Tiga Sahabat (10): Selamat Jalan

Wesiati Setyaningsih

 

Aji dan Juwandi berdiri mematung di depan rumah pak Iwan. Lama mereka berdiri tanpa ada yang memulai melangkah ke arah rumah.

“Ji,” Juwandi menyenggol tangan Aji. “Masuk, gih.”

“Kamu dulu.” Aji tetap tak bergerak.

“Bareng aja,” Juwandi meraih tangan Aji lalu melangkah maju.

Mau tak mau Aji mengikuti langkah Juwandi. Di dalam rumah tampak pak Iwan sedang duduk bersama bu Nani. Kedua orang setengah baya itu duduk santai dengan menyandar pada sandaran kursi. Televisi yang menyala di depan mereka seolah hanya dibiarkan begitu saja tetapi keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Aji dan Juwandi hanya berani berdiri di ambang pintu tanpa berani mengucap salam. Mungkin mereka akan tetap di sana kalau pak Iwan tak menoleh dan mempersilahkan mereka berdua masuk.

“Sinih, senang kalian masih mau main ke sini.”

Pak Iwan bangkit lalu merapikan meja dari koran-koran yang berserakan sisa dibaca.

“Duduk sini. Om ambilkan minuman.”

“Bapak duduk saja, ibu yang ambilkan,” Bu Nani bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah dapur.

“Jadi merepotkan,” kata Aji basa basi.

“Enggak. Sudah duduk aja. Senang sekali kalian datang. Beberapa hari ini rumah ini sepi,” Bu Nani berkata sambil melangkah masuk dapur.

“Apa kabar?” tanya Pak Iwan.

“Baik,” kata Juwandi sambil menunduk.

“Om, kami ingin tau gimana ceritanya,” Aji memulai pembicaraan.

Pak Iwan menarik nafas panjang sebelum menjawab.

“Sore itu ada lelaki datang mengaku ayah kandung Anung. Katanya dia seorang diplomat Indonesia untuk Perancis. Kami memeriksa semua identitasnya, tidak ada yang mencurigakan. Apalagi dia datang bersama polisi dan itu meyakinkan kami dia tidak berbohong. Kami tawarkan pada Anung untuk ikut ayahnya atau tetap tinggal bersama kami. Anung memilih pergi.”

Pak Iwan berhenti bicara dan kembali menarik nafas panjang berulang kali.

“Kami tidak bisa apa-apa.” Suara Pak Iwan gemetar. “Mungkin buat dia ikut orangtua kandungnya adalah pilihan yang lebih dipilihnya daripada kasih sayang kami yang luar biasa.”

“Bapak nggak boleh bilang gitu,” Bu Nani tiba-tiba sudah datang membawa 4 cangkir teh panas.

“Dia ingin merasakan juga bagaimana rasanya hidup bersama ayah kandungnya.”

“Tante yang kemarin sempat sakit jantung waktu Anung pergi tanpa pamit, sekarang malah lebih kuat daripada aku,” keluh Pak Iwan.

“Aku sudah mulai mengolah hatiku sendiri, Pak. Waktu aku sakit itu, aku banyak merenung. Tidak ada yang abadi dalam genggaman kita. Bukankah begitu?”

Bu Nani beranjak ke kursi di sebelah Pak Iwan dan duduk di sana.

“Semua yang ada pasti suatu saat tidak ada lagi. Entah hilang atau hancur. Dompet bisa rusak atau hilang. Orang bisa pergi atau mati. Kita harus mempersiapkan diri untuk pergi, atau ditinggal pergi,” kata Bu Nani bijak.

Pak Iwan mengulurkan tangan dan menggenggam tangan istrinya.

“Ibu sekarang lebih tenang ya? Kemarin-kemarin ibu yang paling mudah emosi.”

“Itulah. Anung pergi waktu itu ada hikmahnya.” Bu Nani tersenyum sambil menatap suaminya.

“Saya rasa ini yang terbaik. Anung sering kali membenci masa lalunya. Ditemukan di tempat sampah itu sangat menjadi ganjalan buat dia. Padahal buat kami masa lalu orang itu tidak ada hubungannya dengan saat ini,” Aji ikut berkomentar.

Juwandi mengangguk.

“Saya pernah ceritakan pada dia tentang satu adegan yang sangat saya suka di film Kung Fu Panda. Ceritanya Po Panda kan lagi berusaha mengingat masa lalunya. Susah payah dia mengingat karena ada penolakan dalam dirinya terhadap masa lalunya. Oleh yang menolong dia, dia diberitahu, ‘Bagaimana kisah hidupmu dimulai, itu tidak penting. Bagaimana kamu mengakhirinya, itu yang paling penting.’ Saya sudah bilang begitu dengan dia. Cuma ya, sepertinya dia masih belum berdamai dengan masa lalunya. Bersyukur kisah hidupnya akhirnya berakhir dengan indah. Ternyata ayah kandungnya yang sekarang jadi diplomat mau mengakui dia sebagai anak. Semoga dia bahagia sekarang.”

Juwandi mengakhiri kalimatnya yang panjang lebar dengan senyum lega. Aji ikut tersenyum.

“Iya, ya. Meski kami sedih karena tidak bisa berkumpul dengan dia lagi, kami bahagia karena dia sudah senang sekarang. Perancis! Siapa yang nggak pengen? Saya aja pengen..” gumam Aji.

Pak Iwan dan Bu Nani ikut tersenyum.

“Beginilah indahnya keikhlasan. Meski awalnya sedih karena kehilangan, akhirnya kita bisa menerima dengan baik. Toh kalo ingin komunikasi ada banyak sarana. Yang telpon, sms, chatting, semua bisa. Iya, kan?” senyum Bu Nani yang lebar melegakan hati suaminya, juga Aji dan Juwandi.

“Alhamdulillah kalo Pak Iwan dan Bu Nani tidak masalah. Kami ke sini karena kami pikir Bapak dan Ibu bersedih karena kehilangan Anung.” Juwandi mengucapkan kalimatnya dengan senyum lebar.

“Kami kehilangan kok. Sedih juga. Kalian pasti tahu rasanya. Tapi ya itu, kehilangan itu tidak harus selalu ditangisi. Bisa juga memberi pencerahan pada kita tentang kehidupan. Begitu, kan?” kata pak Iwan sambil meremas jemari istrinya seolah dengan begitu dia akan mendapat kekuatan.

Bu Nani membalas remasan jemari suaminya.

“Nih, Ibu jadi mulai bisa mengatasi emosi. Ternyata semua peristiwa itu ada hikmahnya.”

“Puji Tuhan,” Aji tersenyum lebar. “Selamanya dia ada dalam kenangan saya.”

“Kami masih bisa memandang senyum lebarnya di foto-foto dia yang kami pasang di dinding itu, “ Pak Iwan tersenyum lebar.

“Kamarnya tante bersihkan tiap hari. Seperti tiap pagi ketika dia pergi sekolah dan kamarnya berantakan.” Bu Nani mengusap sudut matanya.

Dengan senyum yang dipaksakan Bu Nani berkata, “Kadang kangen juga sama bau keringatnya.”

“Kangen sama keisengannya, “timpal Pak Iwan.

“Saya kangen sama kejujurannya. Otaknya yang kadang ngeres dia ucapkan dengan jujur. Enggak kaya Presiden Partai itu. Ustad tapi ternyata lebih mesum dari yang ngaku mesum.” Juwandi berapi-api.

Aji menoleh ke arah Juwandi dengan dahi mengerut. Tiba-tiba temannya sudah bicara tentang situasi politik terakhir.

“Iya. Kita tahunya mereka orang-orang yang religius, ibadahnya bagus, ilmu agamanya tinggi, pasti kelakuannya juga merupakan cerminan ilmu mereka. Eh, nggak taunya..” Pak Iwan ikut bersemangat.

Bu Nani beranjak dari tempat duduknya.

“Kalo sudah ngomongin yang beginian mending pergi aja lah. Kayanya masih ada pisang di kulkas. Bisa digoreng buat teman teh hangat. Kalian jangan pulang dulu, lho ya…”

Juwandi dan Aji mengangguk berbarengan.

“Iya, tante. Kami masih mau main kok,” kata Aji senang.

“Sudah, dilanjutkan situ.”

Bu Nani menghilang di dapur lagi. Tak lama sudah terdengar minyak panas yang dicelup adonan pisang goreng. Bau manis gula bercampur tepung menguar menyapa hidung Juwandi dan Aji. Pembicaraan semakin seru mengupas bagaimana impor daging ternyata menjadi sandiwara paling ngetop di negeri ini.

Sore mulai beranjak. Rumah Pak Iwan yang beberapa hari ini dingin karena ada seseorang yang pergi, kini hangat dengan tawa dan obrolan penuh semangat.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

7 Comments to "Tiga Sahabat (10): Selamat Jalan"

  1. Nyai EQ  27 May, 2013 at 10:25

    Anuuuuuung….teganya, teganya, teganyaaaaaa……..kakak Ajiiii….pamitkan pada mamih papih…saya nyusul kakangmas Anung ke Feranciiiiis………#sambil packing dengan air mata berurai…..

  2. Dewi Aichi  26 May, 2013 at 23:50

    Nanti akan ada sastrawan berbahasa Perancis..tapi asli Solo he he…semoga sukses…nanti aku menyusul ke Paris..

  3. Dj. 813  26 May, 2013 at 21:22

    Yang ke 10 X Oh… oh… oh… oh…
    oh… oh… oh… oh… oh… oh… oh…
    oooooooh….. ….!!! ( gubraaaak…!!!! )

  4. probo  26 May, 2013 at 19:15

    oh…Pak Dj…kayaknya ini ke 10 …..

  5. Dj. 813  26 May, 2013 at 19:05

    Ibu GuCan ada apa kok oh… oh…. oh…. ???
    Kesakitan atau kenikmatan…???

  6. probo  26 May, 2013 at 18:47

    oh…oh…oh….

  7. Anastasia Yuliantari  26 May, 2013 at 17:31

    Anung memang pengkhianat….!!! Kelihatannya saru tapi ternyata pergi.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *