Surat untuk Ibu

Vianney Leyn

 

Ibu tersayang….

Pada semilir angin yang membelai bulir-bulir salju
kuucapkan selamat pagi, siang, sore, malam atau situasi apa
saja ketika ibu membaca suratku ini.
Mungkin ibu merasa terkejut akan ucapan selamat
yang mengatasnamai setiap putaran waktu;
itulah kekuatan cinta yang menembus batas ruang dan waktu,
yang hadir pada setiap waktu dan tempat
meski terdakang manusia tak menghendakinya.
Aku tahu perasaan ibu, tentang rindu yang terus mengalir di nadi
untuk berjumpa, untuk berkumpul kembali dalam rumah
di dusun kecil itu sambil menyanyikan „dolo-dolo“ di tepian tungku
yang mungkin telah lama sepi.

Tetaplah yakin pada Sang Waktu dan jangan mempersalahkannya.
Ia punya andil buat kita, dialah yang memisahkan kita,
dan dia juga kelak akan mempertemukan kita.
Aku juga mengerti tentang kekhwatiran ibu yang begitu kuat akan keadaanku disini. Pesanmu untuk selalu „jaga diri dan jaga agama“ masih tetap kuingat.

Memang betul bahwa sudah begitu banyak orang disini yang meninggalkan gereja
atau tidak lagi percaya pada Dia, Sang Pencipta.
Jangan khawatir bu, karena aku tidak akan memunggung dari kiblatku
untuk percaya pada Dia Sang Pemberi Hidup,
yang selalu kudengar dari guru agama di Sekolah Dasar dan juga dari ibu sendiri.

brief_schreiben(2)

Ibu tersayang,

rasanya malam-malamku kian berat
untuk kutimang di pelupuk mata jika mengingat segala gelisah
dan kecemasan itu; dan hari-hari terlalu lama
untuk kujengkali matahari sambil memanggul cahyanya.
Cukup kirimkan aku doamu
agar malam yang indah dan akhir yang sempurna
tetap menjadi milik kita.

Dan gunduk rindumu, rindu kita akan kujadikan alas kepalaku
untuk bermimpi di relung rembulan malam ini,
bukannya mengganjal mata kita untuk berjejak.

Dan aku juga masih punya harap dan idealisme yang kental
untuk tunjukan kepada dunia,
bahwa matahari bukan hanya terbit di timur,
tetapi juga di barat.

Itu mimpiku bersama malam yang jatuh di ujung hari. T
api kini aku harus bangun mengejar matahari.
Aku tak mau terlalu lama berbaring dalam mimpi.

Sankt Augustin, pada sebuah musim dingin
Salam Sayang
 
Vianney L

 

6 Comments to "Surat untuk Ibu"

  1. vian  27 May, 2013 at 19:05

    Makasih untuk semua Kommentx.. Ja, di Jerman sekarang cuacanya tidak begitu bersahabat… sudah Sommwer tapi sering hujan dan dingin….. Mala di München, katanya Salju…. Ini aneh.. Salju di Bulan Mei.. Salam buatmu semua…

  2. Lani  27 May, 2013 at 08:43

    Yang di Jerman msh kedinginan………..yg di Kona anget banget…….pdhal udah mo summer, msh ndak menentu ya cuacanya……….

  3. EA.Inakawa  27 May, 2013 at 03:09

    Ibu…..kasihmu adalah ingatan kami untuk membalas BUDI baik & kasih sayangmu,kami tidak akan pernah mengabaikanmu ibu…..

  4. Dewi Aichi  26 May, 2013 at 23:51

    Saya sudah tak pernah menulis surat untuk ibu sejak 10 tahun yang lalu, komunikasi kami sekarang melalui skype …miss u so much ibu…

  5. Dj. 813  26 May, 2013 at 19:03

    Sayang sekali,sejak beberapa hari ini, matahari tidak muncul lagi.
    Bahkan sejak pagi tadi, hujan gerimis yang malu-malu untuk jatuh ketanah.
    Dan udara diluar terasa sangat dingin.
    Liebe Grüße aus Mainz.

  6. Anastasia Yuliantari  26 May, 2013 at 17:33

    Salam ke Jerman yg msh dingin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.