Pintu

Anwari Doel Arnowo

 

Pintu apa yang anda dambakan?

Katakan dulu siapa yang harus menjawab pertanyaan itu!

Setiap jenis manusia pasti akan menjawab tidak sama. Bagi seorang pencuri pasti jawabnya adalah pintu yang terlupa menguncinya.

Bagaimana bila dia itu seseorang yang telah pernah berbuat salah? Ya tentu saja pintu maaf. Eh, iya, ya, apa ada sih barang seperti: pintu maaf? Itu cuma angan-angan saja, kan?

368902.tif

Seorang Mullah tentu jawabannya adalah: Pintu Surga, yang sebenarnya secara sesungguh-sungguhnya dia tidak tau bagaimana bentuk serta wujudnya. Bagaimana dia bisa mendambakan sesuatu yang dia sendiri tidak bisa menggambarkannya? Wah, itu adalah urusan sang Mullah itu sendiri. Yang satu ini saya meyakini tergantung asal sang Mullah. Apakah dia berasal dari Iran, atau dari Saudi Arabia atau bahkan mungkin saja dia asal China. Pasti tidak akan sama dari setiap asal bangsa. Seorang asal Timur Tengah saja menggambarkan Jesus tidak sama dengan kebanyakan orang Barat Kaukasian. Orang China menggambar Jesus dengan muka ras China. Itu adalah hak mereka masing-masing. Memangnya ada larangan yang menggambarkannya seperti itu? Tidak ada, hampir pasti seperti itu. Selera itu merdeka tanpa batas. Siapa bisa mengintrol selera? Dalam hati saya bercanda sendiri: Selera itu BERlera-lera, bukan hanya lera yang tunggal.

Seperti halnya dengan pintu–pintu di atas, saya pun berpendapat bahwa keadilan dan kemakmuran itupun tidak terbatas dan tidak bertepi. Itupun juga yang menyebabkan saya tidak pernah percaya bahwa adil dan makmur itu ada tetapi nisbi, tidak nyata dan seperti fatamorgana saja. Nisbi itu bisa cantik bisa tidak,  bisa begini bisa begitu, tegantung dari sudut pandangnya masing-masing. Begitulah mari kita tidak lagi mengucapkan harapan kosong seperti mengharapkan keadaan yang adil dan makmur. Itu adalah harapan kosong. Saya yakin bahwa kakek saya dulu mungkin sekali bekerja demi anak dan cucu beliau.

Ayah saya tanpa kecuali, juga begitu. Saya tau beliau mencari nafkah halal, bercucuran keringat pernah berjualan minuman temulawak dengan mengayuh sepeda dari daerah Genteng ke Wonokromo di Soerabaia. Saya hanya mendengar cerita ini dari Ibu dan kejadian itu terjadi sebelum saya terlahir. Di sini terlihat dengan jelas bagi saya, mengapa ayah saya yang seorang yang hanya berpendidikan Sekolah Menengah Teknik di daerah Sulung di kota Soerabaia, terus berdagang Temulawak, bisa berani melawan penjajah belanda dan untuk itu beliau dipenjarakan beberapa kali juga oleh Tentara Kekaisaran Jepang di Tanah Air kita. Beliau bisa dengan mantap menjadi salah satu tokoh pejoeang, menjadi pejabat Non (artinya tidak pernah menjadi anthek belanda) sejak Proklamasi Kemerdekaan menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur yang pertama dan menjabat sebagai Walikotamadya di Kotamadya Soerabaia.

Pada masa pensiunnya beliau menjadi pendiri dan menjadi Rektor Pertama dan Rektor Kedua di Universitas Brawidjaja di Malang, karena beliaulah yang mendirikannya sejak phase grass roots dengan uang milik sendiri. Bukanlah bermaksud pongah mengapa saya sitir beliau secara detail  atau rinci seperti itu? Itu semua karena beliau itu tidak segan mengerjakan sesuatu segera tanpa banyak berpikir. Apa yang bisa dikerjakan dikerjakan segera, dengan tekun dan menggunakan wisdom yang sesuai. Berangan-angan dan bermimpi itu tidak jelek, karena sering sekali malah baik sekali, baik untuk kesehatan otak maupun untuk kesehatan jiwa. Melamunkan kesejahteraan dan kedilan serta kemakmuran itu, sekali lagi, tidak dilarang, tetapi jangan terlalu banyak dan berlebihan.

Begini, saya ini begitu yakin sekali bahwa adil dan makmur tidak akan terjadi, sehingga saya menuliskan apa yang dialami oleh ayah saya adalah bukti kondisi yang kita angan-angankan dan kita dambakan itu hanya bisa terjadi kalau kita berjuang dan terus berusaha dengan modal berusaha dan bekerja. Bukan hanya berwacana dan berbusa mulut kita berkata-kata menggambarkan niat ini dan itu terlalu banyak dan terlalu lama.

Adil dan makmur itu tidak saya lihat kemarin, sewaktu saya saksikan bahwasanya tidak ada di dalam film Star Trek Into Darkness  yang mengisahkan kehidupan pada tahun 2259 itu adalah lebih kurang 150 tahunan di depan sejak sekarang. Rasa adil masih sering terganggu dan kemakmuran itu hanya tercipta karena tertutup dengan kenudahan-kemudahan tata cara hidup modern. Modern itu belum tentu makmur. Modern juga pasti tidak otomatis adil.

Pintu adil dan pintu makmur itu kemungkinan besar ada di depan mata hati anda sendiri. Tataplah, lihatlah, perhatikan dan akan tampak Jelas.

 

 

Anwari Doel Arnowo 

2013/05/22

 

14 Comments to "Pintu"

  1. Lani  25 May, 2013 at 12:49

    12 DA : jd kebalikan dgn amerika ya, tp podo karo NZ dan OZ lagek do kademen………kdg aku bingung soale yo kuwi time zone

  2. J C  25 May, 2013 at 12:24

    Pak Anwari, dalam kehidupan kami, pintu-pintu yang kami jumpai dan kami buka selalu mengarah ke pintu-pintu selanjutnya yang penuh kejutan dan dinamika kehidupan. Yang terpenting adalah, jangan bingung ketika kita menjumpai beberapa pintu sekaligus, tetapkan hati dan tentukan pilihan…

  3. Dewi Aichi  25 May, 2013 at 07:26

    Lani…di Brasil masuk Winter..kan selatan khatulistiwa …

    Iyo aku tobat nek sariawan jiannn…

  4. Lani  25 May, 2013 at 05:09

    DA ; hadoh, soro men dikau…….katisen? kan mo memasuki summer kok msh atis? trs lidah sariawan………lah, jian sial banget……….tp disamping itu ada untungnya njur dadi langsing…….hahahha krn ora iso mangan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.