Dari Gunung Kemukus ke Panggung Kethoprak Siswobudoyo (2) : Petualangan Seru di Tulungagung

Nyai EQ – sedang menikmati suasana kota

 

Matahari bersinar dengan sangat cerah ketika pada akhirnya saya membuka mata, dan tersadar bahwa saya berada di dalam sebuah mobil L300. Dengan gerakan slow motion saya membangkitkan diri, duduk dan mengumpulkan ke 9 nyawa yang bertebaran. Meneguk sedikit air aqua yang hangat karena tergeletak di dekat box mesin mobil. Membuka seluruh indera lebar-lebar. Ada lik Marjuki sedang menjawab pertanyaan bli Komang yang rupanya juga baru saja terbangun. Di jok belakang ada mas Trias dan mas Roci. Kami sudah sampai Trenggalek. Perjalanan dari Gunung Kemukus ke Tulungagung sudah hampir berakhir.

Saya mulai mengamati jalanan. Sisa kantuk dan lelah semalaman masih sedikit bersemayam di tubuh, tapi tidur  sebentar tadi cukup membuat badan terasa nyaman. Sepanjang perjalanan masih saja ada guyonan yang terlontar, dan itu adalah sarapan rohani yang sehat.

Memasuki Tulungagung, kami ditunjukkan pada sebuah bukit, nun di sana, bukit tersebut adalah tempat kuburan Cina yang disebut dengan nama keren bukit Al-Niqmat. Tempat para pemburu kenikmatan berpetualang di antara bangunan-bangunan makam dan rerimbunan pepohonan. Penjaja daging mentah mengumbar syahwat dengan harga miring. Rupanya aura Gunung Kemukus masih terasa mempengaruhi isi kotak besi bermesin yang disebut sebagai mobil kami ini.

Tak terasa kami sampai juga di tempat pemberhentian terakhir dari perjalanan ini. Sebuah rumah indah dengan halaman yang luas dan beberapa bahan bangunan bertumpuk-tumpuk rapi di kiri kanan halaman belakang. Itulah rumah mas Trias, tempat kami bakal menginap selama 2 hari di Tulungagung. Rumah besar tersebut terlihat lengang, namun terasa sejuk dan nyaman. Bapak mas Trias menyambut kedatangan kami. Beliau adalah orang tua yang ramah, lembut, halus tutur katanya dan murah senyum. Berperawakan langsing dan tinggi. Sangat berbeda dengan mas Trias yang tinggi besar (kalau tidak mau dibilang tambun).

Setelah bersalaman dan mengucap salam, kami segera menuju ke ruang tamu. Duduk dengan nyaman melepas kepenatan. Sungguh kenikmatan tiada tara. Bukan itu saja, beberapa cemilan dan air putih dihidangkan. Ngobrol-ngobrol dan berkenalan satu persatu. Mas Roci yang pernah berkunjung sebelumnya segera dikenali oleh sang bapak. Saya dengan penuh semangat menanggapi obrolan bapak mas Trias dengan bahasa Jawa yang halus, tentu saja sesekali diseling dengan bahasa Indonesia, mengingat ada beberapa macam suku bangsa lain (mas Roci berasal dari Padang, bli Komang jelas berasal dari Bali).

Tak lama kemudian, ibu datang menyusul ke ruang tamu. Sambutannya tak kalah hangat. Bahkan gulai tongkol masakannya yang disiapkan hari itu adalah masakan khusus pesanan mas Roci. Hmmmmm……

Kami segera dipersilakan naik ke lantai 2 untuk meletakkan semua barang-barang kami, mandi dan berganti pakaian, agar terasa lebih segar.

Ada dua kamar tidur. Yang satu kamar tidur besar dengan 2 tempat tidur ukuran king size dan single size. Yang berikutnya adalah kamar tidur kecil dengan satu tempat tidur ukuran single size yang ternyata adalah kamar mas Trias. Ruang di lantai 2 cukup luas, dengan balkon yang nyaman dan menyenangkan. Ada kamar mandi dengan shower dan air panas. Seperti di hotel!!

Kami; aku, mas Roci dan bli Komang mendapar kamar yang besar. Tempat tidur yang kecil dengan bantal dan guling bersarung warna pink menjadi tempat tidurku. Lik Marjuki mendapat gelaran kasur di depan TV di lantai yang sama dengan kami, tepat di depan kamar besar. Sedangkan mas Trias menempati kamarnya sendiri.

Aku segera mengambil kesempatan pertama untuk mandi. Menyegarkan badan dengan air dingin dan sabun wangi. Berganti pakaian yang bersih dan nyaman. Namun rupanya kemalasan masih menyusup di antara kami. Para pria tidak segera mandi, tetapi malah duduk-duduk di teras balkon sambil ngobrol dan merokok. Saya segera menyusul mereka setelah selesai mandi dan ganti pakaian. Tak lama kami ngobrol di teras yang menyenangkan.

Seharusnya para lelaki segera mandi, tetapi malah tidur-tiduran di kasur yang digelar di depan TV, sementara lik Marjuki terlelap dengan tenang. Pacar mas Trias, mbak Harnum, datang kemudian dan diperkenalkan kepada kami. Si mbak ini masih kelas 3 SMA yang baru saja lulus. Masih sangat muda dan manja. Geli rasanya melihat gaya pacaran yang begitu lucu dan mirip sinetron. Tapi itulah hiburan pagi yang menyenangkan. Sembari ngobrol, kami juga ditemani beberapa macam biskuit, kue-kue kering, kripik pisang, dan beberapa cemilan lain. Dan tak urung satu persatu tumbang lagi di kasur. Bli Komang menyusul lik Marjuki dengan cepat, kemudian mas Roci dan saya pun segera lenyap.

Entah bagaimana akhirnya kami terbangun lagi satu persatu. Kembali duduk-duduk dengan malas, sampai akhirnya bli Komang beranjak mandi, disusul lik Marjuki, mas Roci dan mas Trias.

Acara berikutnya adalah makan! Menu yang lezat sudah menanti kami di meja makan bulat yang sarat dengan makanan aneka warna. Nasi putih panas dalam magic jar, mengepul dengan bau harum. Gulai tongkol yang berlemak santan terlihat sangat menggairahkan lidah. Kami antre dengan rapi, mengambil piring, nasi, gulai dan kembali duduk di ruang makan. Suasana begitu ceria. Selain gulai tongkol yang spektakuler, ada juga beberapa menu dan lauk lainnya, termasuk tempe dan tahu goreng, serta pisang hasil panen kebun sendiri sebagai makanan penutup.

Perut begitu kenyang, masih ditambah teh panas dan air putih. Nikmatnya hidup ini. Benar-benar puas dan gembira. Setelah memberikan waktu bagi perut untuk mencerna seluruh makanan dengan baik, kami bersiap-siap untuk melanjutkan petualangan kami. Tujuan kami kali ini adalah menjenguk sekolah SMEA tempat mas Trias mengajar sebagai guru kesenian dalam kehidupan sehari-harinya, ketika tidak sedang kuliah di Pasca Sarjana ISI Yogyakarta. Hari itu memang jadwalnya mas Trias mengajar. Rombongan berangkat dengan segala keabsurd’annya.

Sesampainya di kampus 1 SMEA I Tulungagung, mas Trias segera memperkenalkan kami kepada guru pembimbing yang lain. Kemudian meninggalkan kami di kantin sekolah bersama mbak Harnum sebagai guide kami. Mbak Harnum adalah murid sekolah itu juga, namun sudah lulus. Mas Roci dengan gayanya yang khas sebagai seorang aktor, mulai menggoda murid-murid cewek SMEA, tentu saja sangat luwes, dan karena memang sudah pernah diajak mas Trias ke sekolah itu, jadi mas Roci sudah mengenal beberapa murid di situ. Bli Komang mengikuti jejak mas Roci dengan gayanya yang lebih tenang dan sok cool meskipun juga tak kalah gilanya. Saya berusaha untuk cukup tenang melihat ulah kawan-kawan saya.

Selanjutnya huru-hara terjadi dengan lebih heboh lagi, ketika mas Roci dan bli Komang diajak masuk ke dalam kelas tempat mas Trias mengajar. Saya memilih duduk di ruang BP bersama mbak Harnum sambil minum jus jambu yang manis dan membiarkan para pria bersenang-senang. Suara tawa dan gegap gempita tak henti-hentinya terdengar dari ruang kelas tempat ketiga mahluk, teman saya itu, berada. Saya bisa membayangkan apa yang mereka lakukan.

Seusai pelajaran yang luar biasa itu, kami berjalan kaki menuju kampus 2 yang letaknya tidak begitu jauh. Acaranya adalah menunggui latihan teater anak didik mas Trias. Lakon yang akan mereka bawakan adalah lakon Sisipus, sebuah lakon dari legenda  Yunani yang digarap kembali dalam carangan Jawa timuran. Bahkan ada salah satu tokoh yang menggunakan aksen Madura kental. Mas Roci dengan kepiawaiannya memberikan banyak ilmu dan masukan yang sangat berharga bagi adik-adik SMEA tersebut. Dengan sungguh-sungguh mereka mendengarkan beberapa petunjuk yang disampaikan oleh mas Roci dengan gayanya yang, lagi-lagi, khas dan lucu. Sementara saya dan bli Komang turut mendengarkan dengan seksama.

Seusai pelajaran teater yang menyenangkan dan lain dari biasanya, kami memutuskan untuk pulang. Hari sudah sangat siang. Perut sudah kembali lapar. Badan pun sudah lelah, setelah seharian berhura-hura. Udara sangat panas. Dan lagi kami masih akan berkeliling kota Tulungagung untuk menikmati hal-hal lain di malam hari.

Tak banyak yang bisa diceritakan ketika kami kembali ke rumah mas Trias. Kami istirahat sambil berbenah, sekaligus menyulap kamar besar menjadi home theater, untuk materi belajar pemeranan malamnya.

Sore berganti malam. Acara mandi satu persatu dimulai lagi. Mandi dan berganti kostum. Kali ini secara tak sengaja baju ganti bli Komang senada dengan baju ganti saya. Celana 7/8 warna hijau dengan atasan putih.

Setelah semua wangi, cerah, segar dan siap, kami meluncur kembali ke jalan raya. Mas Trias mengendarai sepeda motor berboncengan dengan sang pacar, sisanya naik mobil. Ditambah mas Joko, teman mas Trias. Mas Joko berperawakan mungil, tutur katanya sopan dan halus.

Tujuan kami yang pertama adalah kopi nyéthé. Warung kopi satu ini, menurut informasi, buka dari jam 5 sore sampe jam 1 malam. Namun meskipun sudah tutup, orang-orang masih boleh kongkow-kongkow di tempat tersebut sampai pagi.

tulungagung01

Kongkow di warung kopi nyéthé, pasukan lengkap termasuk lik Marjuki dan mbak Harnum, pacar mas Trias

 

Kopi nyéthé berasal dari kata kopi + céthé, yaitu membuat lapisan atau motif pada rokok dengan menggunakan ampas kopi. Untuk itu, kopi yang digunakan sebaiknya adalah kopi khas Tulungagung, yang disebut dengan istilah kopi ijo (kopi hijau), yaitu kopi + susu dengan takaran tertentu. Susu dipakai untuk mengikat kopinya, supaya ketika kering tidak rontok. Caranya, kopi dituang ke dalam cawan (piring kecil), lalu dihirup sampai tertinggal ampasnya. Ampas yang masih mengandung kadar air, dikurangi kadarnya dengan tissue. Selanjutnya, dengan menggunakan ujung sendok, atau alat khusus berupa semacam stik, ampas tersebut dioleskan pada rokok, dan ditunggu hingga kering.

tulungagung02

kopi ijo                                                   kopi hitam

 

tulungagung03

nyéthé dengan motif garis-garis seperti astor

 

tulungagung04

rokok céthé dengan motif blok

 

Rokok yang sudah di céthé mempunyai aroma dan rasa yang lebih enak. Tidak hanya rasa tembakau, namun ada sedikit rasa kopinya. Nyéthé dilakukan oleh berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Konon katanya, tempat itu selalu penuh. Terutama jika malam minggu atau waktu-waktu libur. Namun meskipun tidak libur, tempat itu selalu ramai dari mulai buka hingga menjelang dini hari. Yang hebat, yang berkunjung adalah penduduk lokal, bukan turis atau wisatawan.

 

tulungagung05

Dari anak-anak hingga orang tua melakukan nyéthé di warung kopi ini

 

Kami menghabiskan satu putaran kopi dan beberapa batang rokok. Hanya mbak Harnum yang tidak minum kopi dan tidak merokok. Setelah itu kami bergerak melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah teh bakar. Bukan wisata kuliner, melainkan wisata air. Ahay!!

Sepanjang perjalanan menuju tempat teh bakar, ada saja hal-hal yang menimbulkan gelak tawa. Bahkan ketika kami berhenti disebuah perempatan, lampu menyala merah, bli Komang turun dari mobil dan menari-nari di perempatan, di depan motor mas Trias. Tentu saja pengguna lalu lintas lainnya melihat ke arahnya dan ke arah mobil kami. Terlebih lagi karena mobil kami mempunyai “cap” Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia-Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Beberapa pengendara lain tersenyum melihat ulah bli Komang yang menari-nari lucu. Kami yang di dalam mobil hanya tergelak. Sementara mas Trias misuh dengan bahasanya yang khas sambil ngakak.

Perjalanan dilanjutkan dengan meriah. Sampai di warung teh bakar, kami mengambil tempat di trotoar depan sebuah toko yang sudah tutup, di seberang warung teh bakar. Warungnya bernama JAPIT yang merupakan singkatan dari Jajanan Pinggir Trotoar. Kami duduk dengan nyaman, sambil mengira-ira seperti apa bentuk teh bakar tersebut.

 

tulungagung06

Duduk santai dan berpose sembari menunggu dengan penasaran bentuk teh bakar. Meja yang disiapkan adalah meja lipat yang sering digunakan untuk belajar anak-anak SD 

 

Kami tidak menunggu lama. Pesanan teh bakar kami segera tiba. Gelas yang dipakai adalah mangkuk tembikar. Tehnya berbau harum segar. Asap mengepul ke udara malam yang hangat, seperti suasana hati kami.

Ternyata teh bakar adalah minuman teh rempah. Dihidangkan dengan seiris jeruk nipis, irisan daun lemongrass dan sepotong kayu manis segar. Ramuan teh di dalamnya adalah rahasia perusahaan. Rasanya begitu segar. Jeruk nipisnya ditekan di dasar mangkuk tembikar dengan menggunakan kayu manis, sehingga memberikan kekayaan aroma dan rasa. Menurut pemiliknya, yang ternyata adalah teman baik mas Trias, sebelum menggunakan mangkuk tembikar, sudah dicoba beberapa alternatif untuk wadah menghidangkan teh. Pilihan mangkuk tembikar ini adalah untuk mempertahankan kesegaran rasa ramuan tehnya. Juga menyimpan panas dengan lebih baik. Rasa rempahnya juga menjadi lebih kental, sehingga secara keseluruhan, teh bakar ini benar-benar minuman yang segar dan membuat suasana hangat menjadi lebih ceria. Gula disajikan terpisah, sehingga setiap orang bisa memberikan efek manis ada minumannya sesuai selera. Saya sendiri tentu saja memilih untuk tidak menambahkan gula sama sekali. Mas Roci menemukan cara yang asyik untuk menikmati teh bakar tersebut, yaitu dengan menggunakan kayu manis sebagai sedotan atau sendok. Yuuuum….nikmat sekali. Apalagi saya adalah penggemar kayu manis.

 

tulungagung07

Teh Bakar yang panas, segar dan nikmat

 

tulungagung08

Cara asyik menikmati teh bakar, dengan menggunakan kayu manis

 

Malam menjadi semakin tua. Beberapa teman mas Trias yang juga dari golongan raksasa ikut bergabung dengan kami, sayangnya mbak Harnum segera berpamitan karena dia harus pulang sendiri dengan menggunakan sepeda motor. Kami terus menuntaskan malam dengan memesan satu porsi teh bakar lagi. Obrolan menjadi semakin gayeng. Tapi kami pun harus segera mengakhirinya, karena masih ada satu acara lagi yang harus kami lakukan di rumah. Maka kami pun beranjak. Dan betapa menyebalkan ketika saya akan membayar (dengan uang kas), si pemilik menolak, katanya uang kami tidak berlaku di Tulungagung, dan teman-teman yang lain hanya nyengir melihat saya bengong. Ternyata memang semua sudah ditanggung mas Trias. Dan kemudian menjadi semacam peraturan, bahwa selama di Tulungagung, uang kami tidak akan laku.

Perjalanan pulang mengambil rute yang memutar, melalui alun-alun kota, pecinan dan beberapa tempat lain yang cukup menarik. Short night tour. Sesampainya di rumah, kami segera bersiap-siap untuk menonton film. Pemantapan pemeranan. Tentu saja setelah mengucapkan selamat jalan dan terimakasih pada mas Joko yang langsung pulang, kemudian kami bergegas berganti pakaian tidur, cuci kaki, cuci tangan dan mencari posisi yang nyaman untuk menikmati tayangan-tayangan pilihan. Mas Roci sebagai operator siap memenuhi request dengan semua koleksinya. Kami memutar banyak film-film pendek karya kakak-kakak kelas dari jurusan teater ISI Yogyakarta. Bahkan juga beberapa film yang diperani oleh mas Roci. Di samping itu juga ada beberapa film pendek lainnya karya para alumni, karya para sutradara handal seperti Garin Nugroho, teguh Karya dan N. Riantiarno. Benar-benar malam yang mengenyangkan jasmani dan rohani.

Karena malam sudah menjadi semakin larut, satu persatu pemirsa tumbang. Diawali dengan bli Komang yang tidur memeluk guling di pojok kanan dekat tembok, kemudian lik Marjuki yang segera beranjak keluar kamar menuju peraduannya, disusul mas Trias yang pindah ke kamar sebelah. Tinggal saya dan mas Roci yang masih melanjutkan acara dengan memutar film horor Thailand berjudul Phobia 2. Mas Roci pindah dari sudut kamar, naik ke tempat tidur mengambil posisi di antara saya dan bli Komang. Film horor yang kami putar cukup bagus, tidak seperti film-film hantu yang membeber bentuk-bentuk tidak karuan. Hantunya lebih realis, hampir seperti film horor a la Eropa. Namun apalah daya, mata sudah tidak mau diajak kompromi untuk menyelesaikan film tersebut. Jam sudah menunjuukan pukul 3.30 dini hari. Dan sayapun mengusulkan untuk segera menyusul yang lain ke alam mimpi.

Pagi datang dengan begitu cepat. Hari baru dengan petualangan baru sudah menunggu. Dengan masih bermalas-malasan kami menikmati sisa kenikmatan semalam di atas tempat tidur yang dilanjut dengan rebahan (lagi) di kasur gelaran, peraduan lik Marjuki. Mas Trias tidak kelihatan, mungkin sibuk di bawah. Suara mbak Harnum  terdengar, tapi kami masih terlalu malas untuk beranjak, jadi hanya ngobrol sambil tetap rebahan dengan nyaman. Hingga akhirnya mas Trias mengobrak-abrik suasana bermalas-malasan kami dengan caranya yang lucu. Kami segera mandi. Aku mendapat giliran pertama, sementara yang lain duduk-duduk di teras balkon sambil merokok dan ngobrol. Usai saya mandi, bergantian para pria mandi.

Sarapan yang lezat tidak perlu menunggu terlalu lama untuk segera disantap. Kami sudah kelaparan, dan hidangan di meja makan menawarkan kesenangan pagi. Dengan perut kenyang kami berpamitan untuk melanjutkan rencana. Jadwal kami adalah menengok persiapan kethoprak Siswo Budoyo di klenteng Tri Dharma Tulungagung. Itulah tujuan utama kami pergi ke Tulungagung. Menyaksikan pertunjukan kethoprak Siswo Budoyo yang pada hari itu mengadakan reuni akbar para senimannya.

Sesampainya di klenteng Tri Dharma, suasana sibuk tampak terlihat jelas. Mas Trias adalah tuan rumah yang sangat baik dan bisa diandalkan. Dia mengenal dengan baik tokoh-tokoh utama di depan dan belakang layar Siswo Budoyo. Kami dikenalkan kepada produsernya, kepada dewan dalang dan juga kepada sutradaranya. Tentu saja sembari ngobrol sana-sini, kami juga berpotret-potretan.

Panggung dibuat dengan cara yang sangat manual. Layar atau disebut juga dengan istilah gèbèr, dipasang berlapis-lapis dengan pemberat dari bambu dan tali besar untuk menaikturunkan layar sesuai dengan kebutuhan adegan.

 

tulungagung09

Pemain merangkap crew sedang memasang layar berlapis dengan tulang-tulang bambu

 

tulungagung10

Panggung kethoprak Siswo Budoyo, tampak depan

 

Saat bertemu dengan sutradaranya, bapak Sunarko, yang ternyata adalah putra dari bapak Siswondo (alm), pemimpin dan pemilik Siswo Budoyo, kami tidak hanya disambut dengan begitu ramah dan terbuka, bahkan kami ditantang untuk ikut bermain bersama mereka. Atau lebih tepatnya tantangan ini ditujukan pada saya. Beliau bilang, bahwa mereka membutuhkan satu peran wanita untuk berperan sebagai selir Ratu Sabrang, sebab pemeran yang sesungguhnya tidak bisa hadir malam itu. Ditantang seperti ini membuat saya jadi terusik. Ditambah lagi mas Trias mendukung sekali. Begitu juga mas Roci dan bli Komang, meskipun tampaknya mas Roci meragukan kemampuan akting saya, mengingat dia memang belum pernah melihat saya akting di panggung manapun, dan selama saya berlatih dengannya untuk pementasan kami, saya terlihat kurang enjoy dengan tokoh yang harus saya perankan. Tapi bagaimanapun juga mas Roci mendukung saya. Mungkin karena bahasa Jawa halus saya membuat pak Sunarko mengajak saya ikut bermain. Antara ragu-ragu dan ingin mencoba, pada akhirnya saya menyanggupi tantangan tersebut. Meskipun sempat membuat saya cukup stress. Bermain bersama para seniman kethoprak kawakan dari Siswo Budoyo bukan hal sepele! Tapi kapan lagi, kesempatan emas ini harus saya tangkap.

 

tulungagung11

Mas Roci dengan bli Komang dan saya di atas panggung, akting, bergaya

 

Setelah ngobrol kian kemari, kami berpamitan untuk makan siang. Sarapan besar  pagi tadi tidak menyisakan apapun dalam perut kami yang memang selalu kelaparan. Kami beranjak ke warung nasi banting dekat stasiun tak jauh dari klenteng Tri Dharma. Apa lagi ini nasi banting ?

Nasi banting tak lain adalah nasi plus lauk seperti ramesan yang dibungkus dengan bentuk kerucut, mirip nasi jinggo-nya Bali. Warung makannya menyerupai warung angkringan di Jogja.

 

tulungagung12

Nasi banting yang sudah dibuka dan siap disantap

 

Makan siang berlangsung dengan cepat. Masing-masing menghabiskan satu bungkus, ditambah beberapa gorengan dan lauk lain seperti sate usus, sate telor puyuh dan sate hati ayam. Diguyur dengan minuman khas angkringan, teh panas tawar, es teh manis, es jeruk dan sebatang rokok plus obrolan kian kemari.

Kami segera kembali ke klenteng Tri Dharma. Saya ditinggalkan di sana bersama pak Sunarko, untuk beradaptasi dengan lingkungan, berkenalan dengan para pemain yang berdatangan satu persatu dan untuk menyerap aura panggung.

Ini sungguh pengalaman yang luar biasa. Saya hampir tidak bisa bernafas membayangkan apa yang terjadi pada saya di atas panggung nantinya. Pak Sunarko membimbing saya dengan gaya obrolan yang santai. Cukup membuat saya menjadi lebih tenang.

Teman-teman saya sudah pulang semua. Mereka harus mandi, bertukar pakaian dengan busana yang lebih resmi, berbatik dan bersiap untuk menyaksikan pertunjukan besar nanti malam.

Dan apa yang terjadi pada saya, setelah saya ditinggalkan para sahabat ?

 

10 Comments to "Dari Gunung Kemukus ke Panggung Kethoprak Siswobudoyo (2) : Petualangan Seru di Tulungagung"

  1. elnino  29 May, 2013 at 17:29

    Keren! Keren nyi.. Kapan lagi punya kesempatan manggung bersama grup kethoprak yg legendaris ini.
    Ceritamu selalu mengalir, enak diikuti. Apalagi ada sajian wedang bakar yg sungguh menggugah selera
    Ditunggu laporan manggungnya..

  2. Anastasia Yuliantari  26 May, 2013 at 15:21

    Eh, jaman dulu….anaknya yg punya Siswo Budoyo tuh dosenku di UNEJ, lho. Embuh nek sing saiki, yo. Hehehe.

  3. anoew  26 May, 2013 at 09:32

    Waaah ada bukit Al-Niqmat. Tempat para pemburu kenikmatan berpetualang di antara bangunan-bangunan makam dan rerimbunan pepohonan.

  4. J C  25 May, 2013 at 12:25

    Wuiiiihhh…Nyai melu manggung…seru iki…

    Hahaha…komentar nomer 5…

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  24 May, 2013 at 11:32

    Sebentar lagi hal-hal seperti yang bercorak budaya lokal akan punah digerus arabisasi dan westernisasi.

  6. Lani  24 May, 2013 at 11:17

    EQ : le moco karo menggeh2………la dowo banget………hehe ditunggu lanjutannya, aku melu deg2-pyar ngenteni dirimu didapuk ikut main dipanggung ketoprak terkenal ini……….

  7. Alvina VB  24 May, 2013 at 10:36

    EQ: Apa rasanya teh bakar ya? baru pernah denger…

  8. Chandra Sasadara  24 May, 2013 at 10:35

    rokot “lelet”.. wahh wangi tenan..

  9. Handoko Widagdo  24 May, 2013 at 09:12

    Sanja budhaya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.