Ketika Waisak Jadi Obyek Wisata

Ary Hana

 

Lagi, prosesi tahunan tri suci Waisak 2557/2013 digelar di Candi Mendut Borobudur 24-25 Mei. Itu berarti bahwa wilayah di sekitar Mendut-Borobudur bakal dipenuhi orang. Tak hanya umat Buddhis, tapi juga para maniak fotografer yang mengalir mirip bah, wisatawan lokal maupun luar, serta masyarakat lokal.

Di negara yang penganut Buddha-nya banyak misalnya, Waisak diperingati dengan sakral, penuh hormat, dan hening. Hal semacam ini sulit ditemui pada peringatan Waisak di Mendut-Borobudur. Waisak di sini lebih mirip atraksi wisata, hiburan buat masyarakat awam. Ada pasar malam yang digelar di sepanjang bagian luar Candi Borobudur hingga Mendut yang dipenuhi ribuan orang. Ada dengking, pekik kebisingan dari suara motor, orang berbincang, yang kerap mengganggu jalannya pujabakti yang digelar di pelataran Candi Mendut di malam hari. Sepintas, sungguh mirip sekaten Jogja. Bukan ritual agama.

waisak2

Di negeri ini, perayaan agama minoritas kerap dipandang sebelah mata. Bukannya dihormati pelaksanaannya, malah dijadikan atraksi wisata. Para penikmat ritual, entah wisatawan atau juru potret, menganggap sudah jamak memotret seenak udelnya, karena itu bagian dari atraksi wisata. Tak peduli saat itu digelar pujabakti, pembacaan sutra, atau meditasi.

Saya jadi membayangkan andai pada pelaksanaan shalat Ied, lalu ada kaki-kaki yang masuk di sela-sela shaft, demi menjepret sang Imam atau makmum, apa yang terjadi? Pastilah jamaah marah, memaki, malah bisa jadi si tukang foto diusir, ditangkap, atau dikurung. Itu sebabnya para fotografer shalat jauh sebelumnya sudah mengatur posisi agar tak mengganggu kekhusyukan shalat. Anehnya, hal ini tak terjadi pada Waisak Borobudur.

Para banthe yang khusuk berdoa, membaca sutra pun, jadi obyek eksotisme karya foto. Atau arak-arakan pawai harus tersendat karena berjubelnya penonton yang beringas seolah hendak memakan para banthe atau peserta ritual yang hendak memasuki kawasan candi. Mereka atraksi. Mereka menarik untuk dipotret. Tak ubahnya penari reog atau dance festival.

Harus diakui, kini prosesi Waisak di Borobudur memang menjelma menjadi tontonan, suguhan yang menghibur masyarakat sekitar. Nilai magis, kesucian ritual, telah berbaur dengan komersialisasi wisata. Mau tak mau, karena prosesi dilaksanakan di tempat wisata yang mendunia, Candi Borobudur.

Saya jadi berangan-angan, semacam utopis, andai di saat perayaan ritual agama seperti Waisak, Borobudur ditutup untuk umum dan semata digunakan untuk ritual agama bagi umat Buddha. Mungkinkah?

Sudah banyak hal tidak menyenangkan yang saya saksikan berkaitan dengan ritual Waisak ini. Tahun lalu saya ada di antara umat Buddhis yang berada di dalam vihara depan Candi Mendut. Belum tengah malam saat itu. Banyak awam diijinkan masuk awalnya. Bukannya sekedar melihat-lihat, mereka dengan usilnya bermain dengan segala benda yang mereka anggap aneh. “Apa ini? Hahaha.. Wah, ini sih patung nggak jelas, Huhuhu..”  Mereka memainkan semacam kentongan, menertawakan orang yang sembahyang sambil menundukkan kepala dan menyilangkan tangan, dan sebagainya. Seolah itu perbuatan menggelikan, karena memang di luar konteks pemahaman agama mereka. Ini sungguh mengesalkan. Di mana letak toleransi.

Andai ada orang nyelonong masuk ke masjid, lalu dengan main-main berdiri di mimbar masjid saat bukan waktu shalat, atau menabuh bedug sesuka hati, apa ada yang tidak marah? Pastilah si penabuh bedug itu digampar dan dikuliahi sampai berbuih. Tapi bersikap toleran terhadap pemeluk agama liyan, sungguh sulit.

Ini baru soal sikap. Tentang nilai komersil, bisa saya gambarkan sebagai berikut. Seorang kawan berkabar ditawari wisata Borobudur, termasuk mengikuti prosesi Waisak dengan membayar Rp. 900.000. Kawan-kawan manca juga mengakui hal sama, 70 dolar tiket untuk menonton prosesi Waisak di Borobudur dari awal hingga akhir. Entah agen perjalanan mana yang mengadakan. Kawan-kawan fotografer dari media entahlah beramai-ramai mendaftar ke panitia, demi memperoleh tanda pengenal yang membebaskan mereka dari tiket masuk Borobudur. Dan beragam cara lainnya.

Komersialisasi juga sudah dinikmati masyarakat sekitar. Tahun kemarin  saya terkaget-kaget karena hampir semua rumah penduduk di sekitar Mendut sudah disulap menjadi penginapan dadakan dengan tarif antara Rp. 50.000-Rp250.000 semalam. Tergantung mau tidur di kamar atau menyewa satu rumah penuh. Itu pun mau tidur di atas tikar, di atas ranjang, atau bergelung karpet. Ana rega ana rupa. Semakin mahal tarifnya semakin maknyus fasilitasnya. Hehehe…

Wah, ingatan saya jadi melayang di akhir 1990-an, saat mengikuti prosesi Waisak yang nyaris tanpa gangguan dengan kawan-kawan Buddhis Jepang. Kami masuk candi dengan tenang, setelah mengisi daftar berasal dari mana di depan Candi Mendut, lalu beramai-ramai ikut pawai. Nyaris tak ada fotografer ganas, semua tampak sopan dan meminta ijin dulu jika hendak memotret.

Tahun berikutnya kembali saya datang saat Waisak, berencana menginap di vihara depan Candi Mendut. Malam itu saya berbaur dengan para Buddhis dari penjuru Nusantara, bahkan tidur di lantai paling bawah bangunan utama. Banyak pengetahuan yang saya dapatkan dari mereka. Mereka berasal dari Borneo, Lombok, Bali, bahkan Sulawesi dan Sumatra. Umumnya datang dengan kemauan sendiri, perorangan, dengan dana yang sengaja diada-adakan. Bahkan, ada yang sudah menabung 2-3 tahun demi dapat mengikuti prosesi Waisak di Borobudur. Bagi mereka, datang ke Borobudur mirip ziarah. Jadi, apa salahnya menghormati kawan-kawan peziarah ini dengan bersikap lebih santun, dengan menjaga kesakralan prosesi dan tak menjadikan mereka sebagai obyek semata?

Saya tahu bahwa Borobudur adalah obyek wisata yang mendunia, sama terkenalnya dengan Angkor Wat, atau Ayutthaya. Apalagi ketiganya sudah ditetapkan sebagai world heritage oleh UNESCO, yang berarti menambah nilai sebagai warisan budaya di mata dunia. Namun ada hal yang perlu dicermati dengan penetapan world heritage ini. Masuk tempat-tempat world heritage jadi tidak gratis, terkadang lumayan mahal. Orang asing yang masuk ke kompleks Angkor Wat dikenai bea 20 dolar per hari. Tapi ‘nyucuk’ kata orang Jawa, karena kompleks candinya amat sangat luas (tapi tiket masuk Borobudur yang akan dinaikkan menjadi Rp. 200.000 dianggap turis asing keterlaluan, Borobudur kan cuma ‘secuplik’, nggak ada sepersepuluhnya dari Angkor Watt). Lebih istimewa lagi, di Angkor, warga lokal alias Kamboja bebas bea masuk. Tiket ini berlaku hanya buat orang asing. Demikian pula di Ayutthata.

Saya ingat beberapa waktu lalu orang Hindu Bali menolak anugerah ‘world heritage’ dari UNESCO bagi Pura Besakih. Alasannya, mereka tak ingin nantinya umat Hindu yang melakukan ritual di pura itu harus membayar. Cukuplah para wisatawan yang membayar, bukan orang lokal. Sungguh ini tindakan yang benar dan terpuji.

Di jaman ini komersialisasi di bidang agama memang tak dapat dielakkan. Para da’i di teve menerima jutaan rupiah sekali ngecap, da’i yang diundang ke ceramah-ceramah akbar pun mengalami hal sama. Jadi, tak ada yang salah jika Waisak jadi obyek wisata. Mungkin nanti perayaan natal di Gereja Jago, atau Shalat Ied di masjid besar juga dapat jadi obyek wisata. Permasalahnnya mungkin, di negeri mayoritas agama A, maka prosesi agama A itu sudah biasa, tak bakalan laku dijual karena milik mayoritas. Tapi prosesi agama B, yang hanya segelintir umatnya, sah-sah saja dikomersialisasi. Tak bakalan ada yang protes. Kalau protes pun, yang mencicit hanya satu dua mulut, tak ada artinya dibanding jutaan mulut. Tapi hendaknya dikomersilkan pun masih menghormati hak-hak umat beragama yang bersangkutan. Ah, ini hanya renungan.

Apapun itu, selamat merayakan Waisak bagi umat Buddha

 

Bisa juga dibaca di: http://othervisions.wordpress.com/2013/05/24/ketika-waisak-jadi-obyek-wisata/

 

38 Comments to "Ketika Waisak Jadi Obyek Wisata"

  1. Anung FP  21 June, 2013 at 16:46

    Ary Hana;
    ——————
    Trimakasih tulisan nya…
    Salam Damai

  2. Anung FP  21 June, 2013 at 16:30

    anoew Says:

    Menyedihkan. Seandainya saja dibalik di saat sholat ied, atau saat kebaktian, atau saat misa Natal dan Paskah, apa pun.. ada fotografer yang bertingkah seperti foto tersebut, apa sikap kita?
    ————————————————————————————————————

    Berangkat dari Pengalaman Pribadi :

    Kadang ada tempat2 tertentu Fotografer dilarang masuk, setahu sy TEMPAT2 IBADAH yg fotografer ndak boleh masuk/ndak boleh jepret, kadang boleh tapi ndak boleh pake Blitz apalagi kalo biayakan (ato pinjem istilah nyak nyakan).

    Kadang “PAKAIAN” juga mempengaruhi orang boleh meliput ato ndak…..

    Gunakan lensa TELE atau Camera yg ada ZOOM-nya untuk tempat2 spt ini
    jadi ndak perlu dekat2…

    Setahu saya masih ada “Tukang Photo” yg seperti itu di Negeri ini….

    Mungkin yg di foto itu “Tukang Photo” ne Ndak ngerti kali ya?……

    Salam damai…

  3. anoew  31 May, 2013 at 15:08

    Menyedihkan. Seandainya saja dibalik di saat sholat ied, atau saat kebaktian, atau saat misa Natal dan Paskah, apa pun.. ada fotografer yang bertingkah seperti foto tersebut, apa sikap kita?

    Susahnya mewujudkan toleransi dan budi pekerti..

  4. anoew  29 May, 2013 at 17:48

    Sepakat dengan komennya Pak Hand.

  5. AH  29 May, 2013 at 00:26

    lani : kapan2 tak kirimi pepes ikan hiu.. hehe

  6. Handoko Widagdo  28 May, 2013 at 07:03

    Yang sangat membahagiakan adalah para umat Budha tidak marah dan benci kepada umat lain yang menganggap mereka tontonan. Kita patut meneladani saudara-saudara umat Budha.

  7. Lani  28 May, 2013 at 04:46

    DA : halah haram pie????? yo, papan surfing sering dinggo sasaran ikan hiu sing kelaparan njur diklethak……..sampai pating kriwil

  8. Dewi Aichi  28 May, 2013 at 02:48

    Ikan hiune ora doyan mangan Ary Hana….kata ikan hiu…haram he he…

    Lani..mosok diklethak ha ha..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.