau gotong-royong. Kalau tawaran mendalang dari tetangga dekat itu dia tolak tanpa alasan yang masuk akal, nanti dia akan kena cap sebagai seorang dalang yang “sok”. Mentang-mentang sekarang sudah menjadi dalang top lalu enggan untuk mendalang di kampungnya. Maunya hanya yang jauh-jauh agar bisa pasang tarif tinggi, dan sebagainya. Tawaran mendalang itu tetap dia sanggupi tapi rasa takut itu susah sekali dia suruh pergi.

Hari H telah tiba, Ki Dalang Pawiro Bajul mendapat tugas main malam. Sebagai seorang dalang yang telah jadi, dia memang merasa enggan untuk main siang. Selain karena yang nonton hanya anak-anak, main wayang siang akan kelihatan mukanya. Orang akan lebih banyak nonton dalangnya daripada menikmati lakon yang lagi dia bawakan. Itulah sebabnya acara main siang hari dia operkan saja pada dalang muda yang masih perlu kesempatan untuk asal bisa main. Baru sore harinya dia siap dengan pakaian seragamnya? kain batik, baju surjan kembang-kembang, topi blangkon, selop dan sebilah keris yang dia selipkan di punggung. Dia lalu berangkat. Biasanya saat-saat seperti ini sangat menyenangkan. Tapi kali ini rasa takut itu datang lagi menyergapnya. Sekarang yang disergap rasa takut itu tidak hanya batok kepalanya tapi seluruh dirinya, mulai dari tumit sampai nun di ubun-ubun sana. Ki Dalang melangkah ke tempat wayang dengan gontai seperti waktu pertama kali mendalang dulu. Dia gemetar. Sekarang pikirannya lalu sampai ke soal yang bukan-bukan.

Sebagai seorang dalang yang baik, Ki Dalang Pawiro Bajul masih memegang teguh nilai-nilai leluhur. Maksudnya, dia masih tetap percaya pada hal-hal yang berbau gaib. Meski orang sekarang mencemoohnya sebagai klenik yang mesti dijauhi seperti penyakit menular, tapi Ki Dalang tetap saja masih memegangnya dengan teguh. Atas dasar ketaatannya pada hal ini, Ki Dalang lalu mengambil kesimpulan sementara bahwa ada indikasi dirinya disantet oleh saingannya. Maksudnya agar permainannya gagal lalu namanya jatuh dan dia tak laku lagi. Bagaimanapun juga profesi dalang juga bisnis. Dalam bisnis, tujuan sering menghalalkan cara.

Ki Dalang lalu mengerahkan segenap kekuatan serta ilmunya untuk menolak pengaruh jahat itu. Seperti biasanya sebelum menancapkan wayang, dia terlebih dulu membakar kemenyan dan mengucapkan mantera. Kalau biasanya mantera selalu diucapkan pelan-pelan tapi mantap, kini sambil gemetaran dan parau lupa-lupa segala. Ki Dalang jadi makin serba salah. Dia lalu mengucapkan mantera untuk mengusir kekuatan jahat, tapi rasa takut dan puyeng itu malah makin ganas. Dia lalu tidak tahu lagi apa yang mesti dia ucapkan. Dia lalu turun dari panggung. Keringat membasahi baju dan blangkonnya. Dia mencari tuan rumah tapi nampaknya beliau lagi sibuk. Karena tuan rumah tak sempat dia temui cukup bicara sama wakilnya saja. Ki Dalang lalu bilang tak bisa main dan seluruh wewenang berikut haknya diserahkan pada pimpinan panabuh gamelan yang juga bisa berfungsi sebagai dalang. Dia lalu pulang dan tidur.

Rasa takut itu kini makin dekat. Ada apa sih ini sebenarnya, begitu pikir Ki Dalang. Apakah ada orang yang menggangguku? Setahunya tak ada seorang dalang pun yang jahat padanya. Semua baik. Bukankah sekarang sudah ada Persatuan Dalang Seluruh negeri? Dan bukankah dia tak pernah berlaku jahat atau tak sopan pada sesama dalam seprofesinya? Keringat mengucur makin deras. Rasa takut itu sekarang jadi makin kongkrit. Dia merasa seperti ada tangan atau kepala yang tiba-tiba saja terjulur dari dinding rumahnya, jendela segera dia kunci dari dalam. Pintu rumah juga dia minta tutup rapat-rapat. Suara gamelan dan “ontowacono” sudah kedengaran dan sekarang makin jelas. Pimpinan Penabuh Gamelan itu kedengaran masih agak kaku mengucapkan “suluk”. Karena rasa takut itu makin bangsat saja. Dia lalu menangkupkan bantal di atas kepalanya. Tapi semakin ia berusaha memejamkan mata, ketakutan yang tanpa sebab dan tanpa alasan itu makin membabi-buta. Tiba-tiba pintu digedor dari luar. Yang membukakan pintu istri Ki Dalang. Yang menggedor pintu ternyata si tuan rumah yang empunya hajat menyunatkan anaknya dan mempergelarkan pertunjukan wayang. Si empunya hajat itu ingin ketemu sama Ki Dalang. Boleh, kata istri Ki Dalang dengan genit. Si empunya hajat lalu masuk ke dalam rumah. Dia ditemani oleh beberapa orang yang kurang begitu jelas sosok wajahnya. Ki Dalang lalu dipanggil keluar oleh istrinya. Begitu mendengar panggilan, Ki Dalang lalu buru-buru keluar dari kamar. Begitu keluar dari kamar dia ketemu dengan si empunya hajat, yang langsung menghardiknya.

“Pak Dalang, kenapa membuat aib muka saya?”

“Maaf, aku kurang sehat”.

“Kurang sehat bagaimana? Orang gagahnya kayak Bima begini kok bilang kurang sehat. Kan Pak Dalang segar-bugar begitu kok?”

“Mentalnya yang payah!”

“Alasan. Itu kan hanya alasan untuk mencoreng jidatku. Orang sudah berduyun mau nonton pada kecewa semua. Kalau mereka ngamuk bagaimana?”

“Biarin mereka ngamuk kemari”.

“Bagaimana? Jadi memang sengaja mau mencemarkan nama baikku ya? Ini hadiahnya”.

Si empunya hajat itu lalu mencabut badik. Orang-orang yang menyertai si empunya hajat itu ikut mengepung Ki Dalang. Sekarang rasa takut itu jadi sangat jelas. Duduk perkaranya kini jadi gamblang. Jadi ini to sumber rasa takut itu, pikir Ki Dalang. Sekarang tiba-tiba saja dia merasa lega bukan main. Sumber rasa takut itu sudah dia ketemukan. Dia lalu ketawa terbahak-bahak. Sekarang Ki Dalang merasa menang. Dia telah berhasil menemukan asal-usul rasa takut yang sedari kemarin dulu jadi benda misterius di benaknya itu. Kanker jahat itu sekarang sudah kutemukan, bisiknya pelan. Dan aku akan menyambutnya dengan gairah yang menyala, katanya lagi tetap dalam hati. ***

 

5 Comments to "Takut"

  1. J C  25 May, 2013 at 11:53

    Takut adalah hal yang biasa…sejaun mana seseorang bisa menaklukkan rasa takut itulah yang jadi tantangan sebenarnya…

  2. Dewi Aichi  23 May, 2013 at 21:21

    Sangat manusiawi apabila kita mempunyai perasaan takut dan khawatir dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.Ada beberapa orang yang sepanjang hidupnya selalu dihantui rasa takut.Sejak bangun tidur di pagi hari, yang ada di dalam benaknya adalah rasa khawatir. Rentetan persoalan seolah sudah antri di depan mata. Hidup
    dirasakan sebagai beban. Tak heran, orang macam ini tidak pernah tersenyum di pagi hari atau kapan saja.

    Smile at youuuuuuu

    pak F Rahardi..saya selalu menyukai tulisan-tulisan bapak..

  3. Dj. 813  23 May, 2013 at 20:21

    Mas F. Rahardi….
    Lho kok ceritanya seperti terputus…???
    Apa masih ada sambungannya, bagaimana, apakah ki Dalang kemudian mau main,
    setelah latar belakang penyeban rasa takutnya diketahui…???
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  4. Chandra Sasadara  23 May, 2013 at 12:46

    ning tho omahe wedi?

  5. Handoko Widagdo  23 May, 2013 at 09:03

    Rasa takut itu betul-betul menakutkan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.