David Marsudi, Sang Pendekar Bodoh

Meitasari S

 

Membaca kiriman seorang teman tentang orang ini membuat aku berdecak kagum. Sampai sulit memberikan deskripsi dan julukan yang tepat untuk dia.

Out of the box, gila, pintar, luar biasa, apalagi ya ???? Hmmm, akhirnya kupilih saja : SEORANG YANG CERDIK SEPERTI ULAR DAN TULUS SEPERTI MERPATI.

Nama lengkapnya adalah David Vincent Marsudi. Ia adalah Presiden Direktur PT. Pendekar Bodoh. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang restoran dengan label D’Cost.

De-Cost-12

Simaklah alasan mengapa David Marsudi memilih nama perusahaannya, PENDEKAR BODOH.

Menjadi pengusaha itu harus terus-terusan merasa bodoh. “Karena merasa bodoh, maka kemudian kita harus terus belajar. Kalau kita sudah pintar, kita berhenti belajar,” ujarnya.

Menarik sekali alasan ini. Menurut saya ini adalah refleksi orang yang sangat rendah hati.

The more you give, the more you get!!!

Semakin banyak memberi, akan semakin banyak kamu mendapat. Itu adalah salah satu motto David Marsudi. Kita sering mendengar TAKE AND GIVE, tetapi bagi Sang Pendekar Bodoh ini, motto yang berlaku adalah GIVE AND RECEIVE, beri dulu baru terima. Dan ini bukan sekedar slogan.

Di D’Cost, ada berbagai macam program Diskon Umur. Di program discount umur, mereka yang makan di sana akan mendapatkan diskon sesuai umur. Dan tercatat umur tertua yang pernah makan di D’Cost adalah 104 tahun.

Kebayang gak sih, sudah makan enak, gak bayar, malah dapat pengembalian 4%. Dan karena terkesan karena kebaikannya, rombongan pembeli ini minta ijin untuk mendoakan restoran itu.  Jarang-jarang ada sebuah perusahaan didoakan. Iya kan?

http://swa.co.id/ceo-interview/dcost-aplikasi-ti-di-resto-seafood

 

Bukan cuma program yang ditawarkan menggelitik antik. Tapi ia juga tak takut rugi. Program HAMIL DULUAN BARU BAYAR, salah satunya.

Antik kan? Hamil baru bayar, nah iya kalau bisa hamil, kalau nggak hamil-hamil? Terus siapa juga yang ngecek kalau yang sudah makan di restorannya itu hamil ? Apakah mereka balik terus bayar???

d'cost-pernikahan

Tapi lagi-lagi jawaban sang Presdir ini sungguh mencengangkan.

“Kami pasrah saja. Ini kesadaran saja. Dalam promosi ini juga terdapat nilai-nilai spiritualnya, yaitu agar masyarakat mulai tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu dari hati nurani. Pengalaman kami selama ini, belum ada pasangan yang mengaku hamil. Ha..ha..ha. Kami tidak pernah mengecek ke pasangan itu bahwa istrinya sudah hamil atau belum”

D’Cost, bukan cuma tulus, tapi mereka cerdik dan sangat pintar menurut saya. Proses pemasanan di restoran ini menggunakan teknologi yang tinggi.

Dalam wawancara dengan Swa, David mengatakan bahwa karena ia mengumpulkan uang receh, ia harus cepat dan mengumpulkan pembeli sebanyak-banyaknya. Mana ada jualan kangkung dengan 23 komputer. Dan itulah yang ditemui di D’cost.

“Dengan kami mengumpulkan uang recehan ini, otomatis omzetnya harus besar sehingga jumlah tamu harus banyak. Dengan jumlah tamu yang harus banyak, sementara jam makan cukup terbatas, maka kami harus cepat dalam pelayanan. Agar dapat cepat, harus menggunakan teknologi. Kalau order menggunakan tulisan tangan, tidak bisa. Tidak mungkin kami menjual teh harga seratus  jika kami tidak cepat. Skala ekonominya tidak akan tercapai karena jam makan orang sangat terbatas.

Prosesnya, begitu tamu memesan dan pelayan kami menekan ‘enter’ di perangkatnya, printer-printer kami di bar, di checker, di bagian steam, di bagian gorengan, langsung mencetak  pesanan itu dan pekerja kami langsung membuat sesuai pesanan yang dicetak. Jadi pendelegasian menu pesanan langsung tertuju ke bagian yang bersangkutan. Kami bisa menyajikan masakan dengan cepat karena kami terbantu dengan sarana TI ini.

Saat ini, kami gunakan model terbaru layar sentuh. Bukan print lagi. Kami sudah mulai coba di gerai Sunter dan Semarang. Gerai di Semarang terdapat 23 komputer. Kami hanya jualan kangkung tapi komputernya ada 23”.

http://swa.co.id/ceo-interview/dcost-aplikasi-ti-di-resto-seafood

Dan setelah seorang teman yang pernah makan di resto itu mengatakan, teh satu gelas dihargai Rp. 500,00 dan pelayanannya pun sangat cepat. Mantaplah saya memberi julukan seperti di awal tulisan saya.

d'cost

Hmmmm….. semoga ada banyak pengusaha, pejabat juga ya yang mempunyai hati seperti David ini. Eh, semoga saya juga bisa punya hati seperti Sang Pendekar Bodoh ini.

Semoga……

 

Semarang, 24 Mei 2013

Mengumpulkan sepihan keajaiban tiap-tiap hari

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

23 Comments to "David Marsudi, Sang Pendekar Bodoh"

  1. Bagong Julianto  31 May, 2013 at 16:39

    Hebat Pak David ini!
    Koes Plus dulu nyanyi: Ela-elo sawo dipangan uler. Ela-elo wong bodho ngaku pinter…..
    Beliau kebalikannya.
    Semoga selalu jadi berkat!

  2. Matahari  28 May, 2013 at 17:22

    Pak JC :
    . Pada saat jam-jam makan ruameeeee’nya luar biasa…harga memang super murah, porsi petite…hehe…understandable…rasa juga enak.”

    Pak JC kalau harga murah dan porsi petite…saya tertarik juga tapi kalau harga murah dan porsi besar…saya sering ragu makan…karena bahan yang bagus…umumnya tidak murah..kalau porsi besar tentu harga bahan makanan juga mahal….jadi kalau porsi besar dan harga murah…langsung selera saya hilang

  3. Lani  28 May, 2013 at 14:37

    14 AKI BUTO : apakah D’cost ini model restoran warabala/cepat saji spt macdo…….burgerking? mengko yo aku diajak ke D’cost ben ngerti ora katrok kkkkkkkkkkkkk……….

    NUR MBEROK : jd yg mrk jual aneka macam makanan……..barat/indo campur ngono………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.