Perempuan

Pritha Hanindita

 

Perempuan, perempuan…

Bahkan ketika planet bumi harus diserupakan melalui pemanusiaan, manusia-manusia sejak kala purba memilih nama “Ibu” bagi bumi. Ibu Bumi, perumpamaan seorang perempuan, sebagaimana kehidupan ini dimaknai oleh kelembutan dan keindahannya.

Kadang, saya sendiri lebih memilih jadi lelaki.

Lelaki dapat mengembara ke mana saja dia suka, melakukan apapun yang dimau, tanpa perlu berpikir terlalu banyak tentang dirinya sendiri.
Sedang seorang perempuan mau tak mau akan terikat pada bumi tempatnya berpijak. Sebutlah emansipasi, modernisasi, tapi perempuan mana yang tak pernah membawa beban sosial dari masyarakat sekitar?

Seorang lelaki dilihat dari apa yang ia miliki dan apa yang telah ia raih.

Sedangkan perempuan?
….

*

I was loving someone deeply for seven years. Dedicated all i can do for him, for the sake of our relationship. 

Trying to know all things that he likes, even the one I didn’t.


Learning how to looks “fashionable.”


Understanding that he needs more “me time” than anyone ever.


Never complained about anything that no one around my age ever is able to tolerate as far as i heard.

Bahagiakah saya? Entahlah. Tapi mengertikah kalian bagaimana rasanya mencintai? Ketika kita tidak lagi peduli tentang diri sendiri?

Saya masih ingat persis, di kelas dua SMP, berjalan keluar kelas dengan sepasang anting yang baru dibelikan  Ibu, dan dia berkomentar tepat ketika melihat saya,

“Apa itu?” (menunjuk telinga)

“Anting.”

“Ah, jelek. Lepas aja.”

Bayangkan! Dunia serasa runtuh di hati saya. Terserah deh ya kalau itu sembarang orang, tapi tidakkah dia sadar betapa dia penting bagi saya? Pacar, begitu? Masa komentarnya seperti itu?

Saat itu saya mencoba memahami, barangkali begitulah cara dia berkomunikasi dalam lingkungannya, dan saya harus mengerti. Bertahun setelahnya saya menyadari bahwa itu baru sebatas pertanda dari hal-hal lebih besar yang terjadi kemudian.

Ketika itu saya sudah pacaran dengannya selama 5 tahun. Bukan waktu yang sebentar. Saya sudah mengenal keluarganya, begitu sering diajak dan diminta datang dalam berbagai kesempatan. Ibunya? Jelas sudah. Beliau baru pulang dari Singapura, mengangsurkan suatu oleh-oleh dan berkata,

“Dipakai ya jam tangannya. Jangan pakai jam tangan yang kecil-kecil lagi, sudah nggak jaman, tau.”

Saya begitu kaget sampai tidak mampu berpikir harus menjawab apa. Baiklah, yang saya pakai memang jam tangan Alba yang klasik, warisan Ibu. Barangkali tidak glamor, ataupun mewah, but hey~this is me! Just me… :(

Bahkan sampai 7 tahun kami pacaran, tak pernah sekalipun beliau bersedia mampir ke rumah, mengunjungi orang tua saya, sekadar untuk saling berkenalan dan menyapa…sampai Bapak merasa kesal, setiap kali mengantar anak gadisnya ke rumah pacarnya untuk acara ini dan itu, tapi tak pernah ada kunjungan balasan. Baiklah, barangkali perbedaan kultural dan lingkungan yang mengakibatkan ini semua… tapi saya selalu merasa sendirian. Dia, telah cukup sibuk dengan kehidupannya sendiri. Mungkin juga tidak punya cukup kapabilitas untuk mempersuasi. Tetap saja, saya merasa sedih…

Hingga suatu hari, ia bilang pada saya bahwa ia jenuh.

Jenuh? Lagi? Tentang apa?

Tentang hubungan ini, jawabnya.

Bagaimana bisa jenuh?

Entah, cuma jenuh aja.

Tepat pada saat itu kekesalan saya memuncak. Saya, yang hampir-hampir tak pernah bisa marah. Saya, yang biasanya menangis, kini begitu muak pada semuanya, pada kata-kata manis, pada janji-janji yang selalu tertunda, pada semua yang saya telah lakukan hanya untuknya…

..dua hari sebelumnya, saya sedang berada di satu tempat yang cukup terpencil.

Saya panjat menara pengawas hanya demi mendapat sinyal, sekadar untuk bertanya kabar.
Kejenuhan! Itulah kabar yang saya dapat. Bukan untuk kali pertama, tidak juga untuk alasan yang dapat saya mengerti…

..dan saya marah. Begitu marah. Percakapan itu berakhir dengan nada rendah, tapi perasaan saya, sejak saat itu, tidak pernah sama.

Hingga saya memutuskan untuk mengakhiri semuanya.

Orang bertanya, tidakkah sayang membuang tujuh tahun untuk memulai dari awal lagi? Lalu saya balik bertanya, salahkah jika saya tidak ingin menyesal lebih jauh?

*

Suatu hari, dia datang. Bukan ke rumah, melainkan ke gedung jurusan tempat saya berkuliah. Entah bagaimana ceritanya, sejak saat itu tersiar gumaman kabar-kabar yang bikin risih: bahwa saya bukan wanita baik-baik, bahwa saya punya dua pacar, dan sebagainya, dan sebagainya.

Waktu itu saya memang sedang dekat dengan orang lain. Saya cuma bisa bengong.

Dia meminta maaf pada saya, menyatakan akan memperbaiki semua, minta kesempatan sekali lagi…

..okay, hold. Bagian mana lagi yang mau diperbaiki?

Saya masih sayang kamu…

…ketika saya sudah sebegitu marah dan ingin pergi? Luar biasa. Entah apakah saya begitu buta, atau…where the hell have you been ALL THIS TIME, when I need you most? Is this some kind of joke…again?

Saya pergi. Tanpa keraguan, tanpa penyesalan. Saya hanya ingin menggunakan hak saya untuk memilih. Saya memilih berkata cukup.

Akan tetapi, alasan untuk memilih tidaklah cukup bagi masyarakat dalam menilai seorang perempuan.

Kabar, akan tetap menjadi kabar, dan sekali terlihat salah, selamanya akan menjadi demikian bagi perempuan.

Tidak peduli bagaimana watak, hati, peforma, sedikit saja terlihat berbeda dari lingkungan maka telah cukup bagi masyarakat menilai bahwa perempuan ini tidak cukup baik. Atau bahkan busuk.

Dan, demikianlah.

*

Sejujurnya, saya tidak begitu peduli apa kata orang.

Waktu akan menyembuhkan luka dan memperlihatkan mana yang benar.

Perempuan, perempuan.

“Siapa itu? ..yang berdiam dalam keanggunan, tanpa perlu mengucap apa-apa?
Ialah puisi yang merajut cinta dengan bumi dan rahasia.
Hingga semua jiwa bergetar saat pulang ke pelukannya.”*

*) kutipan dari Perempuan dan Rahasia, Dee, 2006

 

12 Comments to "Perempuan"

  1. Lani  27 May, 2013 at 13:01

    11 PAM-PAM : halah………mmg udah beda dr sononya ant cewe and cowo…….gimana lagi?????

  2. [email protected]  27 May, 2013 at 10:59

    wanita / cewek / perempuan…. terlalu banyak mikir… apa aja dipikirin…
    kalo cowo…
    sabodo amat….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.