[The Nanny] Ketika Arni Bertemu Rahmat di Tilden

Dian Nugraheni

 

Kalau sudah berkumpul dengan para Nanny, serasa aku berada di dunia antah berantah yang tak kalah mengejutkannya dengan kejutan-kejutan yang aku rasakan ketika harus menyesuaikan diri di dunia nyata kehidupan sebagai imigran di Amerika. Serba asing, banyak hal baru, banyak hal-hal tidak terduga, bahkan yang tidak terpikirkan sama sekali dalam benakku..

Maklum saja, ketika di Indonesia pun aku hanya bergaul dalam lingkungan terbatas yang semuanya serba “wajar”, ya pergaulan di rumah, di sekolah, di universitas ketika kuliah, lingkungan tetangga ketika sudah berumah tangga, atau lingkungan tempat bekerja, yang waktu itu adalah serba “kantoran”. Maka bergaul dengan para Nanny Indonesia di Amerika, adalah bagian dari pergaulan yang semuanya serba baru buatku.

Sesekali aku bertemu mereka kaum Nanny, biasanya ketika ada undangan ulang tahun, atau hajatan lain. Jangan salah, kaum Nanny ini, rata-rata adalah kaum “selebritis” yang dengan mudahnya mengeluarkan kocek hingga ribuan dolar untuk menggelar hajatan mereka, bahkan hanya untuk kelas pesta ulang tahun, mereka akan open house mengundang orang-orang Indonesia seharian penuh, tentu saja dengan menggelar meja yang juga penuh dengan segala masakan Indonesia.

Ini pun bisa dimengerti, karena kaum Nanny, yang bekerja sebagai pengasuh anak, akan mendapatkan bayaran yang tinggi, tanpa bayar pajak karena mereka menerima upah secara tunai, enggak pakai acara-acara potong pajak seperti pekerja-pekerja non Nanny, yang ketika bayaran, menerima paycheck yang dilampiri paystub.

Paystub adalah secarik keterangan lengkap tentang si penerima paycheck ini, yang memuat keterangan seperti nama, alamat, berapa dia punya tanggungan (anak-anak), menikah atau tidak, berapa jam dia bekerja, berapa upah per jamnya, berapa jam overtimenya, sehingga dari keterangan ini, Negara (Amerika) akan memotong bayaran pekerja sesuai dengan proporsinya. Jadi setiap pekerja akan bisa menerima bayaran dengan potongan pajak yang berbeda antara satu orang dengan lainnya.

Atau gampangnya, orang bekerja di Amerika, yang bekerja pada perusahaan “resmi”, maka dia harus membayar pajak  penghasilan setiap kali dia menerima bayaran. Tak peduli jika “perusahaan” itu hanyalah Kedai Sushi, Kedai Sandwich, atau usaha-usaha kecil lainnya, karena setiap bidang usaha di Amerika, semua tercatat sebagai pembayar pajak.

Sedangkan kaum Nanny ini, bisa dibilang bahwa mereka bekerja pada perseorangan, yang biasanya sang Tuan tidak akan peduli tentang masalah potongan pajak ini. Yang Tuan tau adalah, Nanny bekerja mengasuh anaknya ketika Tuan dan Nyonya bekerja, dan membayar jasa si Nanny. Sudah, gitu doang.

Maka kalau mau buka-bukaan kartu, mau jujur-jujuran, maka, kaum Nanny lah yang sebenarnya mempunyai penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan, aku, misalnya, yang bekerja sebagai kasir. Itulah keadilan Tuhan, ketika di Indonesia, boleh saja kita bilang kita lulusan Universitas terkemuka dan kerja kantoran, dan anak-anak kita semasa balita kita serahkan pada babby sitter, alias kitalah yang menggaji babby sitter alias Nanny, tapi di Amerika, hal itu akan terbalik, Nanny-Nanny yang di Indonesia itu nggak pernah kuliah, nggak pernah kerja kantoran dengan pakaian necis, bahkan SMA saja enggak lulus, nggak bisa bahasa Inggris dengan benar, ketika di Amerika, merekalah yang lebih makmur, lebih tajir, karena orang-orang Amerika sangat menghargai jasa  pekerja sebagai Nanny..

Maka, ketika Indonesia Kecil, alias Kedutaan Besar RI di Amerika punya gawe, macam Halal Bihalal ketika Idul Fitri, atau 17 Agustusan yang biasanya disusul dengan bazaar yang menggelar banyak makanan asal Indonesia, hampir semua orang Indonesia di sekitar Washington,DC akan hadir beramai-ramai di Wisma Tilden, rumah kediaman Duta Besar Indonesia di Amerika.

Yang tampil paling menyolok, paling seronok, dan paling gilang-gemilang adalah para Nanny. Mereka akan berdandan sehabis-habisnya, sepatu boot mahal, baju-baju gemerlap mahal, dandanan ngejreng ala bintang Sinetron, atau bahkan baju-baju mewah seperti kebaya moderen yang sengaja mereka minta kirimkan dari Indonesia, akan nampak bertebaran di sekitar arena pesta. Yaa, bila Indonesia Kecil ini punya gawe, sebenarnya, inilah tempat para Nanny untuk sepenuhnya unjuk gigi, bahwa aku tak kalah dengan kamu, enggak peduli asal gue dulu mencit, terpencil di pu cak bukit, enggak peduli dulu gue waktu di Indonesia kagak dilirik orang, enggak peduli dulu gue di Indonesia miskin semiskin-miskinnya umat, yang penting, inilah senyatanya sekarang gue di Amrik…he..he..he..

Kali ini juga, ketika Bazaar, setelah upacara 17 Agustus digelar, tak lupa juga disajikan acara panggung terbuka. Berbagai kelompok akan menampilkan kebolehannya masing-masing, dari anak-anak, pemuda pemudi, Emak-emak, dan juga Bapak-Bapak. Dari penampilan kelompok musik dan penyanyi jazz, rock, pop, sampai, tentu saja Dangdut.., tak urung digelar habis-habisan.

Penampil kelompok musik Dhangdut dan penyanyinya inilah yang rata-rata adalah para Nanny. Mereka mempunya grupnya masing-masing yang rajin berlatih secara berkala. Demikianlah, Dangdut selalu sajian acara yang paling ditunggu, begitu seorang penyanyi Dangdut membuka acara dengan sepatah dua patah kata, maka rombongan Nanny yang gilang gemilang segera mengular menuju tepat depan panggung. Dan ketika lagu Kopi Dangdut dikumandangkan, kontan saja tubuh-tubuh di latar depan panggung mulai bergerak berjoget.

Hari itu, aku lihat Mbak Arni, seorang Nanny, istrinya Mas Sarno, nampak mengenakan legging ketat berwarna kuning menyala yang menutupi seluruh kakinya, sepatunya, sepatu jinjit tinggi, bajunya bercorak dan berwarna kekuningan, dengan potongan berlipit-lipit membungkus ketat tubuh Mbak Arni, rambut keriting sebahu terurai  bagaikan rambut Bu Elvi Sukaesih ketika sering berduet dengan Bang Roma Irama yang pernah aku liat di TV ketika aku berusia belum sepuluh tahun, wajahnya cerah ceria dengan dandanan yang menyala.

Mbak Arni dan Mas Sarno, keduanya, dulu, adalah sepasang suami istri yang bekerja pada pejabat negara Indonesia yang ditempatkan di Amerika, tapi ketika Pejabat tersebut kembali ke Indonesia, Mbak Arni dan Mas Sarno nggak mau ikutan pulang, dan memilih mengadu nasib di Amerika.

Sambil mengangkat-angkat kedua tangan mengikuti irama, Mbak Arni menuju latar depan panggung, bergabung dengan teman-temannya untuk berjoget. Rupanya musik Dangdut membawa mbak Arni berjoget hingga sedikit in-trance, gerakannya meliuk-liuk sudah seirama denga hati dan jiwanya, orang-orang memandang nanar dan menikmati gerak-gerik indahnya. Mbak Arni pun rupanya menikmati pandang kagum dari banyak pasang mata.Wajar saja, saat itu, Mbak Arni merupakan satu sosok yang kelihatan sangat berbeda dengan teman-teman lainnya para Nanny,kemampuannya berjoget memang luar biasa. Gerakan-gerakannya sangat berani, kerlingan matanya menggoda…

Adalah Si Rahmat, lelaki muda yang baru dua tiba di Amerika dengan visa kunjungan wisata, tapi kemudian mbablas tak lagi pulang ke Indonesia, alias menggelap di Amerika, kabarnya, dia  bekerja sebagai buruh kasar di rumah orang Spanish yang punya home industri memproduksi makanan-makanan Spanish, salah satu kerjaan si Rahmat adalah membuat Empanada, semacami kue pastel isi di Indonesia.

Rahmat pun tak mau ketinggalan kereta, dia ikut menghambur berjoget bersama banyak orang di depan panggung. Rupanya, Rahmat begitu sempoyongan, tergopoh-gopoh menikmati penampilan Mbak Arni berjoget, sehingga, ketika usai berjoget, dia segera mengejar Mbak Arni, berkenalan, bertukar nomor telepon dan berbincang-bincang sambil tertawa-tawa, sejenak melupakan Sarno yang saat itu tidak bisa hadir bersamanya pada acara tersebut karena harus bekerja.

Tak sampai enam bulan kemudian, aku dengar, Mbak Arni bercerai dengan Sarno, dan menikah dengan si Rahmat. Aku dengar pula gosip, bahwa Sarno harus mengeluarkan biaya sekitar $800 untuk menyewa lawyer yang membantunya mengurus perceraian di Amerika, meski Mbak Arni dan Sarno dulu menikah di Indonesia. Sarno, juga tentu saja merasa marah dan gemas dengan peristiwa ini, tapi apa boleh buat, semboyan Amerika, ini adalah Free Country sudah masuk dalam pikiran banyak orang-orang Indonesia yang ada di Amerika. Sejauh mana mereka menterjemahkan Free Country, kembali kepada masing-masing pribadi, sesuai dengan latar belakang kehidupannya sebelum mereka hidup di Amerika.

Salam Joget Dangdut…auww…auww…auuww...

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Kamis, 15 Desember 2011, jam 7.53 malam..

 

30 Comments to "[The Nanny] Ketika Arni Bertemu Rahmat di Tilden"

  1. Lani  1 June, 2013 at 10:14

    28 DIAN : pesenku………le mangap…..dlongap-dlongop………..jok ombo2 mengko lalere masuk mak lebbbbbbbbbb……..bener lagi mmg gitulah…….la wong aku pernah duwe konco, yg namanya sandal jepit regane $ 500! ediaaaaaaan to?????? tp aku lakban mulutku………bukan duitku, ya suka2 mu……….tp nek aku yo emoh…….opo meneh mrk pd gilaaaaaaa branded name………woalah dalah………sekali lagi monggo waelah………

  2. Dewi Aichi  1 June, 2013 at 09:58

    Dian, aku ngga punya cerita seperti dirimu, selama aku di Jepang dulu, tidak berkomunitas dengan orang Indonesia. Dan apalagi sekarang di Brasil, blasssss

  3. diannugraheni  1 June, 2013 at 09:29

    Mbak Lani, kalau saya malah suka sampai dlongap dlongop, apalagi kalau melihat mereka2 yang gandengannya sudah orang sini (ngga semua lho yaa..), wadeehhh….bgayanya, bintang sinetron sudah kalah deh…ijring2, sana sini klik kamera, belum lagi gaya ngobrol dan becandanya, pokoknya pasti menjadi pusat perhatian…

    Terus terang, jadinya kalau mau ke hajatan embassy indonesia di sini, niat saya selain cuci mulut, juga cuci mata lihat2 yang belum pernah di lihat, ya salah satunya suasana seperti yang saya ceritakan..he2..

  4. Lani  27 May, 2013 at 07:59

    DIAN : hehehe………nek ngono kita podo yo……….teko sangu mangap, njagong dan liat sana sini aje……..kdg karo ngelus dada

  5. diannugraheni  27 May, 2013 at 07:19

    all my friends, baltyrans, makasih banyak semua share komennya yaa, kurang lebihnya mohon maaf, dan terimakasih banyak masukan2nya…salam penuh cinta…

  6. diannugraheni  27 May, 2013 at 07:18

    JC, sesuk nek pas pitulasan, mreneo yaa, hadir di wisma Tilden, upacara bendera trus panggung gembira..wueeehh,…pokoke guueeemmmbiiiraaaa..tuenan wes..he2..

  7. diannugraheni  27 May, 2013 at 07:16

    Mbak Lani..he2..berarti samaan deh kita, modal mangap aja buat makan2 makanan yang disediakan, sambil nonton kiri kanan depan belakang…wes puokoke rueeennneeeessss…bikin semangat menjulang..ha2..

  8. diannugraheni  27 May, 2013 at 07:15

    Alvina VB, iya mbak Alvina, kalau di daerah DC, VA, Maryland, kebanyakan orang Indo ya pada jadi Nanny, tapi masih sebatas nanny aja, kalau Nanny2 dari Filipina biasanya sudah all in, sampai jadi sopir buat antar anak2 asuhnya, jadi pengurus rumah tangga, misal belanja bulanan, dan lain2…

  9. diannugraheni  27 May, 2013 at 07:14

    Elnino, Nina, iya Nina, aku juga ikut seneng liat mereka bungah…apa pun bentuknya, pokoknya lebih seneng liat orang seneng daripada liat orang susah…tur neh ki yo wajar banget, wong kerjo2 keras dewe, ya gimana pun kan pengen menikmati hasilnya..sesuai dengan keinginan masing2..

  10. diannugraheni  27 May, 2013 at 07:12

    Wendly, so far, di sini para pekerja, aman adanya, smoga Tuhan selalu melindungi mereka, kami, dalam rangka mempertahankan hidup, dan berusaha membuat kehidupan yang lebih baik dan berarti, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun buat banyak orang…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *